MIYUKI VS HIKARU YANG MISTERIUS
Malam itu.
Minimarket hampir tutup.
Yoko sedang merapikan rak ketika pintu otomatis terbuka.
Ting!
“Malam, Yoko!”
Yoko menoleh.
“Eh, Miyuki. Malam.”
Miyuki masuk sambil tersenyum.
“Cari apa?”
“Makanan buat Kak Hayato.”
“Oh.”
Yoko melirik jam.
“Gue bentar lagi tutup.”
Miyuki menunjuk etalase.
“Udah, bungkusin ayam aja.”
Yoko membuka kulkas kecil.
“Wah, kebetulan. Tinggal dua.”
“Ya udah, semuanya.”
Yoko mengangkat kedua bungkus ayam.
“Banyak amat.”
“Kak Hayato makannya banyak.”
“Pantes.”
Miyuki tertawa.
“Gue tunggu, ya.”
“Siap.”
Beberapa menit kemudian, Yoko selesai membereskan minimarket.
Lampu depan dimatikan.
Pintu dikunci.
Yoko berdiri sebentar di trotoar.
Dia menoleh ke kanan.
Lalu ke kiri.
Miyuki memperhatikannya.
“Yoko.”
“Hm?”
“Lo ngapain?”
“Nyari seseorang.”
“Siapa?”
Yoko kembali melihat ke ujung jalan.
“Temen gue.”
“Dia mau jemput?”
“Harusnya.”
“Kalau nggak datang?”
Yoko mengangkat bahu.
“Mungkin dia nggak ke sini.”
Miyuki tersenyum.
“Ya udah. Kita jalan bareng.”
Yoko menatapnya.
“Lo mau ke kontrakan Kak Hayato, kan?”
“Iya.”
“Ya udah. Sekalian.”
Mereka mulai berjalan.
---
Jalanan malam cukup sepi.
Miyuki berjalan sambil membawa kantong makanan.
Yoko berjalan di sampingnya.
Beberapa saat mereka hanya diam.
Kemudian Miyuki melirik Yoko.
“Yoko.”
“Apa?”
“Lo udah punya pacar?”
Yoko langsung tertawa kecil.
“Harusnya punya.”
Miyuki mengernyit.
“Kok harusnya?”
Yoko memasukkan kedua tangannya ke saku jaket.
“Gue ngerasa kita nggak sepadan.”
“Kenapa?”
“Dia cantik.”
Miyuki menunggu.
“Populer.”
Yoko mengangguk.
“Pintar.”
“Bagus dong.”
“Idola kampus.”
Miyuki tersenyum.
“Berarti hebat.”
Yoko menunduk.
“Masalahnya…”
Dia berhenti sebentar.
“Gue cuma pecundang.”
Miyuki memperlambat langkah.
“Jangan ngomong begitu.”
“Memangnya gue bohong?”
“Menurut gue, lo nggak seburuk itu.”
Yoko tertawa hambar.
“Keluarga gue broken home.”
Miyuki menatapnya.
“Terus?”
“Bokap gue…”
Yoko menarik napas.
“Sudahlah.”
Miyuki tidak memaksa.
“Menurut gue, cinta nggak memandang semua itu.”
Yoko menoleh.
Miyuki tersenyum.
“Kalau memang sayang, ya sayang.”
Yoko terdiam.
“Tapi dia kadang…”
Yoko berhenti bicara.
Miyuki menunggu.
“Kadang apa?”
“…”
Yoko menggeleng.
“Nggak ada.”
Miyuki menghela napas.
“Lo misterius juga.”
Yoko tersenyum kecil.
“Katanya tadi gue pecundang.”
“Pecundang misterius.”
“Lebih bagus.”
Mereka tertawa kecil.
---
Tak lama kemudian, mereka sampai di depan kontrakan Hayato.
Yoko berhenti.
Miyuki ikut berhenti.
Namun langkah mereka terhenti bukan karena lelah.
Seseorang berdiri di atas tangga.
Hikaru.
Diam.
Tatapannya dingin.
Yoko langsung mengenalinya.
“Hikaru…”
Hikaru tidak menjawab.
Matanya berpindah dari Yoko ke Miyuki.
Miyuki menatap ke atas.
“Itu siapa?”
Yoko menunjuk.
“Hikaru.”
Kemudian dia menunjuk kamar di samping tangga.
“Itu kontrakan gue.”
Miyuki tersenyum dan melambaikan tangan.
“Hai.”
Hikaru tetap diam.
“Aku Miyuki.”
Tidak ada jawaban.
Miyuki menurunkan tangannya.
“Oh…”
Yoko mulai merasa tidak enak.
Dia tahu tatapan itu.
Hikaru masih marah.
Miyuki mendekat sedikit ke Yoko.
“Dia nggak suka sama gue?”
“Ah…”
Yoko tersenyum canggung.
“Mungkin perasaan lo aja.”
Dari atas tangga terdengar suara Hikaru.
“Yoko.”
Yoko menoleh.
“Iya.”
“Naik.”
Miyuki melirik Yoko.
“Gue duluan, ya.”
“Iya.”
Miyuki tersenyum.
“Jangan berantem.”
Yoko menatap Hikaru.
“Semoga saja.”
