The Unwritten Child.
..."Kenapa aku ada dan kenapa aku harus ada? Setiap makhluk memiliki alasannya untuk ada dan mau tak mau harus menjalankan tugasnya namun kenapa aku harus melakukannya? Aku hanya ada untuk menghancurkan."...
Kosong, itu kosong dan sangat dingin. Saat aku membuka mata ku hanya ada kegelapan yang menyelimuti ku.
Aku berjalan menyusuri kegelapan yang kupanggil kekosongan itu rasanya aku sudah cukup berjalan sangat lama namun nampaknya seperti aku tak bergerak sedikit pun dari tempat ku berdiri sebelumnya.
Namun hal aneh terjadi, sebuah cahaya membutakan mata ku dan cahaya itu mengambil wujud. Itu adalah sebuah pohon raksasa yang seluruh bagiannya terbuat dari cahaya keemasan.
Itu indah, untuk pertama kalinya aku melihat sesuatu yang menakjubkan setelah berada di kekosongan ini berabad-abad.
Lalu sebuah lautan muncul di bawah akar akar pohon itu, langit terisi dengan apa yang sekarang disebut bintang-bintang gemerlap yang tak terhitung jumlahnya.
Lautan itu memantulkan cahaya dari pohon serta bintang-bintang di langit menambahkan kesan indah ke dalam pandangan ku.
Aku melihat pohon itu menumbuhkan daun-daun cahaya emas secara terus menerus. Aku mencoba mendekatinya lalu menyentuh salah satu daun namun daun yang ku sentuh itu langsung mati layu.
Aku langsung menarik tangan ku, ketakutan serta bingung membanjiri pikiran ku.
"Apa yang telah ku lakukan?"
Pikir ku saat itu. Aku mencoba menyentuh daun lain namun hasilnya sama, daun itu layu. Marah, aku pun mencoba terus untuk menyentuh daun daun lain namun hasilnya tetap sama tapi di saat yang bersamaan pohon itu terus menumbukan daun yang baru.
Di saat aku mulai gelisah, makhluk lain muncul dalam jumlah yang banyak mungkin ribuan, mereka adalah makhluk yang sekarang dijuluki sebagai dewa.
Aku melihat kelahiran para dewa, aku agak sedikit senang karena akhirnya aku memiliki teman. Aku mencoba berinteraksi dengan mereka tapi nampaknya mereka tidak bisa mendengar suara ku maupun melihat wujud ku.
Aku bingung dan melihat sekujur tubuhku dari pantulan air laut dan aku sadar, aku masih belum memiliki wujud. Tidak ada bayangan atau gambaran wujud ku di permukaan air itu.
Jadi aku mencoba untuk mengimajinasikan wujud ku dan di saat itu juga aku mendapatkan wujud seorang wanita berambut putih, mata berwarna merah darah, dan kulit putih pucat.
Saat aku berbalik melihat ke arah mereka aku melihat ke arah mereka, aku terkejut melihat pemandangan yang ku saksikan.
Salah satu dari mereka mulai membunuh dan memakan sesamanya. Dewa lain mencoba untuk menghentikannya namun ujung-ujungnya mereka malah mati ditangannya.
"Yelga kenapa engkau melakukan ini kepada saudara-saudara mu!?"
Salah satu dewa bertanya kepada dewa yang gila itu.
"Jangan bersikap seolah-olah kau mengenali ku, kita bukan saudara dan aku membenci 'keberadaan' ini!"
Yelga menjawab sambil terus membantai para saudaranya dengan tangan kosong. Aku melihat kejadian itu namun aku tak tau harus berbuat apa hingga pada akhirnya aku memutuskan untuk turun tangan membantu mereka.
Aku mencoba untuk menghalangi Yelga untuk melakukan aksi kejam nya namun dia menghempaskan ku, aku terlempar ke ranting-ranting pohon itu. Tangan Yelga yang menyentuh ku juga langsung hilang.
Tubuh ku mengenai banyak sekali daun, membuatnya mati seketika.
"Dia ...."
"Dia menghapus kehidupan di Yggdrasil!"
Dewa-dewa yang melihat itu menjadi ngeri dan diam seribu kata.
"Monster ...."
"Dia bukan dewa! Dia anomali yang bahkan tidak diciptakan oleh sang pencipta!"
Mendengar itu aku menjadi bingung, aku bukan anomali aku juga makhluk hidup! Aku adalah sesuatu!
Namun mereka mendesak ku untuk segera pergi dari sini, aku hanya ingin mencoba untuk membantu tapi mengapa?
