Bab 5: Tawaran yang Ditolak

"Feng Wuchen! Bukankah tindakanmu terlalu kejam?!"

Yang Tiansen menatap lengan Yang Bufan yang terkulai dengan wajah gelap.

Tulangnya patah.

Tanpa bantuan alkemis tingkat tinggi, cedera seperti itu bisa meninggalkan cacat seumur hidup.

Feng Wuchen justru turun dari panggung dengan tenang.

"Dia yang menantangku."

Ia menatap Yang Tiansen.

"Dan sejak serangan pertama, setiap pukulannya mengarah ke bagian vital. Semua orang di sini memiliki kultivasi lebih tinggi dariku. Jangan bilang kalian tidak melihat niatnya."

Feng Wuchen tersenyum tipis.

"Aku hanya mematahkan lengannya. Menurutku itu sudah cukup murah hati."

"Feng Wuchen!"

Yang Tiansen mengepalkan tangan.

Sedikit niat membunuh muncul dari matanya.

Tetua Agung Keluarga Yang bahkan langsung melangkah maju.

"Berani sekali kau melukai putraku!"

Aura kuat meledak dari tubuhnya.

Namun sebelum ia sempat melakukan apa pun—

Boom!

Tekanan yang jauh lebih dahsyat menyapu arena.

Feng Zhengxiong berdiri di depan putranya.

"Aku ingin melihat siapa yang berani menyentuh Chen'er."

Wajah Patriark Keluarga Yang berubah kaku.

Feng Zhengxiong sudah berada di Tingkat Sembilan Alam Transformasi Qi. Di Kota Wushuang, hanya Patriark Mo yang mampu menandinginya secara langsung.

"Keluarga Feng!"

Tetua Agung Keluarga Yang menggertakkan gigi.

"Mulai hari ini, semua hubungan bisnis antara Keluarga Yang dan Keluarga Feng berakhir!"

Feng Zhengxiong mendengus.

"Kalau Keluarga Yang berani menyentuh sehelai rambut putraku, aku tidak keberatan mengakhiri lebih dari sekadar hubungan bisnis."

Suasana seketika menegang.

Namun Yang Tiansen tiba-tiba maju.

"Feng Wuchen!"

Ia menunjuk ke arah lawannya.

"Aku menantangmu."

"Berani menerima?"

Feng Zhan langsung tertawa dingin.

"Yang Tiansen, kau masih punya muka?"

"Adikku baru Tingkat Empat Alam Tempa Tubuh, sedangkan kau Tingkat Delapan."

Ia melangkah maju.

"Kalau ingin bertarung, lawan aku."

Wajah Yang Tiansen berubah.

Feng Zhan sudah berada di Alam Pemurnian Qi.

Melawannya jelas bukan pilihan yang bijak.

Namun sebuah suara justru terdengar dari samping.

"Aku terima."

Semua orang menoleh.

Feng Wuchen berdiri dengan wajah tenang.

"Chen'er!"

Xiao Qingqing langsung panik.

Namun Feng Wuchen mengangkat satu tangan.

"Aku punya satu syarat."

Tatapannya tertuju kepada Yang Tiansen.

"Beri aku satu bulan."

Arena langsung ramai.

Yang Tiansen terdiam sesaat sebelum tertawa.

"Satu bulan?"

"Kuberi tiga bulan pun kau tidak akan sanggup menandingiku."

Ia menyeringai.

"Dengan Jiwa Bertarung Tingkat Dua, kau bahkan belum tentu bisa mencapai Tingkat Enam."

Feng Wuchen hanya menjawab,

"Satu bulan sudah cukup."

Mo Ling'er yang sejak tadi diam akhirnya mendengus.

"Feng Wuchen, jangan terlalu tinggi menilai dirimu sendiri."

Feng Wuchen bahkan tidak menoleh.

"Urus saja dirimu."

Ekspresi Mo Ling'er langsung membeku.

Sikap acuh Feng Wuchen jauh lebih mengganggunya dibanding kemarahan.

Beberapa orang mulai berbisik.

"Satu bulan melawan Yang Tiansen?"

"Mustahil."

"Tapi dia baru saja mengalahkan Yang Bufan..."

"Yang Bufan hanya Tingkat Enam. Yang Tiansen berbeda."

