Rumah Ini Bukan Milik Bapak
Author: Alvaraby
Keluarga
Bungkus gorengan dari kertas koran bekas itu diletakkan begitu saja di atas meja kayu yang melengkung termakan usia. Suara plastik bergemerisik menyisakan aroma jelantah dan gorengan dingin yang sudah kehilangan kerenyahannya. Dari ambang pintu kamar tempat mesin jahit berdiri, Ratih tidak perlu menoleh untuk tahu siapa yang baru saja masuk.
Langkah kaki itu berat, terseret-seret oleh sandal jepit tipis yang tapaknya sudah menipis sebelah. Suara berdeham yang sarat akan dahak, disusul denting korek api gas yang dipantik. Clek. Clek. Lalu aroma asap rokok kretek beraroma cengkeh murah langsung menusuk hidung, menjajah setiap sudut ruang tamu yang berukuran empat kali empat meter itu.
Ratih memejamkan mata erat-erat. Tangannya yang memegang kain katun motif bunga berhenti bergerak. Jarum mesin jahit Singer tua peninggalan ibunya tergantung milimeter dari atas kain. Di dalam dada Ratih, ada gelombang panas yang mendidih secara perlahan—sebuah rasa jengkel yang teramat sangat, yang selama enam tahun terakhir ini terus dipupuk, disiram, dan tumbuh subur menjadi dinding batu yang kokoh.
Dinding batu yang memisahkan dirinya dengan lelaki tua yang dipanggilnya Ayah.
Sejak perceraian yang menghancurkan seluruh dunianya pada tahun 2019, Ratih memboyong sisa-sisa hidupnya yang luluh pasak kembali ke rumah ini. Rumah tempat ia tumbuh besar, rumah yang dinding-dinding cat hijaunya kini mulai mengelupas, rumah yang separuh jiwanya hilang saat Ibu menghembuskan napas terakhir beberapa tahun sebelum rumah tangganya sendiri hancur.
Dulu, Ratih membayangkan kepulangannya adalah perjalanan pulang seorang anak yang terluka menuju pelukan hangat keluarganya. Ia membayangkan ada tempat bersandar, ada pelindung yang akan menepuk bahunya dan berkata, "Semua akan baik-baik saja, Nak."
Namun, kenyataan menamparnya tanpa ampun.
Ayah masih di sana. Tubuhnya masih ada. Langkah kakinya masih menggema di atas lantai semen. Tetapi fungsinya sebagai seorang ayah telah lenyap entah ke mana. Lelaki itu bertindak bagaikan seorang asing yang kebetulan menumpang tidur di kamar depan, yang menuntut seluruh fasilitas rumah harus selalu ada tanpa pernah peduli bagaimana fasilitas itu bisa wujud.
"Teeh," suara serak itu memanggil. Bukan panggilan hangat, melainkan perintah pendek yang dingin.
Ratih tidak menjawab. Jemarinya kembali menekan kain, kaki kanannya menekan pedal mesin jahit. Suara gemeretak mesin jahit tua berderu nyaring, sengaja diciptakan untuk menutupi pendengarannya dari suara sang ayah.
"Teeh!" Kali ini lebih keras, disertai ketukan jari di atas meja. "Kopi habis. Duit dapur mana? Mau beli rokok sekalian."
Ratih menghentikan putaran roda mesin. Ia menarik napas dalam-dalam melalui hidung, menahannya selama beberapa detik untuk mengendalikan gemetar di dadanya, lalu menghembuskannya pelan. Ia tidak menoleh. Ia hanya menatap lurus ke arah dinding di depannya, tempat sebuah kalender usang bergambar pemandangan alam tergantung.
"Gak ada duit, Yah," jawab Ratih. Suaranya datar, dingin, dan nyaris tanpa nada.
"Masa gak ada? Kemarin kan si Mpok Romlah ngambil jahitan kebaya?"
"Buat bayar listrik besok. Kalau gak dibayar, mati lampu. Air PAM juga belum dibayar dari minggu kemarin," ujar Ratih tanpa menaikkan intonasi. Ia telah mengumpan kalimat yang sama berulang kali, bagai kaset rusak yang diputar tanpa henti.
Lelaki tua itu mendengus kasar. Dari pantulan kaca lemari tua di sebelahnya, Ratih bisa melihat bayangan Ayah yang berdiri gusar, menghembuskan asap rokoknya ke udara dengan gusar.
"Pelit amat sama orang tua! Cuma minta dua puluh ribu buat rokok sama kopi!" bentak Ayah.
