JANJI DI BULAN FEBRUARI
Author: Sang Alifas Yang Merumput
Romantis;Asmara
Malam itu, tanggal 9 Februari 2015, jarum jam di dinding warung makan tempatku bekerja sudah bertengger di angka sebelas malam. Suasana kota mulai senyap, menyisakan deru angin malam yang berembus pelan menembus celah kaca depan. Di sudut meja dekat jendela, menjadi saksi di mana Kartika dan aku, Dimas, saling menatap dalam dan mengucapkan sebuah janji sederhana untuk selalu berjalan bersama, apa pun yang akan terjadi di depan nanti.
Entah kebaikan apa yang sudah kuperbuat di masa lalu, hingga malam itu aku merasa menjadi laki-laki yang paling beruntung di muka bumi. Di atas kertas realita yang sering dinilai orang, aku hanyalah seorang pemuda yang bekerja di warung rumah makan biasa. Sebuah pekerjaan halal yang kujalani dengan kepala tegak demi membangun kemandirian hidup. Namun, malam itu, takdir mempertemukanku dengan seorang wanita yang pesonanya mampu membuat malam terasa berhenti berputar.
Kartika duduk di hadapanku dengan keanggunan yang alami. Wajahnya bulat berseri, dengan kulit bersih yang tampak bercahaya di bawah temaram lampu ruangan, persis seperti keindahan bulan purnama yang sempurna di langit Februari. Ia tidak hanya cantik secara rupa; caranya berbicara, pembawaannya yang terdidik, hingga penampilannya yang modis mempertegas bahwa kelas ekonominya berada beberapa tingkat di atas duniaku.
Ada jurang strata sosial yang nyata membentang di antara kami jika orang lain melihatnya dari luar. Pakaian yang ia kenakan dan parfum mahal yang melekat di tubuhnya menandakan dia berasal dari lingkungan yang serba berkecukupan. Sementara aku, adalah pria yang akrab dengan peluh dunia kerja untuk menyusun masa depan kata demi kata. Namun, malam itu, perbedaan kelas tersebut seolah luruh tak bersisa. Di hadapan Kartika, aku tidak tampil sebagai pria yang rendah diri atau kikuk karena status sosial. Aku memastikan diriku malam itu tetap rapi, wangi, dengan kemeja kasual yang bersih, dan menatapnya dengan tatapan pria dewasa yang punya prinsip. Ketulusan janji yang kami ucapkan malam itu mengalahkan semua hitungan materi yang biasa diagungkan dunia.
Kartika sedikit condong ke depan, menatapku dengan binar mata yang penuh harap. Ada ketulusan yang murni terpancar dari wajah bulat indahnya yang berseri malam itu.
"Mas Dimas, besok sore bisa ke rumahku?" tanya Kartika, suaranya terdengar lembut namun terselip nada tegas yang menandakan urusan ini cukup penting baginya.
Aku menyunggingkan senyum tenang, menaruh cangkir di atas meja dengan gerakan yang santai. "Jam berapa, Neng?"
Kartika tidak langsung menyebutkan angka. Ia memiringkan kepalanya sedikit, menatapku seolah sedang menakar kesibukan harian pria yang sedang diperjuangkannya ini. "Mas Dimas sendiri, masuk kerja jam berapa biasanya?"
"Jam tujuh malam sampai pagi, Neng," jawabku santai tanpa ada kesan mengeluh. Jadwal sif malam warung ini memang padat, tetapi itu adalah tanggung jawab yang sudah biasa kukelola dengan profesional.
Mendengar jawabanku, gurat kecewa yang manis sempat melintas sesaat di wajahnya. "Berarti tiap hari bergadang dong? Berarti enggak bisa dong kalau malam, Mas?"
Aku terkekeh pelan melihat ekspresi wajahnya yang menggemaskan saat sedang bingung. Bagiku, mengatur waktu di antara kesibukan kerja bukanlah hal yang rumit jika tujuannya adalah memprioritaskan dia. "Memang jam berapa sih? Nanti Mas bisa izin kok sama bos di dalam kalau memang urusannya sepenting itu."
Kartika langsung tersenyum geli, lesung pipitnya menyembul manis di bawah temaram lampu. "Jam delapan malam, hehehe."
"Ya sudah, insya Allah bisa. Nanti Mas izin dan koordinasi sama bosku, oke?" ucapku menenangkan. Sebagai salah satu pekerja yang performanya paling bisa diandalkan dan dipercaya di warung ini, meminta dispensasi satu atau dua jam di awal sif bukanlah hal yang mustahil bagiku. Aku tahu cara bernegosiasi yang baik dengan atasan.
