Sampaikan Salamku Pada Edinburgh
Author: Alvaraby
Romantis;Asmara
Hujan di Edinburgh selalu punya cara untuk melipat jarak. Ia menetes halus di atas batu-batu tua Royal Mile, menggenang di celah cobblestone, dan memantulkan pendar jingga dari lampu-lampu jalan yang mulai menyala pukul empat sore. Di sudut toko buku bekas daerah Old Town, Arini Santiana berdiri menatap keluar jendela, memegang kamera yang baru saja selesai merekam pemandangan jalanan yang tersapu gerimis.
Arini adalah tipe perempuan yang tidak hanya melihat dunia, tetapi mengundangnya masuk. Melalui lensa kameranya, Edinburgh bukan sekadar tumpukan arsitektur Gotik yang dingin, melainkan sebuah ruang bernapas. Setiap video singkat yang ia unggah ke media sosial selalu dipenuhi komentar dari orang-orang yang merindukan, atau sekadar bermimpi tentang, tanah Britania ini.
"Kau melamun lagi, Arini?"
Suara itu memecah denting hujan. Anthony White—atau White Anthony sebagaimana teman-temannya biasa memanggilnya—melangkah mendekat membawa dua cangkir kopi panas. Pemuda lokal Skotlandia bermata biru pucat dan berambut ikal keemasan itu tersenyum lembut. Ada kehangatan yang tidak lazim dari seorang pria keturunan Highland dalam tatapannya setiap kali memandang Arini.
"Aku cuma sedang membaca komentar," sahut Arini pelan, menerima cangkir karton dari tangan Anthony. Tangannya yang terbalut sarung tangan rajut menyerap hangatnya kopi. "Ada seseorang yang menulis kalimat indah sekali..."
Arini membacakan salah satu komentar di layar ponselnya: Sampaikan salamku pada Edinburgh, Kak. Terima kasih untuk setiap detik bingkai video yang Kakak bagikan. Kakak tak hanya memperlihatkan sebuah kota, tetapi mengajak kami ikut meraba dingin udaranya, meresapi kehangatannya, dan jatuh cinta pada keindahan yang melampaui sekat jarak...
Anthony terkekeh halus, napasnya membentuk kabut tipis di udara dingin toko buku. "Orang-orang di negerimu begitu puitis. Tapi mereka benar. Lewat kameramu, kota yang biasa kubenci karena hujan abadi ini mendadak terasa hangat."
"Kau hanya tidak tahu cara mencintainya, Anthony," puji Arini terkekeh.
"Mungkin," jawab Anthony pelan, matanya tidak bergeming dari wajah Arini. "Atau mungkin aku butuh seseorang untuk mengajariku cara melihatnya. Sama seperti aku butuh seseorang untuk mengajariku tentang... konsep pasrah yang sering kau ceritakan."
Arini tertegun. Selama tiga bulan terakhir, sejak mereka berada di program magister yang sama di University of Edinburgh, Anthony menunjukkan ketertarikan yang tidak biasa. Bukan hanya pada Arini sebagai seorang wanita, tetapi juga pada dunia yang Arini bawa—pada lipatan mukena yang Arini rapikan di sela kuliah, pada kebiasaan Arini mencari arah kiblat di perpustakaan George Square, dan pada keheningan yang Arini temukan dalam setiap sujudnya.
Anthony ingin belajar Islam. Dan Arini tahu, di balik rasionalitas barat yang melekat pada pria itu, ada pencarian spiritual yang jujur. Namun, Arini juga tidak blind. Ada getaran lain di sana—getaran perasaan yang bertumbuh di antara lembar-lembar buku filsafat dan diskusi agama.
"Pintu itu selalu terbuka, Anthony," ujar Arini lembut, menetralkan suasana. "Tapi kau tahu, aku bukan guru yang baik. Kalau kau mau belajar secara sistematis, kau harus bicara dengan Daffa."
Nama itu mengudara, dan seketika ada jeda tipis yang menggantung di antara mereka.
Daffa Iskandar sedang duduk di sudut tersembunyi Main Library, dikelilingi tumpukan buku sejarah dan manuskrip pemikiran Islam. Daffa adalah gravitasi yang tenang. Jika Arini adalah cahaya yang menangkap bentuk, Daffa adalah bayangan yang memberi kedalaman. Mereka telah berteman sejak masa S1 di Jakarta, dan takdir membawa mereka ke kota yang sama untuk melanjutkan pendidikan.