Ratih memilih diam. Ia kembali menekan pedal mesin jahit. Tuk-tuk-tuk-tuk-tuk. Suara besi beradu besi itu menjadi benteng pertahanannya. Berbicara dengan Ayah sudah lama kehilangan tujuannya. Dari tahun 2019 hingga detik ini di tahun 2026, Ratih sudah mencoba berbicara baik-baik sebanyak yang ia bisa. Tiga kali secara khusus ia duduk bersimpuh, merendahkan hatinya, meminta dengan sangat agar Ayah mau membagi sedikit penghasilan dari narik angkotnya—sekadar untuk menanggung beras atau iuran RT.
Namun respon yang didapatnya selalu sama: tatapan kosong, keheningan seperti mengobrol dengan tembok, atau dengusan jijik seolah Ratih adalah pengemis di rumahnya sendiri.
Ayah tidak mau tahu. Di mata Ayah, segalanya di rumah ini harus ada. Lampu harus menyala saat sakelar ditekan. Air harus mengalir saat kran dibuka. Dan bahan makanan harus selalu tersedia di dalam kulkas.
---
Ketika malam makin larut dan suara mesin jahit akhirnya dipadamkan, rumah itu berubah menjadi ruang hampa yang mencekam. Ratih melangkah ke dapur kecil di belakang. Langkah kakinya pelan, tak ingin membangunkan Ayah yang mungkin sudah tertidur di kamar depan.
Di dapur, Ratih membuka pintu kulkas yang lampunya sudah mati karena bohlamnya putus dan belum sempat diganti. Cahaya dari lampu jalan menyelinap masuk lewat ventilasi kayu, menerangi isi kulkas yang begitu lengang. Hanya ada dua butir telur, seikat bayam yang mulai layu di ujungnya, setengah papan tempe, dan dua botol air dingin.
Ratih menatap stok itu lama. Matanya terasa panas.
Dulu, sewaktu awal ia kembali ke rumah ini dalam keadaan hancur setelah bercerai, Ratih mencoba menjadi anak yang berbakti. Setiap pagi ia bangun sebelum subuh, memasak sayur lodeh favorit Ayah, menggoreng ikan asin, menyiapkan kopi hitam hangat di atas meja. Ia berharap, lewat pelayanan dan kepatuhannya, hati Ayah yang membeku bisa melunak. Ia berharap aroma masakan bisa menghidupkan kembali rumah yang telah ditinggal pergi Ibu.
Namun, harapan itu hancur berkeping-keping saat masakan yang ia buat dengan sisa-sisa tenaganya sering kali dibiarkan basi di atas meja. Ayah lebih pilih makan di luar, membeli nasi bungkus di warteg pinggir jalan bersama kawan-kawan sesama sopir angkot, sementara masakan Ratih berakhir di tempat sampah. Tubuh Ratih gemetar setiap kali harus membuang makanan mubazir itu—makanan yang dibeli dari rupiah demi rupiah hasil memotong dan menjahit pakaian orang.
Sejak saat itu, Ratih berhenti memasak. Ia hanya menyiapkan stok bahan mentah di kulkas. Jika Ayah mau makan, Ayah bisa menggoreng telur sendiri. Jika tidak, itu bukan lagi urusannya.
Ratih duduk di kursi plastik dapur, menyandarkan kepalanya ke dinding tembok yang dingin. Air matanya merembes keluar tanpa suara, menelusuri pipinya yang tirus.
Ya Allah... bisiknya dalam hati. Aku capek. Aku bener-bener sendiri.
Di mana tempat bersandar ketika tempat pulang satu-satunya justru menjadi sumber luka? Siapa yang bisa ditanya ketika tak ada satu orang pun yang peduli apakah hari ini ia sudah makan atau belum?
Tidak ada yang pernah bertanya: "Kakang lagi butuh apa?"
Tidak ada yang pernah menyapa: "Kakang mau makan apa malam ini?"
Atau sekadar bertanya ringan: "Bagaimana kabarmu hari ini?"
Sejak Ibu meninggal dan Ratih kembali ke rumah ini, kata-kata perhatian itu menguap dari sejarah hidupnya. Ia menjelma menjadi sosok tak terlihat yang fungsinya hanya ada saat tagihan datang atau saat rokok Ayah habis.
Ratih mengusap air matanya kasar. Di satu sisi, ada ustadz di pengajian RT yang selalu bilang bahwa berbakti pada orang tua yang sulit adalah ladang pahala tanpa batas. Ratih tahu itu. Ia selalu mencoba menanamkan rasa ikhlas di relung hatinya yang paling dalam. Ia menanggung biaya listrik, air, sampah, hingga beras tanpa meminta balasan. Tapi di sisi lain, manusia mana yang tidak terkikis jika setiap hari disuguhi sikap dingin, sikap tidak peduli, dan keegoisan yang tak bertepi?
