New York City, 2026.
Lima bulan telah berlalu.
Marcus Vance—Mantis Strike—sudah bukan lagi teknisi magang yang kebetulan hidup. Ia kini jago MMA, sangat terlatih, dan kekuatan Bio-Electronic Integration di tubuhnya meningkat tajam. Dunia di matanya semakin lambat. Orang-orang di jalan terlihat hampir tidak bergerak. Pukulannya sekarang jauh lebih besar, lebih presisi, lebih mematikan. Setiap kali ia menggunakan kekuatan itu, tubuhnya membakar kalori dengan gila-gilaan. Setelah latihan atau pertarungan, Marc selalu istirahat dan makan dalam jumlah besar—roti, daging, nasi, apa saja—hanya untuk mengisi ulang energi.
Sementara itu, di sisi lain kota, seseorang yang seharusnya sudah mati duduk di kursi kulit hitam di lantai atas sebuah gedung yang baru saja dibuka kembali. Namanya Julian Cross, 45 tahun. CEO perusahaan yang dulu mengembangkan Exo-Mantis. Ia selamat dari tragedi malam beberapa bulan lalu. Sekarang ia kembali, dan perusahaan itu bernama Cross Technologies. Julian adalah pencipta asli proyek Exo-Mantis. Sifatnya licik, manipulatif, dan memiliki pengaruh politik yang sangat besar. Tujuannya sekarang sederhana: memburu siapa saja yang masih mengetahui kejadian malam itu… dan menghapus mereka.
Marc sedang berjalan di lorong sempit Brooklyn ketika tiba-tiba dikepung. Para pemburu bayaran muncul dari segala arah—bersenjata lengkap, bergerak cepat, tapi di mata Marc mereka seperti bergerak di dalam air kental. Ia menghindari tembakan dengan mudah, lalu membalas. Kepalan tangan mekanisnya menghantam dada, leher, dan lutut mereka satu per satu. Dalam waktu singkat, semua pemburu itu tumbang. Tidak ada yang tersisa berdiri.
Marc penasaran. Siapa yang mengirim mereka?
Saat ia mulai mencari informasi, berita muncul di mana-mana. “Dicari: Marcus Vance, kriminal berbahaya.” Foto wajahnya tersebar. Yang membuat berita itu adalah Julian Cross—pengaruh politiknya cukup untuk mengubah Marc menjadi buronan dalam hitungan jam.
Polisi mengepung rumah Marc malam itu juga. Lampu biru-merah memenuhi jalan. Marc langsung mengenakan kostum hijau tuanya. Dengan kepintaran dan gaya bertarung MMA yang sudah terasah, ia keluar. Ia tidak membunuh polisi, hanya membuat mereka tidak sadarkan diri—pukulan ke titik-titik vital, tendangan yang menjatuhkan, gerakan yang terlalu cepat untuk diikuti. Dalam hitungan menit, kepungan itu retak. Marc kabur.
Ia mencari lokasi Julian. Tidak sulit. Cross Technologies berdiri megah di Long Island, di tempat yang dulu pernah menjadi reruntuhan. Marc datang malam itu. Anak buah Julian menghalangi di setiap lantai. Marc meratakan mereka semua dalam beberapa detik. Tubuh-tubuh jatuh seperti boneka. Tidak ada yang sempat menarik pelatuk kedua kali.
Akhirnya ia sampai di kantor puncak. Julian Cross berdiri di belakang meja besar, dada terbuka. Di dadanya tertanam sebuah chip reaktor yang berdenyut biru terang—The Apex Core. Alat itu bisa mengeluarkan tenaga listrik yang sangat besar.
“Kau seharusnya mati malam itu,” kata Julian, senyum liciknya melebar.
Marc tidak menjawab. Ia langsung menyerang.
Pertarungan sengit. Julian menggunakan Apex Core. Kilatan listrik biru menghantam dinding, lantai, bahkan tubuh Marc. Tapi saraf Marc sudah terhubung dengan sisa Exo-Mantis. Ia melihat setiap gerakan Julian melambat. Ia menghindari, membalas, dan menghancurkan. Pukulan demi pukulan menembus pertahanan listrik itu. Akhirnya kepalan tangan mekanis Marc menembus dada Julian, menghancurkan The Apex Core sekaligus jantungnya.
Julian Cross mati tanpa ampun.
Marc berdiri di tengah kantor yang berasap, napasnya berat. Tubuhnya lapar lagi. Ia keluar dari gedung.
Di luar, di bawah hujan gerimis New York, ada seseorang yang berdiri diam tepat di depannya.
Tamat.