Sampaikan Salamku Pada Edinburgh (Part 2)
Author: Alvaraby
Romantis;Asmara
Ada jenis keheningan yang lebih berisik daripada badai di puncak Arthur’s Seat. Keheningan itu tinggal di kamar flat Arini selama seminggu terakhir. Sejak Daffa berangkat ke London dan Anthony resmi memeluk Islam, atmosfer Edinburgh seperti berubah menjadi ruang kaca yang rentan retak.
Video-video yang diunggah Arini di TikTok dan Instagram kini dipenuhi narasi yang makin dalam. Netizen memanggilnya “Penyair Edinburgh”. Setiap unggahan pemandangan Calton Hill atau deretan café tua di Victoria Street selalu mengundang beratus-ratus ribu keterikatan emosional. Namun, di balik layar kaca ponsel yang berkilat, jemari Arini kerap dingin saat mengetik tulisan-tulisannya.
“Ada cinta yang mendekatkanmu pada Tuhan, tapi melipat pintu untuk bersamamu.”
Begitu salah satu caption Arini yang mendadak tular, disimpan puluhan ribu pengguna, dan dikomentari oleh anak-anak muda yang sedang patah hati di berbagai belahan dunia. Namun, Arini tahu tulisan itu bukan untuk netizen. Tulisan itu dibuat untuk dua nama yang kini bertengkar di dalam benaknya: Daffa dan Anthony.
Gerimis membeku menjadi serpihan es halus ketika Arini melangkah menyusuri George Square. Hari itu Daffa dijadwalkan kembali dari konferensinya di London. Anthony memintanya bertemu di perpustakaan lantai tiga—tempat biasa mereka bertiga berdiskusi.
Saat Arini melangkah mendekati meja sudut dekat jendela tinggi yang menghadap ke taman, ia melihat Anthony sudah duduk di sana. Di hadapannya melingkar sebuah tasbih kayu hitam dan sebuah buku catatan kecil berisikan tulisan tangan arab gundul yang kaku namun rapi.
"Anthony," panggil Arini pelan.
Anthony menoleh. Senyumnya terkembang—senyum yang kini tidak lagi memancarkan binar kebingungan khas pria lokal yang tersesat dalam rasionalitas Barat, melainkan binar ketenangan yang baru.
"Arini. Aku baru saja menyelesaikan hafalan Surah Al-Fatihah dengan benar. Daffa mengajariku lewat rekaman suara sebelum dia berangkat ke London," ujar Anthony, suaranya pelan penuh kebanggaan yang lugu.
Hati Arini terasa tercubit. "Daffa... masih mengajarimu?"
"Tentu saja. Dia guruku," Anthony menatap Arini dengan ketulusan yang polos. "Dia bilang, memeluk Islam adalah awal dari perjalanan panjang. Dia tak ingin aku berhenti hanya karena dia sedang tidak ada di Edinburgh."
Arini menarik napas panjang, menduduki kursi kayu di depan Anthony. "Anthony... boleh aku bertanya sesuatu?"
"Apa pun, Arini."
"Apakah keputusanmu ini... benar-benar murni karena hatimu? Bukan karena kau ingin aku melihatmu dengan cara yang berbeda?"
Anthony menunduk sejenak. Tangannya mengusap pinggiran tasbih kayu yang merupakan pemberian Daffa.
"Jujur saja, awal mulanya kau adalah kompasnya, Arini," jawab Anthony pelan, matanya menatap tepat ke manik mata Arini. "Aku melihat caramu berdoa saat kau berpikir tak ada orang yang memperhatikan. Kau terlihat begitu... utuh. Aku yang tumbuh di tengah dunia yang serba cepat dan kosong ini merasa cemburu. Aku ingin merasakan rasa tenang yang kau miliki."
Anthony menghentikan kalimatnya, menghela napas panjang. "Tapi saat Daffa membawaku ke masjid pada malam salju pertama itu... saat dahiku menyentuh sajadah untuk pertama kalinya, ada sesuatu yang patah di dalam diriku. Kesombonganku. Kebanggaanku sebagai pria Western yang merasa bisa mengendalikan segala hal. Malam itu, aku bersaksi bukan untuk mendapatkanmu. Aku bersaksi karena aku menemukan Penciptaku."
