Tentang Dia
Author: Pemandu Jiwa
Teen;Romantis
Sungguh, aku sama sekali tidak memahaminya. Di bawah langit senja yang memudar, aku menatap bayangannya yang terpantul di jendela kaca kamar. Dia berdiri disana, diam, tanpa ekspresi yang bisa dibaca. Dia tidak baik, tapi tidak jahat juga. Tidak ada label hitam atau putih yang bisa disematkan padanya. Semuanya abu-abu, membingungkan, dan melelahkan.
Dia punya pola pikir yang rumit dan kepribadiannya sulit tuk ku mengerti. Pikirannya seperti labirin tanpa ujung, di mana setiap lorong yang kuanggap sebagai jalan keluar ternyata hanya jebakan menuju titik awal. Beberapa kali ku coba tuk mengalahkannya dalam setiap argumen dan pertarungan batin, tapi tetap saja aku dikalahkan oleh egonya. Ego yang menjulang tinggi, kokoh, dan menghancurkan setiap rasionalitas yang kuusahakan.
Bertahun-tahun ku coba untuk berdiri tanpanya. Aku mencoba membangun duniaku sendiri di atas reruntuhan asa yang tersisa. Namun, lagi-lagi aku diseret olehnya. Tanpa suara, tanpa peringatan, tarikan itu begitu kuat menyeretku kembali ke dalam lingkaran setan yang sama. Luka tanpa bekas, mengangah dan perih. Tidak ada lebam di kulitku, tidak ada tetesan darah yang bisa dilihat oleh orang lain. Tapi rasa sakitnya nyata. Menghujam tepat di ulu hati. Aku seperti tercekik tanpa ampun oleh aturan-aturan tak kasat mata, merintih keras hingga memerah mataku, kehabisan oksigen dalam ruangan yang penuh dengan kehadirannya.
Aku berlari menjauhinya. Kaki ini melangkah kencang, menembus kabut malam, meninggalkan tempat di mana ia berkuasa. Namun, lagi-lagi dipukul jatuh oleh aturannya. Semesta seolah bersekongkol dengannya. Setiap langkah pelarianku selalu berakhir di garis batas yang ia tentukan sendiri.
Belenggu kecil kian mengencang. Bukan rantai besi yang berat, melainkan ikatan-ikatan halus dari ekspektasi, rasa bersalah, dan ketakutan yang mengikat keras hingga membuat luka baru di atas luka yang lama. Sayapku patah, jatuh dengan keras ke bumi. Impian-impianku, kebebasanku, semuanya berserakan. Ingin ku berlari tanpa melihat ke belakang, menghilang dari sisinya untuk selamanya. Sebab dia adalah paradoks yang membunuh perlahan: dia bisa kelihatan menakutkan saat amarahnya menguasai, tapi di detik berikutnya, ia bisa kelihatan seperti malaikat tanpa sayap yang menawarkan kehangatan palsu.
Betapa miris diriku. Terjebak dalam sangkar emas yang ia buat sendiri. Bahkan untuk sekedar bernafas pun aku tak sanggup. Udara terasa begitu berat, menyesakkan dada.
Mengerikan...
Sungguh mengerikan...
Dia selalu berkedok demi kebaikan, tapi cara yang digunakannya adalah kehancuran. Dia membuat semuanya rusak, berkeping-keping, namun dengan senyuman dingin ia berkata bahwa itu semua jauh lebih baik untukku.
Rumah seharusnya menjadi tempat paling aman di muka bumi. Sebuah suaka untuk menyembuhkan lelah, tempat di mana topeng-topeng sosial bisa dilepas dan kita bisa bernapas dengan lega. Namun, bagiku, rumah adalah labirin yang dipenuhi oleh bayangannya.
Di sinilah semuanya berakar.
Aku masih ingat bagaimana hari-hari awal keterikatan dimulai. Tidak ada paksaan yang kasar. Semuanya berjalan begitu halus, merayap masuk ke dalam celah-celah pikiran seperti kabut pagi yang dingin. Dia datang dengan dalih perlindungan. Katanya, dunia di luar sana terlalu kejam untuk orang sepertiku. Katanya, hanya dia yang benar-benar tahu apa yang terbaik untuk masa depanku.
