Sampaikan Salamku Pada Edinburgh (Part 4)
Author: Alvaraby
Romantis;Asmara
Jika manusia adalah sebuah lensa, Arini Santiana adalah lensa yang dipoles terlalu licin. Begitu mengilat hingga pantulannya mampu memperlihatkan keindahan kota Edinburgh dengan sempurna, namun cukup tebal untuk menyembunyikan retakan besar di baliknya.
Netizen Gen Z mengenal Arini sebagai manifestasi estetika: estetik dalam bertutur, halus dalam berbusana, dan magis dalam menangkap sudut-sudut visual Britania. Namun, di balik seratus juta penayangan video dan komentar-komentar yang memuji keanggunannya, Arini tinggal di dalam sebuah penjara tak berjeruji.
Penjara itu bernama ingatan.
Tiga hari setelah kepulangan Daffa ke Jakarta, Edinburgh dilanda angin gale dari Laut Utara. Suara angin yang melolong memukul jendela-jendela tinggi di toko buku tua tempat Arini bekerja.
Anthony duduk di sudut ruangan, membolak-balik lembaran buku sejarah hukum Islam yang ditinggalkan Daffa. Semenjak skandal investigasi Katherine Subrata mereda, hubungan antara Anthony dan Arini bermutasi menjadi sebuah keheningan yang saling menghormati. Mereka tidak lagi membicarakan perasaan. Mereka adalah dua penyintas dari badai takdir yang sama.
"Arini," panggil Anthony pelan.
Arini yang sedang merapikan rak buku fiksi tidak menoleh. Jemarinya yang berbalut sarung tangan rajut bergerak cepat, hampir mekanis.
"Kau belum menyentuh kameramu sejak Daffa pergi," lanjut Anthony, menatap tas kulit hitam di atas meja yang kini berdebu.
"Kamera itu sudah menyelesaikan tugasnya, Anthony," jawab Arini pendek. Suaranya datar, tanpa riak emosi yang biasanya menghiasi narasi videonya.
"Atau kau sedang takut?"
Langkah kaki Anthony mendekat. Pria Skotlandia itu tidak lagi menatap Arini dengan binar pemuda kasmaran, melainkan dengan ketajaman seorang saudara yang mulai menyadari ada ketidakberesan di depan matanya.
"Kemarin malam, aku menerima email dari Daffa," ujar Anthony.
Jemari Arini mendadak berhenti di atas punggung buku tebal. "Daffa?"
"Dia sudah tiba di Jakarta. Dia mulai mengurus legalitas Yayasan Fatimah White," Anthony menghela napas panjang, menarik selembar kertas bertuliskan tangan dari dalam saku jaketnya. "Tapi Daffa tidak mengurus yayasan itu sendirian. Dia memintaku memeriksa berkas lama milik almarhum ayahnya. Berkas tentang sebuah panti asuhan di daerah Cicalengka, Jawa Barat."
Arini bergeming. Bahunya menegang kaku di balik mantel tebalnya.
"Nama panti asuhan itu... Griya Kasih Ibu," lanjut Anthony dengan lafal bahasa Indonesia yang kaku namun jelas. "Daffa menemukan dokumen bahwa aset minyak ayahnya yang dilarikan ke luar negeri bukan hanya atas nama ibuku... tapi juga atas nama pendiri panti asuhan tersebut. Seorang wanita bernama Ratih Santiana."
Nama itu mengudara di udara toko buku yang dingin, dan seketika Arini melepaskan buku di tangannya. Buku tebal itu jatuh menghantam lantai batu dengan suara dentuman keras yang menggelegar.
Fakta tidak pernah berdiri sendiri. Ia selalu ditarik oleh benang-benang takdir yang tersembunyi.
Ratih Santiana adalah ibu kandung Arini.
Netizen selama ini mengenali Arini sebagai anak yatim piatu mandiri dari keluarga terpelajar yang berhasil memenangkan beasiswa magister lewat jalur prestasi. Narasi itu begitu rapi, begitu menginspirasi, dan disukai oleh algoritmik media sosial yang mengagungkan perjuangan anak muda dari kalangan bawah.
Namun, kejujuran yang sebenarnya jauh lebih kelam dari sekadar naskah drama puitis.
"Arini... siapa kau sebenarnya?" suara Anthony bergetar. "Kenapa nama ibumu ada di dalam dokumen pencucian uang ayah Daffa?"
Arini perlahan berbalik. Wajahnya pucat pasi, matanya yang biasa teduh kini memancarkan rasa takut yang begitu pekat—rasa takut dari seorang anak kecil yang terpojok di sudut ruangan gelap.
"Kau ingin tahu siapa aku, Anthony?" Arini tertawa pelan. Tawa yang sangat asing, penuh satire dan keputusasaan yang merindingkan bulu kuduk. "Aku adalah jaminan."
Sore itu, di dalam flat Arini yang temaram, seluruh bingkai estetika itu dibongkar sampai ke fondasi paling berdarah.
