MISTERI DI BALIK JENDELA KACA
Author: lenan
Misteri/Kriminal;Horor
Malam di Desa Karang Panas selalu datang lebih cepat daripada yang seharusnya. Terjepit di antara lereng Bukit Kelam dan kerapatan hutan jati yang belum terambah, matahari seolah enggan berlama-lama menyinari tanah berdebu itu. Begitu pukul lima sore lewat sedikit, bayang-bayang panjang akan merayap dari pepohonan, menyelimuti atap-atap rumah warga dengan kegelapan yang lembap.
Namun, bukan kegelapan itu yang membuat warga enggan keluar rumah setelah lewat tengah malam. Adalah Rumah Pak Tua—sebuah sebutan yang melekat pada bangunan megah berarsitektur kolonial gabungan Jawa di ujung timur desa—yang menjadi sumber kecemasan tersendiri.
Rumah itu milik keluarga Van der Berg, seorang tuan tanah paruh baya Belanda yang menikah dengan wanita bangsawan lokal pada masa penjajahan. Setelah kemerdekaan dan pergolakan politik pertengahan abad ke-20, keluarga itu hilang tanpa jejak. Rumah tersebut terbengkalai, dimakan usia, dihinggapi rayap, dan dibiarkan membusuk oleh waktu. Dinding kayunya yang berwarna cokelat gelap melengkung karena kelembapan, seng atapnya berkarat hingga bolong-bolong, dan pekarangannya telah dikuasai oleh ilalang setinggi dada manusia.
Kendati demikian, dalam dua minggu terakhir, rumah itu menjadi pusat perbincangan panas di warung kopi Pak Kumis.
"Aku melihatnya sendiri dengan mata kepalaku, Rian," ujar Pak Kumis seraya menuangkan air panas ke dalam gelas seng berisi bubuk kopi murah. Asap bergulung menutupi wajahnya yang berkerut. "Lantai dua. Jendela bundar yang menghadap ke timur. Ada cahaya."
Rian, seorang pemuda berusia dua puluh dua tahun yang baru saja menyelesaikan kuliah sastranya di kota dan kembali ke desa tanpa pekerjaan pasti, menyandarkan siku di atas meja kayu warung. "Paling-paling anak-anak punk yang numpang tidur, Pak. Atau pencari barang antik liar yang pakai lampu petromaks."
"Lampu petromaks tidak berwarna kuning keemasan seperti itu, Rian," potong Pak Kumis mantap. Ia mengetukkan jemarinya di meja. "Dan cahaya itu tidak terang benderang seperti bola lampu neon. Cahayanya hangat... seperti cahaya lilin di dalam ruangan yang sangat besar. Tapi anehnya, tidak ada asap. Tidak ada bayangan orang lalu lalang. Cahaya itu memancar tepat pukul tiga pagi, dan padam saat dentang pertama dari gereja tua di lembah terdengar."
"Dan bukan cuma Pak Kumis," timpal Mbok Sum, pedagang sayur yang duduk di pojok. "Sihombing yang pulang ronda kemarin lusa juga melihatnya. Katanya, waktu dia mencoba mendekat ke pagar perbatasan, dia mendengar suara musik. Bukan musik dangdut atau radio, Rian. Suara alunan piano. Lembut sekali, tapi bikin bulu kuduk berdiri."
Rian tersenyum tipis, menyembunyikan rasa penasaran yang mendadak mekar di dadanya. Sebagai orang yang dibesarkan dengan literatur empiris dan pemikiran logis, ia selalu menganggap cerita-cerita mistis desa hanyalah wujud dari keputusasaan warga terhadap hiburan. Namun, ada sesuatu dari cerita tentang *jendela bundar* itu yang mengusiknya.
Jendela itu memang unik. Saat masih kecil, Rian sering mencuri-curi pandang ke arah rumah tua itu dari jauh. Di lantai dua, tepat di bawah bubungan atap berbentuk segitiga, terdapat sebuah kaca jendela berbentuk lingkaran sempurna—seperti jendela kapten di kapal laut kuno, tetapi berdiameter hampir dua meter. Kaca itu berwarna kehijauan, tebal, dan dikelilingi oleh bingkai kayu jati ukir yang rumit.
