Semakin hari, hubungan Yoko dan Hikaru semakin dekat.
Aneh.
Ngeri.
Absurd.
Sayang
Apa?
Nanti beli tisu sama obat kuat ya..
Gila!
Semalem kan udah
Lagi..
Jangan konyol
Seru..
Lo ketiduran sepuluh kali
Sengaja
Gak.. Malam ini libur"
Ga nyesel ?
Tapi bohong.
Dasar ayang...
Begitulah mereka setiap hari.
Bahkan ketika Yoko pulang kerja, sering kali Hikaru sudah menunggunya di depan minimarket.
Begitu pintu minimarket terbuka, Yoko biasanya menemukan Hikaru berdiri di seberang jalan.
“Sayang!”
Hikaru melambaikan tangan.
Yoko berjalan menghampirinya.
“Lo nungguin gue?”
“Iya.”
“Dari kapan?”
“Baru.”
“Bohong.”
“Dari satu jam lalu.”
Yoko terdiam.
“Kenapa?”
“Lo ngapain nunggu selama itu?”
“Karena gue pacar lo.”
Jawaban sederhana itu selalu membuat Yoko terdiam.
Entah kenapa, setiap kali mendengarnya, ada rasa hangat yang muncul di dadanya.
Namun hubungan mereka memiliki satu kebiasaan yang tidak dimiliki pasangan normal.
Hikaru membunuh.
Dan Yoko menemaninya.
Kadang Yoko membawa tas Hikaru.
Kadang dia berdiri tidak jauh dari tempat kejadian.
Bahkan setelah selesai, Yoko membantu membakar hoodie hitam yang digunakan Hikaru.
“Bakar sampai habis.”
“Iya.”
“Jangan sampai ada bekas.”
“Ribet juga jadi pembunuh.”
Hikaru tertawa.
“Kamu bisa berhenti kapan saja.”
“Gue pacar lo.”
“Terus?”
“Kalau lo jadi pembunuh, gue jadi asistennya.”
Hikaru memandangnya beberapa saat.
Kemudian tersenyum.
Namun ada satu hal yang tidak pernah berubah.
Yoko masih mengintip Hikaru melalui lubang di dinding.
Setiap hari.
Bahkan Hikaru tidak pernah benar-benar keberatan.
“Lo masih ngintip gue?”
“Iya.”
“Kenapa?”
“gue pacar lo.”
“lihat apa?”
“hutran rimba”
Jorse.
Hikaru hanya tertawa.
“Ya sudah.”
Bagi Yoko, ada satu hal yang selalu dia tunggu setiap kali menemani Hikaru membunuh.
Senyum manis Hikaru setelah semuanya selesai.
Senyum itu selalu membuat Yoko merasa bahwa Hikaru yang dia kenal masih ada.
Setelah itu, Yoko biasanya membantu mengambil hoodie Hikaru.
“Lepas.”
“Buat apa?”
“Dibakar.”
Hikaru menyerahkannya.
Yoko kemudian membakar hoodie tersebut.
Tetapi suatu malam, semuanya berbeda.
Setelah pembunuhan selesai, Hikaru tidak tersenyum.
Dia hanya berdiri diam.dan penuh amarah.
Wajahnya kosong.
Yoko mendekat.
“Hikaru.”
Tidak ada jawaban.
“Bajunya.”
“Jangan.”
Yoko berhenti.
“Kenapa?”
“Biarin.”
Yoko menatapnya.
Biasanya Hikaru akan langsung tersenyum.
Biasanya dia akan bertanya apakah Yoko baik-baik saja.
Kali ini tidak.
Hikaru berlari dan menghilang di kegelapan.
Yoko bergegas menuju kontrakan.
Yoko langsung menuju lubang didinding, dan melihat kekamar Hikaru.
Dia kembali menyaksikan tingkah horor Hikaru.