"Beneran ya, bisa?" Kartika menatapku dengan sepasang mata yang berbinar-binar. Sorot matanya menunjukkan betapa ia sangat memegang teguh kata-kataku malam ini.
"Diusahakan," jawabku mantap sambil melempar senyum penuh keyakinan yang langsung menghalau sisa keraguan di wajahnya.
Kartika tampak sangat lega, seolah satu kepastian berharga baru saja ia kantongi malam ini. Ia merapikan letak tas selempangnya yang elegan, lalu berdiri bersiap untuk pamit karena malam yang sudah beranjak terlalu larut. "Ya sudah, besok malam aku tunggu di rumah ya, Mas."
Aku mengangguk, lalu berdiri berdampingan dengannya untuk mengantarnya sampai ke depan pintu dengan langkah yang tenang dan terhormat. Menepati janji untuk datang ke kediaman mewah milik keluarga Kartika besok malam jam delapan adalah sebuah tantangan baru yang harus kuhadapi. Namun, aku tahu persis bagaimana cara membawa diri dengan rapi, wangi, dan penuh wibawa di hadapan siapa pun—termasuk di depan orang tua Kartika besok malam.
*****
Keesokan harinya, tanggal 10 Februari 2015, sore hari sebelum sif malamku dimulai. Sebagai pekerja yang memegang sif malam dari jam tujuh malam hingga pagi hari, jadwalku memang tidak termasuk dalam persiapan dapur di siang hari. Namun, peranku di warung ini cukup krusial; sebelum sif malamku berakhir pada pagi hari, akulah yang memegang tanggung jawab untuk pergi ke pasar, berbelanja seluruh kebutuhan bahan baku segar untuk perputaran warung seharian penuh. Dedikasi itulah yang membuat hubunganku dengan Andi, bos sekaligus pemilik warung ini, sudah seperti keluarga sendiri.
Sore itu, sebelum jam kerjanya dimulai, aku sengaja datang lebih awal untuk menghadap ke ruang kerja Andi. Aku mengetuk pintu ruangannya yang setengah terbuka, lalu melangkah masuk dengan sikap yang tenang namun tetap menghormati posisinya sebagai atasan.
"Bos, nanti malam saya izin datang terlambat, ada urusan penting. Boleh kan?" tanyaku langsung pada poinnya, tanpa ada nada ragu.
Andi yang sedang sibuk menghitung nota belanja di balik meja kerjanya langsung mendongak. Ia melipat kedua tangannya di depan dada, lalu menatapku dengan seringai usil khasnya. "Halah, urusan penting apa? Sejak kapan kamu punya urusan penting? Paling cewek kan?"
Aku tidak bisa menahan senyum, lalu terkekeh pelan melihat ketajamannya menebak. "Hehehe, kok tahu, Bos?"
"Yailah, Mas Dimas," sahut Andi sambil menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi, nadanya berubah menjadi santai layaknya seorang abang kepada adiknya sendiri. "Lu tuh udah kerja di tempat gue bertahun-tahun. Jadi gue udah tahu semua kebiasaan lu. Kalau bukan karena urusan cewek, lu mah biasanya lebih suka jagain warung di sini sampai pagi."
Raut wajah Andi melunak, guratan lelah setelah seharian mengurus bisnis digantikan oleh binar ketulusan seorang sahabat yang ingin melihat temannya maju. "Mudah-mudahan kali ini lu beneran dapat cewek yang bisa lu nikahin ya, Dim."
"Amin. Terima kasih banyak, Bos," jawabku tulus. Doa dari Andi terasa seperti amunisi tambahan yang sangat berarti bagiku sore ini. "Tapi... ada satu lagi, Bos."
Sebelum aku sempat menyelesaikan kalimatku untuk mengutarakan niat meminjam kendaraan warung, Andi sudah lebih dulu memotong dengan lambaian tangan kirinya yang santai. Ia menunjuk ke arah seuntai kunci kendaraan yang memang sudah tergeletak di atas permukaan meja kayu di antara tumpukan nota belanja sejak tadi.
"Apa? Motor? Tuh, kuncinya di meja gue, pakai aja! Ajak dah tuh cewek ke mana kek...!" seloroh Andi.
Aku menatap kunci motor itu, lalu meraihnya dengan perasaan lega yang membuncah di dalam dada. Dukungan penuh dari Andi membuktikan bahwa kerja kerasku selama bertahun-tahun di warung ini membuahkan kepercayaan yang sangat mahal harganya. Aku mengantongi kunci itu dengan mantap, bersiap untuk pulang ke kosan guna membersihkan diri dan mengenakan pakaian terbaik yang kupunya.
