Tumbal Yang Terlepas
Author: Alvaraby
Horor
Kipas angin gantung di teras rumah kayu daerah Bantul itu berderit pelan, membelah udara sore yang lembap. Dari sudut teras, suara mesin jahit kayuh milik Mbak Tutik terdengar konstan: tak-tuk-tak-tuk. Di pangkuannya, kain katun bermotif bunga terlipat rapi. Sementara di halaman samping, Pak Hardo—sang kakek—sedang mencangkul tanah gembur, membalik rumput liar dengan irama napas yang teratur.
Hari itu, suasana rumah terasa hangat. Tidak ada yang aneh, setidaknya jika dilihat dari luar. Apalagi sore kemarin, Pakde Danu—kakak kandung Mbak Tutik—datang berkunjung dari kota. Pria dengan senyum ramah dan pakaian selalu necis itu membawa dua kantong plastik besar berisi jajanan pasar, cokelat, dan wafer kesukaan Raffa.
"Nih, buat ganjal perut Raffa. Makan yang banyak ya, le," ujar Pakde Danu kemarin sore sambil mengelus lembut kepala anak berumur lima tahun itu. Raffa mengangguk girang, jemari kecilnya langsung menggenggam erat wafer berlapis cokelat.
Mbak Tutik sempat merasa risih. Pakde Danu memang dikenal sangat dermawan belakangan ini. Bisnis kontraktornya tiba-tiba melejit pesat hanya dalam kurun waktu dua tahun. Dari yang tadinya sering berutang, kini ia bisa membeli dua armada truk dan membangun rumah megah bertingkat di pusat kota. Anehnya, kebaikan Pakde Danu selalu menyasar orang-orang terdekat yang berada di luar garis lurus keluarganya: para tetangga, ipar, hingga keponakan.
Jika ada kerabat atau tetangga yang kesulitan uang, Danu tak ragu memberi puluhan juta rupiah. Dan ketika mereka berniat mengembalikan, Danu selalu menolaknya dengan halus sambil tersenyum lebar. "Sudah, pakai saja. Itu rezeki kalian. Saya cuma perantara."
Namun, di balik senyum ramah dan kedermawanannya, ada jejak hitam yang diam-diam menyelimuti desa tempat tinggal mereka. Dalam rentang waktu setahun terakhir, sudah ada empat orang kerabat ipar Danu dan tiga teman dekatnya yang tewas mengenaskan. Semuanya meninggal dalam kecelakaan tunggal—motor menghantam pohon tua, mobil terperosok ke jurang, atau kendaraan terpeleset masuk ke bawah truk kontainer. Kondisi jasad mereka selalu memprihatinkan, tak utuh. Dan kesamaan dari mereka semua hanya dua: pernah meminjam uang dari Danu, atau pernah menerima pemberian makanan secara langsung dari tangannya.
Tentu saja, tidak ada yang berani menuduh secara terbuka. Masyarakat Jawa di desa itu memegang teguh unggah-ungguh. Namun desas-desus bahwa Danu memelihara jalan hitam demi pesugihan sudah menjadi rahasia umum yang berembus samar di antara bisikan para warga. Konon, syarat pesugihan yang dijalaninya sangat licik: ia tidak boleh mengorbankan anak kandung atau istrinya sendiri, melainkan harus menumbalkan tetangga, saudara ipar, atau keponakan yang memiliki ikatan darah menyamping.
Jam menunjukkan pukul 17.00 WIB. Langit Bantul beranjak temaram, menyisakan warna jingga keunguan di ufuk barat.
Raffa baru saja selesai dimandikan oleh Nenek. Tubuh mungilnya yang masih basah dan hanya berbalut handuk kecil berjalan ke ruang tamu. Anak itu duduk menyilang di atas tikar pandan, menyalakan televisi tua berukuran 14 inci yang memutar kartun sore.
"Raffa, diam di situ sebentar ya, Le. Nenek ambilkan baju dulu di kamar," pamit Nenek sambil berjalan menuju area belakang.