"Kenapa tidak ada yang memeriksa ke dalam?" tanya Rian.
"Pemeriksa?" Pak Kumis tertawa kering. "Siapa yang berani? Kau lupa apa yang terjadi pada kakekmu dulu ketika ia mencoba memperbaiki pagar rumah itu? Tangan kirinya lumpuh mendadak selama tiga bulan. Rumah itu tidak suka diganggu, Rian. Ada yang mati di sana tanpa sempat mengcapkan perpisahan, dan apa pun yang tinggal di dalam sana, ia sedang menunggu sesuatu."
Malam itu, Rian pulang ke rumahnya dengan kepala penuh dengan bayangan jendela bundar. Rasa bosan akibat pengangguran dan kebiasaannya mencari tantangan berpadu menjadi dorongan nekad. Ia menatap jam dinding di kamarnya: pukul 01.15 WIB.
Hujan gerimis mulai turun, mengetuk-etuk atap seng kamarnya dengan irama yang monoton. Rian berjalan ke lemari, mengambil jaket parasut hitam, senter dengan baterai yang baru diganti, sebuah pisau lipat untuk berjaga-jaga, dan buku catatan kecil.
Malam ini, pikirnya, ia tidak akan sekadar mendengar cerita dari warung kopi. Ia akan menyandarkan matanya sendiri pada kaca jendela itu.
---
Gerimis bertransformasi menjadi hujan deras yang melilit Desa Karang Panas saat Rian melangkahkan kaki keluar dari pekarangan rumahnya. Jalanan desa licin oleh lumpur cokelat. Bau tanah basah dan dedaunan busuk memenuhi udara malam yang dingin menusuk tulang.
Rian menyusuri jalan setapak yang semakin menyempit hingga akhirnya ia berdiri di depan gerbang besi Rumah Pak Tua. Gerbang itu sudah terlepas dari engselnya, terkulai lesu di antara belukar tanaman merambat yang berduri. Rian menyalakan senternya. Sorot cahaya putih membelah kegelapan, menyingkap jaring laba-laba raksasa dan pepohonan tua yang batangnya membusuk.
Ia melangkahi gerbang runtuh itu. Setiap langkahnya membuat daun-daun kering dan ranting patah berkeritikDi bawah guyuran hujan, rumah tua itu tampak seperti raksasa purba yang sedang tertidur lelap—atau mungkin, sedang mengamati kedatangannya secara diam-diam.
Pintu depan rumah dipasangi papan-papan kayu yang dipaku menyilang, lapuk tetapi masih cukup kokoh untuk menahan dorongan. Rian memutar memutari bangunan, menyusuri dinding luar yang terbuat dari bata merah tebal bertumpuk kayu. Di bagian belakang, dekat bekas dapur terbuka, ia menemukan sebuah pintu panel kecil yang engselnya sudah hancur dikerogoti karat.
Dengan dorongan bahunya yang agak kuat, pintu itu terbuka dengan suara derit panjang yang memotong kesunyian malam.
Creeeeak...
Rian menahan napas, tertegun sejenak. Ia mengarahkan senternya ke dalam. Hawa udara di dalam rumah itu serta-merta berubah. Dingin, apak, dan dipenuhi oleh aroma samar yang aneh—bukan cuma bau debu tua, tetapi ada aroma bunga melati yang hampir layu dan minyak tanah yang terbakar lembut.
Ia melangkah masuk. Lantai kayu di bawah sepatunya terasa fleksibel, menakutkan, seolah bisa jebol kapan saja membawanya jatuh ke dalam rongga di bawah rumah. Rian menyusuri lorong bawah. Sinar senternya menangkap sisa-sisa kemewahan masa lalu: bingkai lukisan tanpa kanvas yang tergantung miring, meja konsol bersalut emas yang terkupas, dan sebuah jam berdiri raksasa dari kayu jati yang jarumnya berhenti tepat di angka tiga dan sembilan.
