Division Zero : Manhunt
Bab 1 – Shadows of the Past
Tokyo, 02.15 dini hari. Hujan deras mengguyur jalanan sempit Shibuya, membuat lampu neon berkilau seperti serpihan kaca. Di balik keramaian yang tak pernah benar-benar tidur, ada sesuatu yang jauh lebih gelap dari sekadar pesta malam dan hiruk-pikuk kota.
Mayat seorang perwira polisi senior ditemukan di sebuah apartemen kelas menengah. Tubuhnya terikat di kursi, matanya melotot dengan mulut disumbat kain, dan di dahinya tertulis huruf besar: AS.
Division Zero segera dipanggil. Unit rahasia kepolisian ini hanya bergerak ketika kejahatan melampaui batas normal. Pimpinan tim, Yae, detektif berusia 24 tahun dengan reputasi dingin, tiba pertama di TKP.
“Ini bukan sekadar pembunuhan,” gumam Yae sambil menatap huruf di dahi korban. “Ini pesan.”
Di belakangnya, Natsumi, spesialis forensik yang penuh semangat namun berhati lembut, berusaha menenangkan suasana dengan analisis awal. “Tak ada tanda perlawanan. Dia dibunuh dengan cepat, tapi meninggalkan simbol… seolah ingin kita memperhatikan.”
Kinaki, agen lapangan yang impulsif dan keras kepala, menghentak meja kecil di kamar itu. “Aku benci orang macam ini. Penjahat yang merasa dirinya lebih pintar dari polisi.”
Sukhoi, mantan militer dengan sikap dingin dan penuh disiplin, hanya mengangguk. “Dia menguji kita. Dan setiap ujian berarti korban berikutnya sudah ditentukan.”
Minaru, anggota termuda tim, terlihat gelisah. “Kalau dia bisa masuk ke apartemen perwira polisi tanpa jejak… artinya kita melawan seseorang yang tahu sistem dari dalam.”
Yae menatap huruf AS dengan mata tajam. “Dia tahu kita akan datang. Pertanyaannya… siapa yang sedang kita hadapi?”
Di kejauhan, seseorang berdiri di atas gedung, memandang TKP dengan tatapan kosong. AS, pria berusia 23 tahun, sosok misterius yang meninggalkan jejak darah dan pesan samar. Senyum tipis menghiasi wajahnya. Baginya, ini baru permulaan.
---
Bab 2 – Silent Traces
Pagi berikutnya, rapat darurat diadakan di markas Division Zero. Semua data korban dikumpulkan, dan satu fakta mengejutkan muncul: korban pertama adalah salah satu perwira yang terlibat dalam proyek rahasia militer 10 tahun lalu.
“Proyek Chimera,” bisik Sukhoi, matanya menyipit. “Aku pernah dengar desas-desus. Eksperimen manusia untuk menciptakan tentara sempurna. Dihentikan secara paksa setelah banyak korban jiwa.”
Natsumi menggigil. “Jadi korban kita bukan acak? Dia bagian dari proyek itu?”
Yae menutup file. “Jika benar, maka pembunuh ini bukan hanya penjahat. Dia… adalah produk kegagalan sistem.”
Sementara tim membahas, AS sendiri sedang duduk di kamar hotel murah, menatap foto-foto lamanya. Dalam satu foto, tampak dirinya masih anak kecil, dengan tatapan kosong dan tubuh penuh bekas luka.
“Rantai pertama sudah putus,” katanya lirih. “Masih banyak yang harus ditebus.”
Dia menempelkan foto itu di dinding, di samping puluhan wajah lain—semuanya target yang terhubung dengan proyek Chimera.
---
Bab 3 – The First Hunt
Division Zero melacak jejak AS ke distrik Kumagaya, di mana seorang mantan dokter militer kini bersembunyi dengan identitas baru. Yae memimpin tim dalam operasi diam-diam.
Namun ketika mereka tiba, terlambat lagi. Dokter itu sudah mati, tubuhnya tergantung di ruang operasi kecil, dengan huruf AS tertulis di dadanya.
Kinaki mengumpat keras. “Selalu satu langkah di depan!”
Yae menatap TKP dengan wajah tanpa ekspresi. “Dia ingin kita mengejar. Setiap korban adalah bagian dari teka-teki. Kita harus memahami polanya sebelum semua target habis.”
