Goddess Of Immortality
Di sebuah kota terbesar bernama Kota Bonana. Tidak akan heran jika keramaian tercetak jelas di siang itu, tidak asing pula jika ada keributan yang terjadi.
Apalagi soal bermartabat!
Seorang gadis sekiranya berusia di bawah dua puluh tahun, tengah terduduk tepat dipinggir jalan besar yang ramai akan orang-orang berlalu-lalang.
Pastinya gadis dengan penampilan murni dan lemah-lembut itu mendapat tatapan iba dari semua orang yang memperhatikan.
“Maafkan kelancanganku Nona Muda, tapi biarkan gadis miskin ini mendapatkan Jiju sedikit saja. ”
Gadis itu terlihat lemah tak berdaya, menundukan wajah dengan kedua tangan saling meremat dengan harapan di hati.
Jiju berupa sebuah Daun Raya— tanaman obat langka, yang dicampur oleh beberapa tanaman obat umum dan menjadikannya sebagai ramuan obat yang berada ditingkat tinggi dimana dapat menyembuhkan segala jenis penyakit. Tentu saja tidak sembarang orang dapat memilikinya.
Tapi lelucon apa yang sekarang terlihat?
Hunna, puteri dari seorang Buruh Tani yang dengan keberaniannya bertekuk lutut di depan seorang bangsawan besar seperti Raizi Lua.
Alasan Hunna memberanikan diri menghadap Raizi Lua dikarenakan sang Ayah tengah terbaring lemah diatas tempat tidur.
Raizi Lua adalah orang yang beruntung mendapatkan Jiju atas nama keluarga besar Lua yang dipandang sebagai Bangsawan Besar di seluruh penjuru negeri.
Bagi Raizi Lua, Jiju tidak ada apa-apanya. Dengan kondisinya yang baik-baik saja pasti ia tak akan membutuhkan Jiju untuk apa-pun. Berpikir jika mendapat sedikit saja Jiju, tidakkah ada masalah?
Hunna sudah berpikir secara matang. Ia tak tahan melihat sang Ayah sakit-sakitan tak berdaya diatas tempat tidur yang keras. Jalan alternatifnya adalah Raizi Lua, dimana mereka sepantaran untuk dikata usia.
Tapi nasib terlalu buruk untuk Hunna si Malang. Raizi Lua terkenal akan arogansinya, selalu bersikap semena-mena di atas nama besar Keluarga Lua. Apalagi sifatnya yang kasar dan sensitif sudah menjadi rahasia umum di Kota Bonana, bahkan nama Raizi Lua sudah terdengar diluar kota akan keburukan sifatnya.
“Bicara! Apa yang membuatku harus menuruti kemauan si miskin ini! ”
Raizi Lua menyipitkan matanya memandang gadis yang bertekuk lutut tepat dihadapannya, dagunya sedikit terangkat memperlihatkan sisi keangkuhannya.
“Ayah saya sedang kritis, berharap Nona bermurah hati—”
“Apa urusanku dengan Ayahmu? ” potong Raizi Lua dengan tanda tanya.
Hunna tergagu sejenak.
“Tidak ada, Nona. Tapi gadis miskin ini mengharapkan kebaikan Nona untuk menolong Ayah saya. ”
Tawa Raizi Lua pecah. Gadis bergaun merah menyala itu memegangi perutnya yang dirasa sakit akibat tawa yang tak dapat tertahankan.
Melihat itu air wajah Hunna berubah buruk. Ia sudah mengntisipasi jika Raizi Lua tidak akan mudah memberikan apa yang ia mahu, tapi melihat Raizi Lua tertawa saat ia meminta tolong untuk Ayahnya- orang yang sedang mempertaruhkan nyawa diatas ranjang membuatnya tersinggung kecil. Namun jelas, ia tak dapat berbuat banyak selain diam membiarkan Raizi Lua menertawakannya.
“Hey, Hunna. Kau lihat sendiri, bukan? Kecantikanmu hanya hiasan semata, Kau tak lebih dari vas tanpa bunga! Memang Kau pikir Aku seperti pria pemujamu? Yang kapan dan dimana saja dapat Kau peralat! Tidak sudi diriku mengulurkan tangan kepada gadis miskin dan tak punya malu sepertimu! ”
Kata-kata Raizi Lua terdengar tegas dan menyiratkan arti sindiran.
Hunna terkenal akan parasnya yang menawan, dengan mata yang polos dan jernih ditambah wajah sebening embun dapat membuat siapa pun terpikat oleh pesonanya, tak pandang siapa pria atau wanita. Semua orang selalu menyebutnya sebagai keterunan dari Dewi Keabadian yang dirasa terlalu berlebihan bagi Raizi Lua.
Dewi Keabadian, jelas suatu yang tidak main-main. Terdapat kisah yang jelas akan nilai kekaguman. Berabad-abad tahun yang lalu, seorang anak manusia dengan jenis kelamin perempuan dikenal sebagai berkah pada masa itu. Seorang anak perempuan dengan kesucian hatinya dapat menciptakan perdamaian dan dikenal sebagai Dewi Keabadian.