Di sudut ruang tengah, terdapat tangga melingkar bertingkat dua yang megah. Pegangan tangganya diukir menyerupai ular naga Jawa yang saling melilit.
Rian melihat jam tangannya: pukul 02.48 WIB. Twelve minutes to three.
Ia mengeringkan telapak tangannya yang berkeringat di celana jeans-nya, lalu memanjat tangga tersebut perlahan. Setiap anak tangga menyuarakan protes yang nyaring di tengah malam yang sepi. *Krek... krek... krek...*
Lantai dua jauh lebih gelap dan lembap daripada lantai dasar. Beberapa bagian atap telah bocor, membiarkan air hujan menetes teratur ke atas lantai kayu, menciptakan genangan-genangan kecil yang memantulkan cahaya senternya. Rian menyusuri lorong utama lantai dua, melewati lima pintu kamar yang semuanya tertutup rapat dan terkunci dari dalam.
Hingga akhirnya, ia sampai di ujung lorong. Pintu kamar terakhir—kamar utama yang berada tepat di bawah puncak atap—terbuka selebar beberapa sentimeter.
Rian mematikan senternya. Ia membiarkan matanya menyesuaikan diri dengan kegelapan total.
Suasana begitu hening hingga ia bisa mendengar detak jantungnya sendiri yang bertaburan di dalam dada. Di luar, suara hujan deras bertukar menjadi derai gerimis tipis.
Lalu, tepat ketika jam di tangannya bergetar menandakan pukul 03.00 WIB, perubahan itu terjadi.
Bukan dari dalam kamar, melainkan dari sela-sela bawah pintu kamar utama. Sebuah garis cahaya muncul. Warna cahaya itu tidak putih seperti senternya, tidak pula kuning pucat seperti lampu bohlam murah. Cahaya itu berwarna keemasan, kaya, hangat, dan hidup—seolah-olah dipancarkan oleh puluhan lilin berukuran besar atau lampu minyak bermutu tinggi.
Rian menahan napas. Bau bunga melati yang tadinya samar mendadak merebak tajam, memenuhi paru-parunya.
Dengan tangan gemetar, Rian mendorong pintu kamar utama tersebut.
---
Kamar itu sangat luas. Namun, tidak seperti bayangan Rian tentang ruangan terbengkalai yang penuh sarang laba-laba dan kotoran kelelawar, kamar ini—di bawah sapuan cahaya keemasan itu—tampak sangat bersih.
Di tengah ruangan, terdapat sebuah ranjang besi beratap kain kelambu putih yang terkulai rapuh. Di sampingnya berdiri sebuah meja rias kayu jati dengan cermin oval besar yang dasarnya telah menghitam. Namun, sumber dari seluruh cahaya ajaib itu bukanlah lilin atau lampu, melainkan *jendela kaca bundar* di dinding paling timur.
Jendela itu berpendar dari balik fisiknya sendiri. Kaca tebal berdiameter dua meter itu memancarkan silau keemasan yang menyorot lurus ke dalam ruangan, menyinari debu-debu melayang hingga tampak seperti serbuk emas yang menari-nari di udara.
Rian terpesona. Rasa takutnya lenyap seketika, tergeser oleh rasa kagum yang luar biasa. Ia melangkah mendekati jendela itu, sepatunya tidak lagi mengeluarkan suara derit di atas lantai yang tiba-tiba terasa halus.
Ketika ia berdiri hanya semeter dari jendela, Rian menyadari ada sesuatu yang sangat salah—atau mungkin sangat ajaib.
Di luar jendela itu, tidak ada Desa Karang Panas versi malam ini yang gelap, berlumpur, dan diguyur hujan.
Di luar sana, tampak sebuah pemandangan pada sore hari yang cerah dengan langit berwarna jingga keemasan. Rian melihat pepohonan hijau yang rindang, jauh lebih lebat daripada hutan jati yang ada sekarang. Ia melihat jalanan desa yang masih berupa tanah berbatu yang tertata rapi, dan di jarak jauh, sebuah delman yang ditarik dua ekor kuda putih tampak sedang melintas secara perlahan.
