Mireon berbau seperti kota yang bekerja, bukan kota yang hidup.
Antiseptik. Beton basah. Dan di sub-level ini, jauh di bawah jalanan yang tak pernah ia lewati seperti orang biasa, ada aroma lain yang tak pernah berhasil ia beri nama.
Bukan darah.
Bukan bahan kimia.
Sesuatu yang lebih tua.
Kepatuhan.
.
Pintu biometrik di ujung koridor terbuka bahkan sebelum jemarinya menyentuh panel.
Tentu saja.
Mereka selalu tahu kapan ia datang.
Seo Yerin melangkah masuk.
Ruangan itu tidak besar. Tidak perlu.
Satu meja.
Dua kursi.
Lampu panel yang tak pernah berkedip.
Dinding beton tanpa jendela, karena di tempat seperti ini, tak ada alasan untuk melihat ke luar.
Han Seokjin sudah duduk di sisi seberang meja.
Tentu saja.
Kadang Yerin bertanya-tanya apakah lelaki itu pernah benar-benar meninggalkan ruangan ini, atau jika tempat ini membentuk dirinya lebih dulu lalu lupa melepaskannya.
Sebuah dossier terletak di hadapannya.
Tertutup.
Sudut-sudutnya rata sempurna.
Yerin berhenti di depan kursi yang disediakan.
Punggung lurus. Tangan diam di sisi tubuh.
Pandangan jatuh tepat di bawah garis mata Han.
Bukan menunduk.
Bukan menatap langsung.
Di antaranya.
Tubuhnya mengambil posisi itu tanpa perintah sadar. Refleks yang ditanam bertahun-tahun lalu, lalu dibiarkan tumbuh sendiri.
Han tidak langsung bicara.
Ia tidak pernah langsung bicara.
Keheningan di ruangan ini bukan ruang kosong.
Ia alat.
Seperti meja itu alat.
Seperti dossier itu alat.
Seperti dirinya alat.
Seperti Yerin alat.
Akhirnya, Han membuka dossier dan mendorongnya ke hadapan Yerin.
Halaman pertama menampilkan seorang pria berusia pertengahan lima puluhan, rahang bersih, senyum terlatih yang dibuat untuk menenangkan investor dan menipu negara.
Adrian Valemont.
Senior Trade Commissioner, Varelia.
Di bawahnya, satu keterangan singkat:
State-sanctioned broker. Military-grade black market routing. Active.
Yerin membaca.
Menyimpan.
Lalu membalik halaman.
Jemarinya menegang nyaris tak terlihat di tepi kertas.
Cassian Ezekiel Vanta.
CEO, Vireaux Global.
Ekspresinya datar. Tidak tersenyum. Tidak mencoba terlihat menyenangkan.
Mata dalam foto itu menatap lurus ke kamera dengan ketenangan yang terasa terlalu sadar, seolah kamera itu sendiri sedang diperiksa balik.
Yerin tidak membalik halaman berikutnya.
Satu detik.
Mungkin dua.
Han tidak bicara.
Ia tidak perlu.
Keheningannya adalah pengakuan yang tak memerlukan suara.
Ya. Aku tahu tepat apa arti nama itu bagimu.
Yerin membalik halaman.
Briefing berlanjut dalam nada yang sama.
Flat.
Presisi.
Tanpa ornamen.
Varelia.
Halcyon Risk Partners.
Identitas yang dibangun selama bertahun-tahun, lengkap dengan reputasi, kredensial, dan kepercayaan yang cukup untuk masuk melalui pintu depan tanpa meninggalkan bau operasi.
Adrian Valemont adalah target pertama.
Cassian Vanta adalah tujuan akhir.
Timeline terbuka.
Prioritas tertinggi.
Han menyampaikannya seperti seseorang yang sedang membacakan prakiraan cuaca.
Bukan karena ia tak peduli.
Karena kepedulian tak memiliki fungsi di ruangan ini.
Lalu ia berhenti.
Untuk pertama kalinya malam itu, jedanya terasa personal.
"You were not assigned to feel."
Kalimat itu diletakkan di udara seperti dokumen yang menunggu tanda tangan.
Keheningan Yerin menandatanganinya.
Han menutup map di hadapannya.
"Departure is at dawn."
Yerin berdiri dan mengambil dossier itu.
Di tangannya, kertas itu tidak terasa berat. Tidak pernah terasa berat - angka, nama, koordinat, semua tereduksi menjadi data yang bisa diproses, disimpan, dieksekusi.
Tapi ketika jarinya menutup cover dossier itu, ia tahu foto di halaman kedua masih ada di sana.
Saat cover-nya menutup, ia tahu foto di halaman kedua masih ada di sana.
Cassian Ezekiel Vanta.
Mata yang membaca kamera balik.
Mata yang belum pernah melihatnya.
Belum.
Ia berbalik dan melangkah keluar.
Pintu biometrik menutup tanpa suara di belakangnya.
Ruangan itu tetap sunyi.
Seolah ia tak pernah ada di sana.
***Download NovelToon to enjoy a better reading experience!***
Comments