Pagi masih berlanjut, langit pagi masih cerah tetapi suasana sekolah terasa berbeda. Bukan sepi bukan juga ramai, hanya terasa.. bergeser sedikit.
Seluruh siswa memasuki kelas nya masing masing setelah upacara, termasuk Evan dan Raka yang sudah masuk ke kelas lebih dulu.
Hari itu berjalan seperti biasa, namun Evan merasa hari itu berjalan lebih lambat dari biasanya. Bukan karna pelajaran yang membosankan, melainkan sesuatu yang tak bisa ia jelaskan.
Istirahat pun tiba, koridor sekolah seketika ramai dan dipenuhi oleh suara kaki dan obrolan siswa. Evan yang saat itu masih dikelas mengajak Raka untuk pergi ke kantin.
Evan menghampiri meja Raka
"ayo ke kantin, gw lapar nih."
"yaudah iya, sabar." jawabnya sembari sibuk merapikan bukunya.
Mereka pun mulai melangkah menuju kantin, sebelum keluar kelas Evan menoleh ke arah Theo yang masih sibuk membaca buku.
"Theo gaakan diajak?"
"palingan nanti juga ngikut kalau dia lapar, biarin aja. Dia pun keliatan sibuk sendiri tuh."
Dengan sedikit ragu Evan pun mengangguk dan akhirnya pergi ke kantin bersama Raka. Sesekali mereka menghindari siswa yang berlalu lalang, karna suasana yang selalu ramai saat jam istirahat.
Sesampainya di kantin, mereka mulai membeli makanan yang mereka inginkan. Evan membeli minuman dan Raka membeli makanan untuk mengganjal perutnya.
Saat hendak mengambil minum, Evan tanpa sengaja menyenggol botol di meja. Botol itu hampir jatuh, namun berhenti sesaat di tepi meja sebelum akhirnya jatuh ke lantai.
Evan terdiam sejenak.
"Barusan.. Lo lihat nggak?" tanyanya pelan.
"Hah, lihat apa?" Raka sudah sibuk membuka bungkus makanan nya.
Evan menoleh ke botol itu, cairan nya sudah menggenang seperti biasa.
"Ah mungkin perasaan gua aja," gumamnya, lalu duduk tanpa membahas nya lagi.
Mereka pun menyantap makanan mereka sembari mengobrol singkat si kantin.
Setelahnya mereka kembali ke kelas tepat sebelum bel masuk berbunyi.
Kegiatan belajar mengajar pun berlanjut, Evan fokus pada materi yang diberikan oleh gurunya dan mengerjakan tugasnya satu per satu hingga selesai. Tetapi, tiba tiba lampu kelas berkedip dan padam.
Evan menoleh ke atas, memperhatikan lampu kelas.
"Mati lampu ya?.."
Setelah itu, ia menoleh ke arah jam yang terpaku di dinding. Ia terkejut karena jam tersebut ikut berhenti bergerak.
Suara siswa di kelas seketika memenuhi ruangan.
Evan sempat melirik Theo di belakangnya, ternyata ia juga sempat melihat jam yang berhenti bergerak, Namun sikapnya tetap tenang.
Evan ingin bertanya, tetapi ucapnya terpotong oleh
guru yang sedang mencoba menenangkan siswa siswa lain, Karena itu Evan memilih untuk bertanya kepada Raka yang duduk tak jauh dari meja nya.
"Raka, memangnya listrik terhubung sama jam juga ya.. bukannya pakai baterai?" ucapnya pelan.
"Maksud lu apaan?, emangnya ada yang berubah sama jam?"
Evan menunjuk menggunakan jari telunjuk nya kearah jam.
"Itu-"
Namun sebelum Raka melihatnya, lampu kembali normal dan menyala seperti semula. Begitupun dengan jam yang sebelumnya mati.
"Gaada apa apa tuh sama jam nya, aman aja."
jawab Raka, dengan bingung.
Evan terdiam. Ada sesuatu yang terasa janggal, namun ia tak menemukan kata yang tepat untuk menjelaskannya.
Sesudah kejadian itu, pembelajaran dilanjut kembali karena situasi yang sudah aman dan memungkinkan. Tetapi Evan merasa sedikit pusing dan juga fokusnya berkurang setelah itu.
Tak lama setelahnya, Evan selesai mengerjakan tugasnya. Ia melirik jam sekali lagi, terlihat bahwa jarum jam sudah mendekati bel akhir sebelum pelajaran berakhir. Itu membuat Evan heran karena ia yakin belum satu jam berlalu sejak ia mulai mengerjakan tugasnya.
Beberapa saat kemudian, bel akhir pun berbunyi menandakan akhir dari kegiatan belajar hari ini. Seluruh siswa mengemas kembali barang barang mereka dan bergegas untuk pulang ke rumahnya masing masing, Termasuk Raka dan Evan.
Evan pun menghampiri Raka yang akan bergegas
"Raka, lu gaakan pulang bareng sama gw?,"
"lu duluan aja, gw ada eskul hari ini." sautnya.
Evan mengangguk pelan sebelum Raka pergi meninggalkan nya, ia menyadari bahwa hanya ia siswa yang masih berada di kelas. Sebelum melangkah untuk pulang, ia melirik ke bangku Theo yang kosong sesaat sebelum akhirnya memilih untuk pulang.
Sembari berjalan, kejadian kejadian yang terjadi sebelumnya memenuhi isi pikiran Evan. Begitupun dengan Theo.
"Tak biasanya Theo pulang lebih cepat. Apa dia sakit ya?,"
"ah sudahlah.." gumamnya pelan pada dirinya sendiri.
Evan pulang dengan satu perasaan yang sama sejak pagi, dunia ini terasa berjalan terlalu cepat. Dan entah kenapa, hanya dia yang menyadarinya.
***Download NovelToon to enjoy a better reading experience!***
Comments
xdcc
eksekusinya bgs bgtt
2026-01-04
0
Anonymous
lanjutt
2026-01-04
1