Gadis yang Lahir pada Tanggal 20
Author: fikara20
Teen
Di sebuah kerajaan kecil bernama Aveloria, terdapat sebuah desa yang dikelilingi hutan mawar merah dan bukit-bukit hijau yang selalu diselimuti kabut tipis pada pagi hari.
Di sanalah, pada sebuah malam ketika bulan menggantung bulat di atas menara kerajaan, lahirlah seorang bayi perempuan.
Ia lahir pada tanggal dua puluh.
Namanya Seraphine.
Ketika pertama kali melihat bayi itu, neneknya tersenyum sambil mengusap rambut halus di kepalanya.
“Anak yang lahir pada tanggal dua puluh,” bisik sang nenek, “biasanya memiliki hati yang terlalu besar untuk dirinya sendiri.”
Ibunya tertawa kecil.
“Apa maksud Ibu?”
Sang nenek memandang bayi itu lama.
“Kelak ia akan mencintai dengan seluruh hatinya.Dan karena itu, ia harus belajar satu hal yang sulit.”
“Apa itu?”
“Bahwa tidak semua orang yang ia cintai pantas menerima seluruh hatinya.”
Seraphine tumbuh sebagai anak yang lembut.
Sejak kecil, ia senang mendengarkan dongeng.
Ia menyukai kisah tentang kastel tinggi, gaun panjang, pesta dansa, kereta kuda, hutan ajaib, dan terutama kisah tentang seorang putri yang akhirnya bertemu dengan pangerannya.
Setiap malam, sebelum tidur, neneknya akan duduk di sisi ranjang dan membacakan dongeng.
Dalam setiap cerita, selalu ada seseorang yang datang.
Seorang pangeran.
Seorang ksatria.
Seorang lelaki berkuda yang menempuh perjalanan jauh hanya untuk menemukan sang putri.
Seraphine kecil selalu bertanya,
“Nek, apakah semua putri akan mendapatkan pangeran?”
Neneknya tersenyum.
“Tidak semua.”
“Kenapa?”
“Karena hidup tidak selalu seperti dongeng.”
Seraphine mengerutkan kening.
“Kalau begitu, bagaimana seorang putri bisa bahagia?”
Neneknya terdiam sebentar sebelum menjawab,
“Dengan belajar menjadi rumah bagi dirinya sendiri.”
Seraphine tidak memahami jawaban itu.
Bagi seorang anak kecil, kebahagiaan begitu sederhana.
Ia hanya ingin dicintai.
Ia ingin suatu hari nanti ada seseorang yang datang kepadanya, menggenggam tangannya, lalu berkata,
“Aku memilihmu.”
Maka ia tumbuh dengan keyakinan bahwa suatu hari nanti seseorang akan datang.
Seraphine tumbuh menjadi gadis yang cantik.
Rambutnya panjang berwarna keemasan kecokelatan, matanya bening seperti danau setelah hujan, dan senyumnya begitu lembut hingga orang-orang sering mengatakan bahwa wajahnya tampak seperti tokoh dari buku dongeng.
Ketika usianya menginjak dua puluh tahun, banyak lelaki mulai datang.
Seorang putra bangsawan pernah mengirimkan kereta penuh bunga mawar.
Seorang saudagar kaya menawarkan perhiasan.
Seorang ksatria berjanji akan membangun rumah besar untuknya.
Namun Seraphine selalu menolak.
Bukan karena ia merasa lebih baik dari mereka.
Ia hanya merasa...
belum.
Belum ada seseorang yang membuat hatinya berkata, inilah orangnya.
Maka ia terus menunggu.
“Pangeranku belum datang,” katanya kepada neneknya.
Neneknya hanya tersenyum.
“Kalau begitu, jangan lupa hidup sambil menunggu.”
Tetapi Seraphine tidak benar-benar mendengarkan.
Hari demi hari ia menghabiskan waktu dengan membayangkan lelaki yang bahkan belum pernah ditemuinya.
Ia membayangkan bagaimana suara lelaki itu.
Bagaimana caranya tersenyum.
Bagaimana ia akan memandang Seraphine.
Dan setiap kali mendengar suara derap kaki kuda di jalan depan rumah, jantungnya selalu berdebar.
Apakah dia?
Namun selalu saja bukan.
Tahun pertama berlalu.
