Mendung hitam pembawa uap air mulai berarak menyelimuti langit sebuah daerah pinggiran kota. Ibu-ibu menyelematkan jemuran, pedagang menyelamatkan dagangannya agar tidak terkena tampias hujan yang sepertinya sudah akan datang.
Sementara itu seorang gadis remaja kebingungan mencari adiknya yang sebelumnya bermain di depan rumah tapi kemudian menghilang begitu saja.
" Selly....Selly... Sally ?!"
Vania memanggil adiknya berumur 3 tahun itu bermain di sebuah taman. " Iya Kak..!" Sally berlari kecil mendatangi tempat Vania menunggu.
" Kamu kok nyampek sini sih dek ?"
" Tadi ada anak memanggil Kak, teman-temannya juga mengajak bermain bersama !" bulu kuduk Vania seperti berdiri dengan sendirinya tanpa diminta mendengar kata-kata Sally, padahal disana tidak terlihat anak kecil yang bermain, hanya ada beberapa orang dewasa.
" Anak kecil yang mana, tadi tidak ada ? Vania mengorek keterangan dari adiknya.
" Tadi banyak, terus waktu mendengar suara Kakak, mereka pergi ".
Vania terdiam mendengar ucapan adiknya, Sally memiliki kemampuan melihat mahluk dimensi lain seperti kakeknya.
" Jangan main jauh-jauh dari rumah Sally, Kakak hawatir kamu tersesat tidak bisa pulang ". Sally menganggukkan kepalanya tanda setuju sambil berjalan menuju rumah mereka yang berjarak 500 meter dari taman.
Keesokan harinya seperti biasa Vania pergi ke pasar berbelanja kebutuhan dapur ke pasar besar, dengan santai dia kemudikan motor hingga ke parkiran pasar, lalu naik di lantai dua pasar sayuran.
" Minta uangnya kak ! " Seorang anak berpakaian lusuh menengadahkan tangannya dekat tangga pasar. Vania merogoh sakunya dan memberikan padanya.
Vania bergegas menaiki tangga, dia sempat menoleh ke bawah tempat anak itu berdiri tapi sudah tidak ada. " mungkin dia sudah pindah tempat " pikir Vania .
Vania langsung menuju langganannya, saat dia berbelanja ada tangan anak kecil menggoyangkan tangan kirinya, dan menengadahkan tangan tanpa bicara, Vania faham bahwa anak ini minta uang.
" Tunggu sebentar ya..!" Kata Vania kepada anak yang sedang berdiri di sampingnya, sambil menerima uang kembalian, tapi setelah mau diberi uang anak itu sudah tak ada.
" Buk...lihat anak kecil yg disini tadi ?"
" Anak kecil mana mbak, dari tadi tidak ada anak kecil " , Vania merasa heran dan bingung padahal tadi jelas-jelas ada anak kecil meminta uang.
" Ah sudahlah !" Vania menghempaskan pikirannya sendiri dan melanjutkan belanja. Semua belanjaan sudah terbeli, waktunya pulang. Saat menuruni tangga, ternyata anak yg tadi memegang tangan Vania sudah ada disana bersama beberapa orang temannya.
" Adek..ini uangnya..." Mendengar suara Vania, anak-anak yang semula berdiri membelakangi Vania serempak menoleh, mereka tersenyum meskipun wajah mereka terlihat pucat. Anak itu menerima uang dari Vania, dan mengucapkan terima kasih.
Vania bergegas menuju tempat parkir, menaiki motornya menuju jalan pulang. Sesampainya di rumah Sally sudah tampak bermain bersama beberapa anak.
" Assalamualaikum.., aku datang !" Vania memasuki pintu dengan barang belanjaannya. " Hay adik....a..dik !!" Vania tercekat ketika melihat wajah anak-anak itu, ternyata mereka adalah anak-anak yang tadi dia temui di pasar.
Mereka tersenyum, tapi kali ini taring kecil muncul diantara gigi mereka. Vania terpana melihat pemandangan di depan matanya, dia kucek-kucek matanya dan kembali memandang, tapi mereka sudah lenyap tak terlihat.
" Tuh...kan,...suara Kak Vania membuat mereka takut dan membuat Sally sendirian !"
Vania masuk kedalam rumahnya, heran dengan kejadian yang sejak kemarin dia alami kemudian menceritakan ke ibunya.
" Mereka akan menampakkan diri kepada orang yang diinginkan Vania, ibu juga sering mereka temui ".