Melodi Hujan Sore
Hujan sore itu turun tanpa ampun, membasahi pelataran kedai kopi tua di sudut kota. Di dalam, wangi espreso bercampur dengan aroma buku-buku tua yang berjejer di rak. Rania duduk di dekat jendela, menatap bulir air yang berkejaran di kaca, sementara jemarinya mengetuk-ngetuk cangkir porselen yang sudah mendingin.Pintu kedai berdenting. Seorang pria masuk dengan jaket denim yang setengah basah. Ia mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan yang penuh, hingga matanya tertuju pada satu-satunya kursi kosong yang tersisa—tepat di depan Rania.Pria itu melangkah mendekat dengan ragu. "Permisi, apakah kursi ini kosong?" tanya pria itu dengan suara berat yang sopan.Rania mendongak, lalu mengangguk kecil sambil tersenyum. "Silakan. Kursinya memang tidak ada yang punya."Pria itu melepas jaketnya, menggantungnya di sandaran kursi, lalu mengulurkan tangan. "Aku Aris.""Rania," jawabnya menyambut jabat tangan hangat Aris.Pertemuan yang tidak disengaja itu menjadi awal dari segalanya. Dari obrolan ringan tentang buku favorit hingga perdebatan jenaka tentang rasa kopi, sore itu berlalu begitu cepat. Bagi Rania, Aris seperti melodi tenang di tengah hiruk-pikuk dunianya. Bagi Aris, tawa Rania adalah rumah yang selama ini ia cari.Enam bulan berlalu dengan indah, hingga sebuah amplop cokelat tebal mendarat di meja kerja Aris. Itu adalah surat keputusan beasiswa penuh ke London yang sudah ia ajukan dua tahun lalu—sebelum ia bertemu Rania. Kesempatan emas yang ia impikan seumur hidup, kini berubah menjadi buah simalakama.Malamnya, di kedai kopi yang sama, Aris menyerahkan surat itu kepada Rania dengan tangan gemetar. Rania membacanya dalam diam. Senyum di wajah gadis itu perlahan memudar, digantikan oleh tatapan kosong."Tiga tahun, Rania. Itu waktu yang sangat lama untuk sebuah jarak," bisik Aris, matanya menyiratkan rasa bersalah yang teramat sangat. "Aku tidak tahu apakah aku egois jika memintamu menunggu, atau jika aku melepaskan mimpi ini demi kita."Rania menarik napas dalam-dalam, mencoba menahan air mata yang mulai mendesak keluar. Ia memaksakan sebuah senyuman, meski hatinya terasa seperti diremas. "Kamu sudah berjuang bertahun-tahun untuk ini, Aris. Jika aku memintamu tinggal, aku akan menghabiskan sisa hidupku dengan rasa bersalah karena telah menghentikan langkahmu.""Tapi aku tidak mau kehilanganmu," potong Aris cepat, menggenggam erat jemari Rania."Kita tidak akan saling kehilangan jika hati kita tidak pergi," ucap Rania lirih, meski ia sendiri tidak tahu seberapa kuat ia menghadapi sepi yang akan datang.Hari keberangkatan tiba dengan begitu cepat. Di bandara yang bising, di antara ratusan manusia yang berlalu-lalang, Aris dan Rania berdiri saling berhadapan. Tidak ada air mata yang jatuh, mereka sudah menghabiskannya malam sebelumnya.Aris meraba saku jaket denimnya. Ia tidak mengeluarkan kotak beludru ataupun cincin, melainkan sebuah kalung perak dengan liontin berbentuk kompas kecil. Ia memakaikannya ke leher Rania."Kompas ini akan selalu menunjuk ke satu arah, Rania. Sama seperti hatiku," ujar Aris, suaranya serak menahan emosi. "Aku tidak meminta janji setiamu sekarang, karena jarak sering kali kejam. Tapi aku berjanji pada diriku sendiri, aku akan pulang kepadamu."Rania menyentuh liontin dingin itu di dadanya. "Pergilah, kejar mimpimu. Aku akan tetap di sini, menjaga ruang yang selalu menjadi milikmu."Aris memeluk Rania erat untuk terakhir kalinya, menghirup aroma familier yang akan sangat ia rindukan, sebelum akhirnya berbalik dan berjalan melewati gerbang keberangkatan tanpa sekalipun menoleh ke belakang—karena ia tahu, satu lirikan lagi akan meruntuhkan seluruh pertahanannya.Rania berdiri terpaku, menatap punggung Aris yang perlahan menghilang di balik kerumunan. Jarak ribuan mil kini membentang di antara mereka, menyisakan sebuah akhir yang menggantung di bawah langit kota yang kembali mendung.Tiga tahun berlalu. Kota ini masih sama, masih sering menyapa Rania dengan hujan sore yang membawa aroma kenangan. Kalung kompas perak masih melingkar di leher Rania, namun komunikasi di antara mereka tidak lagi sehangat dulu.Jarak ribuan mil dan perbedaan waktu tujuh jam perlahan menciptakan celah. Pesan singkat yang dulunya berbalas dalam hitungan menit, kini sering kali baru terbaca belasan jam kemudian. Aris sibuk dengan tesis dan risetnya di London, sementara Rania tenggelam dalam kariernya yang mulai menanjak.Suatu malam, sebuah foto beredar di media sosial. Aris terlihat sedang tertawa lepas di sebuah kafe London bersama seorang wanita berambut pirang. Dada Rania bergemuruh. Malam itu, untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, Rania tidak mengirimkan pesan ucapan selamat tidur kepada Aris. Kesalahpahaman kecil itu bersemi menjadi sunyi yang berkepanjangan selama berbulan-bulan. Mereka tidak pernah resmi memutuskan hubungan, namun keduanya memilih mundur karena lelah saling meragu.Hingga sore itu, di tahun ketiga.Rania kembali duduk di kedai kopi tua sudut kota, tempat pertama kali mereka bertemu. Ia menatap ke luar jendela, meratapi takdir yang terasa begitu ironis. Pintu kedai berdenting, namun Rania tidak menoleh. Ia sudah lelah berharap."Apakah kursi ini masih kosong untuk seseorang yang baru pulang?"Suara berat yang sangat familier itu memecah lamunan Rania. Jantungnya berhenti berdetak sesaat. Ia menoleh perlahan dan menemukan Aris berdiri di sana. Wajah pria itu tampak lebih dewasa, dengan jaket denim yang sama seperti tiga tahun lalu—dan sedikit basah oleh gerimis.Rania terpaku, air matanya langsung merekah tanpa bisa dibendung. "Aris...?"Aris langsung duduk di hadapan Rania, meraih jemari gadis itu yang bergetar. "Wanita di foto itu adalah Chloe, rekan tim risetku. Aku tahu aku salah karena membiarkan kesibukan membuatku lupa meyakinkanmu. Maafkan aku, Rania. Aku tidak pernah pergi ke mana pun. Kompas ini," Aris menyentuh liontin di leher Rania, "selalu membawaku pulang ke sini."Rania tidak mampu berkata-kata. Segala amarah, keraguan, dan rasa sepi yang ia pendam selama tiga tahun runtuh seketika saat melihat ketulusan di mata Aris. Ia menggeleng sambil tersenyum di balik tangisnya, lalu menggenggam balik tangan Aris dengan erat.Sore itu, di tengah rintik hujan yang sama, mereka tahu bahwa jarak tidak pernah benar-benar memenangkan pertempuran melawan hati yang keras kepala.