Kemudian tahun kedua.
Lalu kelima.
Kesepuluh.
Satu demi satu gadis yang tumbuh bersamanya mulai menikah.
Mereka datang mengunjungi Seraphine dengan membawa anak-anak mereka.
Ada yang berkata,
“Suamiku membelikanku rumah.”
Ada yang berkata,
“Kami akan memiliki anak kedua.”
Ada pula yang berbisik,
“Kau masih menunggu?”
Seraphine hanya tersenyum.
“Ya.”
“Pangeranmu?”
Seraphine tertawa kecil.
“Mungkin.”
Namun setelah mereka pergi, senyum itu menghilang.
Malam-malam menjadi semakin panjang.
Kadang ia duduk di depan jendela sambil memandangi jalan yang gelap.
Ia mulai bertanya-tanya.
Apa yang salah denganku?
Mengapa tidak ada seorang pun yang memilihku?
Apakah aku kurang cantik?
Apakah aku terlalu sulit dicintai?
Pertanyaan-pertanyaan itu perlahan menjadi luka yang tidak terlihat.
Dan semakin lama ia menunggu, semakin ia merasa bahwa hidupnya tertinggal.
Suatu musim dingin, nenek Seraphine jatuh sakit.
Tubuh tua itu semakin lemah dari hari ke hari.
Seraphine merawatnya tanpa meninggalkan sisi tempat tidurnya.
Pada suatu malam, ketika salju turun di luar jendela, sang nenek menggenggam tangannya.
“Seraphine.”
“Ya, Nek?”
“Apakah kau masih menunggu seseorang?”
Seraphine menundukkan kepala.
“Entahlah.”
Neneknya tersenyum sedih.
“Dulu kau selalu mengatakan ingin menemukan pangeran.”
“Aku masih ingin dicintai.”
“Itu berbeda.”
Seraphine terdiam.
Neneknya menarik napas panjang.
“Jangan habiskan hidupmu berdiri di depan pintu hanya karena kau berharap seseorang akan mengetuknya.”
Air mata mulai memenuhi mata Seraphine.
“Tapi bagaimana kalau dia benar-benar datang?”
“Kalau dia benar-benar datang,” jawab neneknya lembut, “kau akan membukakan pintu.”
Neneknya berhenti sejenak.
“Tetapi jangan sampai kau lupa bahwa kau juga boleh pergi keluar.”
Malam itu menjadi percakapan terakhir mereka.
Sebelum matahari terbit, nenek Seraphine telah pergi untuk selamanya.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Seraphine merasa benar-benar sendirian.
Ia menangis berhari-hari.
Bukan hanya karena kehilangan neneknya.
Tetapi karena untuk pertama kalinya ia menyadari bahwa waktu terus berjalan.
Dan selama ini...
ia hanya menunggu.
Beberapa minggu kemudian, Seraphine menemukan sebuah buku tua milik neneknya.
Sampulnya telah pudar.
Halaman-halamannya menguning.
Ia membawanya ke taman mawar dan membacanya di bawah pohon tua.
Di halaman terakhir, ia menemukan tulisan tangan neneknya.
“Untuk Seraphine, jika suatu hari kau membaca ini, mungkin aku sudah tidak berada di sampingmu.”
Air mata Seraphine langsung jatuh.
Ia melanjutkan membaca.
“Aku tahu sejak kecil kau menunggu seseorang datang untuk mencintaimu.”
“Tetapi ingatlah, sayangku...”
«“Jangan jadikan kedatangan seseorang sebagai alasan mengapa hidupmu dimulai.”
Seraphine menutup mulutnya.
Tangisnya pecah.
Ia membaca kalimat berikutnya dengan tangan gemetar.
“Jika suatu hari tidak ada seorang pun yang datang, jangan menganggap hidupmu gagal.”
“Jika seseorang memilihmu, terimalah jika ia baik.”
“Jika seseorang pergi, lepaskan jika memang harus.”
“Dan jika takdir tidak memberimu seorang pangeran...”
Tulisan itu berhenti sejenak.
Lalu ada satu kalimat terakhir.
“Jadilah ratu bagi hidupmu sendiri.”
Seraphine menangis hingga malam.
Tetapi untuk pertama kalinya, tangis itu terasa berbeda.