Nenek berjalan melewati lorong menuju dapur. Di atas kompor minyak tanah yang posisinya cukup tinggi, sebuah panci aluminum berukuran sangat besar sedang ditumpangkan. Isinya air penuh, bergejolak hebat, mengeluarkan uap panas yang membubung ke langit-langit dapur. Nenek berniat menyeduh teh hangat untuk Pak Hardo setelah air itu matang.
Melihat airnya belum mendidih sempurna, Nenek berbelok memasuki kamar tidur yang berada di tengah rumah untuk mengambil kaus dan celana dalam Raffa di dalam lemari kayu.
Suasana rumah terasa begitu hening. Hanya ada suara mesin jahit Mbak Tutik di teras depan, gesekan cangkul Pak Hardo di kebun samping, dan suara televisi dari ruang tamu. Tidak ada langkah kaki. Tidak ada dentang logam. Tidak ada derit lantai kayu. Bahkan tidak ada kepulan uap yang bergerak melintasi lorong.
Lalu, hanya dalam hitungan detik setelah Nenek membuka pintu lemari, sebuah jeritan memecah kesunyian sore.
"IBUUU! NENEKKK! TOLONG! PANASSS! JERITANNYA SANGAT HISTERIS, MEMELIKAN, DAN PENUH DENGAN RASA SAKIT YANG TAK TERPERIKAN."
PRANG!
Suara jeritan melengking itu bukan datang dari dapur, melainkan dari ruang tamu!
Nenek tersentak hebat, baju di tangannya terlepas begitu saja. Mbak Tutik di teras depan langsung melompat dari kursi mesin jahitnya, sementara Pak Hardo menjatuhkan cangkulnya di tanah dan berlari kencang memutari pintu samping.
Nenek berlari keluar dari kamar menuju ruang tamu dengan jantung berdegup kencang. Begitu kakinya memijak lantai ruang tamu, pemandangan di depannya membuat napas tua itu terhenti seketika.
Di tengah ruang tamu—di atas tikar pandan tempat Raffa tadi menonton TV—tergeletak sebuah panci aluminum besar. Isinya air mendidih yang masih berkolak-kolak, mengeluarkan asap uap tebal. Dan di dalam panci panas itu, Raffa terjerembap dengan posisi terduduk.
Kulit mungilnya langsung memerah padam. Raffa menjerit melengking, tangannya menggapai-gapai udara, matanya melotot menahan rasa sakit luar biasa yang membakar tubuhnya dari bagian punggung hingga bokong.
"ASTAGFIRULLAHAL 'ADZIM! RAFFA!" teriak Nenek histeris, suaranya pecah di udara.
Mbak Tutik masuk ke ruang tamu dan langsung menjerit histeris melihat anak tunggalnya. Dengan spontan tanpa memedulikan jemarinya sendiri yang melepuh, Mbak Tutik menyambar tubuh Raffa dari dalam panci mendidih itu, merengkuhnya erat ke dada.
"Air panas! Air panas! Ya Allah, anakku!" jerit Mbak Tutik menangis meraung-raung.
Pak Hardo yang baru masuk langsung membelalakkan mata. Pengalaman hidupnya yang panjang tak mampu mencerna apa yang baru saja terjadi.
Secara logika dan hukum alam, hal itu tidak mungkin terjadi:
Kompor di dapur letaknya tinggi dan jauh di area belakang rumah.
Panci itu penuh berisi air mendidih yang sangat berat—bahkan orang dewasa pun harus mengangkutnya dengan dua tangan menggunakan kain lap tebal agar tidak lecet.
Jarak dari dapur ke ruang tamu harus melewati lorong panjang dan beberapa daun pintu.
Tidak ada satu pun suara orang melangkah, memindahkan barang, atau gesekan panci.
Dan yang paling mengerikan: sama sekali tidak ada ceceran atau jepretan air tumpah di sepanjang lantai dari dapur menuju ruang tamu. Lantai kayu lorong rumah itu kering kerontang!
Panci berisi air yang sedang dimasak di atas kompor dapur tinggi itu tiba-tiba berpindah tempat secara gaib dalam hitungan detik ke tengah ruang tamu, tepat di bawah posisi Raffa berdiri!
Malam itu menjadi malam yang paling menyayat hati di rumah sakit daerah Bantul.