Wajahnya dingin,
senyum penuh nafsu membunuh,
Hikaru menari tanpa busana,
menghunuskan cutter ke puti** dan menj***nya..,
kemudian menghunuskan cutter ke celah di antara pahanya..
Yoko hampir menjerit histeris melihat tingkah pacarnya.
Hikaru masih menari,
kemudian menghunus cutter ke bawah per**t,
dan memotong Bu** nya, kemudian meniupnya..
Yoko tak tahan lagi,
menyaksikan pacarnya seperti kesetanan,
dia mengetuk kamar Hikaru,
tak ada jawaban.
Yoko berbalik badan,
hendak kembali ke kamarnya,
namun suara lembut memanggilnya.
sayang.. Ayo masuk..
Yoko terkejut
mereka masuk kekamar Hikaru, dan merebahkan tubuh mereka.
yoko memandangi langit-langit kamar.
Pikirannya terus berputar.
Untuk pertama kalinya, dia merasa takut.
Bukan takut kepada Hikaru.
Tetapi takut sesuatu terjadi kepada Hikaru.
Bagaimana kalau suatu hari korbannya melawan?
Bagaimana kalau Hikaru terluka?
Bagaimana kalau polisi datang?
Bagaimana kalau Hikaru tertangkap?
Yoko menutup wajahnya dengan kedua tangan.
“Gue nggak mau dia kenapa-kenapa.”
Keesokan harinya, Yoko akhirnya bicara.
“Hikaru.”
“Hm?”
“Berhenti membunuh.”
Hikaru menatapnya.
“Kenapa?”
“Bahaya.”
“Gue baik-baik saja.”
“Sekarang.”
Yoko menatap matanya.
“Besok belum tentu.”
Hikaru tersenyum tipis.
“Gue cuma membunuh orang jahat.”
“Di Tokyo sudah ada hukum.”
“Terus?”
“Serahkan kepada hukum.”
Hikaru terdiam.
Yoko melanjutkan.
“Kalau mereka jahat, biarkan polisi yang urus.”
Hikaru mendekat.
“Sayang.”
“Apa?”
“Gue cuma mau kita menikmati masa pacaran.”
Yoko menunduk.
“Gue juga.”
“Jadi jangan terlalu banyak berpikir.”
Hikaru menyentuh kepalanya.
“Kita bahagia saja.”
Yoko mengangguk.
Tetapi sejak pembicaraan itu, sesuatu berubah.
Hikaru mulai jarang menjemput Yoko di minimarket.
Ketika mengajak Yoko pergi, caranya juga berbeda.
Dan emosinya semakin tidak stabil.
Kadang dia sangat manis.
Kadang tiba-tiba wajahnya berubah dingin.
Senyumnya pun terkadang terasa berbeda.
Namun Yoko belum memahami apa yang sedang terjadi.
Malam itu, Hikaru justru sangat manja.
Dia terus berada di dekat Yoko.
“Sayang.”
“Apa?”
“Jangan jauh-jauh.”
“Gue di sini.”
“Dekat lagi.”
Yoko bergeser.
“Segini?”
“Masih jauh.”
“Lo manja banget.”
“Karena gue pacar lo.”
Yoko tersenyum kaku.
Malam itu mereka menghabiskan waktu bersama dengan penuh kehangatan.
Hikaru beberapa kali meminta Yoko tetap berada di sisinya.
“Jangan tidur dulu.”
“Kenapa?”
“Temenin gue.”
“Iya.”
Hingga pagi datang, kehangatan itu masih terasa.
Namun ketika Yoko bersiap berangkat kerja, Hikaru menghampirinya.
Di tangannya terdapat hoodie hitam panjang.
Yoko langsung memperhatikannya.
“Lo mau pergi?”
Hikaru menggeleng.
“Nggak.”
“Terus bawa itu buat apa?”
“Biasa.”
Yoko menatapnya curiga.
Hikaru hanya tersenyum.
Hari itu, bukannya pergi kuliah, Hikaru justru ikut Yoko ke minimarket.
Di sana, mereka bertemu teman kerja Yoko.
