Bruk!
Fatimah jatuh menimpa Jawir yang sedang duduk di bangku kecil.
Jawir terlentang. Tubuh Fatimah menimpa Jawir yang tak berbaju. Mereka terpaku, saling pandang, bahkan dada mereka bersentuhan.
Fatimah memejamkan mata. Jawir mendekatkan bibir ke telinga Fatimah, lalu berbisik perlahan.
“Fatimah! Bangun lu! Berat, tahu!”
Entah karena terkejut atau panik, Fatimah justru menggigit bibir Jawir.
“Eh, buset! Asal nyosor aja lu! Sakit bibir gue, tahu!”
“Eh, sorry, Jawir! Nggak sengaja!”
“Ah, dasar lu cari kesempatan!”
“Gue cari kesempatan?”
“Bilang nggak sengaja! Tapi lidah lu masuk-masuk ke mulut gue!”
“Ih, najis! Lu kira lu keren! Ganteng!”gitu!"
“Justru karena Gue sadar diri gue jelek, makanya gue nggak mau lo manfaatin gue.”
“Sumpah, Jawir, gue nggak ada niat buat nyosor lu.”
“Iya deh, Fatimah. Gue sadar, nggak mungkin juga lu doyan sama gue.”
“Itu, Jawir! Tadi gue ngerasa ‘ada yang itu’.”
“Itu apaan? Ngomong yang jelas dong!”
“Tadi pas gue di atas lo, ada sesuatu yang nusuk perut gue. Mana getar-getar lagi. Gue kan kaget.”
“Maksud lu ini?”
Jawir mengeluarkan handphone dari saku celananya.
Fatimah menutup mulutnya.
“Anjay! Ternyata handphone! Gue kira anu.”
“sori ya Fatimah. Biarpun gue duda,gue juga nggak nusuk sembarangan kali.”
“Ueeeee!”
“Nah, tuh kan! Anak gue bangun gara-gara lu, sih, Fatimah.”
“Udah, Jawir, biar gue yang gendong aja. Lu bikin susu gih, cepetan.”
“Iye.”
“Ueeeee!”
Si bayi masih menangis.
“Jawir, buruan!
Lu bikin susu, apa gali sumur, sih? Lama banget.”
“Bentar! Karet dotnya bocor!”
“Ya emang harus bocor, dodol!
Kalau nggak bocor, ya nggak keluar air susunya!”
“Lu sini deh, lihat sendiri.”
Fatimah menyusul Jawir ke dapur.
“Nih, lu lihat! Bocor, kan?”
“Ya emang bocor kayak gini. Kalau nggak bocor, susunya keluar dari mana? Dodol!”
“Tapi pas gue lihat punya si jabl** mantan bini gua, itu nggak ada lubangnya?”
“Makanya lu harus banyak gaul. Sama cewek,
jangan cuma satu jabl** aja.”
“Udahlah, Fatimah. Buruan kasih susu anak gue.”
“Ya, nih, gua kasih susunya.”
Bayi kembali terdiam.
“Eh, Jawir.”
“Apa?”
“Anak lu udah lu kasih nama?”
“Belum?”
“Kalau gitu, lu kasih nama aja, Jawiya.”
“Kenapa ‘Jawiya’?”
“Iya, artinya Jawir, versi cewek.”
“Suwek lu.”
“Mau gue kasih nama Onion.
Onion apaan itu?"
Artinya bawang.”
“Kenapa lo kasih nama bawang?”
“Karena sering nangis.”
“Eh, tapi keren juga sih Jawir, kayak nama orang Inggris gitu.”
“Ya iyalah! Gue kan orang barat!
Barat dari Hongkong!”
“Hongkong mah dekat
Papua sono!
Timbang Jawir foang!
Masak dari barat!”
“Iye... Jawa Barat.”
“Nah... itu baru nyambung.”
“Thank you.”
“Awas lidah lu keseleo, Jawir.
Tinggal bilang hatur nuhun aja.”
“Setidaknya gue terlihat prepet spion.”
“Apaan prepet spion?”
“Itu bahasa Inggris, Fatimah.”
“Artinya apaan?”
“Sempurna!”
“Ah, dasar anak kadal lu.”
“Anak T-Rex gue mah, bukan kadal.”
“Udahlah, Jawir. Mumpung Onion tidur, lu juga tidur dulu sana.”
“Terus lu balik?”
“Kagak. Gue bantuin lu buat jagain Onion.”
“Kok aneh! Pasti ada efek sampingnya.”
Fatimah tersenyum sambil menyipitkan matanya.
“Pastilah! Emangnya di dunia ini ada yang gratis?”
“Buruan bilang, lo mau apa buat gue bales budinya.”
“Besok pagi lu tolongin gua.”
“Bilang dulu, ‘tolongin apaan!’”
“Ya sekarang kan udah musim kemarau, Jawir.”
“Terus, lu mau ngapain?”
“Ambilin air ya buat gue mandi!”