Suara tangisan Raffa memenuhi ruang gawat darurat. Punggung hingga bokong anak kecil itu mengalami luka bakar derajat tinggi. Saat dokter dan perawat mencoba melepaskan sisa benang atau kain yang menempel, kulit halus Raffa ikut terkelupas, memperlihatkan daging merah di dalamnya.
Mbak Tutik pingsan berkali-kali di lorong rumah sakit. Pak Hardo hanya bisa terduduk di lantai, menyandarkan dahi di lututnya sambil mengucap zikir tanpa putus, air matanya menetes merembahi celana kerjanya yang masih berdebu tanah.
Di tengah kepanikan dan histeria keluarga malam itu, Pakde Danu datang ke rumah sakit. Pria itu tampil rapi dengan kemeja bersih, wajahnya memasang ekspresi sangat prihatin.
"Ya Allah, Tutik... kenapa bisa begini?" ujar Danu dengan nada suara yang bergetar. Ia menggenggam tangan adiknya. "Sabar, ya. Soal biaya rumah sakit, kamu jangan pusing. Biar Mas Danu yang tanggung semuanya sampai Raffa sembuh total. Mau dirujuk ke rumah sakit terbaik di kota pun Mas bayari!"
Mbak Tutik yang sedang kalut hanya bisa mengangguk pasrah sambil menangis sesenggukan. Namun Pak Hardo, sang kakek, perlahan mengangkat kepalanya. Matanya yang sembap menatap tajam ke arah menantu sekaligus kakak dari putrinya itu.
Ada getaran aneh di udara saat pandangan mereka beradu. Pak Hardo melihat jemari Pakde Danu gemetar halus. Bukan gemetar karena sedih, melainkan gemetar panik. Dan ketika Pakde Danu menatap sosok Raffa yang terbaring kaku di ranjang medis dengan lilitan perban di sekujur tubuh bawahnya—masih bernapas, masih bertahan hidup—wajah Danu tampak pucat pasi secara tidak wajar.
Raffa berhasil diselamatkan. Nyawanya tidak terenggut sore itu. Dan dalam hukum pesugihan hitam yang tak tertulis: jika tumbal yang ditargetkan gagal mati, maka akibatnya akan membalik dengan dampak yang jauh lebih mengerikan kepada si peminta.
Tiga bulan berlalu sejak tragedi panci misterius itu.
Raffa selamat, meski harus menjalani proses penyembuhan yang amat menyiksa. Bekas luka parut (keloid) tebal membekas permanen dari area punggung bawah hingga bokongnya, menjadi saksi bisu dari malam kelam di Bantul. Anak kecil itu menjadi trauma berat terhadap suara air mendidih dan aroma uap panas.
Namun, roda nasib di sisi lain berputar dengan sangat cepat dan mengerikan.
Hanya dua minggu setelah peristiwa yang menimpa Raffa, usaha kontraktor Pakde Danu tiba-tiba diterpa musibah bertubi-tubi. Dua armada truknya mengalami kecelakaan hebat dalam hari yang sama di tempat terpisah. Proyek-proyek besarnya mendadak dibatalkan tanpa alasan jelas. Dan yang paling mengerikan, kesehatan tubuh Danu merosot drastis hanya dalam hitungan hari.
Ia mulai mengidap penyakit aneh yang tidak bisa dijelaskan secara medis. Kulit di sekujur tubuhnya—mulai dari punggung hingga ke kaki—mendadak melepuh dan melepuk seperti disiram air panas, mengeluarkan nanah busuk yang baunya menusuk hidung. Dokter spesialis mana pun yang didatangi tidak mampu menemukan bakteri atau penyebab medis di balik pembusukan kulit tersebut.
Pada suatu malam Jumat Kliwon, Pak Hardo mendatangi rumah megah milik Danu yang kini sepi dan mencekam. Di dalam kamar yang berbau hanyir dan bangkai, Danu terbaring lemah di atas kasur berlaporkan kain putih yang sudah bernoda nanah. Tubuhnya kurus kering, tinggal tulang terbalut kulit yang mengelupas parah.
Melihat mertua sekaligus kakek dari keponakannya masuk, Danu menangis meraung-raung. Tangisannya bukan lagi suara manusia gagah beruang, melainkan jeritan keputusasaan dari jiwa yang tersiksa.