Feng Wuchen tidak memedulikan semua itu.

Ia justru menatap Tetua Su.

"Tetua Su, sesuai kesepakatan, kuota Yang Bufan sekarang milik Lin You."

Tetua Su mengangguk.

"Tentu."

Di bawah panggung, Lin You masih terlihat tidak percaya.

Tetua Su kemudian bertanya,

"Tapi aku penasaran."

"Kenapa kau menyerahkannya kepada orang lain?"

Feng Wuchen menjawab tanpa ragu.

"Karena Lin You satu-satunya temanku di Kota Wushuang."

Ia tersenyum kecil.

"Dan bukankah aku hanya memiliki Jiwa Bertarung Tingkat Dua? Aku tidak memenuhi syarat masuk Akademi Tianyan."

Tetua Su menatapnya beberapa saat.

Lalu tersenyum.

"Kalau begitu bagaimana jika aku menambah satu kuota?"

Kerumunan langsung terdiam.

Feng Wuchen mengangkat alis.

Tetua Su melanjutkan,

"Aku memberimu kesempatan masuk Akademi Tianyan."

Boom!

Arena seketika meledak oleh kegaduhan.

"Apa?!"

"Tetua Su mengundang Feng Wuchen?"

"Bukankah syaratnya minimal Jiwa Bertarung Tingkat Lima?"

Xiao Qingqing langsung tersenyum bahagia.

"Chen'er! Cepat berterima kasih!"

Feng Zhengxiong juga tertawa lebar.

"Bagus! Bagus sekali!"

Feng Yuan dan Feng Zhan ikut merasa lega.

Namun wajah Keluarga Mo dan Keluarga Yang berubah buruk.

"Kenapa Feng Wuchen?"

"Kalau ada tambahan kuota, Yang Tiansen jauh lebih layak!"

"Dia hanya memiliki Jiwa Bertarung Tingkat Dua!"

Tetua Su tidak menanggapi.

Tatapannya tetap tertuju kepada Feng Wuchen.

Kemampuan membaca gerakan lawan tadi bukan sesuatu yang bisa dimiliki hanya dengan keberuntungan.

Ia ingin melihat seberapa jauh pemuda itu bisa berkembang.

Namun jawaban Feng Wuchen membuat semua orang terdiam.

"Terima kasih atas kebaikan Tetua Su."

Ia memberi hormat ringan.

"Tapi aku tidak berminat masuk Akademi Tianyan."

Sunyi.

Bahkan Tetua Su sempat mengira dirinya salah dengar.

"Apa?"

Feng Zhengxiong menatap putranya seperti melihat orang asing.

"Chen'er! Apa kau sudah gila?"

"Tahukah kau berapa banyak orang yang bermimpi mendapat kesempatan seperti ini?"

Feng Wuchen tetap tenang.

"Ayah, aku sudah memutuskan."

Keluarga Mo dan Keluarga Yang langsung tersenyum mengejek.

Bagi mereka, Feng Wuchen jelas sudah kehilangan akal sehat.

Tetua Su justru semakin penasaran.

"Boleh aku tahu alasannya?"

"Tidak ada alasan khusus."

Tetua Su mengerutkan kening.

Setelah berpikir sejenak, ia kembali berbicara.

"Kalau masalahnya karena kau tidak ingin menjadi murid biasa..."

Ia berhenti sesaat.

"Aku bisa menerimamu sebagai murid langsung."

Kali ini kehebohan jauh lebih besar.

Murid langsung seorang tetua Akademi Tianyan!

Bahkan Mo Ling'er menoleh cepat.

Wajahnya berubah.

Kesempatan seperti itu tidak pernah ia dapatkan.

"Chen'er!"

Feng Zhengxiong hampir tidak tahan lagi.

"Cepat terima!"

Lin You bahkan ikut berteriak dari bawah panggung.

"Kakak Feng, cepat setujui!"

Namun Feng Wuchen tetap menggeleng.

"Tetua Su, aku menghargai niat baik Anda."

"Tapi aku lebih memilih berkultivasi sendiri."

Tetua Su terdiam.

Kemudian Feng Wuchen menatap wajahnya lebih saksama.

Tatapannya berubah sedikit serius.

