New York City, 2027.
Damian Sterling—Blindspot—berlari di atas atap-atap gedung. Usianya kini 26 tahun. Di depan, seorang perampok bank mencoba kabur dengan membawa tas berisi uang. Damian tidak banyak bicara. Tongkat taktisnya bergetar, memancarkan frekuensi suara yang mengacaukan keseimbangan lawan. Dalam sekejap, perampok itu tumbang. Polisi datang beberapa menit kemudian dan menangkapnya.
Keesokan harinya, berita menyebar. Ada penjahat lain yang juga merampok bank malam itu: Dr. Silas Thorne, alias Vortex. Damian penasaran. Ia mulai mencari informasi.
Dulu, Dr. Silas adalah ilmuwan yang baik dan suka membantu orang. Namun setelah dikhianati, ia berubah total. Obsesinya kini tertuju pada “tikus percobaan”. Proyek yang ia ciptakan bernama Silence Protocol—alat penghancur massal yang mampu menghancurkan seluruh dunia. Tujuannya sekarang: menjual proyek itu ke publik.
Damian memutuskan mencari Marcus Vance.
Di perjalanan, akhirnya mereka bertemu. Damian berbicara tenang tentang ancaman yang akan datang.
“Ini bukan soal satu kota,” katanya. “Silence Protocol bisa menghancurkan segalanya.”
Marc, kini berusia 23 tahun, hanya mendengus. “Omong kosong. Pahlawan kayak kamu pasti bisa sendiri. Buat apa repot-repot.”
Ia menatap ke arah Damian dengan sinis. “Orang buta cocoknya di rumah sakit. Bukan di jalanan. Bertarung? Jangan. Keadilan itu cuma omong kosong.”
Damian menjawab datar, “Di dunia ini, hanya orang kuat yang bisa menjadi pahlawan dan menyelamatkan dunia.”
Marc mengangkat bahu. “Kalau pahlawan tidak mampu, lebih baik mati saja.”
Damian menarik napas. “Kalau kau tidak ikut, terpaksa kita harus bertarung dulu.”
Mereka saling serang. Damian kewalahan sejak awal. Tubuh Marc mulai kelelahan karena membakar energi terlalu cepat. Melihat kesempatan itu, Damian memukul dengan tongkat taktisnya. Tapi Marc masih punya sisa tenaga. Dengan satu gerakan MMA yang tajam, ia menjatuhkan Damian.
Damian bangkit perlahan, lalu pergi. Di dalam kepalanya ia berpikir: orang se-egois dan se-sinis Marc tidak akan berguna.
Malam itu Damian menemukan Dr. Silas Thorne sedang menjual Silence Protocol di sebuah gudang tua. Pertarungan sengit terjadi. Damian tumbang. Silas mengejeknya dan menganggapnya remeh.
Tiba-tiba seseorang menyerang dari belakang.
Marcus Vance.
Meski egois dan sinis, Marc sedikit peduli. Ia sudah makan banyak kalori sebelumnya dan siap. Dengan gaya MMA yang jauh lebih berkembang, ia menjatuhkan Dr. Silas dengan cepat. Tapi tenaga yang ia keluarkan terlalu besar. Tubuhnya goyah.
Polisi datang. Damian segera membawa Marc pergi dari sana sebelum mereka dikepung.
Keesokan harinya, Damian datang ke rumah Marc. Ia berdiri di depan pintu dan berbicara pelan.
“Terima kasih.”
Marc hanya menjawab singkat, suaranya masih sinis tapi lebih tenang. “Sebaiknya kau istirahat. Pertarungan kemarin bukan mainan.”
Damian mengangguk. Di dalam hati ia paham: orang sekeras kepala, sesinis, dan se-egois Marcus Vance… ternyata punya sisi baiknya sendiri.
Tamat.