Death Lullaby

Death Lullaby

pesuruh OSIS

Aku menatap langit-langit, yang bersemburat warna coklat tipis. Seharusnya tidak berwarna seperti itu, tapi debu yang menumpuk telah melunturkan warna putih aslinya. Kenapa aku tiba-tiba jadi puitis? Mungkin karena Shani dari klub sastra kemarin, atau mungkin Yuri dari klub drama, yang senang membuatku mendengarkan monolognya.

Aku menoleh ke samping, dan di sana duduk presiden klub dansa modern di meja rias klubnya.

"Jam berapa sekarang?" tanyaku pada Michelle, yang sedang mengenakan seragamnya.

Michelle tersenyum padaku dan melirik jam tangan biru kecilnya.

"Sepertinya istirahat pertama," jawabnya.

Aku memaksa diriku untuk bangun, meski itu hanya matras olahraga, tapi semua jenis kasur itu berbahaya seperti itu, membuatnya sulit untuk bangkit. Setelah beberapa kali gagal, aku menyerah dan memilih untuk bersandar di dinding saja. Michelle duduk di meja rias dan mulai merapikan diri, menyisir rambut hitam lurusnya yang sebahu. Dia mengoleskan lapisan tipis riasan ke wajahnya yang cantik, dan mengakhiri sesi mempercantik dirinya dengan memoleskan lipstik tipis di bibirnya yang tipis.

"Nih, tangkap,"

Aku menangkap celana yang dilemparkan Michelle padaku. Dia sudah selesai memakai kembali seragamnya, sementara aku masih berjuang untuk bangun. Tapi bahkan sebagai pesuruh OSIS, yang membuatku bisa melanggar beberapa peraturan, yang dasar, seperti memakai seragam, tetap harus dipatuhi.

"Ngapain dandan segala?" tanyaku, pontang-panting memakai celana.

"Biar cantik lah," jawabnya dengan sedikit berteriak.

Aku tidak terlalu mengerti tentang wanita, mereka suka menutupi kecantikan mereka dengan riasan. Aku tidak pernah suka melihat mereka dengan lapisan tebal; Aku lebih suka mereka apa adanya, itulah sebabnya aku senang melihat mereka tidur.

"Telepon aku nanti, ya, baby?"

"Ya,"

Adik kelasku meninggalkanku sendirian, dan aku harus segera melaporkan diri ke ruang klubku sendiri, karena mungkin kali ini aku akan mendapat tugas. Aku memakai seragamku dan melangkah keluar dari ruang klub Michelle.

Untungnya, ruang klubku tepat di seberang ruangan Michelle, jadi aku tidak perlu berjalan jauh. Dari kejauhan, aku melihat Guntur, salah satu pesuruh OSIS lain sepertiku, berjalan dengan seorang gadis. Itu menarik karena Guntur tidak pernah membicarakan pacarnya.

Aku mengabaikan Guntur dan mengetuk pintu ruang klubku. Komunitas pecinta hamster, bisa kau bayangkan?

"Password?" tanya seseorang dari dalam.

"Sejak kapan kita pakai password?"

Pintu terbuka, dan di sana berdirilah makhluk lain dari komunitas pecinta hamster ini. Dia menatapku dengan tatapan yang berbunga-bunga, yah, aku tidak tahu apa yang membuatnya begitu bahagia hari ini. Seringainya... oh, itu sama seperti saat aku pertama kali bergabung. Dia mengenakan seragam yang tidak disetrika, penuh lipatan bekas jemuran, dan aku bisa melihat kaus oranye mengintip dari baliknya.

"Guntur punya pacar? Sejak kapan?" tanyaku pada si makhluk.

"Hmm... Guntur punya pacar? Nggak mungkin lah, palingan juga bosnya," jawabnya sambil mengutak-atik sirkuit elektronik di tangannya.

Yah, nama makhluk itu Sagha, aku tidak ingat nama lengkapnya, tapi dia pesuruh OSIS sepertiku. Dia hiperaktif, selalu mengotak-atik sesuatu di tangannya, selalu bahagia, dan selalu seperti orang yang kebanyakan makan gula. Meskipun begitu, dia orang yang baik, jenius dalam banyak hal, IT salah satunya. Itu sebabnya aku sering meminta bantuannya mencari info, atau sekadar mencari tahu tentang gadis-gadis yang menarik perhatianku.