"Hehehe, jadi enak, Bos..." ucapku sambil melempar senyum penuh rasa hormat sebelum berpamitan keluar ruangan. Langkahku sore itu terasa jauh lebih ringan. Dengan restu dari bos dan sebuah motor matik yang siap kukendarai, modal pertamaku untuk mengetuk pintu rumah megah Kartika malam ini sudah berada di dalam genggaman.
Tepat pukul delapan malam, aku menghentikan motor matik pinjaman dari Andi di bawah bayangan pohon peneduh jalan, beberapa meter dari pagar besi kokoh yang memagari rumah megah milik keluarga Kartika. Rumah itu berdiri angun, dengan lampu-lampu taman yang mewah. Aku merapikan jaket jins bersih yang kupadukan dengan kaos polos sewarna, memastikan penampilanku malam ini benar-benar prima. Di atas motor, aku meraba ponsel di saku celana yang mendadak bergetar. Sebuah pesan singkat masuk.
"Mas, jadikan malam ini ke rumah?" tanya Kartika lewat aplikasi pesan singkat, menyiratkan rasa tidak sabar yang besar.
Aku menyunggingkan senyum jail. Jari-jariku bergerak cepat di atas layar, mengetikkan balasan yang bertolak belakang dengan kenyataan. "Yah maaf Neng, malam ini enggak bisa. Enggak dapat izin dari bos... Maaf yaa."
Dari posisiku yang agak tersembunyi, aku bisa melihat dengan jelas ke arah teras rumahnya yang luas melalui celah pagar besi. Kartika sedang duduk di kursi beranda sambil menggenggam ponselnya. Begitu pesanku terkirim, aku menyaksikan dari jauh bagaimana wajah cantiknya yang bulat berseri itu langsung berubah kesal. Alisnya bertaut, dan bibirnya mengerucut gemas.
Ponselku kembali bergetar dengan cepat. "Ih kok gitu? Kemarin katanya janji bisa, sekarang enggak bisa. Gimana sih, Mas?" balas Kartika, lengkap dengan raut muka cemberut yang bisa kubayangkan dengan jelas dari balik kata-katanya.
Aku tertawa kecil tanpa suara. Mengetahui bahwa kehadiranku begitu berharga baginya membuat kepercayaan diriku sebagai seorang pria semakin mantap. Sudah cukup menjahilinya. Aku memutar kunci kontak, memajukan motor sedikit hingga tepat berada di depan pintu gerbang utama yang tertutup, lalu menekan tombol klakson dua kali.
Tiin! Tiiiiin!
Bunyi klakson motor yang nyaring itu memecah kesunyian pelataran rumah megah tersebut. Dari kejauhan, aku melihat Kartika langsung tersentak. Ia menatap ke arah gerbang, mengenali sosok pria berjaket jins yang sedang duduk di atas motor matik hitam sambil melambaikan tangan ke arahnya.
Seketika itu juga, gurat kekesalan di wajahnya runtuh. Kartika langsung berdiri dari kursi teras. Ia berjalan melangkah keluar menuju gerbang dengan gaya yang dibuat-buat seolah-olah malas dan kesal karena habis dibohongi, padahal binar matanya yang berbinar jenaka tidak bisa menyembunyikan rasa senang dan bahagia yang membuncah akibat kejutan kedatanganku yang tak terduga ini.
Begitu melangkah mendekati pagar gerbang yang kubuka sendiri, Kartika langsung melipat kedua tangannya di depan dada. Ia menatapku dengan mata yang menyipit, berpura-pura ketus untuk menutupi rasa bahagianya yang meluap-luap.
"Katanya enggak bisa, katanya enggak boleh, kok tahu-tahu di depan rumah? Dah sono pulang lagi kalau enggak bisa!" seru Kartika, mengibaskan tangannya seolah-olah mengusirku keluar dari pelatarannya.
Aku sengaja menahan tawa, tetap duduk santai di atas motor matik sambil menatap wajah bulat berserinya yang menggemaskan. "Beneran nih, aku pulang nih?" tanyaku memancing, sambil pura-pura memegang kembali setang motor dan bersiap memutar arah.
Melihat respons gertakanku, Kartika langsung panik. Sikap pura-pura ketusnya luruh seketika. "Ih, Mas Dimas ngeselin!" pekiknya gemas.
Ia melangkah cepat mendekatiku, lalu dengan manja menarik lembut lengan jaket jinsku, menahan agar aku tidak benar-benar pergi meninggalkan rumahnya malam ini. Sentuhan lembutnya seolah meruntuhkan sisa-sisa kelelahan akibat seharian bekerja dan mempersiapkan sif malamku nanti. Aku tersenyum, mematikan mesin motor, lalu melangkah bersamanya menuju ke dalam area rumahnya yang megah.