Minaru menemukan catatan medis berserakan di lantai. “Ini data eksperimen… korban manusia. Semua ilegal.”
Natsumi menutup mulutnya, hampir muntah. “Mereka… benar-benar menyiksa orang-orang ini.”
Di luar gedung, Yae menatap hujan yang turun. Ia tahu, setiap kali mereka gagal mencegah pembunuhan, AS semakin dekat dengan tujuan akhirnya—dan semakin dalam Division Zero terjerat dalam permainannya.
---
Bab 4 – The Fractured Mask
Ketegangan mulai meretakkan tim. Kinaki menuduh Yae terlalu lambat mengambil keputusan, sementara Minaru merasa mereka hanya dipermainkan.
“Dia tahu semua gerakan kita,” kata Kinaki dengan marah. “Mungkin ada pengkhianat di dalam tim.”
Natsumi membela Yae. “Tidak ada bukti untuk itu. AS hanya… terlalu cerdas. Dia memprediksi langkah kita.”
Sukhoi menatap Yae lama sekali. “Atau mungkin dia mengenal kita lebih dari yang kita kira.”
Malam itu, Yae duduk sendirian di ruang arsip, menatap berkas lama tentang Proyek Chimera. Ia menemukan foto mengejutkan: seorang anak kecil dengan nomor seri di lengannya. Nama kode: AS-07.
Yae menutup matanya. “Jadi… kau bukan hanya penjahat. Kau korban yang kembali menuntut balas.”
---
Bab 5 – Echo of Betrayal
Misi berikutnya membawa Division Zero ke Osaka, melindungi seorang ilmuwan yang diduga target selanjutnya. Mereka menyiapkan jebakan, memasang pengawasan ketat, berharap bisa menangkap AS kali ini.
Tapi saat malam tiba, ilmuwan itu ditemukan tewas di ruang kerjanya—meski dijaga 24 jam penuh. Tidak ada jejak masuk, tidak ada rekaman kamera.
Kinaki marah besar. “Tidak mungkin! Dia menembus semua lapisan keamanan kita?!”
Yae berjalan ke jendela terbuka. Angin malam masuk, membawa selembar kertas kecil dengan tulisan tangan:
> “Terima kasih sudah menjaga boneka ini untukku. – AS”
Natsumi gemetar membaca pesan itu. “Dia… sudah di sini bahkan sebelum kita datang.”
Sukhoi menatap kegelapan di luar. “Ini bukan sekadar pembunuhan. Ini perang psikologis. Dia sedang merobek-robek kewarasan kita.”
Di kejauhan, AS berdiri di atap gedung, menatap menara neon Osaka
dengan senyum dingin. “Rantai demi rantai… semua akan putus.”
Bab 6 – The Blood Trail
Malam itu, tim menerima laporan pembunuhan baru di distrik Yokohama. Korbannya seorang pengacara, dikenal sebagai konsultan hukum militer. Tubuhnya ditemukan di ruang arsip pribadinya, dengan darah mengalir membentuk kata “Chains” di lantai.
Yae berdiri di TKP, tatapannya dalam. “Dia mulai meninggalkan pesan yang lebih simbolis. Ini bukan sekadar tanda tangan, ini peringatan.”
Natsumi berlutut, memeriksa bekas luka di tubuh korban. “Tepat dan bersih. Satu tusukan ke arteri utama. Tidak ada siksaan… berbeda dari pola sebelumnya.”
Kinaki menggeleng frustasi. “Dia berubah-ubah. Bagaimana kita bisa memprediksi seseorang yang tidak punya pola tetap?”
Sukhoi menatap kata “Chains” dengan dingin. “Dia sedang memutus rantai masa lalunya. Korban-korban ini bukan acak. Semua bagian dari jaringan yang dulu membelenggunya.”
Minaru menemukan catatan di meja korban: daftar nama lain yang juga terkait dengan proyek Chimera. Wajah-wajah baru, target baru.
Yae menggenggam daftar itu erat. “Kita harus bergerak cepat. Jika tidak, dia akan terus selangkah di depan.”
Di kejauhan, di sebuah kamar kecil penuh peta dan catatan, AS menancapkan pisau ke daftar nama yang sama. Darah menetes dari pisaunya, menodai foto-foto. Ia tersenyum dingin.
“Rantai berikutnya menunggu.”