Bukan hanya materi yang absen dari sosok Ayah. Jiwanya pun mengering.
Seingat Ratih, tidak pernah sekali pun ia melihat Ayah membentangkan sajadah di rumah ini. Ketika suara adzan maghrib berkumandang nyaring dari masjid sebelah, Ayah tetap bersandar di kursi rotan ruang tamu, menonton televisi dengan volume keras sambil mengepulkan asap rokok. Minimal, jika Ayah tak mampu membantu keuangan dapur yang sering krisir saat jahitan sepi, bukankah seorang ayah seharusnya melangitkan doa-doa dalam shalatnya untuk anak perempuan yang sedang berjuang sendirian ini?
Tapi jangankan mendoakan. Berdiri menghadap Sang Pencipta pun Ayah tidak mau.
---
Tahun 2025 menjadi puncak dari segalanya—tahun di mana benang kesabaran Ratih terputus hingga tak berbekas.
Kala itu, musim hujan berlanjut panjang. Pesanan jahitan sepi membatu. Orang-orang lebih memilih menahan diri daripada membuat baju baru. Ratih harus memutar otak setipis mungkin, memotong anggaran makan harian agar tagihan listrik tidak menunggak. Makan siang sering kali hanya dengan nasi putih ditaburi garam dan sedikit jelantah sisa kemarin.
Di tengah situasi serba mepet itu, Ayah mendatangi meja jahitnya dengan wajah menyeringai gusar.
"Mana uang lima puluh ribu? Aku mau beli rokok sama ngopi di warung Mpo Keti," pintanya tanpa basa-basi.
Ratih yang sedang menyelesaikan jelujur jahitan merapikan benangnya. "Gak ada, Yah. Jahitan lagi sepi banget. Ini cuma ada sisa lima belas ribu buat beli beras seperempat kilo besok."
"Jangan alesan kamu! Masa dari kemarin gak ada uang sama sekali?! Kamu sengaja mau bikin Ayah mati kelaparan?!" suara Ayah meninggi, bergema di seluruh ruangan rumah.
Ratih mendongak, menatap mata ayahnya langsung. Ada kilat keputusasaan dan kemarahan yang membakar di matanya. "Aku gak bohong, Yah! Ayah bisa cek sendiri kantongku! Kalau uang ini dipakai beli rokok Ayah, besok kita mau makan apa?! Listrik mau dibayar pakai apa?!"
"Gak usah ngatur kamu!" Ayah menunjuk muka Ratih dengan jari telunjuknya yang gemetar karena emosi. "Kalau kamu gak mau kasih uang, keluar kamu dari rumah ini! Pergi! Ini rumahku! Mau tak jual aja rumah ini biar dapet uang cash! Kamu bikin pusing saja di sini!"
Kata-kata itu terlempar bagaikan pecahan kaca yang menusuk tepat di dada Ratih.
Diungsi. Dan diancam rumahnya akan dijual.
Bukan hanya sekali. Sepanjang tahun 2025 itu, tiga kali Ayah mengancam akan menjual rumah ini dan mengusir Ratih setiap kali keinginannya meminta uang rokok ditolak.
Setiap kali ancaman itu keluar dari mulut Ayah, dada Ratih rasanya seperti dihantam godam besar. Rumah ini... rumah ini adalah tetes keringat Almh. Ibu!
Ratih ingat betul bagaimana masa kecilnya dihabiskan dalam rumah kayu yang bocor di sana-sini. Ibunya-lah yang banting tulang, ikut berdagang kue keliling, mengumpulkan rupiah demi rupiah untuk membangun tembok semen satu demi satu, membuat kamar-kamar, merapikan dapur, dan mengecat dinding ini. Dari dulu, Ayah memang sosok yang pelit. Penjualan dari narik angkot selalu dipakai untuk dirinya sendiri—untuk rokoknya, untuk kopi di warung, untuk makan enak bersama kawan-kawannya. Ibu yang mengurus segala urusan bangunan dan kebutuhan anak-anak.
Dan kini, setelah Ibu tiada, lelaki yang tak pernah berkontribusi pada pembangunan rumah ini dengan mudahnya berteriak: "Ini rumahku, mau tak jual!" hanya karena tidak diberi uang rokok.
Sejak hari itu di tahun 2025, Ratih mematikan seluruh perasaannya. Ia memutuskan untuk menjadi batu.