Arini tertegun. Kata-kata Anthony menghantam dadanya seperti gelombang dingin Firth of Forth. Ketulusan pria Skotlandia itu begitu murni, begitu tak ternoda.
Namun tepat pada saat itu, sebuah langkah kaki tergesa mendekat.
Daffa berdiri di ujung lorong rak buku. Ransel hitamnya masih menempel di bahu, wajahnya tampak lelah dengan lingkaran hitam di bawah mata, dan jaket tebalnya masih basah oleh sisa lelehan salju.
"Daffa!" Anthony berdiri, hendak memeluk sahabat sekaligus guru spiritual barunya itu.
Namun Daffa tidak bergerak. Matanya menatap Anthony dengan tatapan yang sangat asing—bukan tatapan tenang dan teduh yang biasa ia tunjukkan, melainkan tatapan yang sarat akan luka, amarah, dan sebuah rahasia besar yang ditahan setengah mati.
"Daf? Ada apa?" Arini berdiri, merasakan ada perubahan garis takdir yang sangat tajam di udara.
Daffa melempar sebuah amplop cokelat tebal ke atas meja kayu. Amplop itu mendarat tepat di samping tasbih milik Anthony.
"Buka itu, Anthony," suara Daffa dingin. Begitu dingin hingga mengalahkan cuaca Edinburgh di luar jendela.
Anthony mengerutkan kening. Jemarinya yang panjang membuka segel amplop tersebut dan mengeluarkan selembar dokumen tebal bertulisan bahasa Arab dan Inggris, lengkap dengan stempel resmi dari Islamic Centre of Edinburgh serta sebuah surat pernyataan pribadi yang sudah menguning.
Arini ikut membaca sekilas dari samping, dan seketika jantungnya seolah berhenti berdetak.
Dokumen itu adalah sertifikat mualaf dan dokumen silsilah keluarga. Di sana tertera nama lengkap ibu kandung Anthony—seorang wanita keturunan Indonesia-Arab yang telah lama menghilang dari kehidupan Anthony sejak ia masih balita.
Dan di bagian bawah surat pernyataan itu, tercantum nama lengkap ayah kandung yang menuliskan hak asuh... nama yang sangat Arini kenal.
Nama ayah kandung Daffa Iskandar.
"Apa... apa artinya ini, Daffa?" suara Anthony gemetar, lidahnya mendadak kaku mengeja kata-kata di kertas tersebut.
Daffa tertawa. Tawa yang kali ini penuh ironi dan rasa sakit yang menyayat jiwa.
"Artinya, kita bukan sekadar dua orang pria yang kebetulan menyukai wanita yang sama di kota ini, Anthony," bisik Daffa dengan suara serak. "Artinya, kau adalah saudara satu ayahku yang hilang."
Dunia seperti hancur berkeping-keping di sudut perpustakaan George Square itu.
Arini membekap mulutnya sendiri. Air mata langsung menumpuk di pelupuk matanya. "Daf... tidak... ini tidak mungkin..."
"Ibunya meninggalkan ibuku di Jakarta 22 tahun lalu dan membawa Anthony ke Skotlandia," ujar Daffa, matanya merah memandang Anthony yang membeku seperti patung batu. "Ayahku menanggung rasa salah seumur hidupnya. Sebelum aku berangkat ke Edinburgh tahun lalu, ayah memintaku satu hal: cari anak dari wanita itu. Cari saudaramu yang tak pernah mengenal Islam."
Daffa melangkah mendekati Anthony, suaranya gemetar hebat menahan tangis yang pecah.
"Aku menemukanmu di kampus ini tiga bulan lalu, Anthony! Aku tahu siapa kau sejak hari pertama! Aku mendekatimu, aku mengajarimu Islam, aku menuntunmu bersyahadat... bukan cuma karena kau teman Arini. Tapi karena itu amanah terakhir ayahku sebelum beliau meninggal bulan lalu!"
Anthony terduduk lemas di kursinya. Wajahnya yang pucat bertambah putih seperti kertas. "Ayah... meninggal?"
"Ya! Dan kau tahu apa plot twist paling jahat dalam hidupku?" Daffa menuding dadanya sendiri dengan jemarinya yang bergetar. "Aku menuntun saudara kandungku sendiri menuju Tuhan... sementara aku harus menyaksikan wanita yang kucintai selama lima tahun terakhir perlahan jatuh hati padamu!"
