Pipiku bersemu merah, hanya karena mendengar Pak Harsa menyebutkan nama lengkapku dengan benar.
Zoy-yah Eyr-gloh ih-van-juh-leen. Ribet ngga kalian denger pronunciation namaku? Sebenarnya tulisannya begini. Zoya Aerglo Evangeline. Simpel kan? Tapi bacanya tidak saklek seperti itu.
Kata Ayah, jika pronoun nya beda, maka artinya beda. Oke baiklah. Kalau begitu, cukup panggil Aku Zoya.
"Terimakasih sudah memanggil nama saya dengan benar, Pak".
Maju mundur Aku memikirkan kalimat yang tepat.
"Tidak masalah. Bapak harus tanya ke AI dulu loh. Kalau salah, harus belajar sama Kamu ini !".
Beliau tersenyum jenaka. Membuat pipiku lagi - lagi bersemu merah.
Dari belasan guru yang ada di sekolahku, hanya beliau yang berusaha mencari tahu pronounc namaku. Aku boleh bahagia kan?
Jujur, Aku suka ke Pak Harsa. Aku suka namanya. Namanya seperti mantra yang menuntunku untuk menyukainya.
Zayn Harsa Adhitama. Namanya setampan rupanya.
Harsa adalah titisan nyata dari CEO yang terkenal di novel - novel romantis. Dan Aku merasa beruntung, bisa bertemu dengannya.
Suatu hari, Aku bercerita ke Ayah, kalau Aku suka bersekolah di sekolah baruku. Dan Ayah penasaran kenapa bisa begitu. Dan Aku secara terbuka mengatakan karena ada guru tampan di sana. Dan kalian tahu? Ayah sampai rela merelakan satu harinya untuk terlambat masuk ke kantor, hanya demi mengantar Aku dan melihat guru tampan yang disukai oleh anaknya ini.
Ayah bilang : "Biasanya sesuatu yang indah mempunyai duri, Apakah anak ayah sudah tahu dia mempunyai duri atau tidak?".
Aku tidak paham maksud Ayah. Namun, mendengar kata "duri", mungkinkah maksud Ayah, Aku harus berhati - hati? Mungkin begitu. Itu yang ku pahami selama beberapa bulan setelahnya.
Hingga suatu hari, Pak Harsa cuti tidak masuk mengajar karena alasan istrinya sedang sakit.
Istri?
Kalian tahu, mendengar kata istri disebutkan, hatiku langsung pecah.
Aku langsung menelpon Ayah, dan menangis kepadanya.
"Ayah, Dia mempunyai istri. Apakah Aku tidak boleh menyukainya lagi? Hibur Aku, Ayaaah.. ".
Sambil sesegukan, Aku mendengar suara Ayah di seberang telepon.
"Siapa yang bilang kamu tidak boleh menyukainya? Tentu saja boleh, hanya saja, Kamu tidak boleh melukai dirimu sendiri. Kamu sekarang paham maksud Ayah waktu itu kan? Dia mempunyai duri yang menjaganya..".