Ia tidak lagi mencoba menjelaskan kondisinya. Ia tidak lagi mencoba mencari perhatian Ayah. Ketika Ayah berada di ruang tamu, Ratih menganggapnya sebagai bayangan yang tak berwujud. Jika mengobrol dengan tetangga atau pelanggan jahitan ia masih bisa tersenyum dan tertawa ramah, maka begitu melangkah masuk ke dalam pintu rumah, wajahnya berubah menjadi topeng tanpa ekspresi.
Keheningan di antara mereka menjadi begitu tebal, hingga suara detak jarum jam dinding pun terdengar seperti dentuman gembok yang mengunci dua jiwa dalam penjara yang sama. Dalam sebulan, kata-kata yang keluar di antara mereka bisa dihitung dengan jari sebelah tangan.
---
Memasuki pertengahan tahun 2026, keadaan tidak makin membaik.
Setibanya bulan Juli, angkot tua yang biasa dipacu Ayah mengalami kerusakan mesin yang parah. Pemilik angkot tidak mau memperbaiki dan memilih mengganti sopir. Ayah pun menganggur total. Ia tidak lagi narik. Setiap hari, ia hanya duduk di teras atau ruang tamu, melamun, merokok jika masih ada sisa tabungannya, atau sekadar menonton TV.
Tanpa penghasilan sama sekali, tekanan Ayah berpindah sepenuhnya ke bahu Ratih.
Sore itu, hujan deras mengguyur atap seng rumah. Suara gemuruh air menyamarkan suara langkah kaki Ayah yang mendekati kamar jahit Ratih.
Ratih baru saja menata beberapa helai pakaian yang selesai diperbaiki milik tetangga. Di atas meja, tergeletak dua lembar uang dua puluh ribuan—hasil jerih payahnya sejak pagi menisik dan mengubah ukuran celana jeans.
Tanpa permisi, tangan keriput Ayah terulur hendak menyambar uang dua lembar itu dari atas meja.
Dengan gerakan cepat yang refleks, Ratih menepak tangan itu sebelum jemari Ayah menyentuh lembaran uang.
Plak!
Suara tepakan itu nyaring, membelah keheningan kamar.
Ayah terperanjat, matanya membelalak kaget bercampur murka. "Kamu berani-beraninya nampar tangan Ayah?!"
"Jangan diambil," kata Ratih. Suaranya sangat pelan, namun bergetar hebat karena menahan amarah yang sudah mengendap bertahun-tahun. "Uang ini buat beli mi instan sama beras besok. Jangan diambil."
"Bagi dua puluh ribu! Ayah mau beli rokok! Udah dua hari Ayah gak ngerokok!" bentak Ayah sambil mencoba meraih kembali uang itu.
"Nggak!" Ratih langsung menggenggam erat dua lembar uang itu dalam telapak tangannya, memeluknya di dada. "Di dapur masih ada stok nasi mentah! Masih ada kopi sachet yang aku beliin kemarin! Ayah gak bakal mati kelaparan cuma gara-gara gak ngerokok!"
"Kamu anak durhaka ya!" teriak Ayah, suaranya melengking menembus gemuruh hujan di luar. Wajahnya yang keriput memerah padam. "Kamu numpang di rumah orang tua tapi perhitungan banget! Kasih uang rokok aja pelitnya setengah mati! Nanti tak jual rumah ini! Tak jual sekarang juga biar kamu menggelontor di jalanan! Keluar kamu dari rumah saya!"
Kata-kata itu meluncur lagi. Ancaman pengusiran yang sama. Kalimat jual rumah yang sama.
Namun kali ini, Ratih tidak menangis. Ia tidak lagi menunduk takut. Sesuatu di dalam dirinya telah mati. Rasa sakit yang memuncak telah berubah menjadi dingin yang membeku.
Ratih berdiri tegak. Ia menatap lurus ke dalam mata Ayah—mata yang kusam dan dipenuhi oleh kepedulian pada diri sendiri semata.
"Jual, Yah," kata Ratih dingin.
Ayah tertegun, langkahnya yang hendak mendekat terhenti.
"Jual rumah ini," ulang Ratih, suara datar tanpa emosi. "Jual kalau Ayah bisa. Tapi ingat, Yah... rumah ini berdiri karena tetes darah dan air mata Ibu. Rumah ini dibuat dari jari-jari Ibu yang pecah-pecah karena jualan kue tiap subuh. Ayah gak pernah kasih sepeser pun buat pondasi rumah ini!"
