Keseharian Fatih
Pada pagi hari itu di sekolah SMP N 6. Aku dan temanku sedang berbincang di kelas, menunggu bel masuk.
"Eh, Fatih, kamu ga ganti baju dulu. Jam pertama sampai ketiga PJOK, loh." bilangnya dengan santai.
"Memangnya mengapa aku harus ganti sekarang, Frank? Ini masih jam 07.20, tersisa 30 menit lagi."
aku melihat ke arah jamku sembari melambaikan tangan dengan santai.
*Tung-tung-tung!*
*Jam pertama akan segera dimulai.*
Aku langsung membantingkan badanku ke depan—menghempas seluruh debu dan sampah yang ada di tanah, "Hah, apa-apaan ini?!"
Franky memegang jam tanganku lalu menunjuk ke jam dinding, "Bro, arlojimu itu lebih lambat 25 menit. Masa kamu lupa?"
"Aku harus cepat-cepat berganti baju! Ini darurat nasional!" aku segera merogoh ke dalam tasku, mencari pakaian olahraga.
"Hahhh!?" aku berteriak sangat keras hingga terbentuk gelombang kejut.
Bleghh… Duar!!
Pada saat yang bersamaan, Franky terhempas karena gelombang dari temannya yang berteriak.
"Walahhh, tolongg!" dia pun terlempar ke dinding keramik berwarna hijau, rambutnya menari-nari dengan gemulai.
Seperti sayur yang direbus terlalu lama. Kemudian, ia menabrak tembok itu sangat kejam, bentuk badannya pun sampai terukir di tembok.
"Aku membawa baju yang salah! Ini adalah pakaian cosplay Cinnamoroll milik adikku! Ini semua karena aku salah mengambil tas!" teriakku sembari melihat baju yang memiliki ekor spiral dan bando telinga anjing.
"Waduh, mengapa tasku juga harus berwarna pink seperti milik adikku!!~"
Franky menarik badannya yang sudah "gepeng" itu keluar, "Aduh, mau bagaimana lagi, bro… daripada pakai seragam batik lurik. Nanti kamu kena hukuman nyuci WC guru lagi."
Aku menggaruk kepalaku, "Hm, kamu ada betulnya juga. Baiklah! Ayo, temani aku pergi ke kamar mandi."
"Ya, sudah. Segera, jangan kelamaan. Pak gurunya pernah ngehukum aku buat breakdance lima ronde karena terlambat 5 menit. Sadis itu—tiap menit, satu menit breakdance!"
Aku dan Franky berlari ke kamar mandi secepat mungkin. Ini semua hanya demi menghindari hukuman guru di sekolah ini yang sangat tak masuk akal.
"Kamu tunggu aku di sini, baik? Aku akan berganti baju dalam sekejap!" ujarku sembari memegang pundak Franky.
Franky mengangguk dengan cepat, " Oke bro, gua ga bakal ninggalin kamu kayak waktu itu lagi."
"Sampai jumpa, aku akan henshin terlebih dahulu!" aku langsung menendang pintu bilik terdekat dengan keras hingga hampir membuat engselnya menjadi ompong.
"Pintu sialan! Kunci sialan, terbuat dari paku, tidak bisa dikunci!" keluhku sebelum mengunci dengan pintunya bergelantungan—semi tertutup.
5 menit dan 30 detik kemudian.
Gebrak!
"Ayo, segera tinggalkan tempat ini. Kita akan terlambat!" aku keluar dari kamar mandi dengan tergesa-gesa hingga terpleset beberapa kali.
Franky menyilangkan kedua lengannya, "Lama sekali kamu di dalam sana? Kamu berak lagi?"
"Aku sudah bilang sebelumnya, ini pakaian milik adikku. Ukurannya terlalu kecil, belum lagi aku harus mengenakan ekor, pita, wig, dan sebagainya!" aku terengah-engah.
Franky yang sadar pun meloncat, "Heh, bro, kamu kok jadi kayak cewek begitu? Kupu-kupu pagi kamu?"
"Ahh, tutup mulutmu dahulu. Ayo, kita harus segera pergi ke lapangan—sebelum terlambat!" menarik tangan Franky.
"Ayo, jika tidak, kita akan menjadi gasing di hadapan guru dan teman-teman!" menarik tangannya untuk menekankan ucapanku.
