BAB 6
PASANGAN ABNORMAL
Panggilan Sayang
Tok... tok...
“Sayang, bangun.”
Tok... tok...
“Yoko.”
Yoko yang masih tertidur membuka matanya perlahan. Wajahnya kusut dan matanya berat.
Tok... tok...
“Yoko.”
Cekrek!
Pintu terbuka.
Hikaru berdiri di ambang pintu dengan senyum lembut.
“Bangun, sayang.”
Yoko langsung duduk.
“Sayang?”
“Iya.”
“Lo panggil gue sayang?”
Hikaru mengangguk santai.
“Gue lihat orang pacaran begitu.”
Yoko menggaruk kepalanya.
“Kalau gitu gue panggil lo apa
“terserah aja?”
“Iya. Gue nggak bisa bilang sayang.”
“Kenapa?”
“Lidah gue nggak biasa.”
Hikaru menahan tawa.
“Coba dulu.”
Yoko menatapnya serius.
“Saaaay...”
Dia berhenti.
“Ah, susah.”
“Kan cuma bilang sayang.”
“Gue nggak bisa bilang sayang.”
“Itu barusan.”
“Itu nggak sengaja.”
Hikaru menggeleng sambil tersenyum.
“Ya udah, nggak apa-apa.”
Yoko menatapnya.
“Sayang, lo cari gue ada apa?”
Hikaru langsung menyipitkan mata.
“Lah, katanya nggak bisa bilang sayang?”
Yoko terdiam beberapa detik.
“Oh... gue lupa.”
Hikaru tertawa kecil.
“Kita jalan, yuk.”
“Ke mana?”
“Ke kampus.”
“Kita ngedate?”
“Ngedate kok ke kampus?”
“Pura-pura aja.”
Hikaru mengulurkan tangannya.
“Ya udah.”
Yoko ragu sebentar sebelum akhirnya menyambut tangan itu.
Hikaru menggandengnya.
Yoko berjalan kaku di sampingnya. Wajahnya tetap datar, tetapi ada sesuatu yang terasa berbeda di dalam dirinya.
Dia gugup.
Sekaligus bahagia.
“Hikaru.”
“Apa?”
“Tunggu bentar.”
Hikaru berhenti.
Yoko berdiri di depannya dan memperhatikan penampilannya dari atas sampai bawah.
Rambut Hikaru diikat ke atas. Dia memakai kacamata dan membawa tas kuliah.
“Ini apa?”
“Apanya?”
“Rambut.”
“Diikat.”
“Kacamata?”
“Dipakai.”
“Ini?”
Hikaru mengangkat tasnya.
“Buat kuliah.”
Yoko mengangguk.
“Baju lo tumben pendek banget.”
“Asal pakai aja.”
Yoko masih memandangi penampilan Hikaru.
Hikaru mengangkat alis.
“Apalagi, sayang?”
Yoko menunjuk dirinya sendiri.
“Lo pacar gue, kan?”
“Bukannya kita udah jadian?”
“Tapi...”
“Tapi apa?”
“Gue kebanting nggak sih?”
Hikaru menatap Yoko dari ujung kepala sampai kaki.
Kemudian tertawa.
“Aduh, sayang. Omongan lo nggak penting banget sih.”
“Menurut gue penting.”
“Kenapa?”
“Lo cantik.”
Hikaru tersenyum.
Mereka kembali berjalan bergandengan tangan.
Beberapa langkah kemudian Yoko kembali bicara.
“Hikaru.”
“Apa?”
“Lo cerdas, cantik, kuliah di universitas negeri.”
“Terus?”
“Gue berkali-kali tes nggak pernah lulus.”
Hikaru menoleh kepadanya.
“Jangan dipikirin, sayang. Kan ada gue.”
Yoko diam.
Kemudian bibirnya bergerak membentuk senyum tipis.
“Oh, ya.”
“Asal...”
“Asal apa?”
“Jangan selingkuh.”
Hikaru berhenti berjalan.
“Kenapa?”