Arini membuka sebuah kotak besi tua yang tersembunyi di bawah tempat tidurnya. Di dalamnya bukan ada memoar puitis atau surat cinta masa lalu, melainkan berkas-berkas kepolisian bertahun 2015, sertifikat medis dari rumah sakit jiwa, dan potongan berita surat kabar lokal yang menguning.
Anthony membaca lembar demi lembar dengan napas tertahan.
Sepuluh tahun lalu, panti asuhan Griya Kasih Ibu yang dikelola ibu Arini bukanlah tempat perlindungan, melainkan kedok dari jaringan perantara adopsi ilegal dan pencucian uang dari para pejabat korup—termasuk ayah Daffa. Ibu Arini adalah akuntan rahasia yang memegang seluruh kunci brankas gelap tersebut.
Ketika kasus itu hampir tercium oleh aparat hukum pada tahun 2016, sebuah kebakaran hebat menghancurkan panti asuhan tersebut. Ibu Arini tewas dalam insiden yang dinyatakan sebagai kecelakaan, tetapi dokumen kepolisian menunjukkan indikasi sabotase yang disengaja untuk membungkam saksi kunci.
Arini—yang saat itu baru berusia lima belas tahun—terjebak di dalam kamar belakang yang terbakar. Ia berhasil selamat, namun menyaksikan dengan matanya sendiri bagaimana ibunya dikunci dari luar oleh seseorang yang mengenakan cincin stempel berlogo khusus.
Cincin stempel milik ayah Daffa Iskandar.
"Ya Tuhan..." Anthony membekap mulutnya sendiri. Kertas-kertas di tangannya bergetar hebat. "Daffa... ayah Daffa..."
"Ayah Daffa membakar panti itu untuk menghilangkan jejak uangnya," suara Arini dingin seperti es di Firth of Forth. Air mata mengalir di pipinya tanpa jeda, namun suaranya tetap terkendali dengan mengerikan. "Dan kau tahu siapa yang menyelamatkanku malam itu? Siapa yang menarik tubuhku dari kobaran api dan menyembunyikanku dari kejaran anak buah ayah Daffa?"
Anthony menatap Arini dengan mata membelalak. "Siapa?"
"Daffa."
Keheningan melahap ruangan.
"Daffa yang malam itu baru berusia delapan belas tahun," lanjut Arini, suaranya mulai memecah. "Dia menyengaja datang ke panti karena dia tahu ayahnya merencanakan hal keji. Daffa mendobrak jendela belakang, menyeret tubuhku yang hampir kehabisan oksigen, dan menyembunyikannya di flat sewaan kecil di Jakarta."
Arini meremas dadanya sendiri, menahan sesak yang telah tertahan selama satu dekade.
"Selama sepuluh tahun ini, Anthony... Daffa tidak mencintaiku sebagai seorang wanita dalam romansa picisan yang kalian bayangkan! Daffa merawatku, membiayai sekolahku, menungguku di depan perpustakaan, dan membawaku ke Edinburgh... bukan karena dia jatuh cinta padaku! Tapi karena dia menanggung dosa pembunuhan yang dilakukan ayahnya kepada ibuku!"
Plot twist itu meruntuhkan seluruh narasi romantis yang selama ini dipercayai publik.
Netizen Gen Z yang memuja drama cinta segitiga antara Arini, Daffa, dan Anthony di internet selama ini hanyalah penonton dari sebuah panggung teater penebusan dosa.
Daffa menyembunyikan cintanya bukan karena dia malu atau penakut, melainkan karena setiap kali dia menatap mata Arini, yang dia lihat adalah bayangan kulit terbakar dan jeritan ibu Arini di tengah kobaran api. Daffa merasa tidak berhak memiliki Arini sebagai kekasih; dia hanya berhak menjadi pelindung yang membayar utang darah ayahnya.
"Lalu... kenapa kau membuat video-video itu?" tanya Anthony, suaranya parau. "Kenapa kau merekam Edinburgh dengan begitu indah?"
Arini menatap kameranya yang tergeletak di meja.
"Karena aku menderita Post-Traumatic Stress Disorder yang parah, Anthony," aku Arini, bibirnya gemetar. "Aku tidak bisa melihat dunia nyata tanpa merasa takut api akan membakarku lagi. Lewat lensa kamera... lewat penyaring warna jingga dan dinginnya salju Edinburgh... aku menciptakan dunia palsu di mana aku merasa aman. Aku menjual keindahan kota ini kepada netizen, bukan karena aku mencintainya... tapi karena aku butuh orang lain percaya bahwa dunia ini masih bisa terlihat indah."
Arini tertawa pahit, menatap ponselnya yang masih memancarkan notifikasi dari jutaan pengikutnya.
"Kalian menganggapku penyair. Kalian menganggapku estetik. Padahal aku hanya seorang anak perempuan yang ketakutan, yang menggunakan estetika media sosial sebagai obat penenang agar aku tidak melompat dari atas Dean Village."
Malam itu, rahasia terakhir runtuh secara total.