"Daffa, cukup!" jerit Arini. Air matanya merembes keluar, melintasi pipinya. "Kenapa kau tidak pernah cerita padaku?!"
Daffa menoleh pada Arini. Pandangannya hancur. "Bagaimana aku bisa cerita, Rin? Bagaimana aku bisa bilang kalau pria yang sering kau ceritakan di depanku—pria yang membuat matamu berbinar-binar belakangan ini—adalah orang yang memegang separuh darah ayahku? Bagaimana aku bisa bersaing dengan saudaraku sendiri untuk mendapatkan hatimu?!"
Keheningan melahap ruang perpustakaan. Beberapa mahasiswa asing yang duduk di sekitar mereka mulai menoleh heran, tetapi Daffa, Arini, dan Anthony sudah tak peduli pada dunia di luar mereka.
Anthony menatap kertas di tangannya, lalu menatap Daffa. "Jadi... semua kebaikanmu... semua pengajaranmu... itu hanya karena takdir darah? Dan karena ayahmu?"
"Tidak!" Daffa berteriak pelan, napasnya tersengal. "Aku menyayangimu sebagai saudaraku! Tapi aku juga membencimu, Anthony! Aku benci karena kau mendapatkan segalanya dengan begitu mudah! Kau mendapatkan hidayah yang kucari-carikan untukmu, dan kau mendapatkan perhatian wanita yang tak pernah bisa kugenggam hatinya selama bertahun-tahun!"
Daffa membalikkan badan. Tanpa mengucap sepatah kata pun lagi, ia menyambar ranselnya dan berlari keluar dari perpustakaan, menembus badai es yang mulai turun menutupi jalanan Edinburgh.
"Daffa!" Arini hendak mengejar, tetapi tangannya ditahan oleh Anthony.
Genggaman tangan Anthony bergetar hebat. Pria Skotlandia itu menatap Arini dengan mata biru yang kini digenangi air mata.
"Jangan kejar dia, Arini," bisik Anthony, suaranya patah. "Dia butuh waktu. Dan... aku butuh jawabanmu."
Arini terpaku dalam posisinya. "Anthony..."
"Apakah Daffa benar?" tanya Anthony pelan, setiap kata terasa seperti siksaan. "Apakah kau mencintaiku? Atau kau hanya mencintai bayangan tentang seseorang yang baru saja menemukan agamamu?"
Arini menutup matanya. Di dalam kegelapan di balik kelopak matanya, bayangan Daffa yang selalu memegang jaketnya saat kedinginan, Daffa yang menunggunya di perpustakaan Jakarta, dan Daffa yang menyembunyikan luka di balik senyum ramahnya bertabrakan dengan bayangan Anthony yang menatapnya penuh harap di toko buku tua.
Cinta segitiga ini bukan lagi tentang siapa yang memilih siapa. Ini telah menjadi benang kusut takdir yang menguji batas keikhlasan tiga jiwa manusia.
Malam harinya, badai salju menyelimuti Edinburgh lebih dahsyat dari sebelumnya. Angin bertiup keras meraung-raung di sela-sela bangunan Gotik Old Town.
Arini berdiri di dalam flatnya. Ponselnya terus memancarkan sinyal merah. Unggahan video terbarunya—sebuah bingkai hitam tanpa pemandangan, hanya suara angin dan tulisan pendek tentang keikhlasan—telah dibanjiri puluhan ribu komentar netizen yang merasakan ada duka mendalam dari sang kreator.
@callmefaa: Kak... kenapa videonya terasa sangat perih malam ini? Ada apa dengan Edinburgh?
@rasa.senja: Sepertinya Kak Arini sedang berada di titik terendah. Doa kami dari Indonesia untukmu, Kak.
Arini membaca komentar-komentar itu dengan jemari gemetar. Netizen meraba dinginnya Edinburgh lewat layar ponsel mereka, tetapi mereka tak pernah tahu betapa dinginnya hati Arini saat ini.
Sebuah ketukan keras terdengar di pintu flat Arini.
Ketika Arini membuka pintu, ia menemukan Anthony berdiri di sana. Wajah pria itu lebam di sudut bibir, bajunya basah kuyup oleh lelehan es, dan matanya memerah.
