JATUH CINTA PADA PEMBUNUH CANTIK YANG SADIS
BAB 1 — BIDADARI DI SEBELAH
Hiroshi pulang.
Satu botol minuman di tangannya.
Di depan kontrakan, ibunya sedang berdebat dengan beberapa orang dari bank.
Seorang pria berdiri di samping ibunya.
Hiroshi berhenti.
Menunggu.
Sampai mereka pergi.
Hiroshi mendekat.
“Hiroshi…”
“Lo pulang.”
“Nggak.”
Ibunya menatapnya.
“Ikut Mama.”
Hiroshi tertawa kecil.
“Rumah disita bank, kan?”
Ibunya diam.
“Sudahlah.”
Hiroshi melempar botol ke tanah.
“Lo semua nggak perlu ganggu gue lagi.”
“Hiroshi!”
“Jangan keras kepala.”
Ibunya memeluk pria di sampingnya.
“Kalau lo terus kayak gini, Mama nggak akan peduli lagi sama lo.”
Hiroshi menatap mereka.
“Mama nggak usah munafik!”
Dia menendang kaleng di tanah.
“Gue kayak gini karena Mama sama Ayah!”
Hiroshi berlari.
---
Hujan turun deras.
Hiroshi berhenti di bawah jalan layang.
“Pengkhianat!”
Tinju menghantam hujan.
“Penjudi sialan!”
Tinju kedua.
“Good!”
Dia menatap langit.
“Ambil nyawa gue!”
Hiroshi bersimpuh.
“Manusia nggak punya hati!”
Dia meninju tanah.
“Penjudi sialan!”
“Pelacur brengsek!”
Hiroshi terlentang.
“Bahkan rumah tempat gue tinggal…”
Dia tertawa getir.
“…kalian kasih ke bank.”
Hujan terus turun.
Hiroshi memejamkan mata.
---
Malam.
Hiroshi berjalan pelan menuju kontrakannya.
Dia menoleh.
Kosong.
“Siapa itu?”
Diam.
Hiroshi berjalan lagi.
Masuk.
“Akhirnya…”
Dia menutup pintu.
“Cuma tempat ini yang tenang.”
Hiroshi merebahkan diri.
Kamar berantakan.
Dia menatap langit-langit.
Ayahnya.
Penjudi.
Pemabuk.
Ibunya.
Pengkhianat.
Rumahnya.
Disita bank.
“Hidup…”
Hiroshi tersenyum pahit.
“Kejam banget.”
Dia tiba-tiba bangun.
“Mati.”
Diam.
“Gue harus mati.”
Hiroshi mencari ke seluruh kamar.
“Tali…”
Tidak ada.
“Mana tali?”
Laci dibuka.
Kosong.
“Pisau…”
Dia membuka lemari.
Kosong.
Hiroshi kembali ke kasur.
“Sial.”
Dia meninju udara.
“Bahkan buat mati aja gue nggak punya modal.”
---
Bruk!
Hiroshi membuka mata.
Suara dari kamar sebelah.
“Lalalalala…”
Suara perempuan.
Hiroshi membeku.
“Siapa itu?”
“Nanannaa…”
Nyanyian terdengar lagi.
“Hantu…”
Hiroshi berjongkok di pojok kamar.
“Pergi…”
“Hihihihi…”
Tawa perempuan.
“Hantu!”
Hiroshi menutup telinga.
“Bukan hantu.”
Dia menarik napas.
“Tenang.”
Bruk!
Sebuah cutter jatuh dari plafon.
Hiroshi menatapnya.
“…”
Dia mengambil cutter.
“Tadi gue cari…”
Hiroshi melihat benda itu.
“…sekarang datang sendiri.”
“Lalalalala…”
Nyanyian terdengar lagi.
Hiroshi menatap dinding.
“Siapa lo?”
Dia melubangi dinding.
Mengintip.
Kosong.
“Sial.”
Srek.
Srek.
Srek.
Suara langkah.
Hiroshi langsung tiarap.