“Kalau selingkuh...”
Yoko menatapnya serius.
“Gue potong itu lo.”
Hikaru terkekeh.
“Serem banget.”
“Asik.”
“Asik apa?”
“Gue punya pacar.”
Hikaru kembali menggandeng tangannya.
“Pasangan abnormal.”
“Cocok.”
Mereka berjalan santai menuju kampus.
Namun di tengah perjalanan, mereka berpapasan dengan seorang wanita paruh baya yang mengenakan seragam pemerintahan.
Hikaru tiba-tiba berhenti.
Senyumnya berubah.
Bukan senyum yang biasa dia berikan kepada Yoko.
Lebih tenang.
Lebih dingin.
“Sayang, pegang tas gue sebentar.”
“Sini.”
Yoko menerima tas Hikaru.
Hikaru membuka tasnya.
Yoko melihat sesuatu berwarna hitam.
Sebuah hoodie panjang.
Kemudian sebuah cutter.
Yoko mengernyit.
“Hikaru.”
“Apa?”
“Lo mau bunuh orang?”
“Iya.”
Yoko melihat wanita paruh baya tadi.
“Jangan sembarang.”
Hikaru memakai hoodie hitam panjang itu.
“Gue cuma bunuh orang jahat.”
“Ooo.”
Hikaru mengulurkan tangannya.
“Ayo, sayang.”
Dia menarik tangan Yoko mengikuti wanita tersebut.
Yoko masih membawa tasnya.
“Pegang tas gue, sayang.”
“Sinih.”
Mereka mengikuti wanita itu sampai ke sebuah jalan yang agak sepi.
Hikaru bergerak cepat.
Ciat!
Crot!
Darah menyembur.
Wanita itu roboh.
Yoko berdiri diam.
Tidak berteriak.
Tidak lari.
Dia hanya menatap darah yang mengotori jalan.
Hikaru langsung menoleh kepadanya.
“Sayang, kamu nggak apa-apa?”
Yoko melihat bajunya.
“Aman.”
“Darahnya kena kamu nggak?”
“Kayaknya nggak.”
Hikaru melepas hoodie hitamnya.
Dia menggulungnya, lalu membakarnya di tempat yang sudah disiapkan.
Yoko memperhatikan dengan wajah datar.
“Abis bunuh orang langsung makan?”
Hikaru mengangguk.
“Ayo makan.”
“Makan apa?”
“Terserah kamu, sayang.”
“Kalau ketahuan gimana?”
“Nggak apa-apa. Aman kok.”
Yoko terdiam.
Entah kenapa, kali ini ada sedikit rasa khawatir yang muncul.
Bukan terhadap dirinya.
Tetapi terhadap Hikaru.
“Hikaru.”
“Hm?”
“Kalau suatu hari lo ketahuan?”
Hikaru menoleh.
Yoko langsung mengalihkan pandangan.
“Nggak apa-apa.”
Hikaru tersenyum.
“Kamu takut aku ditangkap?”
Yoko diam beberapa saat.
“Bukan gue yang takut.”
“Terus?”
“Gue cuma nggak mau lo ditangkap.”
Hikaru tersenyum lebih lembut.
“Sayang...”
Yoko menatapnya.
“Kamu mulai berubah.”
“Berubah apanya?”
“Entahlah.”
Hikaru menggandeng tangannya lagi.
“Ayo.”
Yoko mengikutinya.
Beberapa langkah kemudian Yoko tiba-tiba bertanya.
“Eh, Hikaru.”
“Apa?”
“Lo nggak nari?”
“Nari?”
“Waktu itu gue lihat. Selesai membunuh, lo nari.”
Hikaru berhenti.
Dia menatap Yoko dengan wajah jahil.
“Jadi lo lihat gue nggak pakai baju?”
“Biasa aja.”
“Tubuh lo nggak merespons?”
“Ya merespons.”
Hikaru mendekat.
“Berubah?”
Yoko mengangguk.
“Ukurannya berubah.”
