Bulan Dan Bentala
Lampu kafe meredup separuh, tanda malam mulai menua tapi belum sepenuhnya usai. Beberapa meja masih terisi; obrolan kecil dan tawa samar berbaur dengan aroma kopi yang menenangkan. Bentala mengelap meja di sudut dekat jendela, gerakannya pelan dan teratur, sampai pandangannya terpaut pada seseorang di seberang ruangan.
Seorang gadis duduk sendirian, sibuk dengan buku sketsa dan pensil di atas mejanya. Ia tampak begitu tenggelam dalam dunia kecilnya sendiri, sesekali menunduk, menggoreskan sesuatu, lalu tersenyum tipis seolah hanya ia yang tahu rahasia di balik garis-garis itu. Hingga seseorang datang dan mengusik ketenangannya.
Seorang laki-laki tinggi berkemeja hitam tiba-tiba menarik kursi kosong di depannya, lalu duduk tanpa diminta. Ia mencoba mengajaknya berbincang—beberapa kalimat basa-basi yang terdengar canggung di tengah musik lembut kafe. Namun, gadis itu tak menoleh sedikit pun. Tak satu pun kata darinya keluar, hanya gerakan tangan yang tetap menari di atas kertas. Pada akhirnya, laki-laki itu bangkit dengan tawa kecil menutupi rasa kikuk, lalu kembali ke mejanya, meninggalkan gadis itu yang kembali larut dalam diamnya.
Langit datang menghampiri, mendapati Bentala berdiri diam sambil menatap ke arah meja pojok. Senyum nakal langsung muncul di wajahnya. Tanpa banyak pikir, ia melangkah cepat dan tiba-tiba melompat ke depan Bentala, sukses membuat temannya itu terlonjak kaget.
“Liatin apaan sih sampe fokus banget?” Langit menyipitkan mata, suaranya penuh godaan. “Jangan-jangan… liatin cewek, ya?”
Bentala mendengus pelan. “Bukan,” jawabnya cepat, meski tatapannya belum sepenuhnya beralih.
“Terus ngapain dari tadi merhatiin?” Langit bersedekap, menahan tawa.
Bentala akhirnya menoleh, menunduk sedikit sambil bicara pelan, seolah takut suaranya terdengar orang lain. “Dari tadi udah beberapa cowok nyamperin dia, tapi nggak ada satu pun yang berhasil. Semua langsung kabur setelah dia noleh.”
Langit mengikuti arah pandangnya, lalu terkekeh kecil. “Ah… jadi lo penasaran, bukan tertarik.”
Bentala tak menjawab. Hanya senyum tipis yang muncul di sudut bibirnya—senyum yang justru membenarkan segalanya.
Langit masih menahan tawa kecilnya ketika Anton datang menghampiri sambil membawa lap dan nampan berisi gelas kosong. “Lo berdua ngapain bisik-bisik di pojokan kayak mau ngerencanain kejahatan?” tanyanya santai.
“Tala lagi liatin cewek,” celetuk Langit cepat, membuat Bentala langsung melirik tajam.
Anton menoleh ke arah meja yang dimaksud. Begitu melihat sosok gadis berjaket denim itu, ia mengangguk kecil.
“Oh, yang itu? Kata nyokap, dia udah sering ke sini. Langganan tetap, kalau nggak salah.” Anton meletakkan nampan di atas meja dekat mereka. “Beberapa kali juga katanya ada cowok yang coba deketin, tapi nggak pernah ada yang digubris. Dingin banget, katanya.”
Langit terkekeh pelan. “Wah, pantesan menarik perhatian Tuan Bentala kita.”
“Diem, Lang,” sahut Bentala cepat, tapi suaranya tak benar-benar tegas.
Tatapannya justru kembali terarah ke sudut ruangan itu—ke arah gadis yang seolah dikelilingi jarak yang tak terlihat, terlalu jauh untuk didekati tapi entah kenapa sulit untuk tak diperhatikan.
Langit masih sibuk menertawakan sahabatnya ketika gadis di pojok itu akhirnya berdiri. Ia merapikan buku sketsanya, menyampirkan tote bag di bahunya, lalu melangkah menuju kasir tempat Anton berdiri. Bentala otomatis pura-pura sibuk mengelap meja, tapi matanya diam-diam mengikuti setiap langkahnya.
“Bill-nya, Kak,” ucap gadis itu pelan. Suaranya lembut tapi datar, nyaris tanpa ekspresi. Anton mengambil nota dan menekan beberapa tombol di mesin kasir. Saat menunggu, gadis itu mengeluarkan selembar kertas dari bukunya—lembar sketsa yang digores dengan cepat tapi rapi. Di atasnya tergambar suasana kafe mereka malam itu: meja, lampu gantung, dan tiga sosok samar di dalamnya.
“Ini buat kalian,” katanya sambil menyerahkan kertas itu.
Anton sempat tertegun sebelum menerimanya.
“Oh, dan…” gadis itu menambahkan, sedikit menoleh ke arah tempat Bentala berdiri, “tolong bilang ke teman lo yang di sana—stop natap orang kalau nggak berniat nyapa.”
Senyum tipis muncul di sudut bibirnya sebelum ia berbalik dan keluar dari kafe.
Anton masih memandangi pintu yang baru tertutup ketika Langit meledak tertawa. “Wah, gawat! Ketahuan tuh, Tal!”
Bentala hanya memutar bola matanya, berusaha menyembunyikan rona merah di wajahnya. “Apaan sih, biasa aja kali.”
“Biasa?” Langit menepuk bahunya sambil terkikik. “Cewek dingin kayak gitu aja bisa bikin lo bengong setengah jam. Udah, ngaku aja.”
Anton menyodorkan lembar sketsa itu ke mereka berdua. “Kalau begini sih… kayaknya bukan cewek biasa, Tal.”
Bentala menatap gambar itu—garis-garisnya sederhana, tapi entah kenapa terasa hidup. Ada sesuatu dalam sketsa itu yang membuat dadanya berdebar pelan. Ia belum tahu apa, tapi malam itu, sesuatu memang mulai berubah.
...***...
...PROLOG END...
***Download NovelToon to enjoy a better reading experience!***
Comments