---
Bab 7 – Into the Abyss
Division Zero mengikuti jejak ke sebuah rumah sakit terbengkalai di luar kota. Bangunannya gelap, dindingnya dipenuhi coretan vandalisme, dan udara berbau jamur.
“Tempat ini… terlalu sunyi,” bisik Natsumi, memegang pistol dengan tangan gemetar.
Mereka menyusuri lorong panjang, menemukan ruangan penuh ranjang berkarat. Di dinding, ada tulisan besar dengan cat merah:
> “Di sinilah aku mati.”
Kinaki menendang pintu berikutnya, dan mereka menemukan ruangan eksperimen lama—tabung kaca pecah, kursi besi dengan borgol berkarat, serta noda darah yang sudah mengering bertahun-tahun.
Minaru hampir menangis. “Jadi… tempat ini adalah lokasi asli eksperimen Chimera.”
Sukhoi menarik napas berat. “Tidak heran dia jadi monster. Kalau aku diperlakukan seperti ini, mungkin aku juga akan sama.”
Tiba-tiba, suara musik anak-anak bergema dari pengeras suara rusak. Lampu neon berkelip, menyalakan gambar wajah anak-anak di dinding.
AS berbicara melalui speaker: “Selamat datang di makamku. Kalian mencari monster? Lihatlah… inilah tempat ia dilahirkan.”
Yae menatap sekeliling, suaranya dingin. “Kau tidak akan menakut-nakuti kami dengan bayangan masa lalumu.”
AS tertawa lirih. “Oh, aku tidak menakut-nakuti. Aku hanya menunjukkan. Kalian sedang berdiri di dasar jurang. Pertanyaannya… apakah kalian siap ikut jatuh?”
Seketika, ledakan kecil mengguncang lantai bawah. Gedung tua itu mulai runtuh. Tim berlari keluar, lolos tepat waktu, tapi pesan AS jelas: ia bisa menarik mereka ke neraka kapan pun ia mau.
---
Bab 8 – The Wolf Among Us
Setelah insiden rumah sakit, kecurigaan dalam tim semakin besar. Kinaki yakin ada kebocoran informasi, karena AS selalu tahu langkah mereka.
“Pasti ada mata-mata di dalam,” katanya keras di ruang briefing.
Natsumi membantah, wajahnya pucat. “Tidak mungkin. Kita semua sudah bersumpah setia. Jangan menuduh tanpa bukti.”
Sukhoi mencoba menenangkan, tapi ketegangan tak bisa dihindari. Yae akhirnya bersuara: “Kita akan jalankan investigasi internal. Semua komunikasi, semua pergerakan… akan diawasi.”
Minaru menunduk, merasa tertekan. “Kalau AS benar mengenal kita… mungkin dia tidak butuh mata-mata. Mungkin dia hanya tahu cara berpikir kita.”
Di malam yang sama, Yae menerima pesan pribadi di ponselnya. Tanpa nomor pengirim. Hanya satu kalimat:
> “Kau tidak bisa melawan bayangan, Yae. Kau hanya bisa menjadi bagian darinya.”
Yae menatap layar lama sekali. AS tidak hanya menyerang fisik mereka, tapi juga merusak kepercayaan satu sama lain.
---
Bab 9 – The Web Tightens
Division Zero melacak aktivitas AS ke sebuah gudang logistik di Odaiba. Mereka menemukan papan besar penuh foto, catatan, dan koneksi benang merah—peta besar yang menghubungkan semua target.
“Dia memetakan semuanya,” kata Natsumi terkejut. “Semua nama, semua lokasi, bahkan kita ada di sini.”
Kinaki menatap wajahnya sendiri yang disilang di papan itu. “Dia menandai kita. Berarti kita target juga.”
Tiba-tiba, alarm berbunyi. Pintu otomatis terkunci, dan suara AS bergema dari pengeras suara:
“Selamat datang di jaringanku. Kalian tikus-tikus yang terjebak di perangkap.”
Lampu padam. Laser merah menyala di seluruh ruangan, memicu perangkap otomatis. Sukhoi segera bergerak, menonaktifkan sistem satu per satu. Tim berlari menembus lorong, hampir tertembak berkali-kali.
Mereka berhasil keluar, tapi jelas: setiap langkah mereka kini berada dalam kendali AS. Ia bukan hanya memburu, tapi juga mempermainkan mereka seperti boneka dalam labirin.
