Setiap sore, Rena selalu melihat kursi nomor delapan di taman kota.
Kursi itu berada di bawah pohon ketapang besar, sedikit jauh dari jalan utama. Cat hijaunya sudah mengelupas. Salah satu kakinya bahkan tampak pernah diperbaiki.
Biasanya kursi itu kosong.
Kecuali seorang lelaki tua bernama Pak Yusuf.
Rena pertama kali melihatnya ketika sedang mencari tempat untuk beristirahat setelah pulang bekerja. Lelaki tua itu duduk sendirian sambil membawa dua gelas kopi.
Satu gelas diminumnya.
Satu lagi diletakkan di sampingnya.
Rena menganggap kebiasaan itu aneh.
Hari berikutnya, Pak Yusuf datang lagi.
Dua gelas kopi.
Hari berikutnya lagi, tetap dua gelas.
Setelah hampir seminggu, rasa penasaran Rena akhirnya mengalahkan rasa sungkan.
“Pak, boleh saya bertanya?”
Pak Yusuf menoleh dan tersenyum.
“Boleh.”
“Kenapa Bapak selalu membawa dua kopi?”
Pak Yusuf melihat gelas yang berada di sampingnya.
“Karena dulu ada seseorang yang selalu duduk di sini bersama saya.”
“Istri Bapak?”
Pak Yusuf mengangguk pelan.
“Namanya Salma.”
Rena terdiam.
“Sudah meninggal?”
“Sudah tiga tahun.”
“Maaf, Pak.”
“Tidak apa-apa.”
Pak Yusuf tersenyum kecil.
“Kalau saya berhenti datang ke sini, rasanya seperti menghapus bagian dari hidup saya.”
Sejak hari itu, Rena mulai sering duduk bersama Pak Yusuf.
Ia mendengar banyak cerita tentang Salma.
Tentang bagaimana mereka pertama kali bertemu di pasar.
Tentang pertengkaran kecil karena Pak Yusuf sering lupa membeli gula.
Tentang perjalanan pertama mereka ke pantai.
Tentang kebiasaan Salma yang selalu membawa bekal terlalu banyak ketika bepergian.
“Dulu saya selalu bilang dia terlalu banyak membawa makanan,” kata Pak Yusuf.
“Sekarang Bapak kangen?”
“Setiap hari.”
Rena tersenyum.
“Anak Bapak tidak sering datang?”
Pak Yusuf menggeleng.
“Mereka tinggal di kota berbeda. Mereka punya keluarga dan kehidupan sendiri.”
Rena hanya mengangguk.
Ia mulai memahami bahwa kesepian tidak selalu berarti tidak memiliki keluarga.
Kadang seseorang tetap merasa sepi meskipun banyak orang menyayanginya.
Suatu sore, hujan turun.
Rena melihat Pak Yusuf tetap datang ke taman.
Namun kali ini hanya ada satu gelas kopi di tangannya.
Rena terkejut.
“Pak, kopinya satu?”
Pak Yusuf tersenyum.
“Iya.”
“Kenapa?”
Lelaki tua itu menatap kursi kosong di sebelahnya.
“Yang satu sudah tidak perlu.”
Rena merasa khawatir.
“Maksud Bapak?”
“Semalam saya bermimpi bertemu Salma.”
“Bapak sakit?”
Pak Yusuf tertawa kecil.
“Tidak. Saya hanya merasa sudah cukup lama duduk di sini.”
Rena tidak tahu harus menjawab apa.
Mereka akhirnya hanya duduk diam mendengarkan suara hujan.
Keesokan harinya, kursi nomor delapan kosong.
Hari berikutnya juga kosong.
Seminggu kemudian, Rena mendapat kabar dari penjaga taman bahwa Pak Yusuf meninggal dengan tenang di rumah anaknya.
Sore itu Rena datang ke kursi nomor delapan.
Ia membawa dua gelas kopi.
Satu untuk dirinya.
Satu lagi diletakkan di sampingnya.
Rena menatap kursi kosong tersebut.
Untuk pertama kalinya ia menyadari bahwa Pak Yusuf tidak pernah benar-benar menunggu Salma kembali.
Ia sedang belajar berdamai dengan kehilangan.
Dan tanpa disadari, Rena juga belajar sesuatu.
Orang yang kita cintai memang bisa pergi.
Namun bukan berarti semua yang mereka tinggalkan ikut hilang.
Ada kebiasaan.
Ada cerita.
Ada nasihat.
Ada kebaikan.
Dan ada kenangan yang terus hidup dalam diri orang-orang yang pernah mengenalnya.
Sejak saat itu, setiap Jumat sore Rena datang ke kursi nomor delapan.
Bukan untuk menunggu Pak Yusuf.
Bukan pula untuk menunggu Salma.
Ia datang untuk mengingat sebuah pelajaran sederhana:
Kehilangan memang tidak bisa dihindari.
Tetapi kehilangan tidak harus membuat hidup berhenti.
Kadang kita hanya perlu belajar membawa kenangan sambil terus melangkah.
Karena orang yang telah pergi mungkin tidak lagi duduk di samping kita.
Namun cinta mereka masih bisa menemani perjalanan kita.