“Tuh kan! Firasat gue nggak pernah bohong!”
“Kok lu perhitungan banget sih, Jawir, sama perempuan lemah kayak gue gini?”
“Iya. Terus abis minta ambilin air, lu minta mandiin. Habis minta mandiin, lu minta handukin. Abis minta handukin, lu minta pakein baju! Sekalian aja minta gue cebokin.”
“Udahlah, biar kita nggak selek, lo tidur aja dulu, ya.”
“Ya udah, gue merem bentar.
Ntar kalau dia pipis, lo cebokin.
Kalau dia pup, lu cebokin juga.”
“Iya, gue ngerti.”
“Ya udah, gue merem.”
---
Beberapa jam kemudian, si Onion tidak menangis. Namun, matanya melek dan mulutnya terus ngoceh.
Fatimah sudah mencoba berbagai cara agar si Onion tertidur, tetapi malah semakin menggemaskan tingkah lakunya.
Fatimah melirik ke Jawir. Dia memastikan Jawir sudah tidur.
“Ah, kayaknya gue mau nyobain kasih nenen buat bayi, lah. Biar kalau nanti gue punya bayi sendiri, gue nggak kaget.”
Fatimah pun mengeluarkan buah sparepart dari dadanya.
“Ayo, Onion, hisap!”
Namun, si bayi tidak merespons perintah Fatimah.
Bayi justru semakin aktif bergerak dan berbicara dalam bahasa bayi.
Fatimah kemudian melihat madu di atas lemari Jawir.
Fatimah pun mengoleskan madu itu ke bagian pu**ng sparepart nya.
“Nih, Onion, coba lu minum lagi nih susu dari gue.”
Kali ini Onion merespons perintah Fatimah. Dia mulai menghisap sparepart Fatimah.
“Idih, rasanya geli sekali, ya.”
Namun, beberapa saat kemudian, Onion mengeluarkan lagi puting sparepart dari mulutnya.
“Eh, eh, nakal, ya.”
“Ayo, isap lagi. Kalau nggak mau, nanti Tante kasihin Ayah Jawir, loh.”
Onion menghisap bentar kemudian mengeluarkan lagi dari mulut nya.
“Ayo, Onion, minum susunya. Kalau nggak mau, nanti Tante kasihin Ayah Jawir lagi, nih.”
Fatimah menyodorkan sparepart nya dan menariknya lagi dari mulut Onion.
“Ayo diminum susunya. Kalau nggak mau, Tante kasihin Ayah Jawir ya.”
Jawir yang tadi sudah mulai terlelap mendengar namanya disebut berulang-ulang oleh Fatimah. Dia pun membuka mata perlahan.
“Anjay, Fatimah! Lu nenenin anak gue?”
“Iya.”
“Emang keluar susunya?”
“Ya enggaklah, bego!”
“Terus kenapa lu nenenin?”
“Gue ngantuk. Mau nyuruh lu bikin susu, takut lo kebangun.”
“Udah, nih, tutupin itu sparepart lu.”
Jawir melemparkan kaos yang tadi dia pakai untuk menutupi tubuh Fatimah.
“Eh, Jawir! Lu gila, ya!”
“Kenapa?”
“Ini sparepart gue masih orisinil, tahu!”
“Iya, gue tahu.”
“Lu main lemparin baju rombeng ke suku cadang yang unlimited.”
“Bukan gitu, Fatimah.”
“Kenapa?”
“Gue cuma takut.”
“Takut apa?”
“Takut khilaf, terus lo gue jadiin jus, gue minum, gue muntahin lagi.”
“Udahlah, udahlah. Ribet ngomong sama lu, mah.”
“Iya. Lain kali jangan bongkar sparepart sembarangan.”
“Kenapa?”
“Ya lu pikir aja. Gue udah tiga bulan nggak kesenggol wanita. Kalau tiba-tiba ada setan lewat, terus lo gue sikat, kan gue takut.”
“Takut apaan?”
“Takut lo minta nambah.”
“Ah, dasar kaleng rombeng. Udah ah, capek gua.”
“Lu mau ke mana?”
“Pulang.”
“Ngapain?”
“Tidur.”
“Oh, kalau gitu jangan lupa, ya.”
“Lupa apa?”
“Udah waktunya tarik selimut.”
“Terus kenapa?”
“Cuci kaki! Biar nggak banyak semut!”
“Ada lagi, Jawir?”
“Jangan dengerin lagu dangdut.”
“Kenapa emang?”
“Nanti tidur lu manggut-manggut.”
“Huh, dasar Jawir bau kentut!”
---
“Sorry ya, guys. Ini cuma candaan absurd, jangan sampai bikin lo bad mood.”
“Tersenyum dan jangan cemberut.”
“Karena yang baca yang paling imut.”
“Jangan lupa likenya, ya. Komen yang cakep biar lo makin panjang... giginya...”
“Eh, maaf, umurnya...”