Di kerajaan Virelle, kecantikan bukan sekadar anugerah.
Ia adalah mata uang.
Perempuan cantik mendapatkan suami kaya.Perempuan cantik mendapatkan rumah besar.Perempuan cantik tidak perlu bekerja sampai tangannya kasar.
Dan di atas semuanya, perempuan tercantik di kerajaan akan dipilih menjadi istri Pangeran Lucien.
Karena itu, ketika Amalia melihat wajahnya sendiri di cermin, ia tidak melihat seorang gadis.
Ia melihat sebuah kegagalan.
Hidungnya tidak setinggi milik adik tirinya, Cecilia.
Giginya tidak serapi milik perempuan-perempuan bangsawan.
Pinggangnya terlalu lebar.
Dan kakinya...
Amalia menatap kedua kakinya dengan jijik.
Terlalu besar.
Terlalu kasar.
Tidak pantas mengenakan sepatu kaca seorang putri.
“Aku harus menjadi cantik,” bisiknya.
Dari belakang, ibunya tersenyum.
“Bukan harus.”
Ia menyentuh rambut Amalia.
“Kau harus menjadi yang paling cantik.”
Ketika undangan pesta kerajaan tiba, rumah mereka berubah menjadi tempat penyiksaan.
Amalia berhenti makan.
Ia hanya mengunyah beberapa potong buah sehari agar tubuhnya menjadi lebih kecil.
Setiap pagi ia menimbang dirinya.
Jika angka di timbangan naik sedikit, ia menangis.
Jika turun, ia tersenyum.
Ibunya membelikannya korset.
Hari demi hari, tali korset ditarik semakin erat.
“Lebih kencang.”
“Ibu, aku sulit bernapas.”
“Putri tidak membutuhkan napas yang panjang.”
Tali ditarik lagi.
Amalia menahan air mata.
“Cantik itu sakit,” kata ibunya.
“Kalau kau tidak sanggup menahannya, kau tidak pantas menjadi cantik.”
Amalia mengangguk.
Dan mulai mempercayainya.
Cecilia berbeda.
Ia tidak pernah berusaha menjadi cantik.
Itulah yang paling dibenci Amalia.
Cecilia bangun pagi dengan rambut berantakan.
Ia makan sebanyak yang ia mau.
Ia tertawa terlalu keras.
Ia tidak peduli ketika gaunnya sedikit kusut.
Namun setiap kali mereka berjalan melewati pasar, orang-orang tetap menoleh kepadanya.
“Cantik sekali.”
“Wajahnya seperti malaikat.”
“Pangeran pasti akan memilihnya.”
Amalia mendengar semuanya.
Senyumnya semakin kaku.
Suatu malam, ia bertanya kepada Cecilia,
“Kenapa kau tidak pernah takut menjadi jelek?”
Cecilia tertawa.
“Karena aku tidak merasa jelek.”
Jawaban itu membuat Amalia terdiam.
Bagi Amalia, kecantikan adalah sesuatu yang harus diperjuangkan.
Bagi Cecilia, kecantikan hanyalah sesuatu yang tidak perlu dipikirkan.
Dan itulah yang membuatnya terasa tidak adil.
Hari pesta semakin dekat.
Istana mengumumkan bahwa Pangeran Lucien akan memilih calon istrinya berdasarkan sebuah sepatu kaca.
Sepatu itu dibuat khusus untuk kaki perempuan yang dianggap paling anggun di kerajaan.
Ketika berita itu sampai, Amalia langsung tahu.
Ini kesempatan terakhirnya.
Ia membeli sepatu kaca yang hampir tidak muat di kakinya.
Setiap malam ia memakainya.
Lima menit.
Sepuluh menit.
Satu jam.
Kakinya semakin sakit.
Namun ia terus tersenyum di depan cermin.
“Lihat?”
Ia berkata kepada bayangannya.
“Aku bisa.”
Hari berikutnya ia memakainya lebih lama.
Dan hari berikutnya lagi.
Sampai kulit kakinya lecet dan bengkak.
Ibunya hanya berkata,
“Sedikit lagi.”
Pada malam pesta, Amalia mengenakan gaun putih.
Wajahnya dipoles begitu tebal hingga ia hampir tidak mengenali dirinya sendiri.
Rambutnya disanggul tinggi.
Pinggangnya dikencangkan.
Dan kakinya dimasukkan ke dalam sepatu kaca.
Sakitnya luar biasa.
Namun ketika melihat dirinya di cermin, Amalia tersenyum.
Untuk pertama kalinya ia merasa...
sempurna.
Ia memasuki pesta.
Namun ketika Pangeran Lucien melihatnya, ia hanya tersenyum sopan.
Kemudian Cecilia datang.
Tidak mengenakan gaun mahal.
Tidak memakai perhiasan.
Ia bahkan terlambat karena membantu seorang pelayan membawa nampan.
Pangeran Lucien menghampirinya.
Mereka berbicara.
Cecilia tertawa.
Dan pangeran ikut tertawa.
Amalia berdiri di kejauhan.
Sesuatu di dalam dirinya retak.
Ia menatap kakinya.
Menatap sepatu kaca.
Menatap Cecilia.
Tidak.
Ia sudah melakukan semuanya.
