"Aku sudah menemuka tersangkanya" Ujar Sachiko. Seketika semua orang menoleh kearahnya. "Siapa?"
"Sebelum itu akan ku jelaskan kronologinya"
"Pertama, yaitu Yumeko Neko. Dia sendiri sedang mengadakan konser dua jam yang lalu. Tak tak mungkin ia memiliki waktu untuk membunuh korban. Kedua, ia sendiri memiliki hubungan yang baik dengan korban, dan tak memiliki alasan untuk membunuh sang korban"
"Jadi.. Yumeko tak bersalah?" Tanya orang orang.
"Kedua adalah rival sang korban yang bernama Mari Merry
(note: kemarin aku lupa letakin nama rival si korban, Gomen. Tapi udah ku review kok)
"A-aku?" Mari terkejut seolah dialah pelakunya.
"Ditempat kejadian ditemukan sebuah korek api. Dan diantara kalian bertiga, hanya Mari-san lah yang merokok. Namun, itu justu membuktikan bahwa Mari-san tak bersalah"
"Apa?!"
"Jika Mari-san membunuh sang korban lalu meninggalkan koreknya, pasti sekarang dia tak merokok"
"Ahh, kamu ini banyak omong siapa pelakunya?" Bentak Mitsuki yang sudah geram akan teka-teki yang Sachiko buat.
"Pelakunya adalah Managernya sendiri, Tuan Tachibana"
"A-aku?"
"Kamu mengatakan bahwa kamu sedang mengikuti rapat pukul 7 sampai pukul 9 dikota sebelah. Tak peduli jarak antar kota X ke kota Z dekat ataupun jauh. Tapi, dikarenakan sekarang sedang musim dingin, kendaraan tak diperbolehkan melaju lebih dari 80km/jam. Dalam artian, Tuan Tachibana membutuhkan waktu kisaran 15 menit untuk sampai ke TKP. Namun, ia datang tanpa telah sedikit pun."
"Lalu apakah itu pembunuhan berencana?"
"Terlihat jelas pada leher sang korban terdapat bekas cekikan. Yang artinya Tuan Tachibana membunuh sang korban hanya karena emosi sesaat. Menurut hasil autopsi, Setelah korban di cekik lalu di gantung, korban tidak langsung meninggal di tempat."
Sachiko menghentikan penjelasannya sebentar, tak lama seniornya Mitsuki selaku orang yang melakukan autopsi angkat bicara. "Berselang setelah korban meninggal. Jasadnya akan mengalami tahap pembusukan. Tahap pertama adalah dimana tubuh sang korban akan mengalami pembekuan, dimana otot otot mulai kaku."
"Tahap kedua biasanya di sebut Blood Polling. Ini adalah tahap dimana jaringan pembuluh darah, dan sel sel lainnya pecah. Hal ini menyebabkan tubuh sang korban berwarna biru dan terlihat lebam."
"BERHENTI! A-akulah pelakunya"
"Beberapa hari yang lalu ada seorang direktur yang menyukai Laina Lain. Ia meminta Laina untuk menemani dirinya selama satu malam penuh. Tapi teryata Laina tak mau. Direktur itu geram, dan akhirnya menyebarkan foto-foto Laina yang sebenarnya itu bukanlah ia yang sebenarnya, melainkan hanya editan"
"Hal itu mengakibatkan banyak perusahaan yang menolak kerja sama dengan Laina. Bingung harus bagaimana, aku meminta Laina datang kerumah direktur itu. Laina yang menolak keras pun membuat aku marah. Dan tanpa sengaja aku mencekiknya hingga tewas" Jelas Tuan Tachibana. Tubuhnya menjadi lemas, ia menyesal akan perbuatannya itu.
"Baiklah, dengan ini ku nyatakan bawa kasus ini telah selesai."