Awalnya, aku percaya. Siapa yang tidak akan luluh ketika seseorang mendedikasikan diri untuk "menjaga" kita?
Namun seiring waktu berjalan, perlindungan itu berubah bentuk menjadi pengawasan. Perlahan tapi pasti, batasan-batasan mulai dibuat. Garis tak kasat mata ditarik di sekeliling ruang gerakku. Teman-temanku mulai tersingkir satu per satu, karena menurutnya mereka membawa pengaruh buruk. Pendapatku mulai dianggap angin lalu, karena dianggap tidak matang dan kekanak-kanakan.
Setiap kali aku mencoba membela diri, mencoba membuktikan bahwa aku bisa berdiri di atas kakiku sendiri, di situlah perang dingin dimulai. Ia tidak perlu berteriak untuk membuatku ciut. Cukup dengan tatapan dingin, helaan napas berat penuh kekecewaan, dan kalimat-kalimat manipulatif yang membalikkan keadaan seolah akulah pihak yang paling berdosa.
"Aku melakukan ini semua demi kamu," ucapnya kala itu, dengan suara yang terdengar begitu tulus namun menohok ulu hati.
Kalimat itu adalah mantra sekaligus belenggu. Mantra yang membuatku merasa bersalah setiap kali ingin melangkah pergi, dan belenggu yang memastikan aku tetap bertekuk lutut di bawah kendalinya.
Pola pikirnya yang rumit membuatku lelah. Ia bisa memperdebatkan hal-hal sepele selama berjam-jam, memutarbalikkan logika hingga aku merasa akulah yang gila. Aku sering terjaga sampai subuh, menatap langit-langit kamar, mencoba merasionalkan apa yang sebenarnya terjadi dalam hubungan kami. Mengapa aku selalu merasa bersalah? Mengapa setiap keputusan kecil harus melalui persetujuannya?
Kepribadiannya adalah teka-teki yang tidak akan pernah bisa kupecahkan. Di siang hari, ia bisa menjadi sosok yang paling memukau mendukung, penuh perhatian, dan bersikap seolah ia adalah malaikat pelindungku tanpa sayap. Namun, ketika malam tiba atau ketika egonya terusik, topeng itu runtuh. Ia berubah menjadi sosok yang menakutkan, mendominasi, dan menghancurkan mental ku berkeping-keping.
Aku menatap cermin di sudut kamar. Wajahku terlihat pucat, mataku menyisakan lelah yang pekat. Bayangan diriku sendiri tampak asing. Di mana gadis yang dulu penuh tawa dan impian besar? Ke mana perginya keberanian yang dulu kumiliki?
Semuanya telah direnggut, digantikan oleh rasa takut yang dipelihara dengan rapi.
Aku tahu, jika aku tidak segera melangkah keluar dari lingkaran ini, aku akan benar-benar hilang. Hancur lebur tanpa sisa di dalam rumah yang kini terasa seperti penjara. Malam itu, udara terasa jauh lebih dingin dari biasanya. Sunyi merayap di setiap sudut rumah, namun di dalam kepalaku, suara-suara bergemuruh hebat. Ketakutan yang selama ini menjadi selimut tidurku mendadak berubah wujud menjadi bara api yang membakar.
Aku tidak bisa terus seperti ini.
Keputusan itu lahir bukan dari keberanian yang gagah, melainkan dari sisa-sisa keputusasaan yang sudah mencapai puncaknya. Ketika seseorang sudah berada di ambang batas hancur, rasa takut untuk bertahan seringkali jauh lebih besar daripada rasa takut akan ketidakpastian di luar sana.
Dengan tangan yang bergetar hebat, kubuka lemari pakaian. Hanya ada sedikit barang yang kuambil beberapa helai pakaian sederhana, dokumen penting, dan sebuah buku catatan kecil tempat aku menumpahkan air mata selama bertahun-tahun. Setiap gerakan kulakukan dalam senyap, takut bayangan itu tiba-tiba muncul di ambang pintu dan membatalkan niatku dengan sekejap kalimat manipulatifnya.