"Ini... ini tidak mungkin," bisik Rian pada dirinya sendiri.
Ia mengulurkan tangannya yang gemetar, berniat menyentuh permukaan kaca bundar tersebut. Kaca itu tampak tertutup embun halus di bagian dalam, seolah ada perbedaan suhu yang ekstrem antara dua dunia.
Saat jemari Rian tinggal beberapa sentimeter lagi dari permukaan kaca, sebuah bayangan bergerak dari sisi lain.
Sesosok figur muncul di balik kaca.
Rian mendadak terpaku. Ia menarik tangannya kembali.
Sesosok wanita muda berdiri tepat di balik jendela kaca bundar itu—pada sisi dunia yang bersinar sore hari. Wanita itu mengenakan kebaya putih bersulam rumit dengan kain batik pesisiran berwarna cokelat gelap. Rambut hitam tebalnya disanggul rapi di belakang kepala, dihiasi oleh sebatang tusuk konde dari perak dan beberapa kuncup bunga melati segar.
Wajahnya sangat pucat, tetapi anggun luar biasa. Matanya berwarna cokelat terang, menatap lurus ke arah Rian—bukan dengan tatapan hantu yang menakutkan, melainkan dengan tatapan kerinduan dan keputusasaan yang teramat sangat.
Rian menyadari satu hal yang mengerikan: wanita itu tidak bisa melihat Rian secara utuh. Baginya, Rian mungkin hanyalah bayangan samar di dalam kaca yang gelap.
Wanita itu melangkah lebih dekat ke jendela. Ia mengangkat tangannya yang halus, menempelkan telapak tangannya pada permukaan kaca dari sisi luar sana. Embun di kaca terhapus oleh gerakan tangannya.
Rian meletakkan telapak tangannya tepat di lokasi yang sama dari dalam ruangan. Hanya ketebalan kaca beberapa sentimeter yang memisahkan mereka, tetapi terasa seperti jarak puluhan tahun cahaya. Adrenalin Rian memuncak ketika ia merasakan kehangatan samar menembus kaca tebal itu—kehangatan dari telapak tangan wanita tersebut.
Dengan tangannya yang lain, wanita itu mengangkat sebuah benda ke depan kaca.
Itu adalah sebuah surat tua yang ditulis di atas kertas perkamen tebal berwarna kekuningan. Tinta hitamnya agak luntur di beberapa bagian, tetapi tulisan tangannya yang bergaya kaligrafi Latin klasik masih sangat jelas dibaca. Wanita itu menempelkan kertas itu tepat ke kaca jendela, agar Rian bisa membacanya dari dalam kegelapan.
Rian memiringkan kepalanya, memicingkan mata mencoba mengeja huruf demi huruf yang terbalik dari posisinya:
"Kepada siapa pun yang menemukan sudut waktu ini:
Nama saya Elisabeth Anindya Van der Berg. Hari ini, 14 Oktober 1952, mereka telah mengepung rumah ini. Ayahku telah dibawa pergi, dan mereka menuduh kami sebagai pengkhianat tanah ini. Aku dikunci di kamar atas ini oleh pengawal setia kami untuk melindungiku dari amukan massa yang tidak tahu kebenaran.
Tapi aku tahu, tidak ada jalan keluar dari ruangan ini. Pintu telah dibakar dari luar. Asap mulai memenuhi bawah lantai. Aku menemukan bahwa kaca jendela ini... tidak membawa ke luar rumah. Kaca ini membawa ke tempat lain, ke masa yang tidak aku kenal.
Jika kau membaca ini dari masa depan, ketahuilah bahwa dokumen asli kepemilikan tanah dan surat pengampunan dari Presiden pertama disimpan di bawah ubin ketiga di bawah cermin rias ini. Keluargaku tidak pernah mengkhianati desa ini. Kami memberikan seluruh harta kami untuk kemerdekaan.