---
Bab 10 – Broken Resolve
Setelah serangkaian kegagalan, moral tim berada di titik terendah. Kinaki kehilangan kesabaran, Minaru kehilangan kepercayaan diri, dan Natsumi menangis diam-diam di ruang medis.
Sukhoi menegur Kinaki. “Kemarahanmu hanya mempercepat kehancuran kita. Kalau kau tidak bisa mengendalikan dirimu, lebih baik keluar.”
Kinaki balas berteriak. “Aku bertahan karena aku ingin menghancurkannya! Kalau kau tidak bisa melawan dengan keras, jangan ikut bicara!”
Pertengkaran hampir berujung perkelahian, sampai Yae menghentak meja. “Cukup!”
Suara Yae menggema di ruang briefing. “Kita mungkin terluka, kita mungkin lelah, tapi jika kita menyerah sekarang, semua korban sia-sia. Aku tidak peduli seberapa sakitnya, kita akan terus maju!”
Keheningan menyelimuti ruangan. Meski retak, tim masih berdiri. Tapi semua tahu, satu langkah salah lagi… dan Division Zero bisa runtuh dari dalam.
Bab 11 – Ghosts in the Machine
Division Zero menemukan jejak digital AS di sebuah jaringan gelap. Hacker internal melacak alamat IP yang ternyata berasal dari sebuah kafe internet kecil di Shinjuku.
Yae, Natsumi, dan Minaru segera menuju lokasi. Saat mereka tiba, kafe itu sudah kosong, hanya menyisakan deretan komputer dengan layar biru berisi simbol aneh: A—S yang berputar tanpa henti.
Natsumi mengutak-atik salah satu PC. “Semua mesin sudah diprogram untuk meledakkan hard disk setelah digunakan. Tidak ada data tersisa.”
Yae memperhatikan CCTV yang sudah hangus terbakar. “Dia tahu kita akan datang. Ini hanya pesan, bukan jejak.”
Minaru menemukan sebuah flashdisk di bawah meja. File di dalamnya hanya satu video pendek: wajah AS dalam bayangan, suaranya tenang namun menusuk.
> “Aku bukan hantu. Aku bayangan yang kalian ciptakan sendiri. Selama kalian bernapas, aku akan ada di antara kalian.”
Video berakhir dengan suara tawa pelan, membuat bulu kuduk Minaru merinding.
---
Bab 12 – Splintered Loyalties
Ketegangan semakin meningkat. Kinaki menuduh Yae terlalu tenang menghadapi ancaman AS.
“Dia sudah mempermainkan kita berbulan-bulan! Berapa banyak korban lagi yang akan jatuh sebelum kau bertindak lebih keras?!”
Sukhoi menepuk meja. “Cukup, Kinaki. Kau lupa siapa pemimpin di sini?”
“Justru karena dia pemimpin, kita terus kalah!” Kinaki membalas dengan nada tinggi.
Yae tetap diam, menatap kosong ke luar jendela. Dalam hatinya, ia tahu Kinaki tidak sepenuhnya salah. AS selalu satu langkah di depan.
Di malam yang sama, Yae menerima amplop hitam di mejanya. Isinya foto dirinya sendiri dari masa kecil—dan di belakangnya tertulis:
> “Kau dan aku lebih mirip daripada kau sadari.” – AS
Yae menggenggam foto itu dengan tangan bergetar. Ada rahasia yang belum ia ceritakan pada tim… sesuatu yang bisa menghancurkan kepercayaan mereka.
---
Bab 13 – Bait of Shadows
Division Zero merencanakan jebakan. Mereka menyebarkan informasi palsu bahwa seorang jenderal tua, yang juga bagian dari proyek Chimera, akan dipindahkan secara rahasia ke Kyoto.
“Kalau dia benar memburu semua yang terlibat, dia akan muncul,” kata Sukhoi dengan yakin.
Operasi berlangsung malam hari. Tim bersembunyi, siap menangkap. Tapi begitu konvoi bergerak, ledakan mengguncang jalan. Mobil yang membawa “jenderal” hancur berantakan.
Asap tebal memenuhi udara, dan dari kegelapan terdengar suara tawa AS. “Umpan palsu? Aku lebih pintar dari itu.”
Saat asap hilang, mereka mendapati boneka manekin duduk di kursi mobil yang hancur, dengan cat merah bertuliskan:
> “Jangan mencoba menipuku.”
