Setelah mendengar permintaan Elias untuk tidur berempat, Nateya menatapnya tanpa ekspresi. Pandangannya teduh, tetapi suaranya dingin seperti air sumur tua yang tak lagi bergolak.
“Kalau kita tidur berempat, ranjangnya tidak akan muat,” balas Nateya datar, tanpa intonasi emosi sedikit pun.
“Jadi, supaya adil, malam ini aku tidur dengan Anelis di kamarku. Sedangkan Julian tidur denganmu, di kamarmu sendiri. Dengan begitu kita tetap bisa bersama anak-anak.”
Elias terdiam. Ia tahu, kata-kata itu bukan sekadar alasan praktis—itu adalah penolakan halus. Sebuah dinding sopan yang memisahkan mereka.Seruni telah belajar menata jarak dengan begitu anggun.
Meski begitu Elias tak ingin berdebat di depan anak-anak. Ia menarik napas panjang, menahan rasa kecewa yang mengganjal di tenggorokan.
“Kau benar, itu lebih adil.”
Tanpa berbasa-basi lagi, Elias menggandeng tangan Julian yang sudah menguap lebar.
“Ayo, Julian, kita tidur di kamar Papa.”
Julian mengangguk kecil, menoleh ke arah ibunya sambil melambai.
“Selamat malam, Mama. Selamat malam, Anelis.”
“Selamat malam, Sayang,” jawab Nateya lembut.
Langkah kaki Elias dan Julian perlahan menjauh di lorong panjang yang temaram. Suara pintu kamar di ujung koridor berderit, lalu sunyi.
Di kamar itu, Elias duduk di tepi ranjang, menatap putranya yang langsung terlelap dengan napas teratur. Wajah Julian tampak damai di bawah selimut putih, pipinya kemerahan karena lelah.
Rasa bersalah tiba-tiba menelusup dari sela ingatan. Dulu, berapa banyak malam ia pulang larut, membiarkan Seruni dan si kembar dalam kesepian.
Ia menengadah ke langit-langit, dengan kedua mata yang terbuka lebar.
“Apa Seruni sudah menyerah padaku?” gumamnya lirih.
Elias memejamkan mata, perasaannya semakin kacau balau.
Tidak. Ia tak mau menebak. Besok, ia harus bicara. Ia tidak sanggup lagi diperlakukan seperti orang asing.
Elias yakin kemarahan istrinya hanya bersifat sementara. Mungkin akibat Seruni terlalu cemburu pada Amara.
Asalkan dia terus memberi perhatian, Ser…
Istri Jenderal Yang Mencuri Hatinya
Siapa yang Kau Cintai, Seruni?
Download aplikasi untuk baca gratis cerita selengkapnya
Updated 137 Episodes
Comments
Imas Masripah
up lagi kk/Determined//Determined//Kiss/
2025-10-22
0
Siti solikah
ayo jawab yang jujur bi warti
2026-01-06
0
Ell
Idih idih idih
2026-03-19
0