Aku menghitung. Satu, dua, tiga. Jika sampai sepuluh aku masih dapat mendengar napasku sendiri, berarti hari ini aku menang. Menang melawan diriku yang sejak pagi membisik, "Sudah, cukup."
Langit kamarku putih, bukan karena terang, melainkan karena kosong. Di atas meja tergeletak surat penerimaan, dan di dalam laci tersimpan janji yang dulu kupeluk terlalu erat.
Sebelum kelulusan, ada satu kalimat yang membuatku berani mengangguk pada masa depan. Katanya aku boleh kuliah, tinggal bilang saja nanti. Aku mengangguk, lalu menaruh seluruh tenagaku pada kalimat itu.
Ternyata yang berubah bukan aku. Setiap kali aku memberanikan diri membahasnya, yang kudapat hanya tatapan yang menyalahkanku, seolah aku yang tidak mengerti keadaan, seolah aku yang terlalu menuntut.
Tanganku masih menggenggam kertas itu. Pinggirnya sudah lecek dan sobek karena setiap malam kutahan. Bukan karena aku masih berharap, melainkan karena jika kulepaskan, berarti aku harus mengakui bahwa aku benar-benar sendirian.
Aku tidak marah. Marah butuh tenaga. Aku hanya lelah menjadi orang yang selalu diminta mengerti, sementara tidak ada siapa pun yang berusaha mengerti aku.
Namun jika aku berhenti hari ini, siapa yang akan melihatku sampai di garis akhir? Jika aku menyerah sekarang, untuk siapa lagi aku menepati janji yang kubisikkan pada diri sendiri di setiap malam.
Maka aku menarik napas. Satu, dua, tiga, hingga sepuluh. Selama aku masih bisa menghitung, berarti aku masih hidup. Dan selama aku masih hidup, berarti aku masih sanggup bertahan satu hari lagi.