Miyuki tertawa kecil.
“Besok ketemu.”
“Iya.”
Miyuki pergi.
Yoko menaiki tangga.
---
Pintu kamar tertutup.
Yoko baru berbalik.
Hikaru sudah berdiri di depannya.
Tatapannya masih dingin.
“Kenapa?”
Hikaru tidak menjawab.
Dia menarik Yoko mendekat.
Kemudian menjatuhkan tubuh Yoko ke ranjang.
Lo kenapa Hikaru?
“Gue nggak mau lo dekat sama cewek lain.”
Hikaru mendih tubuh Yoko yang terbaring dengan kadar.
Yoko terdiam.
“tadi Cuma Miyuki.”
Hikaru menciumi Yoko dengan liar
“Aku lihat sendiri.”
Yoko melepas paksa pakaian Yoko.
“Gue ketemu dia di jalan.”
“Gue nggak peduli.”
Hikaru menggenggam samurai Yoko yang belum berdiri.
Yoko menghela napas.
“Hikaru…”pelan pelan..
Hikaru menanggalkan pakaiannya dengan kasar.
“Gue nggak sama cewek lain.”
Tatapan Hikaru tetap dingin.
“Jangan bohong.”
“Gue nggak bohong.”
Hikaru menusukan samurai Yoko ke rerimbunan hutan bambu.
Yoko menyentuh lengannya.
“Tenang.”jangan buru buru..
Hikaru masih tidak menjawab.
Kemudian terkapar di atas tubuh Yoko.dengan bersimbah keringat.
Sikapnya berbeda.
Biasanya Hikaru lebih lembut.
Malam ini tidak seperti biasanya.
Lo mau kemana Hikaru?
“Gue mandi dulu?”
Yoko menatap Hikaru yang melangkah menuju kamar mandi.
“Nggak usah.”ikuti gue
Yoko mengernyit.
“Hikaru…”
Hikaru tetap diam.
Beberapa saat kemudian, suasana kamar kembali tenang.
Yoko duduk di tepi ranjang.
Hikaru berdiri mengambil handuk.
Yoko memperhatikannya.
“sayang, kamu udah dari tadi?.”
“Hm?”
“Lo kenapa?”kok onderdilnya ga di bungkus?
“Nggak kenapa-kenapa.”
Hikaru memberikan handuknya
Ini, tutupin tuh sparepart nya, malu dong "
“Lo beda banget sama yang tadi.”
Hikaru menoleh.
“Beda?”
“Iya.”
Yoko mengamati wajahnya.
“Tadi lo dingin banget.”
Hikaru diam.
“Bahkan kayak…”
Yoko ragu.
“Kayak bukan Hikaru.”
Hikaru tersenyum manis menatapnya.
Yoko tetap duduk.
Buruan sayang, mandi, nanti masuk angin.
Dia mengusap wajah.
Hikaru masuk kamar.
“Kenapa gue ngerasa dia kayak orang lain?”
Beberapa saat kemudian, pintu kamar terbuka.
Hikaru keluar dengan pakaian yang sudah rapi.
Ekspresinya berubah.
Senyumnya lembut.
“Sayang.”
Yoko menoleh.
“Iya?”
“Lo dari tadi di situ?”
Yoko mengerutkan kening.
“Lah, iya.”
Hikaru mengambil handuk dan menyerahkannya.
“Buruan mandi.”
Yoko menerima handuk itu.
“Oh.”
Hikaru tersenyum.
“Jangan lupa pakai baju yang rapi.”
Yoko menatapnya.
Beberapa menit lalu perempuan itu begitu dingin.
Sekarang?
Lembut.
Perhatian.
Bahkan senyumnya berbeda.
“Sayang.”
“Hm?”
“Lo aneh.”
Hikaru tertawa kecil.
“Kenapa?”
“Barusan lo marah.”
“Aku?”
“Iya.”
Hikaru memiringkan kepala.
“Aku marah?”
Yoko terdiam.
“Iya.”
Hikaru tersenyum.
“Mungkin lo salah lihat.”
Yoko menatapnya lama.
“Beneran?”
“Iya.”
Hikaru menunjuk kamar mandi.
“Sekarang mandi.”
Yoko berdiri.
“Iya, sayang.”
Hikaru tersenyum.
“Nanti kita jalan-jalan.”
“Ke mana?”
“Pasar malam.”
Yoko langsung menoleh.
“Pasar malam?”
“Aku pengen makan jajanan.”
Yoko tertawa kecil.
“Oke.”
“Lo dandan dulu.”
“Gue mandi.”
“Iya.”
Yoko masuk ke kamar mandi.
Pintu tertutup.
Hikaru berdiri sendirian.
Senyumnya perlahan hilang.
Tatapannya kembali dingin.
Dia menoleh ke pintu kamar mandi.
Diam.
---
Di balik pintu kamar mandi, Yoko menatap dirinya sendiri di cermin.
“Hikaru…”
Dia mengingat wajah Hikaru beberapa menit lalu.
Dingin.
Kemudian berubah.
Lembut.
Seolah-olah tidak terjadi apa-apa.
Yoko mengusap dagunya.
“Sebenernya…”
Dia menatap cermin.
“…lo siapa?”