Bab 3: Seni Dewa Naga Tertinggi

Feng Wuchen duduk bersila di atas ranjang.

Luka di tubuhnya memang sudah pulih, tetapi pikirannya justru jauh lebih kacau daripada sebelumnya.

Ingatan Dewa Naga Jahat terus bermunculan satu demi satu.

Teknik kultivasi.

Formasi.

Alkimia.

Pengalaman bertarung selama ribuan tahun.

Semakin banyak yang ia pahami, semakin sulit baginya mempercayai keberuntungan yang baru saja jatuh ke tangannya.

"Orang ini benar-benar monster..."

Feng Wuchen menarik napas panjang.

Ia tidak tahu mengapa Dewa Naga Jahat bisa tersegel di dalam tubuhnya.

Ia juga tidak tahu siapa sosok misterius yang menyebutnya sebagai Tuan Muda.

Namun untuk sekarang, semua itu bukan hal terpenting.

Kekuatan.

Itulah yang paling ia butuhkan.

Feng Wuchen mulai memilah berbagai teknik kultivasi yang tersimpan di dalam ingatan Dewa Naga Jahat.

Sebagian besar begitu rumit hingga mungkin membutuhkan puluhan tahun bagi kultivator biasa hanya untuk memahaminya.

Namun ada satu teknik yang langsung menarik perhatiannya.

Seni Dewa Naga Tertinggi.

Teknik utama milik Dewa Naga Jahat sendiri.

Di Benua Jiwa Surgawi, teknik bela diri umumnya terbagi menjadi empat tingkat: Kuning, Misterius, Bumi, dan Surga.

Masing-masing masih dibagi menjadi tingkat Rendah, Menengah, dan Tinggi.

Namun Seni Dewa Naga Tertinggi berada jauh melampaui semua itu.

Bahkan dalam ingatan Dewa Naga Jahat, teknik tersebut termasuk warisan yang sangat mengerikan.

Feng Wuchen tersenyum.

"Kalau begitu, kita mulai dari ini."

Ia kembali memejamkan mata.

Karena telah mewarisi pengalaman Dewa Naga Jahat, ia tidak perlu memahami teknik tersebut dari awal.

Jalur energi.

Cara bernapas.

Perputaran energi spiritual.

Semuanya sudah tertanam sempurna di dalam pikirannya.

Feng Wuchen segera mengedarkan Seni Dewa Naga Tertinggi.

Detik berikutnya—

Energi spiritual di dalam kamar bergerak.

Awalnya hanya sedikit.

Namun dalam beberapa tarikan napas, energi spiritual dari sekitar kediaman mulai mengalir ke arahnya seperti arus sungai.

Feng Wuchen membuka mata dengan terkejut.

"Secepat ini?"

Ia segera memejamkan mata kembali.

Energi spiritual terus memasuki tubuhnya.

Dibandingkan teknik kultivasi yang ia gunakan sebelumnya, kecepatannya hampir sepuluh kali lipat lebih cepat.

Jantung Feng Wuchen berdegup keras.

"Ini terlalu gila."

Jiwa Bertarung Tingkat Dua?

Bakat rendah?

Semua penghinaan yang ia dengar kemarin tiba-tiba terasa sangat jauh.

Dengan teknik seperti ini, keterbatasan bakat tidak lagi sesederhana yang mereka bayangkan.

Feng Wuchen terus berkultivasi.

Energi spiritual mengalir melalui meridiannya, lalu berkumpul di dalam Dantian yang baru saja pulih.

Waktu berlalu.

Satu jam.

Dua jam.

Tiba-tiba tubuh Feng Wuchen bergetar ringan.

Boom!

Sebuah penghalang di dalam tubuhnya pecah.

Tingkat Tiga Alam Tempa Tubuh.

Feng Wuchen membuka mata.

Ia terdiam beberapa saat.

"Dua jam..."

Ia menatap kedua tangannya.

Hanya membutuhkan dua jam untuk menembus satu tingkat kultivasi.

Jika kabar seperti ini tersebar, mungkin tidak ada seorang pun di Kota Wushuang yang akan percaya.

Bahkan Feng Wuchen sendiri masih merasa seperti sedang bermimpi.

Ia lalu tertawa pelan.

