#2

Bayi itu menangis dengan kencang dalam keranjang. Nagita melihat dengan ekspresi datarnya. "Mau apa?" tanyanya, tapi dia sadar kalau bayi tidak bisa menjawab. Nagita mengingat hasil pencariannya tadi dan mengecek popok bayi itu.

Oh. Warna kuning dan lembek.

Nagita membeli popok lewat jasa online dan beberapa keperluan bayi lainnya. Untuk menghindari tangisan bayi, Nagita memasang earphone dan menunggu hingga popoknya datang. Nagita melihat layar ponsel, memperhatikan gerak motor yang menuju ke rumahnya.

Setelah motor di layar itu sampai di depan perumahan, Nagita bangkit dari duduknya.

"Terima kasih," ucap Nagita menerima kantung plastik dari bapak-bapak dengan jaket hijau yang dibalas dengan senyuman.

Nagita masuk ke dalam dan menemukan bayi itu masih menangis. Nagita duduk bersila. Setelah setengah jam hanya diam, Nagita menyentuh pipi bayi tersebut. "Jangan nangis. Berisik."

Mendapat sentuhan dari jemari halus Nagita, tangis bayi itu perlahan mereda. Mata biru jernihnya menatap Nagita. Kemudian, jemari tangan bayi itu memaksa keluar dari balutan kain, kemudian memegang jari telunjuk Nagita kuat-kuat.

"Namamu siapa?" tanya Nagita. Tapi lagi-lagi Nagita sadar bahwa dirinya sedang berbincang dengan bayi. "Mau aku kasih nama? Aku jago kasih nama."

Nagita berpikir. Kemudian berkata. "Avodyie, ya?"

Bayi itu tertawa kecil. Nagita tersenyum sangat tipis. "Oke. Avodyie."

Dengan sangat hati-hati, Nagita mengangkat Avodyie. Siap mengganti popoknya.

Nagita tersenyum tulus siang itu. Setelah bertahun-tahun selalu palsu.

Ollie memencet bel pintu rumah Nagita berkali-kali sambil bibirnya menggigil kedinginan karena kehujanan. Udara Jakarta akhir-akhir ini selalu berubah-ubah secara ekstrem. Tadi siang, udaranya sangat panas mengering tenggorokan sekarang dingin menusuk tulang.

Setelah berusaha tiga kali, akhirnya pintu itu terbuka, menampilkan Nagita dengan kaus kuning dan celana pendek selutut motif bunga. Rambutnya yang panjang bergelombang terurai dan senyum kecil tersungging di wajahnya.

Ollie menyipitkan mata.

"Masuk, Llie," ucap Nagita mempersilakan masuk.

Ollie masuk masih dengan memperhatikan gerak-gerik Nagita. "Ada sesuatu yang mau lo omongin, Ta?"

Ollie duduk di ruang tamu sementara Nagita berjalan ke arah kamar tamu mencari handuk.

"Gue punya bayi, Llie."

"HAH?!"

Nagita menggeleng sembari memberikan handuk pada Ollie. "Nemu."

"HAAAH?!"

Nagita mengerutkan alisnya. "Kayak ada yang mati aja, kagetnya." Nagita kemudian menjelaskan hal yang terjadi tadi siang dan wajah Ollie berubah pucat pasi.

"Bayinya di mana sekarang?" tanya Ollie.

"Lo punya temen terpercaya dari perkumpulan lo yang bisa ngasih ASI ke Avodyie, gak?" tanya Nagita seraya ke arah dapur. "Oiya, lo mau minum apa?"

Ollie mengamati interior rumah Nagita. "Ta? Are you okay? Is there something you wanna tell me?"

Nagita mengamati Ollie, lalu mendengus geli. "Ada ASI buat Avodyie, gak? Ini gue buat thai tea aja, ya." 7

Ollie menghela napas. "Ada, kayaknya. Gue harus nanya dulu."

"Temen lo yang paling terpercaya ya, Llie. Gue gak mau yang aneh-aneh."

Ollie mengeringkan rambutnya yang lembab. "Naskah lo gimana, Ta?"

"Naskah? Hhmm...," Nagita mengaduk gelas. "All good. Is all good. Nanti malem gue kirim draft pertamanya ke lo." 5

Hanya terdengar dentingan sendok yang beradu pada gelas. Tak berapa lama, Nagita ke arah Ollie bersama segelas thai tea. Nagita diam, maka Ollie bertanya.

"Bayinya di mana sekarang?"

"Lagi tidur."

Ollie bergegas ke kamar Nagita. Melihat bayi itu benar-benar tidur anteng di sana, Ollie mengurut pangkal hidungnya.

Ollie langsung menghubungi para perkumpulan ibu-ibu untuk mencari ASI. Saat Ollie mencari, Nagita menyipitkan mata, membuat Ollie berseru jengkel. "IYA INI GUE CARIIN YANG TERPERCAYA, IYA." 1

Setelah mendapatkan tiga ibu 'terpercaya', Ollie mengatakan bahwa mereka akan ke rumah Nagita minggu ini untuk mengobrol lebih dekat. Ollie juga memaksa Nagita untuk membeli susu formula sebelum donor ASI itu datang. Nagita manggut-manggut, matanya seolah menempel pada layar ponsel. Ollie yang penasaran melihat layar tersebut, dan ternyata, Nagita sedang belajar menjadi ibu yang baik.

"Kok, gak lo serahin ke pihak yang bertanggungjawab aja, Ta? Ini kayak bukan lo banget," ucap Ollie setelah terjadi hening. "Apa ini gak ganggu lo? Naskah lo? Geo gimana?"

Nagita mendongak dari layar ponselnya. "Makasih udah dateng, Llie. Nanti gue telepon lo lagi kalo butuh sesuatu."

Episodes
Episodes

Updated 2 Episodes

Download

Like this story? Download the app to keep your reading history.
Download

Bonus

New users downloading the APP can read 10 episodes for free

Receive
NovelToon
Step Into A Different WORLD!
Download NovelToon APP on App Store and Google Play