“Ada yang datang.”
Dia kembali mengintip.
Seorang gadis duduk di tepi ranjang.
Membaca buku.
Sesekali tersenyum.
Sesekali tertawa.
Sesekali bersenandung.
Hiroshi terdiam.
“Oh…”
Dia mendekatkan wajah ke lubang.
“Manis sekali.”
Gadis itu melepas kacamatanya.
Hiroshi semakin terpana.
“Bidadari.”
Dia bersandar di samping lubang.
“Tidak.”
Hiroshi menatap langit-langit.
“Gue sudah mantap buat mati.”
Dia kembali mengintip.
“Mati di tangan bidadari…”
Hiroshi tersenyum.
“…kayaknya bagus.”
Gadis itu berdiri.
Hiroshi melihatnya membuka pakaian.
Dia langsung menutup mulut.
“Apa yang dia lakukan?”
Kakinya gemetar.
“Tubuhnya…”
Hiroshi menelan ludah.
“Sempurna.”
Gadis itu tiba-tiba menoleh.
Hiroshi membeku.
“Aduh.”
Dia tiarap.
“Ketahuan?”
Diam.
Hiroshi memegang dadanya.
“Gue ketahuan.”
Dia mengintip lagi.
Gadis itu mengikat rambut.
Hiroshi tersenyum.
“Wow…”
“Manisnya.”
---
“Konnichiwa!”
Hiroshi tersentak.
Suara dari bawah.
“Siapa?”
Dia mengendap-endap menuju pintu.
Mengintip.
Seorang gadis berkacamata berdiri di bawah tangga.
Tangannya membawa bungkusan plastik.
“Konnichiwa!”
Gadis itu membungkuk.
Hiroshi kembali bersembunyi.
“Orang aneh.”
Gadis itu meletakkan bungkusan di depan pintu.
“Kakak!”
Hiroshi mengintip lagi.
“Gue Miyuki.”
Hiroshi diam.
Miyuki tersenyum.
“Jangan takut.”
Hiroshi tetap sembunyi.
Miyuki menghela napas.
“Dasar orang aneh.”
Dia pergi.
Hiroshi membuka pintu.
“Dia naruh apa?”
Dia mengambil bungkusan.
“Ayam goreng.”
Hiroshi membawanya naik.
“Konnichiwa.”
Hiroshi berhenti.
Gadis di kamar sebelah berdiri di depan pintunya.
“Bidadari.”
“Apa?”
“Lo lihat gue?”
“Iya.”
Hiroshi mundur.
“Marah?”
“Untuk apa?”
Gadis itu tersenyum.
“Aku Hikaru.”
Dia mengangkat pisau.
Hiroshi menatapnya.
“Mau bunuh gue?”
“Bunuh lo?”
Hikaru melihat pisaunya.
“Oh.”
Dia mengangkat panci kecil.
“Aku lagi masak.”
“Masak?”
“Iya.”
Hiroshi melihat pisau itu lagi.
“Bukan bunuh gue?”
“Bukan.”
Hikaru menatap bungkusan di tangan Hiroshi.
“Mau makan?”
“Makan?”
“Ayo.”
Hikaru menarik tangan Hiroshi.
“Duduk.”
“Sekarang?”
Hikaru tidak menjawab.
Dia duduk.
“Ayo makan.”
Hiroshi ikut duduk.
“Boleh?”
“Boleh.”
Hikaru mengambil sepotong ayam.
“Jangan sungkan.”
Dia menyuapkannya ke mulut Hiroshi.
“Buruan makan.”
Hiroshi mengunyah.
Diam.
“Hmm.”
Hikaru menatapnya.
“Enak?”
Hiroshi mengangguk.
“Sungguh?”
Hiroshi mengangguk lagi.
“Boleh gue bicara?”
“Boleh.”
“Mau nambah?”
Hiroshi menatap piring.
“Cuma itu?”
“Iya.”
Hikaru tertawa.
“Hahaha…”
Dia mengambil ayam lagi.
“Makan yang banyak.”