"lo berdua ngapain tadi berdua sama Michelle? Berisik banget," kata makhluk lain di ruangan itu.

Aku mendorong Sagha ke samping untuk masuk, dan orang yang bertanya tadi sedang duduk di ujung. Tubuhnya jauh lebih besar dariku, dengan otot-otot yang menyembul dari seragamnya yang terlihat terlalu kecil. Wajahnya seram, seperti preman jalanan, dan itu cocok untuknya, karena dia adalah tukang pukul di kelompok kami.

"Latihan paduan suara," jawabku asal.

"Gue serius, monyet," kata makhluk itu lagi, kali ini dengan nada lebih tinggi.

"Kayak nggak tau aja, Dho. Lagian, lo kan yang lebih pengalaman."

Mendengar jawabanku, makhluk bernama Edho itu kehilangan minat dan kembali ke sketsanya.

Aku mengalihkan pandanganku ke makhluk terakhir di ruangan itu, yang sedang sibuk dengan ponselnya: Rizal. Dia yang paling misterius di kelompok kami, aku tidak tahu bagaimana menggambarkannya dengan benar.

Dia jarang bicara, lebih suka menghabiskan waktunya dengan ponselnya dan menghilang ditelan bumi. Kedengarannya aneh, tapi jika kau bisa muncul dan menghilang tiba-tiba, "aneh" mungkin kata yang tepat. Sedikit berlebihan, tapi begitulah yang kurasakan tentangnya. Dia bagian dari kelompok, jadi pasti ada alasan OSIS memilihnya.

Aku mengambil tempatku dan duduk di sofa di belakang komputer. Meskipun kami semua pesuruh OSIS, kami mendapat fasilitas lebih yang tidak dimiliki klub lain: dua komputer spek tinggi, Wi-Fi cepat, dua sofa, kulkas yang menyamar jadi rak buku, dan yang paling penting, kamar mandi pribadi.

"Heh, bukannya lo pacaran sama adiknya Ketua OSIS? Kok masih main sama cewek lain?" goda Sagha, sambil menyolder papan sirkuitnya.

"Selama Frieska nggak tahu, aman aja," jawabku.

"Chris, pesan dari Ketua OSIS: lo disuruh lapor," terdengar suara dingin, suara Rizal.

Aku melirik Rizal, dan dia menunjukkan layar ponselnya padaku. Aku membaca pesan di sana.

"Baru juga dibilangin. Kayaknya ini terakhir kalinya lo di ruangan ini, deh. Senang kenal sama lo,"

Sagha berdiri dan mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan, ekspresinya kini sedih.

"Apa-apaan sih lo," kataku, menolak jabat tangannya.

"Tapi kalau lo mati, ini bakal jadi perpisahan kita," kata Sagha, memaksakan jabatan tangan. Apa dia benar-benar mengharapkanku mati? Di sudut, Edho mencoba menyembunyikan tawanya di balik buku sketsanya, dan Rizal... aku bahkan tidak bisa menggambarkan wajahnya.

"Kalau gue mati, lo boleh ambil semua itu," kataku, menunjuk ke lokerku.

"Semua 'hadiah' lo?"

"Ya, semuanya."

"Kalau gitu, mati aja sana,"

Aku segera meninggalkan ruangan sebelum aku naik pitam dan melakukan sesuatu yang buruk pada Sagha. Aku berjalan melewati lorong-lorong sekolah dan menuruni tangga ke ruang OSIS di lantai dua. Aku mengetuk beberapa kali sebelum masuk.

Di dalam, beberapa orang sibuk mengurus dokumen, membolak-balik, menulis, dan di meja tengah, Ketua OSIS sekolahku duduk menandatangani surat-surat. Dia menatapku dengan tatapan tajamnya yang biasa, lalu dengan satu gerakan tangan, aktivitas sibuk di ruangan itu terhenti.