Langkah kakiku terasa berat saat mendekati pintu depan. Jantungku berdegup kencang, seirama dengan detak jam dinding yang berdetak nyaring di ruang tengah.
Cklek.
Pintu terbuka. Angin malam langsung menyambut wajahku, membawa serta kebebasan yang sudah lama tidak kurasakan. Tanpa menoleh ke belakang tanpa mempedulikan peringatan dalam kepalaku yang meneriakkan ketakutan aku melangkah keluar.
Untuk sepersekian detik, aku merasa bisa bernafas. Udara malam terasa segar, mengisi paru-paruku yang lama kering. Aku berjalan cepat menjauhi pekarangan rumah, meninggalkan segala kenangan buruk dan bayang-bayang mengerikan itu di belakang.
Namun, ilusi kemenangan itu tidak bertahan lama.
Belum sempat aku mencapai ujung jalan raya, suara langkah kaki berat terdengar mendekat dari arah belakang. Suara itu begitu akurat, begitu tajam, hingga membekukan darahku seketika.
"Mau pergi ke mana?"
Suara itu dingin, datar, namun sarat akan kuasa mutlak yang selalu berhasil menciutkan nyali ku.
Aku menoleh perlahan. Di bawah temaram lampu jalan, sosok itu berdiri tegak. Tidak ada amarah yang meledak-ledak di wajahnya, dan justru itulah yang paling mengerikan. Tatapannya tenang, tetapi menyimpan badai yang siap mencabik-cabik kewarasanku.
"Aku... aku ingin pergi," cicitku, suaraku hampir tak terdengar, tenggelam oleh deru angin malam.
Sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis yang sinis. "Pergi? Tanpa izinku? Kamu pikir dunia di luar sana mau menerima orang selemah kamu? Kamu hanya akan hancur, dan aku tidak akan membiarkanmu pulang dengan keadaan cacat."
Kalimat itu menghantam ku telak. Sekali lagi, aturannya menghantamku jatuh ke tanah. Belenggu kecil itu kembali mengencang, melilit pergelangan kakiku dan menarikku mundur dengan paksa. Sayapku yang baru saja ingin terkembang, kembali patah berkeping-keping.
Kegagalan pelarian malam itu meninggalkan bekas yang jauh lebih dalam daripada sekadar luka fisik. Tidak ada bentakan keras, tidak ada lemparan barang. Hukuman yang ia berikan jauh lebih menyiksa: keheningan total dan tatapan merendahkan yang diulang-ulang setiap hari.
Ia memperlakukanku seperti anak kecil yang baru saja melakukan kesalahan fatal. Setiap gerak-gerikku diawasi dengan ketat, seolah aku adalah narapidana dalam masa percobaan. Kebebasan semu yang sempat kurasakan malam itu kini musnah tak tersisa, digantikan oleh sangkar yang dinding-dindingnya kini terasa semakin menyempit.
"Lihat dirimu," ucapnya suatu sore, saat kami duduk berdua di ruang makan yang dingin. Ia menyesap tehnya perlahan, matanya menatapku tajam dari balik cangkir. "Kamu bahkan tidak bisa bertahan satu malam pun di luar sana. Kamu butuh aku. Tanpa aku, kamu bukan apa-apa."
Kata-kata itu berputar-putar di dalam kepalaku seperti kaset rusak. Menghujam kesadaran, mengikis sisa-sisa harga diri yang masih kubawa. Aku menunduk, menatap piring makan yang bahkan tidak tersentuh. Lidahku kelu, tidak ada lagi tenaga untuk membela diri. Pola pikirnya yang rumit berhasil memutarbalikkan logikaku, membuatku perlahan-lahan mempercayai kebohongannya: bahwa akulah yang salah, akulah yang lemah, dan ia adalah satu-satunya penyelamat di dunia ini.
Hari-hari berikutnya berjalan dalam warna monokrom. Warna-warni dunia luar seakan pudar, tertutup oleh bayang-bayang kehadirannya yang mendominasi setiap jengkal ruang. Aku mulai terbiasa menunduk, terbiasa meminta izin untuk hal-hal sepele, dan terbiasa menelan mentah-mentah setiap aturan absurd yang ia buat.