Daffa tahu kapan Arini tertawa karena benar-benar bahagia, dan kapan wanita itu tertawa hanya untuk mencairkan canggung. Daffa tahu berapa sendok gula yang Arini butuhkan dalam tehnya saat tenggat waktu tesis makin dekat. Dan yang paling penting, Daffa menyimpan sebuah rahasia yang telah berkarat karena waktu: ia mencintai Arini sejak hari pertama mereka bertemu di perpustakaan kampus lima tahun lalu.
Namun Daffa memilih menjadi keheningan. Ia menyimpan perasaannya rapat-rapat, rapi seperti lipatan sajadah yang selalu ia bawa di dalam ranselnya.
Langkah kaki mendekat. Daffa menengadah dan menemukan Arini serta Anthony berjalan sejajar. Ada pemandangan yang menyengat dadanya—bagaimana cara Anthony memiringkan tubuhnya untuk melindungi Arini dari dorongan pengunjung perpustakaan yang lalu lalang.
"Daf," panggil Arini, duduk di kursi kosong di seberangnya. "Anthony mau bicara."
Daffa mengalihkan pandangannya pada pemuda Skotlandia itu. Anthony tersenyum ramah, lalu duduk di samping Arini.
"Daffa," kata Anthony dalam bahasa Inggris yang lugas namun santun. "Arini bilang kau bisa membantuku. Aku ingin membaca lebih banyak tentang Islam. Bukan hanya dari sudut pandang akademis, tapi dari cara kalian menyikapinya dalam hidup sehari-hari."
Daffa menatap Anthony, lalu beralih menatap Arini. Di mata sahabatnya itu, Daffa melihat binar harapan—harapan agar Anthony menemukan jalan, dan mungkin, harapan untuk sebuah masa depan yang tak berani Arini ucapkan secara terang-terangan.
Daffa meresapi rasa nyeri yang familiar di dadanya, lalu tersenyum tipis. "Tentu, Anthony. Kita bisa mulai dari konsep paling mendasar. Bukan tentang hukum, tapi tentang tauhid—tentang bagaimana menyerahkan seluruh ketidakmampuan kita kepada Satu Pusat."
"Menyerahkan?" tanya Anthony, dahinya berkerut halus. "Bukankah manusia harus memegang kendali atas hidupnya sendiri?"
"Justru ketika kau berusaha memegang semua kendali, kau akan lelah," sahut Daffa pelan. Matanya sekilas melirik Arini, yang sedang menatap meja dengan tatapan menerawang. "Cinta, masa depan, rasa sakit... beberapa hal diciptakan bukan untuk dikendalikan, tapi untuk dilepaskan."
Anthony terdiam, meresapi kata-kata Daffa. Sementara Arini merasa ada sembilu halus yang menyayat hatinya. Arini paham betul siapa Daffa, tapi ia tidak pernah benar-benar tahu apa yang ada di dalam hati pria yang selalu menjadi tempatnya bersandar itu.
Hari-hari berikutnya berlalu seperti montase film pendek. Musim gugur perlahan melarikan diri, menyisakan ranting-ranting pohon Calton Hill yang meranggas dihantam angin dingin menjelang musim dingin.
Anthony belajar dengan sungguh-sungguh. Ia datang ke kamar flat Daffa dua kali seminggu, membaca terjemahan Al-Qur'an, dan berdiskusi hingga larut malam. Ada ketulusan yang luar biasa dari pria itu. Anthony tidak lagi hanya mengejar Arini; ia benar-benar sedang mengeja sebuah kebenaran baru.
Namun, di antara mereka bertiga, ada garis-garis transparan yang makin tegang.
Suatu sore di puncak Arthur’s Seat, angin bertiup begitu kencang hingga sanggup menerbangkan kenangan. Arini berdiri di tepi tebing, mengarahkan kameranya ke arah pemandangan kota Edinburgh yang terhampar luas di bawah sana. Rumah-rumah beratap batu, kastil yang berdiri megah di kejauhan, dan garis pantai Leith yang samar.
Daffa berdiri beberapa langkah di belakangnya, memegang jaket tambahan milik Arini. Anthony sedang berjalan agak jauh di depan, mengambil beberapa foto dengan ponselnya.
"Kau membawanya terlalu jauh, Rin," kata Daffa tiba-tiba. Suaranya hampir tenggelam oleh deru angin.
Arini menurunkan kameranya, menoleh. "Maksudmu Anthony?"
"Dia belajar Islam karena dia mencari Tuhan, atau karena dia mencarimu?" tanya Daffa langsung, tanpa selubung. Ini pertama kalinya Daffa berbicara dengan nada sekeras itu.
Arini terpaku. Angin dingin menusuk pipinya hingga memerah. "Awalnya mungkin karena aku, Daf. Tapi kau sendiri tahu, matanya beda sekarang. Dia benar-benar tersentuh."
