Nindya mendesah bosan saat ia tidak menemukan kegiatan yang mengasyikkan untuk menghabiskan waktunya. Tapi ia segera tersenyum kecil saat melirik ponsel di sampingnya. Dengan sedikit terburu-buru ia mengetikkan sebuah pesan untuk Louis.
latte05: Jadi apa hobimu?
Gadis itu mengetuk-ngetukkan telunjuk kanannya ke dagunya. Ia mencoba bersabar menunggu balasan dari sahabat barunya itu. Biasanya Louis akan membalas dalam waktu kurang dari satu menit. Tiga... dua... satu…
Ping!
Nindya tersenyum saat ponselnya berdering. Tepat seperti dugaannya. Berteman selama tiga bulan dengan Louis membuatnya sudah hafal dengan kebiasaan sahabatnya itu.
louis24: Hmm, aku mempunyai banyak hobi. Menonton tv, chatting, membaca, fhotography, makan, apa lagi ya?
latte05: Sudah cukup. Itu banyak sekali. Aku tidak percaya kau mempunyai hobi sebanyak itu.
louis24: Kenapa tidak? Aku ini jenis orang yang multi-talented. Aku bisa dalam hal apapun.
Nindya mendecakkan lidahnya saat membaca pesan Louis. Tapi bibirnya tidak bisa berhenti tersenyum. Jari-jarinya bergerak lincah mengetik pesan balasan.
latte05: Apa ini? Sekarang kau bahkan sedang membanggakan dirimu padaku? Mengesalkan -_-
louis24: Hahaha, apa kau iri padaku?
latte05: Kenapa aku harus iri padamu? Kau ini makhluk yang suka pamer.
louis24: Vanilla 1, akui saja kalau kau memang iri. Hahaha
latte05: Aku tidak.
louis24: Ya.
latte05: Tidak.
Nindya mendengus kesal. Apa-apaan Louis ini? Mengesalkan sekali. Ia kemudian menguap kemudian dan untuk tidur.
“Hei, bangun. Ngelamunin apa sih?” Nindya mengerjapkan kedua matanya saat ia melihat Tara sedang mengibaskan salah satu tangannya tepat di depan kedua mata Nindya. Sahabatnya itu sedang mencoba untuk menariknya kembali ke alam sadar.
“Ngelamunin apa sih?” Tanya Tara sekali lagi. Nindya mendengar Tara berbicara dengan nada berbisik. Ia kemudian tersenyum sambil menggelengkan kepalanya sebagai respon untuk Tara. Membuat gadis berkerudung di sebelahnya itu kembali memfokuskan pandangan ke depan untuk mendengarkan kuliah yang sedang disampaikan oleh dosen.
Bisa-bisanya ia melamun di tengah-tengah pelajaran. Nindya mendesah di dalam hati.
***
“Jadi keputusan kamu gimana? Kamu mau ikutan?” Tanya Tara saat mereka sedang makan siang di kampus.
Nindya menyeruput jus jeruknya sebelum akhirnya menjawab pertanyaan Tara, “yuk, bismillah, aku siap.”
Kedua mata Tara melebar saat dia mendengar kalimat dari mulut sahabatnya itu. “Kamu serius? Jadi kita ke Korea?” tanyanya dengan nada tidak percaya, seolah Nindya baru saja bercanda dengannya.
Nindya menganggukkan kepalanya dengan cepat.
Tara kemudian tertawa lepas. Wajahnya menyiratkan bahwa dia lega mendengar jawaban Nindya barusan. “Habis ini kita ke kantor Pak Reza ya minta surat rekomendasinya.” Ujarnya.
***
“Bang, adek mau berangkat ke Korea bulan depan.”
“Adek kok baru bilang sama abang sekarang. Udah minta izin sama ayah dan bunda?”
Nindya memijat-mijat dahinya ketika mendengar nada suara kakaknya yang protektif. Oh ayolah, bagaimanapun jugaNindya bukan lagi anak kecil. Ia sudah berumur dua puluh tiga tahun, tetapi saudara laki-lakinya itu maish saja memperlakukannya seperti anak kecil.
“Udah dong bang, makanya sekarang adek telepon abang buat ngabarin.”
“Kenapa pake magang di luar negeri segala sih? Gak bisa magang di Jakarta aja? Kita kan gak punya saudara di Korea. Kalau ada apa-apa nanti gimana?”
Nindya mendecakkan lidahnya dengan pelan. Ia paham betapa saudaranya itu menyayanginya dan ingin melindunginya, tapi Adam selalu saja memiliki kekhawatiran yang berlebihan padanya.
“Bang, udah dong bang. Jangan mikir yang macam-macam. Abang mendingan doain adek aja biar selalu dilindungin sama Allah. Lagian adek perginya juga gak sendirian. Tara juga ikut.”
“Tara juga ikut?”
Kali ini Nindya mengernyit saat menyadari ada nada penasaran dalam suara Adam.
“Iya, dia juga ikut.”
“Ya udah kalau gitu adek hati-hati ya. Nanti kalau adek udah mau berangkat abang telepon lagi. Abang sekarang lagi ada kerjaan. Titip salam sama ayah dan bunda ya.”
Setelah mengucap salam, Adam memutuskan panggilan telepon meninggalkan Nindya yang termangu sambil menatap ponselnya. Ada yang aneh. Biasanya saudaranya itu akan bertingkah menyebalkan dan bawel untuk menanyai Nindya dengan banyak pertanyaan, tetapi tadi Adam berhenti bertanya saat Nindya menyebut nama Tara.
Nindya mengangkat kedua bahunya, ya sudahlah. Yang penting Adam sudah mengijinkannya untuk pergi. Kedua matanya kemudian melirik ke arah komputer pribadi di kamarnya. Ia berniat untuk mencari tahu lebih dalam tentang perusahaan yang akan menjadi tempat magangnya nanti. Kalau tidak salah namanya High Tech Corporation. Jari-jari Nindya bergerak mengetikkan nama perusahaan itu di mesin pencarian. Dalam beberapa detik hasil pencarian pun muncul. Nindya segera membuka salah satu link dari artikel yang membahas tentang perusahaan tersebut dan mulai membacanya.
“Perusahaan ini dibangun pada tahun 1992 oleh Park Yoo Ji. Pada tahun 2014, perusahaan kemudian diambil alih oleh pewaris tunggal perusahaan, Park Minwoo setahun setelah Park Yoo ji meninggal dunia. Di bawah pimpinan Park Minwoo yang masih berusia muda, High Tech Corporation sudah memiliki cabang hampir di seluruh benua di dunia.”
“Wah perusahaan ini keren. Park Minwoo ini pasti pinter banget.” Gumam Nindya. Matanya bergerak-gerak mencari foto-foto Park Minwoo, tapi hasilnya nihil. Ia tidak bisa menemukan foto pewaris perusahaan itu dimanapun. Entah kenapa perasaan kecewa sedikit muncul di hatinya. Sepertinya Minwoo bukanlah tipe orang yang suka mempublikasikan dirinya. Nanti kalau udah magang di sana juga pasti bakal ketemu. Hibur Nindya pada dirinya sendiri.
***Download NovelToon to enjoy a better reading experience!***
Comments