Namun, dibalik kepatuhan yang tampak di permukaan, ada sesuatu di dalam diriku yang mulai mati.
Jiwa yang dulu suka memberontak, kini terkunci rapat di dalam kerangkeng keputusasaan. Aku merasa tercekik tanpa ampun, merintih dalam diam hingga mataku memerah setiap malam karena kehabisan air mata. Tidak ada lagi teriakkan protes. Yang tersisa hanya kepasrahan yang mengerikan sebuah tanda bahwa ia telah berhasil merusak segalanya demi apa yang ia sebut sebagai "kesempurnaan".
Betapa miris diriku. Untuk sekedar bernafas pun rasanya begitu berat, seolah oksigen di ruangan ini telah habis terserap oleh egonya yang menjulang.
Waktu bergulir tanpa ampun, membawa serta hari-hari yang terasa semakin hampa. Di dalam sangkar yang ia buat, aku bukan lagi manusia yang memiliki kehendak. Aku adalah bayangan dari diriku sendiri sebuah boneka bernyawa yang digerakkan oleh benang-benang aturan dan ego miliknya.
Hingga pada suatu malam, badai yang sesungguhnya menghantam.
Bukan badai di luar jendela, melainkan badai di dalam kepalaku. Malam itu, ia kembali dengan amarah yang tidak biasa. Pola pikirnya yang rumit meledak dalam bentuk tuduhan-tuduhan tak berdasar. Ia marah karena aku dianggap membangkang hanya karena aku menolak menuruti satu hal kecil yang tidak masuk akal.
"Kamu tidak pernah menghargai semua yang sudah kubangun untuk kita!" bentaknya. Suaranya menggelegar, memecah kesunyian malam dan menghantam gendang telingaku.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama terkunci, sesuatu di dalam dadaku bergetar hebat. Bukan rasa takut, melainkan kemarahan yang teramat sangat. Rasa sakit karena luka tanpa bekas yang ia torehkan selama bertahun-tahun mendadak mendidih menjadi satu.
Aku menatap matanya. Tidak ada lagi rasa gentar. Yang ada hanyalah rasa jijik melihat betapa rapuhnya ego di balik sosok yang selama ini ku anggap raksasa.
"Kamu menghancurkannya," bisikku, suaraku serak namun tajam bagai sembilu. "Kamu merusak semuanya, lalu menyebutnya sebagai kebaikan."
Wajahnya menegang. Ia terkejut karena aku berani melawan. Namun, sebelum ia sempat melayangkan kalimat manipulatifnya yang biasa, aku sudah bergerak. Kali ini, bukan untuk berlari keluar dengan tangan kosong seperti pengecut. Kali ini, aku melangkah dengan kesadaran penuh bahwa hidup atau mati, aku tidak boleh lagi bernapas di bawah bayangannya.
Aku meraih vas bunga kaca di atas meja dekat pintu dan melemparkannya ke lantai hingga pecah berkeping-keping sebuah simbol atas belenggu yang harus dihancurkan. Suara pecahan itu menghentikan gerakannya.
"Cukup," kataku lantang, menatap tepat ke dalam matanya yang membelalak. "Aku tidak peduli lagi dengan aturanmu. Aku tidak peduli dengan duniamu yang mengerikan ini."
Tanpa menoleh lagi, aku melangkah melewati pecahan kaca itu, mengabaikan teriakannya yang mulai kehilangan kendali di belakang sana. Kakiku melangkah keluar rumah, menembus dinginnya malam.
Sayapku memang patah, terkoyak dan berdarah. Namun, di bawah langit gelap yang mulai menampakkan secercah fajar, aku tahu satu hal: aku akan belajar merajut kembali sayap itu dengan air mataku sendiri.
Mengerikan? Ya, masa lalu itu mengerikan. Tapi bertahan bersamanya jauh lebih mematikan. Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku menarik napas panjang penuh, dalam, dan seutuhnya milikku sendiri.