Tolong sampaikan pada dunia, aku tidak pernah pergi. Aku hanya terjebak di antara detik yang tidak pernah selesai."
Air mata menetes dari sudut mata wanita itu saat ia menatap Rian dari balik kaca. Di belakangnya di dunia sore hari tahun 1952 itu Rian bisa melihat gelombang asap hitam mulai membumbung tinggi dari arah tangga di luar kamarnya. Pintu di balik wanita itu berguncang keras, ditendang oleh seseorang dari luar. Wajah wanita itu dipenuhi ketakutan yang luar biasa.
Ia memohon dengan gerak bibirnya tanpa suara: Tolong aku.
"Tidak!" teriak Rian. Ia mengguncang bingkai kaca bundar itu dengan kedua tangannya. "Bagaimana caranya aku membebaskanmu?!"
Rian memukul kaca tebal itu dengan kepalan tangannya. Brak! Brak! Kaca itu sangat kokoh, bahkan tidak bergetar sedikit pun. Kaca itu dibuat bukan dari bahan biasa; itu adalah peninggalan mistik atau mungkin keajaiban fisika yang tidak disengaja dari kombinasi zat kimia pembuatan kaca abad ke-19 dan energi spiritual tanah tersebut.
Di balik kaca, wanita itu menempelkan wajahnya ke jendela, menangis tanpa suara saat api mulai menjilat pinggiran pintu kayu kamar tahun 1952-nya.
Tepat pada saat itu, jam berdiri di lantai dasar merentangkan suaranya ke udara.
DONG...
Dentang pertama.
Cahaya keemasan di jendela mendadak meredup drastis. Bayangan sore hari, jalanan berdebu, dan wanita berkebaya itu mulai kabur, tergantikan oleh refleksi wajah Rian sendiri yang pucat di atas kaca yang kotor.
DONG...
Dentang kedua.
Asap hitam di tahun 1952 memudar menjadi jaring laba-laba abu-abu di sudut ruangan tahun ini. Suara histeris api berganti menjadi desis angin malam dan gerimis yang menerobos seng bolong.
DONG...
Dentang ketiga.
BZZZT.
Cahaya itu padam sepenuhnya.
Kamar utama kembali menjadi ruangan tua yang gelap, dingin, apak, dan membusuk. Hanya ada Rian yang berdiri sendirian di tengah kegelapan, napasnya memburu, dengan telapak tangan yang masih menempel di permukaan kaca jendela yang kini terasa sesedingin es batu.
---
Rian terduduk lemas di lantai kayu yang berdebu. Senter yang tergeletak di sampingnya bergulir sedikit, memancarkan garis cahaya putih memotong ruangan. Keheningan yang menyelimuti tempat itu kini terasa jauh lebih menakutkan daripada sebelum ia menyaksikan keajaiban tadi.
Ia bukan lagi sekadar pemuda yang penasaran. Ia baru saja menjadi saksi bisu dari sebuah tragedi yang terperangkap dalam simpul waktu selama lebih dari tujuh puluh tahun.
"Elisabeth..." bisik Rian, namanya terasa asing namun membakar di lidahnya.
Kata-kata dalam surat itu terngiang-ngiang di kepalanya: Ubin ketiga di bawah cermin rias.
Rian meraih senternya, lalu merayap mendekati meja rias tua yang terletak di samping ranjang kelambu. Cermin oval di atasnya telah dilapisi kerak korosi hitam yang membuat cermin itu tak lagi mampu memantulkan apa pun secara utuh. Di bawah meja rias itu, lantai tidak terbuat dari kayu seperti bagian kamar lainnya, melainkan ditutupi oleh tegel semen kuno bermotif bunga berwarna merah bata dan hijau tua.
Rian menghitung ubin dari batas kaki meja rias.
Satu. Dua. Tiga.
Ubin ketiga tampak sedikit lebih tinggi dibanding ubin lainnya, seolah pernah dicongkel lalu dipasang kembali secara tergesa-gesa. Rian mengeluarkan pisau lipat dari saku jaketnya. Ia menancapkan ujung pisau yang tajam ke sela-sela semen yang telah mengering dan pecah-pecah di sekitar ubin tersebut.