Bukan tangisan seorang perempuan yang merasa tidak dipilih.
Melainkan tangisan seseorang yang akhirnya memahami bahwa selama bertahun-tahun ia telah menunggu orang lain memberikan izin untuk hidup.
Keesokan paginya, Seraphine menjual rumah lamanya.
Ia membawa sedikit uang, beberapa pakaian, buku neneknya, dan sebuah lukisan kecil.
Ia meninggalkan istana.
Bukan karena ia membenci kehidupan lamanya.
Tetapi karena ia ingin menemukan kehidupan yang belum pernah ia jalani.
Ia pergi ke sebuah desa kecil di balik hutan.
Di sana ia membeli rumah tua yang hampir roboh.
Atapnya bocor.
Halaman belakangnya dipenuhi rumput liar.
Jendelanya bahkan tidak dapat ditutup dengan sempurna.
Namun Seraphine tersenyum.
Untuk pertama kalinya...
rumah itu benar-benar miliknya.
Ia memperbaikinya sedikit demi sedikit.
Pagi hari ia membuat roti.
Siang hari ia menanam mawar.
Sore hari ia melukis.
Malam hari ia membaca buku.
Kadang-kadang ia menangis.
Kadang-kadang ia merasa kesepian.
Tetapi ia tidak lagi menunggu seseorang datang untuk menyelamatkannya.
Ia mulai menyelamatkan dirinya sendiri.
Tahun-tahun berlalu.
Taman kecil di belakang rumahnya berubah menjadi taman mawar paling indah di desa.
Lukisannya mulai dikenal.
Roti buatannya dijual di pasar.
Kemudian ia membuka sebuah toko kecil.
Lalu sebuah rumah kaca.
Kemudian ia menggunakan sebagian uangnya untuk mengajari anak-anak perempuan di desa membaca, menulis, menggambar, dan menjahit.
Ia ingin mereka tahu sesuatu yang dahulu tidak ia pahami.
Bahwa seorang perempuan boleh memiliki mimpi yang tidak berhubungan dengan pernikahan.
Bahwa hidup tidak harus dimulai ketika seseorang mencintainya.
Dan bahwa kesendirian tidak selalu berarti kesepian.
Bertahun-tahun kemudian, Seraphine telah menjadi perempuan yang berbeda.
Rambutnya tidak lagi sehitam atau sekeemasan masa mudanya.
Beberapa helainya mulai memutih.
Wajahnya memiliki garis-garis kecil yang muncul karena waktu.
Tetapi matanya...
matanya jauh lebih hidup.
Suatu sore, seorang pengembara datang ke desanya.
Namanya Adrian.
Ia bukan pangeran.
Tidak memiliki kastel.
Tidak memiliki mahkota.
Ia datang dengan pakaian sederhana dan sebuah kereta kecil berisi barang-barang dari kota lain.
Ia berhenti di depan toko Seraphine karena melihat sebuah lukisan mawar di jendela.
“Berapa harganya?”
Seraphine menyebutkan harga.
Adrian menggeleng.
“Terlalu mahal.”
“Kalau begitu jangan beli.”
Adrian tertawa.
“Kau selalu menjawab seperti itu kepada calon pembelimu?”
“Tidak. Hanya kepada pembeli yang banyak mengeluh.”
Sejak hari itu, Adrian mulai sering datang.
Awalnya untuk membeli lukisan.
Kemudian untuk membeli roti.
Lalu untuk berbicara.
Mereka berbicara tentang buku.
Tentang perjalanan.
Tentang hujan.
Tentang hal-hal kecil yang sebenarnya tidak penting.
Namun justru dari hal-hal kecil itu, tumbuh sesuatu yang tidak pernah Seraphine rencanakan.
Cinta.
Tidak datang seperti petir.
Tidak datang dengan kereta emas.
Tidak datang bersama suara terompet kerajaan.
Cinta itu datang perlahan.
Seperti bunga mawar yang mekar tanpa suara.
Suatu sore, Adrian bertanya,
“Seraphine, apakah kau pernah menunggu seseorang?”
Seraphine tersenyum.
“Pernah.”
“Pangeran?”
“Dulu aku mengira begitu.”
“Dan sekarang?”
Seraphine memandang taman mawarnya.
“Sekarang aku tidak menunggu siapa pun.”
Adrian terdiam.