“Berubahlah.”
Yoko menghela napas.
“Kalau begitu jangan selingkuh, ya.”
“Nggak.”
“Kalau selingkuh gue pendekin ukurannya.”
Hikaru langsung memukul pelan lengan Yoko.
“Sayang!”
“Nggak nyesel kalau pendek?”
“Ih, sayang! Geli ah!”
Yoko tersenyum tipis.
Mereka kembali berjalan.
Beberapa saat kemudian Hikaru bertanya dengan polos.
“Orang pacaran ngapain lagi, ya?”
Yoko mengangkat bahu.
“Hmmm.”
Hikaru berpikir.
“Nanti di kontrakan gue kasih tahu.”
“Serius?”
“Iya.”
Yoko menatapnya curiga.
“Jangan aneh-aneh.”
Hikaru tersenyum.
“Katanya kita pasangan abnormal.”
“Benar juga.”
“Ayo pulang.”
“Bentar.”
“Apa?”
“Mampir minimarket, ya, sayang.”
“Iya.”
Mereka masuk ke minimarket.
Yoko mengambil beberapa barang.
Hikaru berdiri di dekat kasir.
“Tisu.”
“Beli tisu?”
“Iya.”
“Oh.”
Setelah membayar, mereka keluar.
Hikaru menyerahkan sebuah sachet kecil kepada Yoko.
“Ini apa?”
“Tisu.”
Yoko membolak-balik sachet itu.
“Kok kecil banget?”
Hikaru menatapnya tajam.
“Jangan bawel.”
Yoko memasukkannya ke saku.
“Pacaran ternyata ribet.”
Hikaru tertawa kecil.
“Baru juga mulai.”
Mereka berjalan berdampingan menuju kontrakan.
Sayang sini..
Hikaru merebahkan tubuhnya di kasur.
Mana tas gue?
ini.
Dia mengeluarkan beberapa barang yang tadi di beli di mini market.
Sayang"
Iya"
Ini seduh pake air hangat'
Apa ini?
Obat kuat'
Buat apa ?
Pacaran '
Ooo..
Udah di seduh?
Udah"
Minum"
Oke..
Yoko minum tanpa ragu'
Gimana rasanya?
Pahit"
Maksud gue bukan itu'
Apa?
Ada efeknya ga?
Ga tau'
Ih dodol'
Dodol?
Iya dodol Lo berubah ga?
Yoko meraba bagian bawahnya.
Udah.
Udah gimana?
Tambah keras dan panjang'
Hikaru merobek bungkus tisu'
pake ini'
Pakenya gimana?
Ya ampun...
Kenapa?
Bungkus dodolnya '
Oooo.
Udah belum?
Udah.
Gimana rasanya
Hmmm, panas,kebas, kayak mati rasa.
Berhasil kayaknya'
Serius.
Iya..
Hikaru membuka satu bungkus kecil.
Nih'
Apa ini?
Ga tau juga?
Gak.
tapi kok kaya plastik es, tapi melar.
makeknya gini.
Hikaru memasukan jarinya ke benda tersebut.
oh gitu ya?
Hikaru tersenyum geli..
Kayak gini?
Yoko menunjukan jari tengahnya.
Bukan disitu'
Terus?
Di dodolnya'
Oalah.. Bilang dari tadi.
Dasar,sayang culun.
Yoko masuk kamar mandi dan keluar lagi.
Kayak gini?..
Hikaru tertawa..
Ayang.. Parah amat..
tidurnya di buka dulu...
Oalah..ribet banget ya pacaran..
Elo aja yang dodol..
Di balik senyum Hikaru yang lembut, masih tersimpan sesuatu yang tidak Yoko pahami.
Dan di dalam diri Yoko sendiri, sesuatu yang jauh lebih kecil mulai tumbuh.
Rasa khawatir.
Untuk pertama kalinya, dia mulai takut kehilangan seseorang.
Bukan takut kehilangan hidupnya.
Tetapi takut kehilangan Hikaru.