Ingatkan akan gelak tawa yang telah mengenalkan memisahkan hingga mempertemukan kembali. Bukan oleh frekuensi atau anak siapa? Diantara kita yang menyinggung kedudukan diantara satu sama lainnya.
"Hamba menyanjungmu" Shock menggetarkan membuat tawa terhenti "Apa kau bilang? " meski kau tak mengulangnya aku telah menangkap moment itu, dalam potret bingkai kenangan melayang-layang.
"Kepada majikan tidak boleh begitu" mungkin kau kesal saat mendengar responku. Yeah aku Intan yang kau kenal selama ini. Yang kau ganggu disepagi ini, kau mengisuk melebihi embun-embun di dedaunan bantalku. Padahal akupun sangat sibuk kau seharusnya tau itu, hanya untuk mengucap selamat.
"Salam untuk keluargamu disana" mengikis gurat garis yang teebentuk lagi untuk tersenyum "Oh... Ya... Ya... Bolehlah, siapa saja? " ternyata kaupun masih ingat dan perhatian sungguh mencurigakan "Suami dan anakmulah".
Tak semudah itu aku membenarkan gurauan garing yang kau buat "Lantas apa lagi?" namun tiba-tiba kau tersedu meracik isak tangis yang tak kumengerti "Eheeheehek dan orang-orang yang tinggal dirumahmu" sebenarnya aku masih belum puas dengan jawaban itu.
"Apa kau sedang rasakan hal yang sama? " yang kutanyakan adalah ada apa kan gak enggak gitu kalau aku yang banyak tanya dan kenapa tiba-tiba seolah sengaja menjebak ingin membuatku menyesal.
Padahal kau tau aku akan merasa sedih cemas juga turut untuk sahabatku meskipun jauh karena kita satu ikatan saudara sekepercayaan. Nafas sedikit terhenti saat menelan ludah "Tingtung... " sungguh ini sangat menyedihkan, si kecilku menarik narik bajuku "Mimi mimi" sampai Haaah... dan kuterima rangkaian bunga mawar yang indah itu tersadarlah aku bahwa ini berasal dari kau, saat yang hampir bersaamaan namun aku menilainya tidak terlambat sehingga aku mampu mengikuti perlahan dan bersabar. Meletakkan diatas meja sebelah lukisan yang pernah kau hadiahkan pula.
"Kebersahajaan yang tak bisa diutarakan...apa kebahagian itu? " mengemut lidah dan mengelus dahi kepala. "Bahagia itu semua tentang orang yang dekat denganku" kenapa kau tak segera berbicara dan menutupinya, baiklah dulu memang aku yang mendekati dan menolak bukan kau. "Kebahagian semacam ketakutan" disitulah permulaan cerita panjang dari Mawar sahabatku yang tengah naik pangkat bergelimang surga dunia namun jauh mungkin lebih sulit lagi untuk menemuiku intan hanya rangkain bunga rapi merekah indah berbagi kebahagian singkat dengan rahasia. Akupun menutup telponnya dan mematikan lampu yang tengah tergantikan cahaya mentari yang tiada bisa tegantikan, kepercayaan telah menyampaikan pada pengetahuan yang terpuji "Waalaikumsalam... Cekrek".