Sambil berjalan berdampingan melintasi ruang tamu yang berukuran luas dengan lantai marmer yang mengilap, Kartika sedikit menoleh ke arahku untuk menjelaskan kondisi rumahnya yang terasa cukup sepi malam ini.
"Ayah sama Ibu lagi tidak di rumah, Mas," ucap Kartika memecah keheningan koridor rumah. "Yang ada di rumah cuma bibi, sama Pongky, anabulku... anjing kecil yang lucu."
Aku mengangguk paham. Penjelasan itu jujur membuat napas yang tersumbat di dadaku menjadi jauh lebih lega. Setidaknya, untuk kedatangan pertamaku malam ini, aku tidak perlu langsung berhadapan dengan tatapan menginterogasi dari orang tua Kartika yang memiliki strata sosial jauh di atasku. Aku hanya perlu menjadi Dimas yang apa adanya di hadapan wanita yang kucintai.
Kartika mempersilahkanku untuk duduk di sofa beranda samping yang langsung menghadap ke arah kolam ikan mini yang asri. Suasananya begitu nyaman.
"Mas, mau minum apa?" tanya Kartika ramah, bersiap memberikan instruksi kepada bibi di dapur atau mungkin menyeduhkannya sendiri untukku.
Aku menyandarkan punggungku dengan santai di sandaran sofa, menatapnya dengan senyum tenang. "Kopi hitam manis," jawabku singkat. Pilihan minuman yang sederhana, khas seorang pria pekerja keras yang membutuhkan kafein untuk menjaga matanya tetap terjaga sepanjang sif malam nanti. Kartika tersenyum mendengar jawabanku yang tidak neko-neko, lalu melangkah masuk ke dalam rumah untuk menyiapkan pesananku.
Kartika kembali dari dalam rumah dengan membawa secangkir kopi hitam yang uapnya masih mengepul tipis, menyebarkan aroma pahit yang menenangkan di udara malam. Setelah meletakkan cangkir itu di atas meja kaca di hadapanku, ia mengambil posisi duduk yang cukup dekat denganku di sofa. Wajah bulat berserinya mendadak berubah menjadi agak serius, menyiratkan ada beban pikiran yang sejak tadi ingin ditumpahkannya.
"Mas, aku mau cerita sama Mas Dimas. Menurut Mas, aku harus bagaimana?" tanya Kartika, menatapku lurus dengan sepasang mata indahnya.
Aku menyesap kopi hitam manis buatannya perlahan, menikmati kehangatan yang mengalir di tenggorokanku sebelum meletakkan kembali cangkir tersebut. Aku menyandarkan punggung, lalu melempar senyum menggoda untuk mencairkan ketegangannya. "Nih ceritanya aku diundang jadi konsultan apa jadi tempat curhat nih?"
Kartika langsung mengerucutkan bibirnya, memberikan reaksi yang sangat menggemaskan. "Aku serius, Maaas….." rengeknya dengan nada manja yang khas, seolah memprotes sikapku yang masih sempat-sempatnya bercanda di saat dia sedang gundah.
Aku tertawa kecil, mengangkat kedua tanganku menyerah. "Oke, oke, aku dengerin ya, Nder... Bunder," ucapku, masih belum puas menjahilinya malam itu.
"Ih, kok bunder sih!" protes Kartika lagi, wajahnya cemberut namun matanya memancarkan binar jenaka yang tertahan.
Aku memajukan posisi dudukku, menatap wajahnya dengan tatapan yang berubah menjadi lembut dan penuh ketulusan. "Habisnya wajahmu bundar, persis seperti bulan purnama yang bercahaya indah di langit malam."
Pipi Kartika mendadak bersemu merah mendengar kalimat yang meluncur dari mulutku. Ia memalingkan wajahnya sejenak, berpura-pura kesal meski senyum manisnya tidak bisa disembunyikan. "Gombal! Emang kenapa kalau wajahku bulat? Mas enggak suka?" tantang Kartika, kembali menatapku dengan tatapan menyelidik.
"Bukannya enggak suka, tapi justru menggemaskan," jawabku jujur.
Tepat setelah kata-kata itu terucap, ada dorongan impulsif yang mengalir begitu saja di dalam dadaku. Tanpa kusadari sepenuhnya, kedua tanganku bergerak maju, perlahan menyentuh dan membingkai kedua sisi wajah bulat Kartika yang terasa halus dan hangat. Gerakanku begitu spontan, didorong oleh rasa sayang yang teramat sangat kepada wanita di hadapanku ini.
