Di sebuah sungai yang jauh dari kota, hiduplah seekor ikan kecil bernama Luma.
Sejak ia menetas, Luma tidak pernah mengetahui seperti apa rupa dunia di atas permukaan air.Ia hanya mengenal sungai—air yang dingin, batu-batu di dasar sungai, tanaman air yang bergoyang mengikuti arus, dan cahaya matahari yang pecah menjadi ribuan bayangan di permukaan.
Namun setiap sore, Luma selalu berenang mendekati permukaan.
Di sana, ia dapat melihat sesuatu yang tidak pernah bisa ia sentuh.
Langit.
Kadang berwarna biru.Kadang jingga.Kadang merah muda seperti kelopak bunga.
Luma sering bertanya kepada ikan-ikan lain,
“Bagaimana rasanya melihat langit dari atas sana?”
Tak ada yang tahu jawabannya.
“Kita ikan,” kata mereka.“Langit bukan milik kita.”
Tetapi Luma tidak pernah berhenti bermimpi.
Suatu hari, seekor burung putih bernama Elio datang ke tepi sungai.Ia melihat Luma yang sedang memandangi langit dari dalam air.
“Kenapa kau selalu melihat ke atas?” tanya Elio.
“Aku ingin tahu bagaimana rasanya berada di sana.”
Elio tertawa kecil.
“Kalau begitu, kau harus menjadi burung.”
Luma tersenyum sedih.
“Aku tidak bisa menjadi burung.”
Mereka terdiam.
Kemudian Luma berkata,
“Tapi… bisakah kau membawaku terbang?”
Elio menatapnya lama.
“Kau tahu kau tidak bisa hidup di udara.”
“Aku tahu.”
“Kalau aku membawamu terlalu lama, kau akan mati.”
Luma kembali memandang langit.
“Kalau begitu, bawalah aku hanya sekali.”
Elio terdiam.
“Sekali saja?”
“Ya. Aku tidak ingin terbang selamanya.Aku hanya ingin sekali melihat daratan dan langit dengan mataku sendiri.”
Akhirnya Elio menyetujui permintaan itu.
Mereka membuat sebuah kesepakatan.
Saat matahari terbit keesokan paginya, Elio akan datang.Ia akan membawa Luma terbang setinggi yang mampu ia capai, lalu mengembalikannya ke sungai sebelum terlambat.
Pagi pun tiba.
Langit masih berwarna pucat ketika Elio datang.
Luma menunggu di dekat permukaan.
“Apakah kau siap?” tanya Elio.
Luma mengangguk.
“Aku sudah menunggu seumur hidupku.”
Elio meraih tubuh kecil Luma dengan kedua kakinya.
Lalu ia mengepakkan sayap.
Sekali.
Dua kali.
Dan—
Luma terangkat dari air.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia meninggalkan sungai.
Angin menyentuh tubuhnya.
Ia melihat daratan.
Pepohonan yang selama ini hanya tampak sebagai bayangan ternyata memiliki batang yang besar dan daun yang begitu hijau.Bunga-bunga tumbuh di sepanjang tepian sungai.Rumput bergoyang tertiup angin.
Luma terdiam.
“Jadi… seperti ini daratan.”
Elio terus terbang.
Semakin tinggi mereka naik, semakin luas dunia yang dapat dilihat Luma.
Ia melihat sungai yang membelah hutan seperti pita perak.
Ia melihat bukit-bukit hijau.
Ia melihat burung-burung lain terbang bebas.
Dan kemudian—
ia melihat langit.
Bukan pantulan langit di permukaan air.
Bukan bayangan biru yang terpecah oleh riak sungai.
Tetapi langit yang sesungguhnya.
Luas.
Tak berujung.
Indah.
Mata Luma berkaca-kaca.
“Indah sekali…”
Elio tersenyum.
“Aku sudah bilang.”
Luma tertawa kecil.
“Tidak. Kau tidak pernah bilang kalau ternyata seindah ini.”
Mereka terus terbang.
Namun Elio mulai merasakan tubuh Luma semakin lemah.
“Luma…”
“Aku tahu,” jawab Luma pelan.
“Kita harus kembali.”
Luma memandang langit sekali lagi.
Ia tahu.
Kesepakatan mereka telah sampai pada akhirnya.
Namun untuk pertama kalinya, Luma tidak merasa takut.
“Terima kasih, Elio.”
“Kita masih bisa kembali.”
Luma menggeleng.
“Tidak apa-apa.”
Ia menatap daratan untuk terakhir kalinya.
Kemudian menatap langit.
“Aku hanya ingin mengingatnya.”
Elio segera berbalik menuju sungai.
Namun sebelum mereka sampai, tubuh Luma menjadi semakin lemah.
Matanya perlahan tertutup.
Dan dalam pelukan angin, ikan kecil itu mengembuskan napas terakhirnya.
Elio terdiam.
Ia terus membawa Luma hingga tubuh kecil itu kembali menyentuh permukaan sungai.
Tetapi Luma tidak bergerak lagi.
Ia telah mati.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia terbang.
Dan untuk terakhir kalinya, ia melihat daratan dan langit.
Elio kemudian melepaskan Luma perlahan ke dalam sungai.
Tubuh kecil itu tenggelam di antara cahaya matahari yang menembus air.
Sejak hari itu, Elio selalu kembali ke tempat yang sama setiap pagi.
Dan setiap kali ia melihat langit yang luas, ia teringat pada seekor ikan kecil yang pernah bermimpi untuk melihatnya.
Elio sering berkata kepada dirinya sendiri,
“Luma tidak pernah dilahirkan untuk terbang.”
Ia tersenyum.
“Tetapi setidaknya, sekali dalam hidupnya… ia berhasil.”
Konon, pada hari-hari tertentu ketika matahari terbenam, bayangan seekor ikan kecil dapat terlihat berenang di permukaan sungai.
Dan orang-orang tua di sekitar sungai percaya bahwa itu adalah Luma.
Bukan karena ia masih hidup.
Melainkan karena mimpinya telah menjadi bagian dari langit yang pernah ia lihat.
Untuk pertama dan terakhir kalinya, seekor ikan telah terbang.
Tamat.