"Mo Ling'er."

Senyumnya berubah dingin.

"Jiwa Bertarung Tingkat Enam memang luar biasa."

"Tapi tunggu sampai aku mengejarmu."

Feng Wuchen kembali berkultivasi.

Ia tidak sadar bahwa cahaya keemasan tipis mulai muncul di permukaan kulitnya.

Sebuah pola samar berbentuk naga perlahan muncul di antara kedua alisnya.

Segel Naga.

Bersamaan dengan kemunculannya, aura Feng Wuchen mendadak berubah.

Lebih berat.

Lebih dalam.

Tubuhnya seperti sedang mengalami perubahan tanpa ia sadari.

Malam turun.

Feng Wuchen akhirnya membuka mata.

Aura di tubuhnya kembali meningkat.

Tingkat Empat Alam Tempa Tubuh.

Kultivasi yang sebelumnya jatuh akibat Dantiannya hancur kini sudah sepenuhnya pulih.

Bahkan kekuatannya terasa jauh lebih padat daripada sebelumnya.

Feng Wuchen mengepalkan tangan.

Krek!

Sendi jarinya berbunyi keras.

"Jauh lebih kuat."

Ia tersenyum puas.

Dalam satu malam, dirinya kembali dari Tingkat Dua ke Tingkat Empat Alam Tempa Tubuh.

Kecepatan semacam ini benar-benar berada di luar nalar.

Jika ditambah Cairan Spiritual atau pil kultivasi...

Feng Wuchen bahkan tidak berani membayangkan seberapa cepat dirinya bisa berkembang.

"Satu bulan."

Tatapannya menjadi tajam.

"Mo Ling'er, satu bulan sudah cukup."

Ia tidak ingin sekadar mengejar.

Ia ingin melampaui.

Ia ingin melihat sendiri ekspresi Mo Ling'er ketika orang yang kemarin disebut sampah berdiri jauh di atasnya.

Feng Wuchen baru saja hendak kembali berkultivasi ketika sebuah suara terdengar dari luar.

"Tuan Muda Ketiga."

"Masuk."

Pintu terbuka.

Xiaolan melangkah masuk.

"Tuan Muda, Akademi Tianyan sedang menerima murid baru hari ini."

Feng Wuchen mengangkat alis.

"Akademi Tianyan?"

Xiaolan mengangguk cepat.

"Semua keluarga besar sudah berada di panggung pengujian. Bahkan seorang tetua Akademi Tianyan datang langsung."

Feng Wuchen tersenyum tipis.

"Apa hubungannya denganku?"

Xiaolan terdiam.

Untuk masuk Akademi Tianyan, seseorang setidaknya harus membangkitkan Jiwa Bertarung Tingkat Lima.

Sedangkan Feng Wuchen hanya Tingkat Dua.

Namun melihat ekspresi tenang pemuda itu, Xiaolan malah merasa sedikit bingung.

"Tuan Muda..."

"Hm?"

"Anda benar-benar tidak apa-apa?"

Feng Wuchen tertawa kecil.

"Kenapa semua orang menanyakan hal yang sama?"

Xiaolan mengerucutkan bibir.

"Semua orang tahu hubungan Tuan Muda dan Mo Ling'er sejak kecil."

Ia berhenti sejenak.

"Setelah kejadian kemarin... kami semua khawatir."

Tatapan Feng Wuchen berubah sesaat.

Namun ia segera tersenyum.

"Yang kemarin sudah berlalu."

Xiaolan menghela napas lega.

"Baguslah."

Ia lalu berkata pelan, "Lagipula, sekalipun Mo Ling'er masuk Akademi Tianyan, bukan berarti dia akan selalu menjadi yang terhebat. Di sana pasti banyak orang yang lebih kuat."

Feng Wuchen terkekeh.

"Aku memang tidak tertarik pada Akademi Tianyan."

"Tapi karena di luar ramai..."

Ia bangkit.

"Ayo kita lihat."

Pusat Kota Wushuang benar-benar dipenuhi lautan manusia.

Hari ini Akademi Tianyan sedang memilih murid baru.

Setiap kota di Kekaisaran Api hanya mendapatkan dua kuota.

Satu kuota telah menjadi milik Mo Ling'er.