"Anthony! Apa yang terjadi dengan wajahmu?!" Arini panik, menarik Anthony masuk ke dalam ruangan yang hangat.
"Aku menyusul Daffa ke flatnya," ujar Anthony dengan suara parau. Ia menolak duduk. "Kami bertengkar. Kami... berkelahi seperti dua anak kecil di tengah salju."
"Kalian gila!" Arini menutupi hatinya yang gemetar. "Kalian bersaudara!"
"Kami berkelahi bukan karena darah, Arini!" jerit Anthony, untuk pertama kalinya meluapkan emosinya yang selama ini terpendam. "Kami berkelahi karena kami berdua sama-sama penakut! Dia takut menyatakan perasaannya padamu selama bertahun-tahun, dan aku takut mengakui bahwa aku tak layak untukmu mau pun untuk agama baruku ini!"
Anthony memegang kedua bahu Arini. Matanya menatap tepat ke dalam mata wanita itu.
"Daffa sudah mengemas barang-barangnya. Dia mengajukan cuti akademik dan mengambil penerbangan kembali ke Indonesia besok pagi. Dia meninggalkan Edinburgh, Arini. Dia meninggalkanku... dan meninggalkanmu."
Dunia Arini runtuh seketika. "Daffa... pulang?"
"Dia melepaskanmu," bisik Anthony, air matanya menetes jatuh ke lantai kayu. "Dia bilang padaku malam ini: 'Jika kau benar-benar memeluk Islam, jagalah Arini dengan cara yang benar. Jangan pernah buat dia menangis seperti yang kubuat hari ini.'"
Arini melepaskan cengkeraman Anthony di bahunya. Ia melangkah mundur, bertumpu pada meja kayu.
Pikirannya melayang pada kenangan bertahun-tahun lalu. Tentang Daffa yang selalu membawakan payung saat hujan turun di kampus Jakarta, tentang Daffa yang selalu memastikan Arini aman sebelum ia pulang, tentang Daffa yang memilih menjadi keheningan agar Arini bisa terus bersinar.
Daffa tidak pernah kalah dari Anthony. Daffa hanya sedang mengamalkan ilmu tertinggi yang selalu ia ajarkan pada Anthony: konsep pasrah dan melepaskan.
"Arini..." Anthony mendekat selangkah. "Jika Daffa pergi... apakah kau akan memberiku kesempatan? Kita bisa belajar bersama. Aku bisa menjadi pria yang kau butuhkan."
Arini menatap Anthony. Di dalam mata biru pria itu, ia melihat kejujuran seorang mualaf yang baru lahir. Namun, Arini juga melihat bayangan sebuah luka yang tak akan pernah sembuh jika mereka memaksa untuk bersama di atas reruntuhan kebahagiaan Daffa.
"Anthony," suara Arini terdengar sangat pelan, tetapi tegas. "Kau tahu apa hal paling indah dari Islam yang kau pelajari dari Daffa?"
Anthony terdiam, menatap Arini bingung.
"Bahwa cinta tertinggi bukan tentang memiliki orang yang kita cintai," air mata Arini mengalir deras, namun bibirnya mengukir senyum paling tulus yang pernah ada. "Tapi tentang memastikan orang yang kita cintai tidak kehilangan jalannya menuju Tuhan."
Arini melangkah ke sudut ruangan, mengambil kamera kesayangannya, lalu menyerahkannya ke tangan Anthony.
"Daffa pergi bukan karena dia benci padamu, Anthony. Dia pergi karena dia perlu menyembuhkan hatinya dari rasa bersalah pada ayahnya, dan rasa sakit karena mencintaiku dalam diam," Arini menggenggam jemari Anthony yang memegang kamera itu. "Jika aku memilihmu malam ini... kau akan selalu hidup dalam bayang-bayang rasa bersalah pada saudaramu sendiri. Dan aku... aku tidak akan pernah bisa melihat wajahmu tanpa teringat pengorbanan Daffa."
Anthony tertegun. Kata-kata Arini menusuk tepat di pusat kesadarannya.
"Lalu... bagaimana dengan kita?" bisik Anthony dengan suara tercekat.