"Mengapa jadi seperti ini ...?"
Di sisi lain Yelga mulai menyembuhkan tangannya dan mulai bertransformasi menjadi sesuatu yang lain. Tubuhnya menjadi setengah naga, kepalanya memiliki dua tanduk, mahkota api melayang di atas kepalanya, tangan-tangan kegelapan menyelimuti tubuh nya, dan mata-mata merah bermunculan di tubuhnya.

Musuh abadi keberadaan telah lahir, akhir yang tertulis di dalam daging dan darah dia adalah ....
"Vhal'zaroth!"
Namanya menggelegar kemana-mana, kelahirannya mengguncang ciptaan bahkan makhluk-makhluk celestial dapat merasakan kengerian di atas sana.
Aku segera bertindak, aku mendorongnya menjauh ke atas pergi dari tempat itu. Tubuhnya tak menghilang bahkan setelah ku sentuh, aku terus mendorongnya sampai pada akhirnya kami sampai ke tempat yang bahkan aku tak tau apa tempat ini.
Putih, tempat itu putih bersih seperti sebuah kanvas. Tidak sempat untuk berpikir tempat apa ini, Vhal'zaroth mencoba menerkam ku dari belakang namun aku berhasil menghindarinya.
Lalu aku mencoba untuk melakukan hal yang sama seperti yang ku lakukan kepada daun-daun di pohon itu, aku memukul nya namun hasilnya nihil. Tubuhnya bahkan tidak menghilang sedikit pun.
Tangan-tangan Vhal'zaroth mengunci ku di tempat, membuatku tak bisa bergerak.
"Kau bisa menghapus ciptaan dan kau malah memilih untuk bertarung untuk nya, pilihan yang naif."
Vhal'zaroth mengepalkan tangannya, energi sihir warna hitam menyelimuti kepalan tangannya di saat yang bersamaan aku mencoba terus untuk melepaskan diri hingga pada akhirnya aku sudah merasa muak.
Aku marah dan seketika gelombang energi terlepas dari ku dan tangan-tangan Vhal'zaroth yang menahan ku di tempat langsung menghilang, Vhal'zaroth terpental ke belakang, tubuhnya hilang sebagian.
Aku mulai mengerti cara menggunakan kekuatan ku sekarang. Kami bertarung terus-menerus selama berabad-abad, aku menghapusnya berkali-kali dari eksistensi namun dia tetap kembali.
Aku kehabisan cara untuk menghadapinya jadi aku memikirkan suatu cara yang lain. Aku ingin mengorbankan diri untuk mengurungnya di sini, di tempat yang terisolasi ini.
Vhal'zaroth menyerang lagi, tangan-tangannya berubah menjadi jutaan pedang, anak panah, dan tombak yang diarahkan sekaligus ke arah ku.
Dengan mudah aku menghapus serangannya dan disaat dia berpikir aku akan melakukan hal yang sama lagi, aku langsung bergegas berlari ke belakangnya, memeluknya dengan erat lalu membacakan mantra.
"Darahku menjadi rantai.
Jiwaku menjadi gerbang.
Kehendakku menjadi hukum.
Vhal'zaroth... tersegel lah disini, di tempat tak ternama ini!"
"Apa yang kau lakukan!?"
Tubuh ku meledak dan cahaya emas serta hitam membelenggu kebebasan Vhal'zaroth, tubuhnya terikat oleh rantai yang tercipta dari tubuh ku, sebuah penjara mengurung Vhal'zaroth seperti seekor burung dalam sangkar.
"Jalang busuk! Segel ini bukanlah akhir, Lilith...! hanya penundaan. Aku bersumpah akan kembali. Saat rantai ini hancur, seluruh keberadaan akan tenggelam dalam kekacauan dan kaulah yang akan menjadi awal dari pembalasanku!!!"
Vhal'zaroth berteriak marah, mengucapkan sumpahnya. Sumpah yang dikenal sebagai sumpah darah dan daging.
Tubuh ku lenyap, kesadaran ku mulai memudar namun aku merasakan aku jatuh ke bawah, jatuh, dan jatuh hingga pada akhirnya aku menyentuh permukaan air di dekat Yggdrasil.
Aku tenggelam, dingin dan sunyi tidak ada apapun di sini kecuali aku yang berakhir sendirian lagi.
Namun aku tidak ingin berhenti sampai di sini.
"Aku akan menghapus semua hal ini."
***Download NovelToon to enjoy a better reading experience!***
Comments