"Selain itu..."

"Anda sebaiknya tidak terlalu lama berada di luar."

Tetua Su mengangkat alis.

"Apa maksudmu?"

Feng Wuchen menjawab pelan,

"Racun dingin di dalam tubuh Anda sudah mulai menyerang meridian."

Senyum Tetua Su langsung menghilang.

"Jika tidak segera dibersihkan..."

Feng Wuchen berhenti sejenak.

"Dalam waktu setengah bulan, nyawa Anda mungkin tidak bisa diselamatkan."

Suasana arena membeku.

Beberapa orang bahkan lupa bernapas.

Lalu kegaduhan meledak.

"Feng Wuchen!"

"Berani sekali dia mengutuk Tetua Su!"

"Suruh dia berlutut!"

Mo Ling'er langsung melangkah maju.

"Feng Wuchen, kau sudah keterlaluan!"

Feng Zhengxiong juga berubah pucat.

"Chen'er! Jangan bicara sembarangan!"

Namun Feng Wuchen tidak menunjukkan sedikit pun rasa takut.

Feng Qianyang justru mengerutkan kening.

"Racun dingin?"

Sebagai alkemis, ia tidak merasakan sesuatu yang aneh pada tubuh Tetua Su.

Para anggota Keluarga Mo dan Keluarga Yang segera memanfaatkan situasi.

"Patriark Feng, sebaiknya putramu segera berlutut dan meminta maaf!"

"Menyinggung Tetua Su bukan masalah kecil!"

"Benar! Berlutut!"

Feng Wuchen memandang mereka dengan senyum tipis.

"Berlutut?"

"Untuk apa?"

Tatapannya beralih dari satu orang ke orang lain.

"Kalian sebenarnya marah karena aku menghina Tetua Su..."

"...atau karena berharap kuota ketiga jatuh ke keluarga kalian?"

Beberapa wajah langsung berubah.

Feng Wuchen tertawa kecil.

"Dunia ini memang menarik."

"Begitu melihat keuntungan, semua orang mendadak berubah menjadi orang paling setia."

Mo Qianshan mendengus dingin.

"Feng Zhengxiong, beginikah caramu mendidik putramu?"

"Dia bahkan berani tidak menghormati Tetua Su!"

Feng Wuchen menoleh kepadanya.

"Patriark Mo sangat mengkhawatirkan konsekuensinya."

Ia tersenyum.

"Kalau begitu, bagaimana kalau kau sendiri yang menjelaskan padaku?"

Tatapan Mo Qianshan langsung dingin.

Namun sebelum ia sempat menjawab—

"Diam."

Suara Tetua Su terdengar.

Tidak keras.

Tetapi seluruh arena langsung sunyi.

Tetua Su tidak melihat siapa pun.

Matanya hanya tertuju kepada Feng Wuchen.

Untuk pertama kalinya sejak tiba di Kota Wushuang, wajah tetua itu kehilangan ketenangannya.

Karena tidak ada seorang pun di tempat ini yang tahu...

bahwa racun dingin memang telah bersembunyi di dalam tubuhnya selama bertahun-tahun.

...----------------...

Bersambung......