Ia sudah menahan lapar.
Menahan sakit.
Menahan penghinaan.
Menahan dirinya sendiri.
Tetapi tetap saja...
Cecilia hanya perlu menjadi dirinya sendiri.
Ketika sepatu kaca dibawa ke rumah mereka beberapa hari kemudian, Amalia sudah tidak berpikir seperti manusia yang sedang mengejar kebahagiaan.
Ia berpikir seperti seseorang yang sedang mengejar hukuman.
Pangeran akan menikahi perempuan yang kakinya cocok dengan sepatu itu.
Amalia mencoba memakainya.
Tidak muat.
Ia menangis.
Ibunya menatapnya.
“Potong sedikit.”
Amalia menatap ibunya.
“Apa?”
“Sepatunya tidak boleh diubah.”
Ibunya menunjuk kaki Amalia.
“Jadi yang harus berubah adalah kakimu.”
Ruangan menjadi sunyi.
Amalia memandangi sepatu itu.
Kemudian memandangi kakinya.
Untuk beberapa detik, ia masih ragu.
Lalu ia mendengar suara ibunya.
“Bukankah kau ingin menjadi putri?”
Malam itu, Amalia mengunci pintu kamarnya.
Ia meletakkan sepatu kaca di atas meja.
Di sebelahnya terdapat berbagai benda yang tidak seharusnya berada di kamar seorang gadis.
Tangannya gemetar.
Ia menangis.
Bukan karena takut.
Melainkan karena ia telah sampai pada titik di mana rasa takut tidak lagi lebih besar daripada keinginannya untuk menjadi cantik.
Namun tepat sebelum melakukan sesuatu yang tidak dapat diperbaiki, ia mendengar ketukan.
“Amalia?”
Suara Cecilia.
Amalia membeku.
“Kau di dalam?”
Tidak ada jawaban.
“Aku tahu kau menangis.”
Amalia menggigit bibir.
Cecilia berkata pelan,
“Buka pintunya.”
Amalia melihat cermin.
Dan tiba-tiba ia membenci pantulan dirinya.
Bukan karena jelek.
Melainkan karena ia menyadari sesuatu.
Ia tidak lagi tahu siapa dirinya tanpa keinginan untuk menjadi cantik.
Pintu terbuka.
Cecilia melihat kakaknya.
Ia melihat meja.
Ia melihat sepatu kaca.
Dan wajahnya berubah pucat.
“Amalia...”
“Diam.”
“Kita bisa pergi.”
“Pergi ke mana?”
“Ke mana saja.”
Amalia tertawa.
“Dan menjadi apa?”
Cecilia tidak menjawab.
Amalia mendekati cermin.
“Kalau aku bukan perempuan tercantik, aku ini siapa?”
Cecilia menatapnya.
“Kau kakakku.”
“Aku bukan itu.”
“Kau Amalia.”
“Nama tidak membuat seseorang dicintai.”
Cecilia menggenggam tangannya.
“Aku mencintaimu.”
Amalia menatapnya lama.
Kemudian air matanya jatuh.
“Kenapa?”
Cecilia tidak mengerti.
“Karena kau kakakku.”
Amalia tersenyum.
Senyum yang sangat sedih.
“Seharusnya itu cukup.”
Keesokan paginya, kerajaan mendengar kabar bahwa Amalia telah menghilang.
Ibunya mengatakan bahwa putrinya melarikan diri karena malu.
Tidak ada yang bertanya lebih jauh.
Pesta pernikahan tetap dilaksanakan.
Cecilia menjadi putri.
Pangeran menikahinya.
Kerajaan bersorak.
Musik dimainkan selama tiga hari tiga malam.
Namun di tengah pesta, seorang pelayan menemukan sesuatu di depan kamar Cecilia.
Sepasang sepatu kaca.
Keduanya penuh retakan.
Di dalam salah satunya terdapat secarik kertas.
Hanya ada satu kalimat:
“Aku akhirnya muat.”
Tidak ada yang pernah mengetahui apa yang terjadi kepada Amalia.
Sebagian mengatakan ia melarikan diri ke kerajaan lain.
Sebagian mengatakan ia meninggal di hutan.
Sebagian lagi percaya ia masih hidup.
Bertahun-tahun kemudian, muncul rumor tentang seorang perempuan yang tinggal sendirian di sebuah rumah terpencil.
Konon, perempuan itu selalu mengenakan gaun indah.
Wajahnya selalu tertutup kerudung.
Ia tidak pernah keluar pada siang hari.
Dan di depan pintunya terdapat puluhan pasang sepatu yang dibuat dari kaca.
Ada yang kecil.
Ada yang besar.
Ada yang terlalu sempit untuk kaki manusia.
Setiap malam, perempuan itu berdiri di depan cermin dan bertanya kepada bayangannya:
“Apakah aku sudah cantik?”
Cermin tidak pernah menjawab.
Namun perempuan itu selalu tersenyum.
Karena setelah bertahun-tahun mencari kecantikan, ia akhirnya menemukan sesuatu yang jauh lebih mengerikan.
Ia tidak lagi membutuhkan orang lain untuk mengatakan bahwa dirinya cantik.
Ia sudah menjadi tawanan dari bayangannya sendiri.
Tamat.