Seketika itu juga, atmosfer di beranda samping rumah mewah itu membeku. Kartika tersentak pelan, tubuhnya menegang sesaat dengan mata yang membelalak bulat akibat sentuhan fisik yang tak terduga dariku. Jarak di antara wajah kami kini terpangkas dekat, menyisakan debaran jantungku yang mendadak berdegup dua kali lebih kencang di tengah keheningan malam Februari.
Kartika mendadak terdiam seribu bahasa. Di bawah hangatnya sapuan telapak tanganku yang membingkai kedua sisi wajahnya, ia tidak menjauh ataupun menolak. Sebaliknya, kedua kelopak mata indahnya perlahan bergerak menutup, memejam tajam seolah sedang menyerahkan seluruh kendali malam itu kepadaku dan menanti apa yang akan terjadi selanjutnya.
Melihat reaksi pasrah yang begitu anggun dari wanita secantik Kartika, naluri kelelakianku mendadak bangkit seketika. Debaran di dadaku kian menggila, memompa adrenalin yang mengaburkan seisi ruangan. Aku menahan napas, perlahan memajukan kepalaku, memotong jarak yang tersisa di antara kami hingga aku bisa merasakan embusan napasnya yang hangat menerpa kulit wajahku. Targetku sudah jelas. Tatapanku terkunci pada bibir manis Kartika yang hanya berjarak beberapa senti saja dari bibirku.
Namun, tepat ketika jarak di antara kami nyaris habis dan bibir kami hampir bersentuhan, sebuah interupsi tak terduga menghantam keheningan beranda.
Guk! Guk! Guk!
Suara gonggongan melengking yang cukup nyaring mendadak terdengar dari arah bawah sofa, disusul oleh kibasan ekor yang heboh. Itu Pongky. Si anjing kecil berbulu putih itu tiba-tiba saja muncul entah dari mana dan langsung menggonggong riang, seolah-olah mengumumkan kehadirannya di tengah momen intim kami.
Suara cempreng si anabul seketika membuat kami berdua tersentak kaget seperti baru saja tersengat aliran listrik. Aku menarik kepalaku ke belakang dengan sentakan cepat, sementara Kartika langsung membuka matanya lebar-lebar dengan wajah yang memerah padam hingga ke ujung telinga. Tanganku yang semula menempel di wajahnya buru-buru kutarik kembali dan berpura-pura merapikan kerah jaket jinsku yang sebenarnya sama sekali tidak berantakan.
Kesadaran kami berdua langsung kembali utuh, menyadari tindakan impulsif apa yang baru saja hampir kami lakukan di beranda rumah mewah ini.
Suasana manis romantis itu menguap dalam sekejap, digantikan oleh gelombang rasa salah tingkah yang luar biasa hebat. Aku buru-buru meraih kembali cangkir kopi hitam manis di atas meja yang sebenarnya sudah agak dingin, lalu meminumnya dengan tegukan besar demi menyembunyikan wajahku yang pasti sudah ikut memerah. Sementara Kartika langsung menunduk dalam, menjumput Pongky ke dalam pangkuannya, dan berpura-pura sibuk mengelus bulu anjing kecil itu dengan gerakan tangan yang gemetar saking salah tingkahnya.
*****
Kartika buru-buru mengangkat Pongky ke atas, menatap anjing kecil itu dengan mata melotot yang dibuat-buat, mencoba menutupi detak jantungnya yang pasti masih berdegup kencang akibat kejadian barusan.
"Pongky….. Ini temen Kakak, Mas Dimas. Kamu jangan bilang sama Papah Mamah, awas ya! Nanti Kakak kunci di kandang kalau sampai bilang…." ancam Kartika ketus, seolah anabul putih itu benar-benar mengerti bahasa manusia dan bisa mengadu kepada orang tuanya.
Mendengar ancaman itu, Pongky hanya menjulurkan lidahnya, melompat turun dari pangkuan Kartika, lalu berjalan mendekati kakiku. Anjing kecil itu mengendus-endus ujung sepatuku sejenak, mengibas-ngibaskan ekornya dengan riang seolah memberikan tanda persetujuan ghaib, sebelum akhirnya melenggang masuk kembali ke dalam rumah.
Aku berdehem pelan, menggosok tengkukku yang mendadak terasa hangat. "Emmmm... Tadi mau cerita apa, Neng?" tanyaku, mencoba mengembalikan obrolan meskipun nada suaraku masih terdengar sedikit kaku karena sisa salting yang belum sepenuhnya hilang.
Kartika memalingkan wajahnya yang masih merona, pura-pura sibuk merapikan lipatan celananya. "Enggak jadi….." jawabnya singkat.
