New York City, 2026.
Damian Sterling berdiri diam di atas atap sebuah gedung tua di Hell’s Kitchen. Usianya 25 tahun. Matanya buta total. Namun di dalam kepalanya, kota ini bukan kegelapan. Gelombang suara yang ia pancarkan dan pantulkan membentuk visualisasi 3D berwarna biru neon—setiap sudut, setiap gerakan, setiap getaran udara terbaca jelas.
Sifatnya sangat tenang, filosofis, metodis, dan tidak banyak bicara. Ia peduli pada kondisi orang lain, jauh lebih dari yang ia tunjukkan.
Flashback.
Damian Sterling adalah anak yatim piatu yang tumbuh di kawasan keras Hell’s Kitchen. Sejak remaja kecerdasannya di atas rata-rata. Cita-citanya sederhana: menjadi pengacara dan menegakkan keadilan lewat hukum.
Usia 20 tahun, saat magang di firma hukum kecil, ia menemukan dokumen korupsi massal. Cross Technologies milik Julian Cross terlibat, bersama beberapa pejabat kepolisian New York. Malam itu juga, rumahnya dibakar oleh pembunuh bayaran kiriman Julian.
Damian terjebak di dalam api. Zat kimia berbahaya dari bahan bangunan yang terbakar mengenai matanya, menghancurkan saraf penglihatannya secara permanen. Dunia mengira ia mati atau menyerah.
Tapi di dalam kegelapan total, otaknya beradaptasi secara ekstrem. Pendengaran, penciuman, dan perabaannya menjadi hiper-sensitif. Selama tiga tahun berikutnya Damian mengasingkan diri. Ia melatih tubuhnya tanpa ampun, menguasai metode ekolokasi. Ia belajar merasakan getaran udara dari setiap objek. Di kepalanya, New York berubah menjadi peta biru neon yang hidup.
Ia juga menciptakan sepasang tongkat taktis khusus. Alat itu mampu memancarkan dan memanipulasi frekuensi suara serta getaran kinetik.
Dari abu, Damian Sterling lahir kembali sebagai Blindspot.
Masa sekarang.
Kostum putih-hitamnya melekat di tubuh. Malam itu Damian membantu beberapa warga yang diganggu preman di lorong sempit. Setelah selesai, ia mendengar kabar: Cross Technologies dibuka kembali.
Tanpa banyak bicara, ia langsung pergi ke sana.
Di perjalanan, instingnya menangkap sesuatu. Seorang pembunuh bayaran—orang yang sama yang dulu membakar rumahnya dan membuatnya buta—sedang mengintai. Damian tidak ragu. Tongkat taktisnya bergetar. Frekuensi suara dan getaran kinetik menghantam lawan. Pertarungan singkat. Damian menang. Pembunuh bayaran itu tumbang tanpa sempat berteriak.
Sesampainya di lokasi Cross Technologies, Damian berhenti. Ruangan di dalam sangat hancur lebur, seolah baru saja diserang. Bau asap, darah, dan listrik masih terasa kuat.
Tiba-tiba seseorang keluar dari kantor puncak.
Damian langsung menyerang.
Orang itu bergerak dengan gaya MMA yang tajam dan praktis. Pukulan dan tendangannya cepat, keras, dan efisien. Damian tidak menyerah. Dengan tekad membara ia terus menekan, memaksa lawan bergerak, memaksa tubuhnya kelelahan. Tongkat taktisnya memantulkan getaran yang mengganggu keseimbangan.
Akhirnya lawan itu berhenti. Napasnya berat.
“Marcus Vance,” katanya sinis. “Umur 22.”
Marc menatap ke arah Damian (meski Damian tidak bisa melihat wajahnya). “Orang buta kok nekat bertarung. Cocoknya di rumah aja.”
Damian menjawab dengan tenang, suaranya datar. “Keadilan tidak butuh mata. Hanya butuh tekad.”
Marc mendengus. Ia muak. “Omong kosong.” Lalu ia pergi tanpa menoleh lagi.
Damian masuk ke kantor Julian. Ia merasakan setiap sudut ruangan. Tidak ada hawa Julian Cross. Hanya sisa kehancuran dan bau listrik yang masih menempel.
Tidak lama kemudian polisi datang. Mereka menuduh Damian sebagai pembunuh Julian. Ia ditangkap, diadili. Namun di pengadilan, fakta bahwa ia buta total membuat tuduhan itu goyah. Tidak ada bukti yang cukup. Damian dinyatakan tidak bersalah dan dibebaskan.
Di luar gedung pengadilan, Damian berdiri diam. Ia penasaran pada Marcus Vance. Pada masalah yang melibatkan Cross Technologies di masa lalu.
Menurutnya, Marc adalah orang yang egois. Meski ia tidak pernah melihat wajahnya, Damian yakin wajah itu pasti sangat menyebalkan… dan egois.
Tamat.