31 Desember 2020.
Ketika kau bisa menghitung berapa waktu menuju detik-detik pergantian tahun. Ketika pukul 11.50 malam, kau belum ingin tertidur. Kau ingin terus terjaga hingga tepat tengah malam. Kau menunggu untuk menyaksikan detik-detik pergantian ke tahun berikutnya.
Kayla juga begitu. Dia berdiri diam, sambil menatap kembang api di tangan kanannya. Dengan latar rumah tua yang beberapa bagiannya telah hangus menjadi puing-puing, Kayla sama sekali tidak takut. Wajahnya yang pucat pasi selalu datar tanpa ekspresi.
Sebentar dia mengalihkan pandangannya ke jalanan di depan halaman rumah yang dia pijak. Sesaat kemudian Kayla beralih menatap pengendara motor yang baru saja membunyikan klakson. Seolah dia menyapanya. Tapi pengendara motor itu tetap terus melaju, tanpa melihat bahkan melirik sedetik pun ke arah Kayla.
Kayla hanya diam. Memutar pandangannya ke kanan. Bersamaan dengan kepalanya menoleh perlahan, mengikuti pengendara itu berlalu.
Angin malam yang dingin berhembus, menerpa tubuh kecil Kayla. Memadamkan kembang api miliknya. Gadis kecil yang terlihat masih umur 9 tahun itu menatap kembang apinya yang telah padam.
Kayla membuang kembang apinya kemudian berbalik, menatap rumah tua. Dia berjalan dengan langkah kecilnya ke samping rumah, tepatnya ke sebuah pohon.
Di sana tergantung ayunan dari ban bekas. Tempat dulu sehari-harinya dia bermain. Perlahan dia naik kesana, duduk di ban usang yang kotor tak memperdulikan baju putihnya, dan mengayunkannya pelan. Kayla menunduk, menatap sebuah buku yang tergeletak di tanah.
Album kosong satu-satunya yang tersisa setelah api besar melahap rumahnya awal tahun yang lalu. Sosok lain datang menghampirinya, seorang malaikat maut. Wajahnya tak nampak di balik tudung jubah hitamnya. Di tangannya membawa sebuah sabit tajam.
Kayla tidak menatapnya, dia begitu membenci malaikat maut ini. Terlihat dari raut wajahnya sekarang.
"Aku benci tuhan!" Katanya.
"Kau membenci tuhan? Kau padahal ciptaannya." Balas malaikat maut. Kayla kembali terdiam. Pikiran anak kecil masih tetap sama. Tak tahu harus jawab apa.
"Kau masih saja Kayla yang dulu." Ujar malaikat maut.
Duar!
Pukul 00.00, langit malam penuh dengan kembang api. Ditambah suara terompet tahun baru memekakkan telinga selalu memeriahkan hari terakhir di bulan Desember.
Kayla menatap kembang api di langit. Tak ada kenangan hal yang indah di tahun ini. Dia hanya jadi gadis pembawa kembang api tahun ini.
"Ternyata sudah tahun baru. Semakin banyak aku akan mencabut nyawa manusia di bumi ini. Tuhan memang menciptakan ku begini, aku tak berdosa katanya. Tapi terkadang terasa bersalah, ketika orang terkasihnya menangis melihat mayat tak bernyawa." Kata malaikat maut. Mencurahkan isi hatinya di malam tahun baru.
Kayla menoleh ke halaman. Tiga orang datang ke depan rumahnya, lalu berdoa. Mereka adalah orang tua dan kakaknya yang selamat dari kebakaran. Wajah mereka nampak sedih, mengingat putri kecilnya tak sempat selamat hari itu.
"Lihat, mereka datang. Mendoakan yang terbaik untukmu di tahun baru ini. Aku mungkin akan bertanya pada tuhan, apa gadis kecil ini bisa berada di tempatnya?" Ujar malaikat maut sambil mengelus rambut hitam Kayla.
"Aku mau disini saja. Mau sama ayah, ibu, dan kakak." Sahut Kayla.
"Baiklah, aku akan sering-sering kesini, menemani mu kalau tidak sibuk." Kata malaikat maut. Bersamaan Kayla pun mulai tersenyum.
–=TAMAT=–