Aku menaikkan sebelah alisku, menatapnya dengan senyum tipis. "Loh, kok enggak jadi? Cerita aja, barangkali aku bisa menjadi pendengar yang baik. Atau... mungkin aku bisa memberikan solusi jika memang diperlukan."
Kartika menoleh ke arahku, mengerucutkan bibirnya dengan gemas sambil melipat kedua tangannya di depan dada. "Pokoknya enggak jadi cerita... titik!" tegasnya, memperlihatkan sifat keras kepalanya yang kekanak-kanakan namun selalu sukses membuatku gemas.
Melihat keras kepalanya yang tidak bisa diganggu gugat untuk saat ini, aku langsung memutar otak. Waktu terus berjalan menuju jam sif malamku, dan aku tidak ingin sisa malam ini habis dalam kecanggungan. "Ya sudah, bagaimana kalau kita cari makan di luar?" tanyaku menawarkan alternatif.
"Aku enggak lapar!" sahut Kartika ketus, menolak dengan cepat.
Aku terkekeh pelan, sudah bisa membaca arah angin suasana hatinya. "Kalau begitu... jalan malam? Nongkrong?" tanyaku lagi, menaikkan intensitas umpan lambungku.
Mendengar kata jalan malam, pertahanan ketus Kartika runtuh seketika. Sepasang matanya langsung berbinar cerah. "Mauuuu…." jawabnya cepat tanpa pikir panjang, mengkhianati sikap sok jual mahalnya yang tadi sempat ia pasang.
"Aku ganti baju dulu ya, Mas," sambung Kartika, bersiap bangkit dari sofa dengan raut wajah yang kini dipenuhi kegembiraan.
Aku tersenyum mantap, bersedekap dada menatapnya. "Oke, Bundeeer…." godaku lagi, sengaja mengembalikan panggilan jahil itu untuk memastikan suasana canggung di antara kami benar-benar sudah mencair.
"Ih, nyebelin! Sudah ah, aku ganti baju dulu!" rajuk Kartika sambil mengentakkan kakinya pelan, lalu berbalik dan berjalan tergesa-gesa masuk ke dalam rumah menuju kamarnya.
Begitu bayangan Kartika menghilang di balik pintu besar, aku menyandarkan punggungku sepenuhnya ke sofa beranda. Aku mengembuskan napas panjang, menatap kedua telapak tanganku sendiri yang beberapa menit lalu sempat membingkai wajah halusnya. Di bawah kesunyian beranda samping rumah megah ini, aku menggelengkan kepala pelan sambil tersenyum tak percaya. Kejadian tadi terasa begitu cepat, menegangkan, sekaligus manis—sebuah momen di sepertiga malam Februari yang menegaskan bahwa pelayan warung makan seperti aku pun bisa memiliki ruang khusus di hati seorang putri pemilik rumah mewah ini.
Tidak butuh waktu lama bagi Kartika untuk bersiap-siap. Ketika pintu besar rumahnya kembali terbuka, aku refleks menegakkan posisi dudukku di sofa beranda. Ia melangkah keluar dengan penampilan yang jauh lebih santai namun tetap tidak bisa menyembunyikan aura kelas sosialnya yang tinggi. Kartika mengganti pakaiannya dengan celana jins biru pudar yang pas di kakinya, dipadukan dengan sweter rajut berwarna pastel yang longgar, serta sepatu kets putih bersih. Rambutnya diikat kuda dengan rapi, menyisakan wajah bulat berserinya yang kini tampak segar dan tanpa beban.
Sebelum melangkah mendekatiku ke arah teras, Kartika menoleh ke dalam rumah, sedikit menaikkan volume suaranya untuk berpamitan pada seisi rumah yang sepi.
"Bi! Aku keluar sebentar ya sama Mas Dimas! Enggak lama kok!" seru Kartika memberikan pengumuman.
Dari arah dapur, sayup-sayup terdengar suara sahutan dari Bibi yang mengiyakan izinnya. Sementara itu, Pongky yang mendengar suara lengkingan majikannya kembali berlari kecil keluar dari ruang tengah. Anjing kecil berbulu putih itu duduk di dekat pintu gerbang dalam, mengibas-ngibaskan ekornya pendek seolah-olah ikut memberikan ucapan selamat jalan. Kartika berjongkok sejenak, mengelus kepala anabulnya itu dengan gemas. "Pongky, Kakak pergi sebentar ya. Ingat janji kita tadi, jangan sampai bocor ke Papah Mamah!" bisik Kartika, sekali lagi memberikan ancaman jenaka yang membuatku harus menahan senyum di belakangnya.