"Bapak... ampuni saya, Pak..." rintih Danu dengan suara serak, terputus-putus. Air matanya menetes merembahi luka melepuh di pipinya. "Saya khilaf, Pak... Saya gelap mata..."
Pak Hardo duduk di kursi kayu di samping ranjang, menatap pria yang dulu begitu diagungkan karena kekayaannya itu. "Kenapa kamu tega, Danu? Kenapa harus anak kecil yang tidak tahu apa-apa? Kenapa harus Raffa?"
Danu menutup wajahnya dengan jemarinya yang mulai membusuk.
"Iblis itu meminta syarat tambahan, Pak... Kekayaan saya mau dicabut kalau saya tidak memberi darah dari kerabat sendiri dalam kurun waktu satu tahun..." Danu terisak histeris. "Empat ipar saya... tiga teman saya... mereka semua sudah saya serahkan melalui uang dan makanan... Tapi iblis itu masih minta satu lagi... Dia minta nyawa anak kecil yang masih suci... Saya... saya kasih Raffa makanan sore itu buat menandai jiwanya..."
Danu meraung memukul-mukul dada tebalnya yang melepuh.
"Tapi Raffa tidak mati, Pak! Panci itu... panci itu memang dipindahkan oleh mereka... tapi Allah masih melindungi budak kecil itu! Dan sekarang... sekarang mereka datang menagih JANJI SAYA! Setiap malam mereka mencakar kulit saya, Pak! Sakit! PANASSS!"
Pak Hardo memejamkan mata rapat-raptan. Air mata orang tua itu menetes pelan. Bukan hanya karena sedih, tapi juga rasa kasihan yang mendalam melihat betapa hancurnya harga diri dan akhir hidup seorang manusia yang menjual akidahnya demi harta duniawi yang fana.
"Tidak ada harta yang sepadan dengan neraka yang kamu ciptakan sendiri di dunia ini, Danu," kata Pak Hardo pelan, suaranya sarat akan penyesalan dan kepasrahan. "Bertobatlah... memohon ampunlah pada Allah selagi napasmu belum diujung leher. Lepaskan semua pesugihan busuk itu."
"Sudah terlambat, Pak... Mereka tidak mau pergi... Harta saya habis, tubuh saya busuk, dan jiwa saya sudah disewakan..." jerit Danu lagi, memeluk lututnya di atas kasur.
Seminggu kemudian, Pakde Danu meninggal dunia dalam kondisi yang sangat mengenaskan. Seluruh harta bendanya habis terjual untuk membiayai pengobatan dan membayar utang proyek yang terbengkalai. Rumah megahnya disita, meninggalkan keluarganya dalam kemiskinan dan rasa malu yang mendalam.
Kejadian di rumah Bantul itu hingga kini tetap menjadi misteri yang tak terpecahkan secara akal sehat. Bagaimana bisa sebuah panci raksasa berisi air mendidih penuh berpindah dari atas kompor dapur yang tinggi menuju ruang tamu tanpa suara, tanpa ceceran air, dan tanpa ada orang yang memindahkannya?
Namun bagi keluarga Mbak Tutik dan warga setempat, peristiwa itu meninggalkan satu pelajaran berharga yang terpatri abadi:
Pesugihan dan persekutuan dengan iblis adalah jalan semu yang hanya menawarkan kemewahan sesaat dengan harga kemanusiaan, keselamatan, dan keimanan. Harta yang didapat dari jalan hitam tidak akan pernah membawa keberkahan; ia hanya menunggu waktu untuk menagih bayaran—baik dalam bentuk darah orang-orang tersayang, maupun kehancuran jiwa si pelaku sendiri di dunia dan akhirat.
Kini, setiap kali Raffa—yang telah tumbuh dewasa dengan bekas luka parut di punggungnya—melihat uap air mendidih, ia selalu teringat akan keajaiban perlindungan Tuhan. Sebuah bukti nyata bahwa sedahsyat apa pun tipu daya iblis dan serakahnya manusia, benteng doa dan kesucian seorang anak kecil mampu menumbangkan persekutuan ilmu hitam yang paling kelam sekalipun.