Kinaki mengamuk, menendang sisa mobil. “Dia mempermainkan kita lagi!”
Namun Yae menatap serpihan catatan kecil yang ditempel di dashboard: koordinat sebuah lokasi di Nagoya.
“Dia… ingin kita ke sana,” gumamnya.
---
Bab 14 – The Nagoya Incident
Mereka tiba di Nagoya, hanya untuk menemukan bangunan perkantoran penuh asap. Sirine polisi lokal meraung, warga sipil berlarian ketakutan.
AS sudah menyerang sebelum mereka tiba.
Di dalam gedung, tubuh seorang mantan politisi tergeletak, matanya terbuka lebar, di samping catatan kecil:
> “Dia menandatangani kematianku 10 tahun lalu.”
Natsumi menunduk, menangis lirih. “Ini bukan sekadar balas dendam. Ini eksekusi… yang baginya setara dengan keadilan.”
Minaru berteriak, “Tapi dia membunuh orang tanpa pengadilan! Itu tetap salah!”
Sukhoi menatap mayat politisi itu. “Mungkin bagi dunia ini salah. Tapi bagi dia, ini keadilan terakhir yang tersisa.”
Yae terdiam lama sekali, memikirkan kata-kata itu.
---
Bab 15 – The Mirror Stares Back
Malam setelah Nagoya, Yae tidak bisa tidur. Ia memandangi foto lama AS yang ia temukan di arsip Chimera. Anak itu kurus, penuh luka, matanya kosong.
“Apa aku benar-benar memburumu… atau memburu bayangan dari diriku sendiri?” bisiknya.
Di cermin kamar, Yae merasa melihat wajah AS menatap balik, senyum samar. Ia segera menyadari—paranoia mulai menguasainya.
Keesokan harinya, saat briefing, AS mengirim pesan langsung ke ruang rapat lewat proyektor: wajahnya muncul, samar, seolah menyatu dengan sistem mereka.
> “Yae. Kau bisa memburuku, tapi pada akhirnya, kau hanya akan menemukan dirimu sendiri.”
Ruangan sunyi. Semua anggota tim menatap Yae, menunggu jawabannya. Tapi Yae hanya menunduk, wajahnya berat, seakan kata-kata itu menembus jantungnya
Bab 16 – Shattered Trust
Setelah pesan terakhir dari AS, suasana dalam Division Zero semakin retak. Kinaki semakin vokal menentang Yae, sementara Natsumi berusaha mempertahankan kepercayaan di antara mereka.
“Dia bermain dengan pikiranmu, Yae,” kata Natsumi. “Jangan biarkan kata-katanya masuk terlalu dalam.”
Yae menghela napas panjang. “Mungkin dia benar. Mungkin aku lebih mirip dengannya daripada yang kukira.”
Kinaki berdiri, mengepalkan tangan. “Kalau kau mulai ragu, kau tidak pantas memimpin tim ini!”
Sukhoi segera menahan Kinaki. “Cukup. Pertengkaran ini hanya membuatnya lebih kuat. Itu yang dia mau.”
Namun Minaru, dengan suara kecil, berkata: “Bagaimana kalau Kinaki benar? Bagaimana kalau AS memang tahu sesuatu tentang masa lalu Yae yang kita tidak tahu?”
Keheningan menyelimuti ruangan. Tatapan mereka tertuju pada Yae, yang menunduk, tak bisa memberi jawaban.
---
Bab 17 – The Haunting Past
Yae memutuskan pergi sendiri malam itu, kembali ke arsip militer yang dulu ia temukan. Di sana ia menggali lebih dalam tentang proyek Chimera.
Di antara dokumen-dokumen yang berdebu, ia menemukan berkas dengan namanya sendiri.
> Subjek Potensial: Yae.
Catatan: Cocok untuk program, tapi gagal direkrut karena campur tangan seorang perwira.
Yae terdiam. Jadi benar—ia pernah ditargetkan menjadi bagian dari eksperimen itu.
“Kalau bukan karena satu orang yang menyelamatkanku… aku mungkin akan bernasib sama seperti AS.”
Suara samar terdengar dari lorong gelap arsip. “Dan itu sebabnya kau tidak pernah benar-benar bisa melawanku.”
Yae berbalik, menodongkan pistol, tapi lorong kosong. Hanya bayangan yang bergetar di dinding.