"Dan bagaimana denganmu?" Daffa melangkah satu tapak lebih dekat. Pandangannya menancap dalam ke mata Arini. "Bagaimana perasaanmu padanya? Kau membiarkannya masuk karena kau kagum, atau karena kau memang menginginkannya?"
"Kenapa kau bertanya seperti itu, Daffa?" suara Arini mulai bergetar, campur aduk antara dingin dan kebingungan. "Kenapa kau selalu bersikap seperti hakim yang berdiri di luar garis?"
Daffa tertawa kecil—sebuah tawa pahit yang belum pernah Arini dengar sebelumnya.
"Karena aku tidak pernah berada di luar garis, Arini," ujar Daffa pelan. Runtuh sudah pertahanan yang ia bangun selama bertahun-tahun. "Aku selalu di sini. Di sampingmu. Memperhatikanmu mencintai kota ini, memperhatikanmu merekam dunia, sementara aku hanya bisa diam karena aku takut merusak apa yang kita punya."
Dunia seolah berhenti berputar di puncak Arthur’s Seat. Gerimis tipis mulai turun, menetes di bulu mata Arini.
"Daf..." bisik Arini, suaranya tercekat.
"Aku menyukaimu, Rin. Sejak Jakarta. Sejak kita belum tahu bagaimana rasanya kedinginan di negeri orang," aku Daffa, suaranya bergetar menahan ketegangan yang teramat sangat. "Tapi aku melihat bagaimana Anthony memandangmu. Dan aku melihat bagaimana kau memandangnya. Aku tidak tahu mana yang lebih menyakitkan: mengajarinya cara mendekati Tuhanmu, atau melihatnya perlahan menggeser posisiku di hatimu."
Dari kejauhan, Anthony berjalan kembali ke arah mereka, menyandarkan senyum hangat di wajahnya yang tampan. Ia belum menyadari keheningan beku yang baru saja tercipta di antara dua manusia di depannya.
"Arini! Daffa! Anginnya terlalu kencang, ayo kita turun!" panggil Anthony.
Daffa menghembuskan napas panjang, kabut putih keluar dari mulutnya. Ia menyerahkan jaket ekstra kepada Arini tanpa menatap matanya lagi. "Pakai jaketmu. Kau tidak boleh sakit."
Malam itu, Edinburgh diselimuti salju pertama. Salju jatuh tanpa suara, membungkus kota kuno itu dalam selimut putih yang bersih dan dingin.
Arini duduk di dalam kamar flatnya, menatap ke luar jendela. Kamera di mejanya memancarkan kedipan merah tipis—ia baru saja mengunggah video terbaru. Sebuah video tentang salju pertama di Edinburgh, dengan latar belakang lagu instrumental yang sendu.
Di bawah unggahan itu, baris kalimat manis dari pengikutnya kembali teringat: Sampaikan salamku pada Edinburgh...
Arini akhirnya mengerti. Kehangatan yang dicari orang-orang dalam videonya bukanlah tentang kota ini. Kehangatan itu adalah tentang bagaimana manusia saling menemukan di tengah dinginnya dunia.
Anthony menemukan pencariannya melalui Arini. Daffa menemukan cintanya dalam ketulusan untuk melepaskan. Dan Arini? Arini berdiri di persimpangan dua jalan yang sama-sama membawanya pada pendewasaan.
Ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk dari Anthony:
“Daffa membawaku ke masjid malam ini. Aku mengucapkan dua kalimat syahadat, Arini. Bukan untukmu. Tapi karena aku akhirnya paham apa arti ‘pasrah’ yang sering kau katakan. Terima kasih telah menjadi pintuku.”
Beberapa detik kemudian, sebuah pesan lain masuk. Dari Daffa:
“Dia sudah mengucapkan syahadatnya, Rin. Dia pria yang baik. Dan sangat tulus. Besok aku akan mengambil penerbangan awal ke London untuk konferensi seminggu. Jaga dirimu di Edinburgh.”
Arini menggenggam ponselnya erat-erat di dada. Air matanya menetes hangat, melintasi pipinya yang dingin, jatuh menimpa lensa kamera di atas meja.
Ia berjalan ke jendela, menempelkan telapak tangannya pada kaca yang membeku. Di luar sana, Edinburgh berdiri megah dalam keheningan salju—sebuah kota tempat cinta tak pernah benar-benar memiliki, melainkan hanya menyapa, memberi hangat, dan membiarkan setiap jiwa menemukan jalannya pulang.
"Salam untukmu, Edinburgh," bisik Arini pada malam yang dingin. "Terima kasih telah mengajari kami cara mencintai tanpa harus menggenggam."