Mereka menghentikan apa yang mereka lakukan, membereskan map-map yang tadi mereka sortir ke dalam lemari. Beberapa menarik tirai dan pergi, meninggalkanku sendirian dengan gadis yang duduk memperhatikanku.

Melody adalah gadis yang cantik. Dia memiliki mata bulat dengan bola mata coklat yang indah, hidung mancung, pipi yang tirus, dan rambut hitam sebahu. Dia memiliki kulit paling putih yang pernah kukenal, satu-satunya kekurangan yang kutahu dari wujudnya yang sempurna adalah tinggi badannya. Meski begitu, untuk seorang gadis mungil, aura yang dikeluarkannya sangat menakutkan.

"Duduk," katanya tegas, dan aku menurut.

"Ada apa, Mel?"

"Jangan panggil aku Mel di sekolah," protesnya.

Melody, Ketua OSIS sekolahku, bukanlah orang asing bagiku. Aku sudah mengenalnya sebelum dia menjadi siswa top di sini. Aku sudah mengenalnya sebelum aku bergabung dengan kelompok kecilnya sebagai pesuruh, bahkan, dialah yang memasukkanku. Tapi sejak dia mendapat kekuasaan, aku bahkan tidak bisa memanggilnya dengan nama panggilan lamanya.

"Oke,"

"Kau sudah dengar gosip tentang lagu kematian di sekolah kita?" kata Melody, tanpa basa-basi. Dia bahkan tidak bertanya bagaimana kabarku. Tapi sudahlah, berdua seperti ini saja sudah cukup.

"Lo kan tahu gue nggak percayaan sama yang begituan."

"Aku tahu, tapi ada rumor yang menyebar, dan itu bikin aku khawatir."

"Kok bisa masalah takhayul nge-ancam OSIS?"

Tugas kami biasanya adalah membersihkan hal-hal yang mengganggu kenyamanan atau membahayakan kekuasaan OSIS. Atau sebaliknya, menunjukkan betapa berkuasanya OSIS. Menghajar orang yang dianggap berbahaya bagi OSIS, mengancam klub yang tidak patuh, dan hal-hal menyenangkan lainnya. Tentu saja, semua di dalam bayangan, tidak ada yang boleh tahu, karena OSIS punya nama baik yang harus dijaga.

"Belum, tapi histeria massa bisa terjadi jika ini tidak segera diselesaikan," jelasnya.

"Oke, gue mau bayaran penuh buat kerjaan ini."

"Semua yang kau butuhkan ada di sini. Selesaikan, dan kau akan dapat bayaranmu."

Melody memberiku amplop coklat, seperti biasa berisi detail tugas.

"Kalau gitu gue cabut... Mel," Aku sengaja melakukannya karena wajah marahnya adalah hal terlucu yang pernah kulihat. Dulu aku sering menggodanya hanya untuk melihatnya marah, tapi itu dulu, dan sekarang, aku merindukannya.

Aku menunggu ekspresinya berubah, tapi dia tetap memasang wajah kakunya yang kubenci. Rupanya, dia tidak akan memberiku kepuasan itu, jadi aku berbalik untuk meninggalkan ruangan.

"Chris,"

Aku berbalik, dan sebuah pulpen melayang ke arahku. Aku mundur untuk menghindar, tapi daguku tergores karena aku terlalu lambat. Aku menatap Melody, dan di sanalah, hal yang ingin kulihat sejak tadi. Rasa sakit itu memudar, terganti oleh rasa senang melihat wajah marah di gadis itu.

"Aku tahu soal kau dan gadis-gadis lain selain adikku. Jika kau sampai bikin dia patah hati, aku akan patahkan lehermu."

Sial, anak yang kelebihan gula itu benar, Melody tahu, dan dia benar-benar terlihat ingin membunuhku.

"Cukup adil," kataku, mencoba menutupi rasa takut yang baru saja muncul untuk pertama kalinya melihat Melody marah.

Episodes
Episodes

Updated 2 Episodes

Download

Like this story? Download the app to keep your reading history.
Download

Bonus

New users downloading the APP can read 10 episodes for free

Receive
NovelToon
Step Into A Different WORLD!
Download NovelToon APP on App Store and Google Play