---
Bab 18 – Clash in the Rain
Beberapa hari kemudian, Division Zero mendapat informasi bahwa AS terlihat di distrik pelabuhan Yokosuka. Hujan deras turun malam itu, menciptakan kabut tebal.
Tim bergegas, menyisir gudang-gudang tua. Tiba-tiba, Kinaki melihat sosok di atas kontainer. “Itu dia!”
Ia langsung mengejar, meski Yae berteriak agar menunggu. Perburuan singkat terjadi di antara hujan dan baja. Kinaki akhirnya berhadapan langsung dengan AS.
“Monster sialan! Kau sudah merusak hidup kami!”
AS hanya menatapnya dengan tenang. “Aku tidak merusak. Aku hanya membuka topeng dunia ini. Kau seharusnya berterima kasih.”
Kinaki menembak, tapi peluru hanya menghantam udara kosong. AS sudah menghilang di balik kabut, meninggalkan cemoohan dingin:
> “Kemarahanmu membuatmu buta. Sama seperti semua orang.”
Kinaki jatuh berlutut, basah kuyup, frustrasi. Yae datang, tapi hanya bisa menatap kosong ke arah kabut, hatinya semakin berat.
---
Bab 19 – Threads of Conspiracy
Dari investigasi terbaru, Natsumi menemukan dokumen bahwa proyek Chimera sebenarnya tidak sepenuhnya dihentikan. Ada faksi rahasia di militer yang masih melanjutkannya secara ilegal.
“Jadi ini bukan hanya balas dendam pribadi,” katanya dengan wajah pucat. “Ini perang melawan sistem yang masih hidup.”
Sukhoi menunduk, rahangnya mengeras. “Aku pernah curiga. Dunia ini memang kotor. Dan mungkin, hanya seseorang seperti AS yang bisa menyingkapkannya.”
Minaru menolak. “Itu hanya alasan. Dia tetap pembunuh!”
Yae mengetuk meja. “Apapun motifnya, tugas kita tetap sama: menghentikannya sebelum lebih banyak nyawa hilang.”
Namun di dalam hatinya, Yae mulai bertanya: apakah mereka benar-benar menghentikan kejahatan… atau hanya melindungi rahasia kelam negara?
---
Bab 20 – Fire and Silence
AS menyerang markas kecil Division Zero di Osaka. Ledakan mengguncang malam, membakar dokumen, menghancurkan fasilitas.
Tim selamat, tapi pesan AS jelas: ia bisa menyentuh mereka kapan saja.
Di reruntuhan, Yae menemukan catatan singkat tertempel di dinding yang hangus:
> “Kau masih belum memilih, Yae. Polisi… atau bayangan. Cepatlah sebelum terlambat.”
Api masih membara di sekeliling mereka. Natsumi menangis, Kinaki mengamuk, Sukhoi diam seribu bahasa.
Dan Yae berdiri di tengah kobaran api, menatap catatan itu lama sekali, sadar bahwa perang ini bukan lagi sekadar polisi melawan penjahat. Ini adalah pertarungan eksistensi.
Bab 21 – Whisper of Treason
Setelah markas Osaka hancur, Division Zero dipindahkan sementara ke fasilitas bawah tanah. Tapi luka batin mereka jauh lebih dalam daripada luka fisik.
Kinaki semakin keras menuduh ada pengkhianat. “AS tidak mungkin selalu tahu langkah kita kalau tidak ada yang membocorkan informasi!”
Natsumi membela Minaru, yang tampak terpojok. “Berhenti menuduh tanpa bukti!”
Sukhoi menatap Yae. “Tapi kita harus jujur, semua kemungkinan terbuka. Termasuk… salah satu dari kita.”
Yae terdiam. Ia tahu rahasia masa lalunya—bahwa ia hampir menjadi bagian dari proyek Chimera—bisa membuat mereka semua meragukannya. Tapi untuk saat ini, ia memilih diam.
Di malam yang sama, sebuah pesan muncul di layar komputer ruang briefing:
> “Pengkhianat tidak di antara kalian. Pengkhianat adalah sistem yang kalian lindungi.” – AS
Kata-kata itu menampar lebih keras dari peluru.
---
Bab 22 – The Buried Truth
Yae memutuskan menggali lebih dalam. Ia menemui seorang mantan perwira yang dulu terlibat dalam proyek Chimera, kini hidup sebagai buronan.