“Kenapa?”
“Karena aku sudah belajar bahwa hidup terlalu singkat untuk dihabiskan di depan pintu.”
Adrian tersenyum.
“Kalau begitu, bagaimana jika seseorang datang dan ingin berjalan bersamamu?”
Seraphine menatapnya.
“Dia boleh berjalan.”
“Tidak perlu memimpinmu?”
“Tidak.”
“Tidak perlu menyelamatkanmu?”
Seraphine menggeleng.
“Aku tidak membutuhkan penyelamat.”
Adrian tersenyum kecil.
“Lalu apa yang kau butuhkan?”
Seraphine berpikir cukup lama.
Kemudian ia menjawab,
“Seseorang yang tidak keberatan jika aku berjalan di sampingnya.”
Adrian mengulurkan tangannya.
“Kalau begitu... bolehkah aku?”
Seraphine melihat tangan itu.
Dulu, ia akan langsung menggenggamnya.
Karena takut kesempatan itu tidak datang lagi.
Namun sekarang ia sudah berbeda.
Ia tidak lagi takut sendirian.
Ia tidak lagi merasa bahwa sebuah tangan yang terulur adalah satu-satunya kesempatan untuk bahagia.
Maka ia tersenyum.
“Berjalanlah.”
Adrian menggenggam tangannya.
Dan mereka berjalan menyusuri taman mawar.
Bukan sebagai putri dan pangeran.
Bukan sebagai penyelamat dan perempuan yang harus diselamatkan.
Tetapi sebagai dua manusia yang memilih satu sama lain.
Seraphine akhirnya memahami perkataan neneknya.
Tentang anak yang lahir pada tanggal dua puluh.
Mungkin benar bahwa ia memiliki hati yang besar.
Tetapi ia tidak lagi memberikan seluruh hatinya kepada seseorang hanya karena takut ditinggalkan.
Ia mencintai Adrian.
Namun ia juga mencintai dirinya sendiri.
Jika Adrian tinggal, ia akan bersyukur.
Jika Adrian suatu hari pergi, ia akan menangis.
Ia mungkin akan hancur untuk sementara.
Namun ia tahu...
ia akan bangkit lagi.
Karena kebahagiaannya tidak lagi berdiri di atas kehadiran seseorang.
Pada suatu malam, Seraphine kembali membuka buku tua peninggalan neneknya.
Ia membaca kalimat terakhir sekali lagi.
“Jadilah ratu bagi hidupmu sendiri.”
Seraphine tersenyum.
Kini ia akhirnya mengerti.
Selama bertahun-tahun ia mengira karmanya adalah menunggu seorang pangeran.
Padahal mungkin karma yang sesungguhnya adalah belajar berhenti menunggu.
Belajar menerima bahwa tidak semua kisah perempuan harus berakhir dengan pernikahan.
Belajar bahwa dicintai adalah sesuatu yang indah.
Tetapi mampu mencintai diri sendiri adalah sesuatu yang jauh lebih menyelamatkan.
Dan mungkin...
pangeran yang selama ini ia tunggu memang tidak pernah ada.
Atau mungkin ia datang dalam bentuk seorang lelaki sederhana bernama Adrian.
Seraphine tidak lagi peduli.
Sebab sekarang, jika seseorang datang, ia akan membuka pintu karena ia memilihnya.
Bukan karena ia membutuhkannya.
Dan jika tidak ada seorang pun yang datang...
ia tetap akan menyalakan perapian di rumahnya.
Tetap menanam mawar.
Tetap melukis.
Tetap tertawa.
Tetap bepergian.
Tetap hidup.
Tetap menjadi dirinya sendiri.
Karena akhirnya Seraphine memahami sesuatu yang tidak pernah diajarkan oleh dongeng mana pun.
Seorang perempuan tidak harus ditemukan oleh seorang pangeran untuk memiliki akhir yang bahagia.
Kadang-kadang...
ia hanya perlu menemukan dirinya sendiri.
Dan gadis yang lahir pada tanggal dua puluh itu akhirnya berhenti menunggu seseorang datang untuk memilihnya.
Karena ia telah memilih dirinya sendiri.
Ia tidak menjadi putri dalam kisah siapa pun.
Ia menjadi ratu dalam kisah hidupnya sendiri.
Tamat.