Setelah memastikan semuanya aman, Kartika berdiri dan berjalan mendekatiku dengan langkah riang. "Yuk, Mas!" ajaknya penuh semangat.
Aku mengangguk, lalu menuntun motor matik hitam milik Andi keluar dari pelataran rumah megahnya yang berlantai marmer halus. Begitu kami sudah berada di luar pagar besi yang kokoh, aku menaiki motor dan memutar kunci kontak hingga mesinnya menyala dengan suara yang halus. Aku menoleh ke belakang, menatap Kartika yang sempat tertegun sejenak melihat kendaraan roda dua yang kubawa malam ini. Baginya yang terbiasa duduk nyaman di dalam mobil mewah ber-AC milik orang tuanya, menaiki motor matik pinjaman di bawah embusan angin malam tentu merupakan pengalaman yang sangat asing.
Namun, tidak ada sedikit pun gurat keberatan atau gengsi di wajah cantiknya. Kartika justru tersenyum lebar, menepis semua keraguan strata sosial di antara kami. Ia melangkah maju, lalu dengan gerakan anggun naik ke atas jok belakang, duduk dengan mantap di boncenganku.
"Sudah siap, Neng Bunder?" godaku lagi, memastikan posisinya sudah aman.
"Sudah, Mas Ngeselin! Jalan yuk!" sahut Kartika dari belakang, nadanya dipenuhi tawa renyah yang merdu.
Aku menarik tuas gas perlahan, membawa motor matik Andi membelah keheningan jalanan komplek perumahan mewah itu menuju jalan raya kota yang masih berdenyut. Di bawah siraman lampu jalan dan pelukan angin malam Februari, rasa cemas tentang perbedaan kasta di antara kami menguap tak bersisa, digantikan oleh kehangatan kecil yang perlahan mulai merayap di punggungku saat motor mulai melaju lebih kencang.
Motor matik pinjaman milik Andi melaju stabil membelah aspal jalan raya yang mulai lengang. Embusan angin malam Februari terasa menerpa wajahku, membawa sedikit kesejukan di tengah kehangatan posisi kami yang sedang berboncengan. Kartika di belakang duduk dengan tenang, menyandarkan dagunya sedikit dekat ke arah pundakku agar suaranya tidak tenggelam oleh deru angin dan mesin motor.
Namun, ketenangan malam itu mendadak koyak saat Kartika membuka suara, meluncurkan sebuah pengakuan yang sama sekali tidak kuprediksi sebelumnya.
"Mas, beberapa hari yang lalu sudah ada tiga cowok yang bilang suka sama aku, tapi aku enggak suka ketiganya," ucap Kartika setengah berbisik di dekat telingaku.
Mendengar kalimat itu, tanganku yang sedang memegang tuas gas refleks menegang sesaat. Aku terdiam seribu bahasa. Di balik helm yang kukenakan, jantungku mendadak berdebar dengan ritme yang sangat kacau. Ada rasa sesak yang tiba-tiba menghantam dadaku, menyumbat aliran napas hingga terasa begitu sempit. Rasa takut yang selama ini kusembunyikan dalam-dalam di balik topeng ketenanganku kini mendadak mencuat ke permukaan. Logikaku langsung berputar liar, dihantui bayangan mengerikan jika salah satu dari pria-pria itu sanggup merebut perhatian dan memalingkan hati Kartika dariku.
Belum sempat aku menata detak jantungku yang berantakan, Kartika kembali melanjutkan ceritanya dengan nada suara yang terdengar sangat frustrasi dan kebingungan.
"Yang satu teman satu kantor, yang satu temanku semasa kuliah, yang satu manajerku sendiri," lanjut Kartika, membeberkan deretan profil para pesaingku yang di atas kertas memiliki masa depan dan kemapanan yang jauh melampaui pelayan warung rumah makan sepertiku. "Aku harus gimana yaak, Mas? Aku enggak suka, beneran deh aku enggak suka sama mereka."
Aku menelan ludah dengan susah payah, mencengkeram setang motor lebih erat untuk menjaga fokus berkendara sekaligus mengendalikan emosiku. Pernyataan Kartika yang menegaskan bahwa dia "tidak suka" kepada ketiganya adalah sebuah penegasan yang sangat melegakan, bagaikan tetesan air es di tengah tenggorokanku yang sedang kering terbakar. Namun, kenyataan bahwa dia dikelilingi oleh pria-pria mapan dari dunianya tetap meninggalkan hantaman telak pada harga diriku sebagai seorang lelaki yang sedang berjuang dari bawah. Di bawah temaram lampu kota, aku menarik napas panjang, mencoba mengusir rasa sesak di dada dan bersiap memberikan respons terbaik yang tetap berwibawa, tanpa memperlihatkan sedikit pun rasa minder di hadapan wanita yang mempercayakan rahasianya kepadaku ini.
