“Neer : Sang Penjaga Senyap”

“Neer : Sang Penjaga Senyap”

Bab 1-Kucing Hitam Di Musim Gugur

Di kota kecil bernama Liris, setiap musim gugur selalu datang dengan angin aneh dan suara daun yang seolah berbisik. Di tengah warna oranye dan emas yang menari di udara, muncullah seekor kucing hitam. Ia duduk di depan rumah-rumah yang ditinggal duka.

Orang-orang menyebutnya Neer.

Ia tidak mengeong, tidak meminta makan, tidak mencari belaian. Tapi setelah ia datang… selalu ada perubahan: tangisan mereda, mimpi buruk hilang, dan hati yang terluka perlahan menghangat.

...“Dia bukan kucing biasa,” kata nenek-nenek tua. “Dia pendengar, penjaga kesedihan yang tak bisa diucapkan.”...

Bab 2 – Anak Lelaki Bernama Raya

Raya, bocah laki-laki berusia 9 tahun, baru saja kehilangan kakaknya karena kecelakaan. Sejak itu, ia tidak berbicara. Orangtuanya gelisah, psikolog menyerah. Tapi suatu pagi, Raya menemukan seekor kucing hitam duduk di kursi kayu halaman rumah.

Raya memandangi kucing itu lama.

Neer menatap balik.

Dan di mata kucing itu—untuk pertama kalinya—Raya merasa kakaknya masih ada.

Bab 3 – Neer dan Dunia yang Tidak Terlihat

Neer bukan kucing biasa. Ia bisa melihat kesedihan seperti warna. Ia berjalan di antara dunia nyata dan dunia yang hening—tempat jiwa-jiwa yang belum selesai bicara.

Di malam hari, saat kota tidur, Neer berjalan pelan. Menyentuh jendela orang yang bermimpi buruk. Duduk di atap rumah orang yang hampir menyerah. Membawa kehangatan aneh, tanpa suara.

Neer tidak bisa bicara, tapi hadirnya menyampaikan ribuan hal.

Bab 4 – Surat dari Kakak

Suatu malam, Raya terbangun dan menemukan selembar kertas di bawah bantalnya. Tulisan tangan kakaknya. Bukan panjang—hanya tiga baris:

"Jangan simpan tangisku selamanya.

Kamu boleh bahagia.

Terima kasih sudah mencintaiku."

Raya menangis.

Dan saat ia menoleh ke jendela, Neer duduk di sana, matanya bersinar redup, seperti langit sebelum fajar.

Bab 5 – Saat Neer Pergi

Beberapa hari kemudian, Neer tidak muncul Raya mulai berbicara sedikit demi sedikit. Senyumnya kembali. Ia mulai menggambar—dan kucing hitam selalu ada dalam setiap gambar.

Orang-orang bertanya-tanya, ke mana Neer pergi?

Tak ada yang tahu. Tapi setiap musim gugur, saat daun pertama jatuh dan angin mulai berbisik, seekor kucing hitam terlihat berjalan pelan di pinggir kota. Tak pernah tua. Tak pernah berubah.

Neer bukan hanya kucing. Ia adalah jembatan sunyi antara luka dan harapan.mksksjsjskkdkdkskskskskskskkskjksisosie

kdjdjskdk

jdkdj

sk

ks

kd

sk

sk

sk

dc

cd

d

d

d

d

d

d

d

d

d

d

d

d

d

d

d

d

f

f

f

d

d

d

d

d

d

d

d

d

d

d

d

d

d

d

d

d

d

d

d

d

d

d

d

d

d

d

d

d

d

d

d

d

d

d

d

s

s

s

s

s

h

y

t

t

...tg...

t

ft

r

r

r

r

r

r

r

f

f

r

r

r

kmf

mmfh

h

g

f

f

f

f

f

r

f

f

f

f

f

f

f

f

f

f

f

f

f

f

f

f

f

f

f

f

fd

d

s

d

s

d

d

d

d

d

d

d

d

d

d

d

d

d

d

d

d

d

Episodes
Episodes

Updated 1 Episodes

Download

Like this story? Download the app to keep your reading history.
Download

Bonus

New users downloading the APP can read 10 episodes for free

Receive
NovelToon
Step Into A Different WORLD!
Download NovelToon APP on App Store and Google Play