Raizi Lua cukup muak dengan kisah legendaris yang selalu dibangga-banggakan itu! Baginya, Dewi Keabadian atau apalah itu hanya sebuah dongeng omong-kosong!
Hunna sendiri tak dapat berbuat apa-pun selain bungkam. Selain tak ada kalimat yang cocok untuk membalas, ia tak ingin menentang jauh perkataan Raizi Lua yang identitasnya tak boleh diremehkan. Orang kecil sepertinya tak dapat berbuat banyak.
Tapi Hunna tak ingin menyerah secepat itu! Jika pun ia kehilangan wajah untuk mengemis, ia tak akan ragu-ragu lagi.
“Enyah dari pandanganku sekarang! Atau Kau akan tahu akibatnya! ” ucap Raizi Lua memperingatkan dengan kesombongannya.
“Saya akan tanggung itu! Asalkan Nona memberikan saya sedikit Jiju. ”
Raizi Lua terpana mendengarnya. Cukup terkejut dengan respon yang ia dapatkan.
“Kau berani menentangku eh? ”
“Maafkan kelancanganku sekali lagi, tapi biarkan saya mendapatkan Jiju dari Anda walau itu hanya sebuah biji jagung. ”
“Lancang! Orang kecil sepertimu memaksa kehendak Nona Muda dari keluarga Lua!? Bosan hidup? ” kata Raizi Lua dengan kilatan amarah.
Perkataan Raizi Lua cukup keras membuat orang-orang yang memperhatikan itu tak dapat membantu tapi menghela napas berat.
Tamatlah riwayat Hunna!
“Maafkan saya! Maafkan saya! Tidak bermaksud diri ini menyakiti martabat Nona Muda! Hanya saja... Hanya saja... ” Hunna cukup dibuat bergetar dengan balasan dari Raizi Lua.
Walau sudah tak asing dengan sifat Raizi Lua, tapi tetap saja itu menakutkan. Apalagi nama besar Keluarga Lua yang tak patut diremehkan.
“Bicara! Apa kompensasi yang pantas untukku terlepas kelancanganmu! ” tekan Raizi Lua.
Hunna semakin dibuat takut, wajah anggun jernihnya tak lagi terlihat memukau tapi menyedihkan. Keringat dingin memenuhi sebagian kening Hunna. Ia tahu jelas, siapa pun yang menyinggung perasaan Raizi Lua akan diberi kompensasi menyakitkan!
Dicambuk!
“Apa pun yang Nona Muda inginkan, ” jawab Hunna tak berdaya.
Sekarang harapannya adalah terlepas dari Raizi Lua. Mengetahui sangat mustahil mendapatkan apa yang ia inginkan dari gadis bangsawan ini, Hunna berharap akan masih bertahan hidup untuk merawat Ayahnya dan mendapatkan pengobatan yang layak.
Raizi Lua tersenyum angkuh, menatap Hunna rendah. Dan tanpa membuang waktu ia menarik sesuatu di sisi pinggang kirinya. Semua orang tertegun, walau ini bukan pertama kalinya tapi tetap saja ini adalah suatu yang kejam.
Hunna sendiri menuguk ludah getir, melihat tali panjang yang berada di tangan mungil Raizi Lua.
“Berbalik, ” bisik Raizi Lua disertai seringaian kecil.
Hunna tak dapat menolak ataupun melawan, ia menuruti dan memunggungi Raizi Lua dengan posisi masih bertekuk lutut. Mengamati kesekelilingnya, dimana banyak pasang mata tertuju kepadanya dengan perasaan prihatin.
BUK!
“Engh!!! ”
Hunna merintih saat merasakan sesuatu kilat dan tajam menghunjam punggungnya. Ia yakin, satu ayunan saja sudah daoat merobek kulitnya yang dilapisi pakaian murahnya.
BUK!
BUK!
Ayunan dua dan tiga menyusul, Hunna hanya bisa mengerang menahan perih di punggungnya. Napas gadis itu memburu dengan wajah terbenam ke bawah.
Menunggu ayunan untuk keempat kalinya.
“Hentikan! ”
Sebuah suara lantang membuat penantian Hunna pada cambukan selanjutnya terelakan.
★★★
Halo?
Iya tau ini aneh.
Saya ngambil latar sesuai kata pikiran, hehe.
Dengan kata lain, tempat/nama kota adalah fiktif belaka.
Karena cerita yg saya angkat berupa fantasi, tidak terlalu masalahkan? :D
Mungkin di awal-awal kalian para readers bingung sama alurnya, tapi berkenanlah untuk baca minimal tiga/lima chapt. Dirasa sudah cukup untuk memperkanalkan imajinasi bobrok saya.
***Download NovelToon to enjoy a better reading experience!***
Comments