Satu lagi masih diperebutkan.

Di atas panggung, seorang tetua berjubah panjang duduk dengan tenang.

Belasan murid Akademi Tianyan berdiri di belakangnya.

Mo Ling'er berada di antara mereka.

Kehadirannya langsung menjadi pusat perhatian.

Bagi generasi muda Kota Wushuang, Akademi Tianyan adalah tempat berkumpulnya para jenius.

Masuk ke sana berarti status seseorang akan berubah total.

Feng Wuchen berjalan santai bersama Xiaolan.

"Ternyata memang ramai."

Xiaolan tersenyum.

"Karena Tetua Akademi Tianyan datang langsung."

Feng Wuchen mengangkat kepala.

Tatapannya segera bertemu dengan Mo Ling'er.

Mo Ling'er tertegun.

Ia menyangka Feng Wuchen masih terbaring dengan luka parah.

Namun pemuda itu kini berdiri dengan tenang.

Tidak pucat.

Tidak lemah.

Bahkan ekspresinya tidak menunjukkan sedikit pun sakit hati.

Tetua Akademi Tianyan yang duduk di atas panggung juga memperhatikan Feng Wuchen.

Tatapannya menyipit.

"Siapa pemuda itu?"

Patriark Keluarga Yang segera menjawab,

"Dia Feng Wuchen, Tuan Muda Ketiga Keluarga Feng."

Ia tersenyum tipis.

"Jiwa Bertarung yang dibangkitkannya hanya Tingkat Dua."

"Sampah."

Tetua itu justru mengerutkan kening.

"Sampah?"

Ia memperhatikan Feng Wuchen lebih lama.

Langkah pemuda itu stabil.

Tatapannya tenang.

Aura di tubuhnya juga tidak menunjukkan tanda-tanda seseorang yang baru saja hampir mati.

Semakin dilihat, semakin aneh.

Di bawah panggung, seseorang tiba-tiba berseru.

"Tunggu!"

Semua orang menoleh.

"Bukankah kemarin Dantian Feng Wuchen rusak?"

"Benar! Kultivasinya bahkan jatuh ke Tingkat Dua Alam Tempa Tubuh!"

Orang-orang mulai memperhatikan lebih teliti.

Beberapa kultivator langsung berubah ekspresi.

"Ini..."

"Tingkat Empat?"

"Dia sudah kembali ke Tingkat Empat Alam Tempa Tubuh?!"

Kerumunan seketika meledak.

"Mustahil!"

"Dalam satu malam?"

"Obat apa yang dimakan Keluarga Feng?!"

Tetua Akademi Tianyan akhirnya berdiri perlahan.

Tatapannya tertuju lurus kepada Feng Wuchen.

Mo Ling'er juga tidak mampu menyembunyikan keterkejutannya.

Kemarin Feng Wuchen menghancurkan Dantiannya sendiri.

Hari ini...

kultivasinya justru telah pulih sepenuhnya.

Feng Wuchen hanya berdiri di tengah kerumunan dengan wajah tenang.

Seolah kegemparan di sekelilingnya sama sekali tidak ada hubungannya dengan dirinya.

...----------------...

Bersambung......