Episodes
1 Bab 1: Pedang Pemutus Ikatan
2 Bab 2: Ingatan Dewa Naga Jahat
3 Bab 3: Seni Dewa Naga Tertinggi
4 Bab 4: Sampah yang Tak Bisa Disentuh
5 Bab 5: Tawaran yang Ditolak
6 Bab 6: Rahasia di Tubuh Tetua Su
7 Bab 7: Harga Sebuah Kesombongan
8 Bab 8: Gadis dari Benua Utama
9 Bab 9: Tiga Hari, Dua Tingkat
10 Bab 10: Ayahku Datang
11 Bab 11: Sekarang Giliran Mereka Memohon
12 Bab 12: Kesepakatan dengan Paviliun Wanbao
13 Bab 13: Jerat Mulai Mengencang
14 Bab 14: Satu Bulan Kemudian
15 Bab 15: Satu Pukulan Menjatuhkan Jenius
16 Bab 16: Tamu Istimewa Akademi Tianyan
17 Bab 17: Murid Kehormatan Akademi Tianyan
18 Bab 18: Tamparan Tak Terlihat
19 Bab 19: Naik Tingkat Lagi
20 Bab 20: Lima Juta Keping Emas
21 Bab 21: Sengaja Menaikkan Harga
22 Bab 22: Rahasia di Balik Utang Jutaan
23 Bab 23: Kekuatan yang Tertidur
24 Bab 24: Rahasia di Balik Qi Sejati
25 Bab 25: Salah Memilih Lawan
26 Bab 26: Saat Klan Mo Mulai Bergerak
27 Bab 27: Terobosan di Tengah Badai
28 Bab 28: Amarah Sang Patriak
29 Bab 29: Memaksa Klan Mo Mundur
30 Bab 30: Kota Wushuang Gempar
31 Bab 31: Serbuk yang Mengguncang Kota
32 Bab 32: Kalau Mau, Berlututlah
33 Bab 33: Nama Klan Feng Menggema
34 Bab 34: Perang Klan Dimulai
35 Bab 35: Darah Pertama dalam Perang Klan
36 Bab 36: Klan Huangfu Turun Tangan
37 Bab 37: Satu Tahun Perlindungan
38 Bab 38: Tubuh Tertinggi
39 Bab 39: Pertemuan dengan Mu Tianyun
40 Bab 40: Keributan di Rumah Lelang Tiandu
41 Bab 41: Satu Tempa Mengguncang Tiandu
42 Bab 42: Nama Master Feng Mengguncang Yunzhou
43 Bab 43: Satu Lawan Tiga
44 Bab 44: Aku Akan Membangun Duniaku Sendiri
Episodes

Updated 44 Episodes

1
Bab 1: Pedang Pemutus Ikatan
2
Bab 2: Ingatan Dewa Naga Jahat
3
Bab 3: Seni Dewa Naga Tertinggi
4
Bab 4: Sampah yang Tak Bisa Disentuh
5
Bab 5: Tawaran yang Ditolak
6
Bab 6: Rahasia di Tubuh Tetua Su
7
Bab 7: Harga Sebuah Kesombongan
8
Bab 8: Gadis dari Benua Utama
9
Bab 9: Tiga Hari, Dua Tingkat
10
Bab 10: Ayahku Datang
11
Bab 11: Sekarang Giliran Mereka Memohon
12
Bab 12: Kesepakatan dengan Paviliun Wanbao
13
Bab 13: Jerat Mulai Mengencang
14
Bab 14: Satu Bulan Kemudian
15
Bab 15: Satu Pukulan Menjatuhkan Jenius
16
Bab 16: Tamu Istimewa Akademi Tianyan
17
Bab 17: Murid Kehormatan Akademi Tianyan
18
Bab 18: Tamparan Tak Terlihat
19
Bab 19: Naik Tingkat Lagi
20
Bab 20: Lima Juta Keping Emas
21
Bab 21: Sengaja Menaikkan Harga
22
Bab 22: Rahasia di Balik Utang Jutaan
23
Bab 23: Kekuatan yang Tertidur
24
Bab 24: Rahasia di Balik Qi Sejati
25
Bab 25: Salah Memilih Lawan
26
Bab 26: Saat Klan Mo Mulai Bergerak
27
Bab 27: Terobosan di Tengah Badai
28
Bab 28: Amarah Sang Patriak
29
Bab 29: Memaksa Klan Mo Mundur
30
Bab 30: Kota Wushuang Gempar
31
Bab 31: Serbuk yang Mengguncang Kota
32
Bab 32: Kalau Mau, Berlututlah
33
Bab 33: Nama Klan Feng Menggema
34
Bab 34: Perang Klan Dimulai
35
Bab 35: Darah Pertama dalam Perang Klan
36
Bab 36: Klan Huangfu Turun Tangan
37
Bab 37: Satu Tahun Perlindungan
38
Bab 38: Tubuh Tertinggi
39
Bab 39: Pertemuan dengan Mu Tianyun
40
Bab 40: Keributan di Rumah Lelang Tiandu
41
Bab 41: Satu Tempa Mengguncang Tiandu
42
Bab 42: Nama Master Feng Mengguncang Yunzhou
43
Bab 43: Satu Lawan Tiga
44
Bab 44: Aku Akan Membangun Duniaku Sendiri

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!