"Kamu—"
"Tiap hari Ayah ngancam mau ngusir aku," lanjut Ratih, melangkah satu tapak mendekati ayahnya. "Ayah tahu gak? Aku bertahan di sini bukan karena aku gak punya tempat pergi. Aku bertahan di sini karena aku mikirin Ayah! Siapa yang mau bayarin listrik Ayah?! Siapa yang mau beliin beras Ayah?! Siapa yang mau siapin stok makanan di kulkas kalau bukan aku?!"
Napas Ratih memburu. Seluruh luka dari tahun 2019 hingga 2026 yang terkunci rapat di dalam dadanya seolah meledak keluar.
"Ayah pernah tanyain kabar aku sekali aja sejak aku cerai? Pernah Ayah tanyain aku udah makan atau belum? Nggak pernah! Ayah cuma tau segalanya ADA! Ayah cuma tau rokok Ayah harus ada! Ayah gak mau tau jaitan sepi atau ramai! Ayah gak pernah solat buat mendoakan anak Ayah yang berdarah-darah cari uang!"
Ayah terpaku di tempatnya. Mulutnya sedikit terbuka, namun tidak ada kata-kata yang keluar. Matanya berkedip-kedip menatap putri tunggalnya yang kini tampak begitu asing dan mengerikan dalam kemarahannya yang sunyi.
"Kalau Ayah mau jual rumah ini cuma demi uang rokok dan kopi... jual, Yah. Jual hari ini juga. Aku bakal pack baju-bajuku sekarang," ujar Ratih. Ia meletakkan dua lembar uang dua puluh ribu itu di atas meja jahit dengan hentakan pelan. "Ambil uang ini. Beli rokok Ayah. Puaskan diri Ayah hari ini."
Setelah mengucapkan kalimat itu, Ratih memutar tubuhnya. Ia berjalan menuju tempat tidur kecil di sudut kamar, mengambil tas pakaian besar dari atas lemari, dan meletakkannya di atas kasur dengan tenang. Tanpa menoleh lagi pada Ayah yang masih berdiri kaku di ambang pintu, Ratih mulai membuka lemari pakaian dan memindahkan bajunya satu per satu ke dalam tas.
Keheningan kembali menguasai ruangan, hanya diisi oleh suara pakaian yang dilipat dan derus hujan di luar.
Ayah menatap uang dua puluh ribu di atas meja jahit, lalu menatap punggung putrinya yang terus melipat baju tanpa sedikit pun ragu. Untuk pertama kalinya dalam enam tahun terakhir, keangkuhan di wajah lelaki tua itu goyah. Ia melihat sebuah ketetapan hati yang tak bisa disogok lagi dengan amukan atau ancaman. Ia melihat seorang anak yang benar-benar telah lelah—lelah menjadi satu-satunya yang berjuang di dalam rumah yang mati.
Tangan keriput Ayah terulur pelan ke arah meja. Namun, bukan untuk mengambil uang itu.
Jemarinya menyentuh permukaan kain katun bunga-bunga yang masih tergantung di bawah jarum mesin jahit Singer tua milik almarhum istrinya. Kain yang sama yang terus diolah oleh Ratih siang dan malam untuk menyambung hidup mereka berdua.
Ayah menarik tangannya kembali, seolah kain itu panas menyengat skinnya.
Lelaki tua itu berbalik pelan. Langkah kakinya yang menyeret terdengar pelan, melangkah keluar dari kamar jahit Ratih menuju ruang tamu yang gelap. Tidak ada suara korek api yang dipantik. Tidak ada bentakan susulan. Hanya ada keheningan panjang yang menyelimuti rumah cat hijau yang mulai mengelupas itu.
Di dalam kamar, Ratih memeluk sehelai baju milik almarhumah ibunya yang masih tersimpan di dasar lemari. Aroma minyak kayu putih khas Ibu masih tertinggal tipis di serat kainnya. Ratih membenamkan wajahnya ke kain itu, membiarkan air matanya mengalir deras tanpa suara di tengah kegelapan malam yang dingin.
Ia tahu, esok hari mungkin hidupnya belum tentu menjadi lebih mudah. Jahitannya mungkin masih sepi, dan rasa sepi di hatinya mungkin belum akan terobati. Namun di tengah kehampaan itu, saat ia menyapu air matanya sendiri dan merapikan sisa hidupnya, Ratih menyadari satu hal: ia telah bertahan sejauh ini sendirian, dan jika harus melangkah lebih jauh lagi tanpa ada tempat bersandar, ia tahu jiwanya sudah cukup kuat untuk berdiri di atas kakinya sendiri.