Episodes
1 Bab 1: Pedang Pemutus Ikatan
2 Bab 2: Ingatan Dewa Naga Jahat
3 Bab 3: Seni Dewa Naga Tertinggi
4 Bab 4: Sampah yang Tak Bisa Disentuh
5 Bab 5: Tawaran yang Ditolak
6 Bab 6: Rahasia di Tubuh Tetua Su
7 Bab 7: Harga Sebuah Kesombongan
8 Bab 8: Gadis dari Benua Utama
9 Bab 9: Tiga Hari, Dua Tingkat
10 Bab 10: Ayahku Datang
11 Bab 11: Sekarang Giliran Mereka Memohon
12 Bab 12: Kesepakatan dengan Paviliun Wanbao
13 Bab 13: Jerat Mulai Mengencang
14 Bab 14: Satu Bulan Kemudian
15 Bab 15: Satu Pukulan Menjatuhkan Jenius
16 Bab 16: Tamu Istimewa Akademi Tianyan
17 Bab 17: Murid Kehormatan Akademi Tianyan
18 Bab 18: Tamparan Tak Terlihat
19 Bab 19: Naik Tingkat Lagi
20 Bab 20: Lima Juta Keping Emas
21 Bab 21: Sengaja Menaikkan Harga
22 Bab 22: Rahasia di Balik Utang Jutaan
23 Bab 23: Kekuatan yang Tertidur
24 Bab 24: Rahasia di Balik Qi Sejati
25 Bab 25: Salah Memilih Lawan
26 Bab 26: Saat Klan Mo Mulai Bergerak
27 Bab 27: Terobosan di Tengah Badai
28 Bab 28: Amarah Sang Patriak
29 Bab 29: Memaksa Klan Mo Mundur
30 Bab 30: Kota Wushuang Gempar
31 Bab 31: Serbuk yang Mengguncang Kota
32 Bab 32: Kalau Mau, Berlututlah
33 Bab 33: Nama Klan Feng Menggema
34 Bab 34: Perang Klan Dimulai
35 Bab 35: Darah Pertama dalam Perang Klan
36 Bab 36: Klan Huangfu Turun Tangan
37 Bab 37: Satu Tahun Perlindungan
38 Bab 38: Tubuh Tertinggi
39 Bab 39: Pertemuan dengan Mu Tianyun
40 Bab 40: Keributan di Rumah Lelang Tiandu
41 Bab 41: Satu Tempa Mengguncang Tiandu
42 Bab 42: Nama Master Feng Mengguncang Yunzhou
43 Bab 43: Satu Lawan Tiga
44 Bab 44: Aku Akan Membangun Duniaku Sendiri
Episodes

Updated 44 Episodes

1
Bab 1: Pedang Pemutus Ikatan
2
Bab 2: Ingatan Dewa Naga Jahat
3
Bab 3: Seni Dewa Naga Tertinggi
4
Bab 4: Sampah yang Tak Bisa Disentuh
5
Bab 5: Tawaran yang Ditolak
6
Bab 6: Rahasia di Tubuh Tetua Su
7
Bab 7: Harga Sebuah Kesombongan
8
Bab 8: Gadis dari Benua Utama
9
Bab 9: Tiga Hari, Dua Tingkat
10
Bab 10: Ayahku Datang
11
Bab 11: Sekarang Giliran Mereka Memohon
12
Bab 12: Kesepakatan dengan Paviliun Wanbao
13
Bab 13: Jerat Mulai Mengencang
14
Bab 14: Satu Bulan Kemudian
15
Bab 15: Satu Pukulan Menjatuhkan Jenius
16
Bab 16: Tamu Istimewa Akademi Tianyan
17
Bab 17: Murid Kehormatan Akademi Tianyan
18
Bab 18: Tamparan Tak Terlihat
19
Bab 19: Naik Tingkat Lagi
20
Bab 20: Lima Juta Keping Emas
21
Bab 21: Sengaja Menaikkan Harga
22
Bab 22: Rahasia di Balik Utang Jutaan
23
Bab 23: Kekuatan yang Tertidur
24
Bab 24: Rahasia di Balik Qi Sejati
25
Bab 25: Salah Memilih Lawan
26
Bab 26: Saat Klan Mo Mulai Bergerak
27
Bab 27: Terobosan di Tengah Badai
28
Bab 28: Amarah Sang Patriak
29
Bab 29: Memaksa Klan Mo Mundur
30
Bab 30: Kota Wushuang Gempar
31
Bab 31: Serbuk yang Mengguncang Kota
32
Bab 32: Kalau Mau, Berlututlah
33
Bab 33: Nama Klan Feng Menggema
34
Bab 34: Perang Klan Dimulai
35
Bab 35: Darah Pertama dalam Perang Klan
36
Bab 36: Klan Huangfu Turun Tangan
37
Bab 37: Satu Tahun Perlindungan
38
Bab 38: Tubuh Tertinggi
39
Bab 39: Pertemuan dengan Mu Tianyun
40
Bab 40: Keributan di Rumah Lelang Tiandu
41
Bab 41: Satu Tempa Mengguncang Tiandu
42
Bab 42: Nama Master Feng Mengguncang Yunzhou
43
Bab 43: Satu Lawan Tiga
44
Bab 44: Aku Akan Membangun Duniaku Sendiri

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!