Seorang pria bertampang bad boy yang memang terkenal usil.
Dia melihat Hikaru.
Kemudian melihat Yoko.
“Ini pacar lo?”
Yoko mengangguk.
“Namanya Hikaru.”
Temannya tertawa.
“Serius? Lo bisa dapat cewek secantik ini?”
Yoko diam.
“Yoko, lo itu pecundang. Nggak cocok punya pacar cantik begini.”
Yoko mulai gelisah.
“Hoi, jangan macam-macam.”
Temannya malah semakin usil.
“Gue cuma bercanda.”
Dia mendekati Hikaru.
“Cantik juga.”
Yoko langsung panik.
“Hoi!”
Pria itu bahkan menyentuh rambut Hikaru.
“Rambut lo bagus.”
Senyum Hikaru masih ada.
Tetapi perlahan berubah.
Dari lembut...
menjadi dingin.
Yoko melihat perubahan itu.
“Hikaru...”
Hikaru menoleh kepadanya.
Senyumnya kembali manis.
“Kenapa, sayang?”
Yoko menghela napas lega.
“Gue kira lo marah.”
“Enggak.”
Hikaru menatap teman kerja Yoko.
“Dia cuma bercanda.”
Temannya tertawa.
“Pacar lo baik juga.”
Yoko tersenyum kaku.
Dalam hati dia hanya berpikir:
Syukurlah.
Saat jam istirahat, Hikaru berdiri.
“Aku keluar sebentar.”
“Ke mana?”
“Beli sesuatu.”
“Gue ikut.”
“Nggak usah.”
Hikaru tersenyum.
“Sebentar saja.”
Yoko menatapnya pergi.
Entah kenapa, dadanya terasa tidak nyaman.
Perasaan itu ternyata benar.
Hari berganti sore.
Lalu malam.
Teman kerja Yoko tidak kembali.
Hikaru juga tidak datang menjemputnya.
Setelah minimarket tutup, Yoko langsung berlari menuju kontrakan.
Napasnya tersengal.
“Hikaru!”
Tidak ada jawaban.
Yoko masuk.
Dia langsung menuju lubang di dinding.
Mengintip.
Dan tubuhnya membeku.
Di kamar sebelah, Hikaru sedang menari.
Tanpa pakaian.
Wajahnya dingin.
Tidak ada senyum manis yang biasa Yoko kenal.
Yoko mundur perlahan.
Seketika ingatannya kembali kepada semua kejadian sebelumnya.
Hikaru yang tidak tersenyum setelah membunuh.
Hikaru yang emosinya berubah.
Senyum yang terkadang terasa berbeda.
Yoko menatap sosok di balik dinding itu.
“Lo... siapa?”
Tidak ada jawaban.
Yoko membuka pintu kamar Hikaru.
Kosong.
Tidak ada siapa-siapa.
Hanya hoodie hitam.
Sebuah cutter.
Dan beberapa pakaian balet yang sudah robek dan terkoyak.
Yoko memeriksa seluruh ruangan.
“Hikaru?”
Tidak ada jawaban.
“Hikaru!”
Dia membuka lemari.
Kosong.
Memeriksa kamar mandi.
Kosong.
“Hikaru!”
Yoko keluar kamar.
Dia berlari mengelilingi kontrakan.
“Hikaru!”
Tidak ada jawaban.
Yoko mulai frustrasi.
Untuk pertama kalinya sejak mengenal Hikaru, dia benar-benar takut kehilangan seseorang.
“Hikaru... lo di mana?”
Dia terus berjalan.
Tidak menyadari bahwa dari balik tembok di kejauhan...
sepasang mata sedang mengawasinya.
Sosok itu mengenakan hoodie hitam panjang.
Tangan kanannya menggenggam cutter.
Tangan kirinya memegang sebuah buku.
Wajahnya tidak terlihat jelas.
Namun bibirnya perlahan membentuk senyum.
Senyum dingin.