Ethan dan Elora pernah percaya bahwa mereka adalah dua orang yang saling mengerti.
Mereka sering tertawa bersama, berbagi cerita tentang hari-hari yang melelahkan, bahkan pernah berjanji bahwa sebesar apa pun masalah yang datang, mereka akan membicarakannya baik-baik.
Tapi mereka lupa satu hal.
Cinta tidak selalu hancur karena tidak ada rasa.
Kadang, cinta hancur karena dua orang sama-sama merasa paling benar.
Ethan adalah lelaki yang keras kepala. Ketika ada masalah, ia lebih suka diam daripada menjelaskan. Baginya, kalau Elora benar-benar mencintainya, perempuan itu seharusnya bisa mengerti tanpa harus diberi penjelasan.
Sementara Elora juga bukan perempuan yang mudah mengalah.
Ia punya prinsip sederhana.
"Aku akan memperlakukan orang sebagaimana dia memperlakukanku."
Kalau Ethan dingin, Elora akan lebih dingin.
Kalau Ethan tidak membalas pesan, Elora tidak akan mengejar.
Kalau Ethan memilih diam, Elora juga akan diam.
Awalnya mereka menganggap itu hanya pertengkaran kecil.
Sampai suatu hari, sebuah pesan sederhana menjadi awal dari semuanya.
"Aku lagi sibuk. Nanti aja."
Ethan mengirim pesan itu tanpa menjelaskan apa pun.
Elora menunggu.
Satu jam.
Dua jam.
Sampai malam.
Tidak ada kabar lagi.
Elora akhirnya mengetik.
"Kalau memang sudah nggak mau bicara, bilang saja."
Pesan itu dibaca.
Namun tidak dibalas.
Hati Elora panas.
Ia menunggu Ethan meminta maaf.
Tapi Ethan justru berpikir, "Kenapa dia nggak bisa mengerti aku sedang sibuk?"
Keesokan harinya Ethan menghubungi Elora seperti tidak terjadi apa-apa.
"Udah makan?"
Elora melihat pesan itu cukup lama.
Ia ingin menjawab dengan lembut.
Ingin mengatakan bahwa ia hanya ingin diperhatikan.
Tapi egonya lebih cepat berbicara.
"Belum."
"Kenapa?"
"Nggak tahu."
Ethan menghela napas.
Ia merasa Elora sengaja mencari masalah.
Elora merasa Ethan tidak pernah mau mengerti perasaannya.
Akhirnya mereka bertengkar.
Bukan karena masalah besar.
Bukan karena orang ketiga.
Bukan karena tidak saling mencintai.
Hanya karena miskomunikasi yang dibiarkan menjadi luka.
"Kamu selalu begitu, Ethan!" kata Elora.
"Begitu bagaimana?"
"Kalau ada masalah, kamu diam. Kamu pikir aku bisa baca pikiranmu?"
Ethan terdiam.
Bukannya menjelaskan, ia justru menjawab dengan nada dingin.
"Kalau kamu memang mengenalku, harusnya kamu ngerti."
Kalimat itu membuat Elora terdiam.
Ia menatap layar ponselnya dengan mata berkaca-kaca.
"Dan kalau kamu benar-benar mengenalku, harusnya kamu tahu aku cuma ingin dijelaskan."
Namun Ethan tidak menjawab.
Dan kali ini Elora memilih tidak mengejar.
Ia berkata pada dirinya sendiri,
"Aku nggak akan memohon seseorang untuk mengerti aku."
Sejak hari itu, hubungan mereka berubah.
Ethan menunggu Elora menghubungi lebih dulu.
Elora menunggu Ethan meminta maaf lebih dulu.
Keduanya sama-sama menunggu.
Hari berganti hari.
Pesan yg dulu memenuhi layar sekarang tidak ada lagi.
Ada kecewa yang disimpan.
Ada kalimat "Aku masih sayang" yang tertahan karena gengsi.
Sampai akhirnya Ethan" hapus aja nomorku !"
"Sekalian aja blokir no ku biar aku gak bisa hubungin kamu!"
jawab Elora
Dengan singkat Ethan menjawab "Ok kalau itu mau mu"
"
Air matanya Elora jatuh.
Ia ingin bertanya, "Kamu serius?"
Ingin berkata, "Jangan pergi."
Tapi jarinya justru mengetik " kamu kan bilang suruh hapus nomor?"
Ethan tidak menjawa lagi. Semuanya usai di situ .
Malam itu Elora menangis sendirian.
Bukan karena ia tidak mencintai Ethan.
Justru karena ia masih sangat mencintainya.
Sementara di tempat lain, Ethan duduk diam.
Ia juga kacau.
Ia berharap Elora menghubunginya.
Tapi ponselnya tetap diam.
Mereka sama-sama menunggu.
Sama-sama terluka.
Sama-sama mencintai.
Dan sama-sama terlalu egois untuk mengatakan,
"Aku masih ingin kamu tinggal."
Hubungan itu berakhir karena dua orang yang sama-sama ingin dimengerti, tetapi tidak mau belajar memahami.
Kadang dua orang bisa saling mencintai dengan sangat dalam, tetapi tetap kehilangan satu sama lain hanya karena miskomunikasi, kepala batu, dan ego yang tidak pernah mau mengalah.
Dan yang paling menyakitkan adalah ketika semuanya sudah berakhir, barulah mereka sadar...
Yang mereka lawan selama ini bukan satu sama lain, melainkan ego mereka sendiri.
Selesai.