Pada akhirnya, kami pun sampai ke lapangan dengan Franky yang siap menjalani seluruh perintah guru, Dan aku, yang berpakaian lengkap seolah hendak pergi ke acara cosplay "wibu".
Hh…ini bukanlah jam olahraga, ini adalah jam tragedi!! Aku berdiri di sini, mengenakan pakaian Cinnamoroll adikku. Bagaimana kronologinya tadi aku hingga salah memilih baju!?
Dan ini ekor dan wig-nya terus menari-nari—memangnya mau menarik lawan jenis—laki-laki atau perempuan?! Tuhan, tolonglah hambamu ini yang sedang tertimpa musibah
superfantastictitanicginormousenormousgiganticcollosal ini!!
Aku dan Franky pun mengikuti barisan dengan mengendap-endap supaya pak guru tidak mengetahui keberadaan kita.
"Frank, kita jangan sampai tertangkap. Mengerti?" bisikku dengan pelan.
"Dimengerti, bos!" ia berbisik sembari memberi hormat.
Dengan perlahan-lahan namun pasti, kami pun menginfiltrasi barisan dengan sunyi.
Tetapi—
"Bro, pitamu imut sekali, aku ngira kamu anak orang. Mau kuculik." bisik Franky dengan hina.
"Heh, aku tidak bisa dikarungi! Lagi pula, kau sangat suka dengan anak-anak imut, aku heran." geramku dengan pelan.
"Ah, tombol apa ini yang ada di dadamu?" ia menekan tombol di dadaku tanpa aba-aba.
Wawayu? Og, og. Aye-ayea, aim yur lita bata flai!
"Wah, hancur sudah reputasiku ini!" aku menutup pita di dadaku yang menjerit-jerit.
Franky mencak-mencak, "Ya, udah, jadi gasing kita!!"
Pak guru pun segera melirik ke arah kami, "siapa itu? Murid terlambat lagikah? Ini akan menjadi sangat seru!"
Pak guru yang tampaknya dilengkapi radar segera menangkap kami, "Hayo, kalian sudah terlambat lagi. Kini, sudah jam berapa?~"
"Aduh, sama guru gila ini lagi.~ Tuhan, tolong aku yang memiliki nasib seperti ini!!" ia berdoa dengan tulus, seolah ia akan dijemput-Nya.
Pak guru menunjuk ke arah jamnya, "Ini sudah jam 07.51, kalian terlambat sekitar 11menit—yang berarti… 11 menit breakdance!"
Hah, apakah tadi jam dinding kelas sudah mati? Di jamku masih menunjukan 07.45. Waduhh, tamatlah diriku!
"Sekarang kamu dan kamu, maju ke depan. Sekarang!" dia mendorong kami ke depan barisan.
Andai… andai, bisa ku-rewind waktu.
Aku akan meng-skip hari ini!
Aku dan Franky pun berdiri di depan dengan aku masih berpakaian imut.
"Kalian tahu harus apa, bukan?" tanya Pak guru dengan mengejek.
Ampun dijee!
Aku dan Franky mulai berputar-putar—layaknya gasing yang terasuki setan. Rokku yang hanya mencapai lutut pun ikut memutar, memamerkan celana dalam Superman dan legging berenda.
"Sampai kapan kita harus berputar-putar seperti ini, Frank? Aku malu!~" ucapku dengan nada memekik.
"Santai bro, aku udah begini ratusan kali sejak pertama diterima di sini." jawabnya dengan meyakinkan.
1 jam dan 30 menit kemudian, jam olahraga selesai.
Pak guru menghampiri Fatih yang masih malu, dipermalukan pakaiannya.
"Oh ya, nak, kamu memakai baju yang salah juga, kan?" memiringkan kepalanya dengan menakutkan.
"I-iya Pak, me-memangnya ada apa?!" seluruh badanku gemetar hanya dengan satu pertanyaan itu.
"Setelah jam terakhir berbunyi, datang ke kamar mandi guru, ya?" nadanya datar nan mengancam.
Aku menelan ludah.
Apa dosaku, aku diberi sanksi sekejam ini oleh Tuhan? Tolonglah, beri hamba kesabaran seluas tujuh samudra!!
Fatih dan Franky pun mengakhiri harinya dengan rasa malu yang sunguh… sungguh hebat.
***Download NovelToon to enjoy a better reading experience!***
Comments