******
Langkah kami akhirnya terhenti di sebuah kedai kopi modern yang mengusung nama unik: Cafe Sama Dengan. Suasananya cukup nyaman dengan pendar lampu kuning yang estetik dan alunan musik instrumental yang tenang di latar belakang. Kami memilih meja di sudut yang agak luang agar bisa mengobrol dengan lebih leluasa. Begitu kami duduk, seorang pelayan perempuan datang menghampiri meja kami dengan ramah.
"Mbak, kopi ice cappuccino satu, espresso satu ya. Terima kasih," ujar Kartika memesan dengan luwes.
"Baik, ditunggu ya, Kak," balas mbak waitress itu seraya mencatat pesanan dan melangkah pergi meninggalkan kami berdua.
Aku menyandarkan punggungku ke sandaran kursi, bersiap mendengarkan kelanjutan ceritanya setelah suasana hatinya tampak jauh lebih tenang. Namun, alih-alih melanjutkan bahasan tentang tiga cowok mapan yang mengejarnya di kantor, Kartika justru memajukan badannya sedikit ke depan meja. Tatapan sepasang mata indahnya mendadak berubah menjadi bimbang dan penuh tanda tanya.
"Mas, aku harus gimana?" tanya Kartika, suaranya merendah, nyaris berbisik. "Sebenarnya... masih ada satu orang lagi yang menurutku dia suka sama aku. Cuma, aku enggak yakin dia beneran suka apa enggak sama aku, Mas."
Hantaman telak kembali mendarat di dadaku. Mendengarnya, rasa sesak yang tadi sempat kusapu bersih kini datang lagi dengan intensitas ganda. Satu orang lagi? Jadi totalnya ada empat cowok? batin gundahku berteriak. Aku berdehem pelan, mencoba menutupi badai cemburu yang mulai berkecamuk di dalam kepala.
"Yaaa... gimana ya. Tapi, kamu sendiri suka sama cowok itu?" tanyaku balik dengan nada sekuat tenaga kubuat sesantai mungkin, walau rasanya seperti sedang menanti vonis hakim.
Kartika tidak langsung menjawab. Ia menatap cangkir kosong di hadapannya sejenak, lalu senyum manis dengan lesung pipit yang menggemaskan perlahan terbit di wajah bulat berserinya. "Aku suka. Menurutku dia tuh dewasa, pekerja keras, humoris, dan punya wibawa banget, Mas," jawabnya dengan binar mata yang tampak sangat tulus.
"Ehem...!" Aku refleks batuk dengan sengaja, padahal tenggorokanku sama sekali tidak gatal.
Mendengar kriteria cowok ideal yang dijabarkan Kartika, kepalaku mendadak terasa pening luar biasa, meskipun fisiknya sama sekali tidak sakit. Pikiranku langsung kacau balau, membuatku makin galau tidak karuan. Aku sibuk membandingkan diriku sendiri yang hanya pelayan warung makan ini dengan sosok cowok hebat, dewasa, dan berwibawa yang barusan diceritakan Kartika dengan begitu penuh binar bahagia. Aku sama sekali tidak menyadari satu hal krusial malam itu; bahwa seluruh ciri-ciri yang baru saja diucapkannya sebenarnya sedang menunjuk tepat ke arah wajahku sendiri.
"Permisi, Kak. Ice cappuccino dan espresso-nya. Betul ini makan dan minumannya?"
Suara mbak waitress yang kembali datang mengantarkan pesanan kami memotong kecamuk pikiranku yang sedang berantakan.
"Iya, betul, Mbak. Terima kasih banyak," sahut Kartika ramah.
Namun, tepat ketika mbak pelayan itu melangkah pergi, dan sebelum aku sempat membuka mulut untuk merespons cerita gundahnya, sebuah interupsi keras kembali memecah keheningan di antara kami.
Drtt... Drtt... Drtt...!
Layar ponsel Kartika yang tergeletak di atas meja kaca mendadak menyala terang, bergetar diiringi suara dering telepon yang nyaring. Kartika tersentak pelan, senyum manis di wajah bulat berserinya langsung membeku seketika begitu sepasang matanya membaca nama yang tertera di layar ponsel tersebut. Raut wajahnya mendadak berubah menjadi sangat pias dan tegang, membuat suasana di meja sudut Cafe Sama Dengan malam itu kembali disergap oleh misteri yang mencekam.