Dengan sedikit usaha dan tenaga ekstra, semen tua itu hancur menjadi bubuk. Rian mengungkit tepi ubin itu. *Krak.* Ubin terangkat, menyingkap sebuah rongga kecil berukuran sebesar kotak sepatu di bawah struktur lantai.
Rian mengarahkan sorot senternya ke dalam rongga tersebut.
Di dalamnya tergeletak sebuah kotak logam tembaga bersalut karat hijau. Di atas kotak itu, terdapat sekuntum bunga melati yang anehnya—meski sudah puluhan tahun berada di dalam tanah—tidak sepenuhnya hancur, melainkan mengering sempurna seperti prasasti organik yang diawetkan oleh keajaiban tempat itu.
Rian mengambil kotak tembaga tersebut. Engselnya sudah sangat rapuh, sehingga ia bisa membukanya dengan mudah tanpa kunci.
Di dalam kotak itu terdapat dua hal:
Pertama, sebuah dokumen kertas tebal bertuliskan bahasa Belanda dan Indonesia ejaan lama, lengkap dengan segel lilin merah yang utuh dan tanda tangan resmi dari para pemimpin gerakan kemerdekaan daerah serta lembaran bertanda tangan tokoh nasional. Dokumen itu membuktikan bahwa Rumah Pak Tua dan seluruh perkebunan di sekitarnya bukan milik penjajah, melainkan telah dihibahkan secara sah kepada Republik dan warga lokal oleh keluarga Van der Berg sebagai bentuk dukungan finansial perjuangan.
Kedua, sebuah foto hitam-putih berukuran kecil yang sisinya mulai terbakar sebagian.
Foto itu memperlihatkan Elisabeth Anindya Van der Berg sedang berdiri di samping jendela kaca bundar itu—jendela yang sama. Ia tersenyum hangat, memegang seikat bunga melati. Di belakang foto itu ada tulisan tangan yang sama dengan surat di jendela:
"Waktu adalah lingkaran yang tidak pernah benar-benar putus. Jika kau berada di ujung lainnya, carilah aku di balik kaca sebelum api menghabiskanku."*
Rian menatap foto itu dengan dada sesak. Ia menyadari satu hal yang mengejutkan dari kalimat terakhir itu.
Kejadian yang ia lihat pada pukul tiga pagi tadi bukanlah sekadar 'rekaman masa lalu' yang diputar ulang seperti film tua. Itu adalah kejadian nyata yang sedang berlangsung secara bersamaan pada dimensi waktu yang terhubung melalui kaca jendela ajaib tersebut.
Tiga pagi di masa sekarang adalah momen ketika kamar itu terbakar pada tahun 1952. Kaca bundar itu berfungsi sebagai jembatan dua arah yang terikat oleh fenomena astronomi atau spiritual tertentu yang hanya terbuka selama kurun waktu beberapa menit setiap harinya.
Artinya... Elisabeth belum tentu mati jika ada seseorang yang bisa mengubah alur peristiwa dari sisi masa kini.
Selama tiga hari berikutnya, Rian tidak bisa tidur dengan tenang. Wajah Elisabeth yang ketakutan di balik kaca bundar terus membayangi setiap mimpinya. Setiap kali ia memejamkan mata, ia mendengar jeritan tanpa suara dan dentang jam yang memotong kehidupan wanita itu.
Ia menghabiskan waktunya di perpustakaan daerah dan menginterogasi tetua desa yang tersisa. Dari catatan sejarah lokal yang tersembunyi, Rian menemukan fakta mengerikan: pada malam 14 Oktober 1952, sebuah kelompok milisi lokal yang salah paham membakar Rumah Pak Tua karena menganggap pemiliknya adalah mata-mata Belanda. Kamar utama di lantai dua hangus total, dan jasad Elisabeth tidak pernah ditemukan—hanya abu dan reruntuhan kayu yang tersisa.
Tetapi Rian tahu kenyataannya. Elisabeth tid