"Kita adalah cerita yang diselesaikan oleh kota ini, Anthony," jawab Arini lembut. "Kau telah menemukan Tuhanmu. Itu adalah hadiah terbesar dari takdir ini. Jangan noda hadiah itu dengan ego cinta anak manusia."
Keesokan harinya, subuh pecah di Edinburgh. Langit berubah warna menjadi merah keunguan yang magis di atas garis horizon Scott Monument. Salju berhenti turun, meninggalkan ketenangan yang sempurna di seluruh penjuru kota.
Di bandara Edinburgh, Daffa berjalan melintasi lorong keberangkatan dengan langkah berat. Ranselnya terasa berkali-kali lipat lebih tebal dari biasanya. Ketika ia hampir mencapai gerbang pemeriksaan paspor, ponsel di sakunya bergetar.
Sebuah notifikasi video baru diunggah oleh akun Arini Santiana.
Daffa menghentikan langkahnya. Jemarinya yang dingin membuka aplikasi tersebut.
Video itu tidak menampilkan wajah Arini. Video itu menampilkan rekaman pemandangan Edinburgh dari puncak Calton Hill saat matahari terbit—cahaya keemasan yang menerpa batu-batu tua dan hamparan salju putih.
Suara rekaman vokal Arini terdengar mengalun lembut sebagai latar belakang, diiringi petikan gitar akustik yang melodramatis dan sendu:
"Untuk dua jiwa yang dipertemukan di tanah Britania ini...
Terima kasih telah mengajariku bahwa cinta tak pernah salah memilih tempat untuk tumbuh. Ia bisa tumbuh di antara lembaran buku tua perpustakaan, di antara deru angin Arthur’s Seat, atau di dalam sujud panjang di malam berbadai.
Daffa... terima kasih telah menjadi sajadah bagi perasaanku selama lima tahun ini. Maafkan aku yang terlalu buta untuk membaca doa-doa yang kau selipkan dalam keheninganmu. Pulanglah ke Indonesia dengan hati yang lapang. Ayahmu pasti bangga, karena putra yang ditinggalkannya telah berhasil membawa saudaranya pulang ke jalan cahaya.
And for you, Anthony... selamat datang di jalan baru hidupmu. Berjalanlah dengan tegak sebagai seorang Muslim. Jangan cari aku di dalam jiwamu, tapi carilah Tuhan yang baru saja kau temukan.
Edinburgh hari ini melepas kita bertiga. Kita tidak bersatu dalam ikatan manusia, tapi kita dipersatukan dalam keikhlasan yang tertinggi.
Sampaikan salamku pada Edinburgh... terima kasih telah menjadi saksi bisu, bahwa terkadang, cara mencintai paling sempurna adalah dengan membiarkan satu sama lain saling melepaskan."
Di layar ponsel Daffa, jumlah likes dan komentar meroket dalam hitungan detik. Netizen dari seluruh Indonesia memenuhi kolom komentar dengan air mata virtual dan rasa haru yang mendalam.
@callmefaa: Ya Allah... nangis banget di pojokan kamar. Cinta yang selesai di puncak keikhlasan. Terima kasih untuk cerita indahnya, Kak Arini... 😭 mendadak kerasa dinginnya Edinburgh sampai ke sini.
@penikmat_senja: Plot twist paling menyakitkan tapi paling indah. Daffa melepaskan saudaranya, Anthony menemukan agamanya, dan Arini memilih untuk tidak merusak keduanya. Ini mahakarya rasa.
Di depan gerbang keberangkatan, Daffa menyapu air mata yang akhirnya menetes membasahi pipinya. Ia tersenyum—sebuah senyum lega yang murni. Ia mematikan ponselnya, melangkah masuk ke dalam pesawat, membawa pulang seluruh kenangan dan cintanya yang telah ia titipkan dengan aman di sudut kota Edinburgh.
Di saat yang sama, di sudut masjid Old Town, Anthony berdiri menatap jendela yang tertutup embun. Ia mengusap tasbih kayu pemberian Daffa, lalu melafalkan ayat Al-Qur'an pertamanya dengan mata berair.
Dan di puncak Calton Hill, Arini berdiri sendirian di bawah sinar matahari pagi. Angin dingin menyapa wajahnya, tetapi dadanya kini hangat. Ia telah menyampaikan salamnya pada Edinburgh, dan kota itu telah menjawabnya dengan kedamaian yang abadi.