Arini melakukan sesuatu yang tidak pernah dibayangkan oleh para pengikutnya di media sosial. Ia menyalakan fitur Live Streaming di akun pribadinya—sebuah siaran langsung yang mendadak disaksikan oleh lebih dari lima ratus ribu penonton dalam hitungan menit.
Di depan kamera, Arini tidak mengenakan pakaian estetiknya. Ia berdiri di kamar temaramnya, tanpa riasan wajah, dengan latar belakang dokumen-dokumen kepolisian dan foto masa lalunya yang kelam.
Dengan suara yang tenang namun menghantam ulu hati siapa pun yang mendengar, Arini membacakan fakta sebenarnya:
"Untuk kalian yang selama ini mengikuti narasi keikhlasan dan cinta segitiga di kota ini... maafkan aku.
Tidak ada romansa di Edinburgh. Yang ada hanya tiga jiwa yang terluka oleh dosa generasi sebelum kami.
Daffa tidak melepaskanku karena dia pasrah dalam cinta. Daffa pergi karena dia adalah putra dari pria yang membunuh ibuku, dan dia telah menghabiskan seluruh masa mudanya untuk membiayai hidupku sebagai bentuk penebusan dosa.
Anthony tidak bersyahadat karena mengejarku. Anthony bersyahadat karena dia adalah korban lain dari uang gelap yang sama, yang sedang mencoba mencari kedamaian di tengah kekacauan keluarga kami.
Dan aku... aku bukanlah perempuan puitis yang pandai mencintai kota ini. Aku hanya seorang survivor yang memanfaatkan trauma menjadi konten, agar aku tidak gila oleh ingatan masa lalu."
Kolom komentar live streaming mendadak melambat. Jutaan netizen yang biasanya bising dengan teori romansa dan komentar klise terhenyak dalam keheningan massal.
@callmefaa: Ya Tuhan... ini beneran? Gue sampai merinding gemetaran... Arini, maafin kami yang selama ini cuma jadikan hidupmu konsumsi estetika... 😭😭
@suara_generasi: Plot twist-nya tajam banget. Ternyata di balik konten estetik Edinburgh ada luka trauma separah ini. Daffa luar biasa hebat menanggung beban itu sendirian selama 10 tahun.
@penikmat_realita: Ini bukan sekadar cerita cinta lagi. Ini tentang kesehatan mental, karma keluarga, dan bagaimana sosmed memalsukan realitas. Arini, kamu kuat banget.
Arini menatap layar ponselnya untuk terakhir kalinya.
"Terima kasih telah menemani imajinasiku selama ini," bisiknya pelan. "Tapi malam ini, aku menutup bingkai ini. Aku tidak ingin lagi bersembunyi di balik lensa."
Arini menekan tombol Delete Account. Dalam satu klik, akun dengan jutaan pengikut itu lenyap dari dunia maya—menghapuskan seluruh jejak digital "Penyair Edinburgh" dalam hitungan detik.
Musim semi akhirnya benar-benar tiba di Edinburgh. Bunga-bunga cherry blossom mulai bermekaran di sepanjang Meadow Park, menggantikan kebekuan salju yang telah mencair.
Di bandara Edinburgh, Anthony mengantar Arini yang membawa satu koper sederhana. Tidak ada kamera di lehernya. Hanya ada sebuah buku catatan polos dan tatapan mata yang kini tampak nyata—bukan lagi tatapan kosong yang tersembunyi di balik lensa.
"Kau yakin ingin pulang ke Indonesia?" tanya Anthony.
Arini tersenyum. Senyum pertama yang benar-benar murni, tanpa ada beban estetika yang harus dijaga.
"Aku harus menghadapi rumahku, Anthony," jawab Arini lembut. "Aku tidak bisa terus menyembuhkan trauma di negeri orang. Aku dan Daffa... kami harus menyelesaikan proses hukum aset itu bersama-sama, dan memulai hidup tanpa rasa bersalah yang mengikat kami."
"Dan bagaimana dengan kameramu?"
Arini melihat koper kecilnya. "Aku akan mengambil foto lagi suatu hari nanti. Tapi bukan untuk membuktikan kepada dunia bahwa hidupku indah. Aku akan memotret untuk merekam bahwa aku berhasil bertahan hidup."
Anthony memeluk Arini sebentar—sebuah pelukan hangat antara dua manusia yang telah saling membebaskan dari belenggu masa lalu.
"Salam untuk Indonesia, Arini," bisik Anthony.
"Dan salamku untuk Edinburgh," balas Arini, menatap langit biru di atas bandara. "Terima kasih telah menjadi tempatku bersembunyi, sampai aku cukup kuat untuk pulang."
Arini membalikkan badan, melangkah masuk ke dalam gerbang keberangkatan. Di luar sana, Edinburgh berdiri tenang di bawah sinar matahari pagi—bukan lagi sebagai tempat pelarian yang puitis, melainkan sebagai babak awal dari proses kesembuhan jiwa yang sejati.