Pria itu mengaku: “Chimera tidak pernah mati. Kami hanya mengubah wajahnya. Anak-anak baru sedang dipersiapkan… untuk perang yang akan datang.”
Yae merasakan darahnya membeku. “Anak-anak? Mereka mengulangi semuanya?”
Pria itu mengangguk lemah. “Dan AS tahu. Dia memburumu bukan hanya untuk balas dendam. Dia ingin menghancurkan seluruh fondasi proyek ini.”
Yae menodongkan pistol. “Siapa yang masih memimpin?”
Pria itu hanya tersenyum getir. “Mungkin… orang yang kau sebut atasanmu.”
Sebelum Yae bisa mendapat lebih banyak jawaban, pria itu sudah bunuh diri dengan kapsul sianida.
---
Bab 23 – Siege of Shadows
Beberapa hari kemudian, AS melancarkan serangan besar. Ia membajak siaran televisi nasional, menampilkan wajahnya yang ditutupi bayangan, dengan pesan mengguncang:
> “Negara ini membangun kekuatannya di atas darah anak-anak. Aku bukti hidupnya. Dan aku akan pastikan semua tahu.”
Kepanikan merebak di seluruh Jepang. Pemerintah terpojok, dan Division Zero berada di tengah badai.
Sementara itu, AS menyerang fasilitas militer rahasia, membebaskan beberapa subjek eksperimen yang masih hidup. Mereka, dengan luka batin dan fisik, kini berdiri di sisinya.
“Dia membangun pasukannya sendiri,” kata Sukhoi dengan suara berat. “Ini lebih dari sekadar pembunuhan berantai. Ini pemberontakan.”
---
Bab 24 – Fall of Innocence
Dalam operasi penyergapan di Tokyo, Division Zero menemukan salah satu remaja eksperimen yang dibebaskan AS. Anak itu berusia 15 tahun, tubuhnya penuh bekas luka, matanya kosong.
Minaru mendekat, mencoba menenangkan. “Kami bisa menolongmu. Kau tidak harus ikut dia.”
Anak itu berbisik lirih: “Kalian tidak bisa menolong. Dia satu-satunya yang mengerti kami.”
Tiba-tiba, anak itu menarik granat dari sakunya. Yae berlari, melindungi Minaru, ledakan kecil menghantam tembok di belakang mereka. Anak itu tewas di tempat.
Natsumi menangis keras, sementara Yae menatap tubuh remaja itu dengan perasaan hampa. “Berapa banyak yang harus mati… sebelum semua ini berakhir?”
---
Bab 25 – The Silent Ultimatum
AS mengirim pesan terakhir ke Division Zero. Sebuah video dengan wajahnya terlihat jelas untuk pertama kalinya—mata tajam, wajah muda namun penuh luka.
> “Ini bukan lagi perburuan. Ini ujian akhir. Kalian punya dua pilihan: melindungi sistem busuk yang menciptakanku, atau menghancurkannya bersama aku. Temui aku di reruntuhan markas Chimera. Satu-satunya tempat kita bisa menyelesaikan ini.”
Yae menatap layar, seluruh tim menunggu keputusannya.
“Ini jebakan,” kata Sukhoi.
“Tentu saja jebakan,” jawab Yae, suaranya dingin. “Tapi jebakan ini adalah satu-satunya jalan keluar.”
Kinaki mengangguk, penuh api amarah. “Kalau begitu kita habisi dia.”
Natsumi menggenggam tangan Yae. “Jangan kehilangan dirimu sendiri dalam perang ini.”
Dan dengan itu, Division Zero bersiap menuju pertempuran terakhir.
Bab 26 – The Last Gambit
Reruntuhan markas Chimera terletak di sebuah pulau kecil, ditinggalkan sejak skandal proyek itu terkuak. Malam itu, hujan deras dan petir menyambut kedatangan Division Zero.
Helikopter yang mereka tumpangi bergetar diterpa angin kencang. Kinaki mengepalkan senjata. “Akhirnya… saatnya mengakhiri mimpi buruk ini.”
Sukhoi tetap tenang. “Jangan gegabah. Dia menunggumu untuk melakukan kesalahan.”
Yae duduk di depan, wajahnya tanpa ekspresi. Tapi di dalam hatinya, badai berkecamuk. Ia tahu pertemuan ini bukan sekadar polisi mengejar kriminal. Ini pertemuan dua jiwa yang pernah hampir berbagi nasib.
Mereka mendarat. Pulau itu sunyi, hanya suara hujan menimpa reruntuhan beton dan besi.
Saat memasuki bangunan utama, lampu tiba-tiba menyala. Suara AS menggema dari pengeras suara rusak:
> “Selamat datang kembali ke neraka tempatku lahir.”
Lorong-lorong penuh grafiti tulisan darah: “Kami anak-anak yang kalian buang.”
Tiba di aula utama, AS menunggu. Tubuhnya tegap, mata tajam, wajahnya jelas untuk pertama kali terlihat. Hanya 23 tahun, tapi luka-lukanya membuatnya tampak lebih tua dari usianya.
“Yae,” katanya datar. “Kau akhirnya datang.”
Yae melangkah maju. “Akhiri ini, AS. Kau sudah cukup membunuh.”
AS tersenyum pahit. “Membunuh? Aku hanya membalas. Kau tahu betul… kalau kau tidak diselamatkan dulu, kau akan berdiri di sisiku hari ini.”
Kinaki menodongkan senjata. “Cukup bicara! Kau monster!”
AS menatap Kinaki dengan dingin. “Monster? Atau cermin dari sistem yang kalian lindungi?”
Ketegangan meledak. Pasukan kecil AS, para korban Chimera yang selamat, muncul dari bayangan. Pertempuran sengit pecah.
Sukhoi menahan tiga lawan sekaligus, Kinaki bertarung membabi buta, Minaru hampir tewas diserang sebelum diselamatkan Yae.
Di tengah kekacauan, Yae mengejar AS ke lantai atas. Hujan deras masuk melalui atap yang runtuh, menciptakan arena terakhir mereka.
AS menodongkan pistol. “Kau dan aku sama. Bedanya, aku memilih melawan. Kau memilih tunduk.”
Yae mengangkat pistolnya sendiri. “Kalau aku sama sepertimu, aku tidak akan ada di sini sekarang.”
Kedua pistol ditembakkan hampir bersamaan. Telinga Yae berdenging, tubuhnya jatuh berlutut. AS juga terhuyung, darah mengalir dari bahunya.
Pertarungan belum selesai—mata mereka bertemu, penuh rasa sakit, amarah, dan pengakuan yang tidak pernah diucapkan.
---
Bab 27 – Manhunt’s End
Hujan deras membasahi atap reruntuhan. Yae dan AS saling berhadapan, sama-sama terluka, sama-sama kelelahan.
AS tertawa lirih. “Kau pikir menangkapku akan menghentikan ini? Sistem tetap hidup. Proyek Chimera akan terus berjalan.”
Yae menatapnya dengan mata penuh tekad. “Kalau begitu aku akan hancurkan sistem itu… dengan caraku sendiri. Tapi bukan dengan darah orang tak bersalah.”
AS terdiam sejenak, lalu tersenyum getir. “Mungkin… itu bedanya kita.”
Ia menjatuhkan pistolnya, membiarkan hujan mencuci darah di tangannya. “Akhirnya aku bertemu seseorang yang benar-benar mengerti… meski terlambat.”
Tiba-tiba, suara tembakan terdengar. Peluru menembus dada AS. Kinaki berdiri di belakang Yae, senjatanya berasap.
“Dia harus mati. Kalau tidak, dia akan terus membunuh,” katanya dingin.
AS terhuyung, menatap Yae untuk terakhir kalinya. “Ingatlah… kau tidak jauh berbeda dariku.” Lalu ia jatuh, tubuhnya terbaring di genangan hujan, matanya masih terbuka.
Keheningan menyelimuti pulau. Tim berdiri di antara reruntuhan, lelah, hancur, tapi hidup.
Natsumi menangis. “Semuanya… akhirnya berakhir.”
Yae tidak menjawab. Ia hanya menatap tubuh AS lama sekali, lalu menutup matanya dengan tangan. “Beristirahatlah. Kau tidak lagi bayangan.”
Helikopter datang menjemput. Saat terbang meninggalkan pulau, Yae menatap kota Tokyo yang bercahaya di kejauhan. Ia tahu pertarungan mereka baru permulaan. Proyek Chimera masih ada, rahasia kotor negara masih bersembunyi.
Tapi untuk malam ini, perburuan telah usai.
***Download NovelToon to enjoy a better reading experience!***
Comments