Lima orang tewas dalam malam yang sama.
Setelah perang berdarah antara dua klan mafia terbesar—Dark Blood dan Darkness—pecah, semuanya berubah menjadi neraka. Dark Blood, klan yang dipimpin Anneta, jatuh ke tangan Joe, pemimpin Darkness yang terkenal kejam dan haus kekuasaan. Di malam kehancuran itu,
Anneta mati tertembak panah.
Sahabat sekaligus inti Dark Blood, Naura dan Viona dibunuh tanpa ampun. Sementara Luna dan Leo, saudara kembar yang koma, tewas terbakar di rumah sakit.
Dunia menganggap kisah mereka telah berakhir. Tapi ternyata… kematian bukanlah akhir.
Kelimanya terbangun di tubuh orang lain—anak-anak SMA yang hidupnya sangat kacau. Mereka hidup kembali dengan wajah baru, nama baru, namun dengan masa lalu yang belum selesai.
Akankah mereka mampu melanjutkan kehidupan di tubuh baru mereka? Yuk baca kisahnya agar tidak penasaran!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nongnong , isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MALAM KEHANCURAN
DUAARRR!!!
Dentuman ledakan mengguncang seluruh hutan tropis.
Asap hitam membumbung tinggi ke langit malam, bercampur dengan cahaya api dan suara tembakan yang tak berhenti sejak dua jam terakhir. Pepohonan besar runtuh satu per satu, sementara tanah basah berubah kacau oleh jejak pertempuran.
Perang besar antara dua klan mafia terbesar, yakni Dark Blood melawan Darkness, baru saja dimulai.
“Awas sebelah kiri!”
“Jangan biarkan mereka masuk!”
Suara teriakan anggota klan bersahutan di tengah kekacauan. Tubuh-tubuh bersenjata berlari di antara kabut dan asap, saling menyerang tanpa ampun.
Awalnya, Dark Blood berada di atas angin. Pasukan mereka berhasil mendesak Darkness hingga ke area sungai hutan. Namun kemenangan itu tak bertahan lama. Karena pengkhianatan muncul dari dalam.
Dor!
Salah satu anggota Dark Blood tiba-tiba menembak rekannya sendiri dari belakang. Jeritan memenuhi udara. Dalam hitungan detik, formasi pertahanan mereka runtuh berantakan.
“Pengkhianat…?!”
“Mustahil—ugh!”
Satu per satu anggota inti Dark Blood tumbang.
Di antara kepulan asap dan suara tembakan yang bersahutan, sosok seorang wanita masih berdiri tegak di tengah medan perang, namanya adalah Anneta.
Pemimpin Dark Blood sekaligus satu-satunya wanita yang berhasil membawa klannya menjadi salah satu kekuatan terbesar di dunia mafia.
Anneta berdiri di tengah medan perang dengan napas berat. Kemeja hitam yang dikenakannya telah robek di beberapa bagian akibat pertempuran, sementara bercak lumpur dan darah menodai lengan serta bahunya. Di genggaman tangannya, sebuah pedang masih terarah ke depan. Meski tubuhnya dipenuhi luka, tatapan tajam itu belum kehilangan sedikit pun kewibawaannya.
Di hadapannya, puluhan anggota Darkness perlahan mendekat. Dan di belakang mereka, Joe berjalan santai dengan senyum tipis di wajahnya. Namun jika dilihat lebih dekat, kondisi pria itu tidak jauh berbeda dari Anneta. Kemeja hitamnya telah sobek di beberapa bagian. Luka sayatan terlihat di lengan dan bahunya. Bahkan salah satu sisi wajahnya dipenuhi goresan yang masih mengeluarkan darah segar. Meski begitu, langkahnya tetap tenang. Seolah rasa sakit bukanlah sesuatu yang layak ia pedulikan.
"Aku ga nyangka Dark Blood masih bisa bertahan," ucap Joe lalu berhenti beberapa meter di depan Anneta.
Anneta menyeringai tipis, sebelum membalas, "Aku juga ga nyangka Darkness akan kehilangan setengah pasukannya cuma buat jatuhin aku."
Senyum Joe sedikit memudar. Ucapan itu memang benar. Kemenangan yang diraihnya malam ini tidak datang dengan mudah. Tubuhnya dipenuhi luka karena pertarungan melawan pasukan Dark Blood. Bahkan beberapa komandan terbaik Darkness telah tumbang selama pertempuran berlangsung.
Joe mengusap darah yang mengalir dari sudut bibirnya lalu tertawa pelan.
"Lo masih bisa bercanda dalam keadaan kayak gini?"
"Gue cuma ngomong fakta."
Angin malam berembus dingin di antara pepohonan yang porak-poranda akibat peperangan. Di tengah suara api dan rintik hujan yang mulai turun, Anneta dan Joe hanya saling menatap tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Sulit dipercaya bahwa dua orang yang kini saling menghunus senjata itu pernah menghabiskan bertahun-tahun bersama, saling mencintai dan merencanakan masa depan yang sama. Namun malam ini, mereka berdiri sebagai pemimpin dua klan yang saling menghancurkan.
"Kalau aja kita ga jadi musuh..." gumam Joe.
"Ucapan lo bikin gue mau muntah," potong Anneta.
Joe mengepalkan tangannya, tatapan matanya berubah dingin.
"Akhiri semuanya!" perintah Joe.
Begitu perintah itu keluar, beberapa anggota Darkness langsung bergerak maju. Anneta menggenggam pedangnya lebih erat. Meski tubuhnya nyaris mencapai batasnya, ia tidak berniat mundur. Anneta mengangkat pistol di tangan kirinya.
Dor! Dor! Dor!
Beberapa anak buah Joe yang berada paling depan langsung terjatuh, membuat langkah pasukan Darkness sedikit terhenti.
Namun Anneta tidak memberi mereka kesempatan untuk mengatur ulang formasi. Dengan gerakan cepat, ia menerjang ke depan dan mengayunkan pedangnya ke arah musuh yang mendekat. Suara benturan logam bersahutan di tengah hujan dan kepulan asap. Satu demi satu lawan tumbang di hadapannya, tak mampu menahan serangan yang datang tanpa ampun.
Meski tubuhnya dipenuhi luka, gerakan Anneta tetap tajam dan terukur. Setiap ayunan pedangnya seolah membawa tekad terakhir untuk mempertahankan Dark Blood. Percikan darah membasahi pipi dan dagunya, kontras dengan wajah cantik yang kini tampak begitu dingin dan menakutkan hingga beberapa anggota Darkness tanpa sadar mundur selangkah.
"Kenapa mundur? Takut?" ejek Anneta dengan seringai khas yang selalu berhasil memancing emosi lawannya.
Rahang Joe mengeras. Tangannya yang menggenggam pedang mengepal semakin kuat. Namun sebelum anak buah Darkness kembali bergerak—
Syuuttt....Syuuttt....Syuuttt
Puluhan anak panah melesat dari balik pepohonan.
Para anggota Darkness yang berada di garis depan langsung langsung tumbang sebelum sempat menyadari dari mana serangan itu datang.
Mata Joe langsung menyipit. Ternyata, serangan itu datang dari pasukan bantuan milik Dark Blood.
"Curang," desis Joe.
Anneta terkekeh pelan sambil mengusap darah di sudut bibirnya.
"Lo bicara soal kecurangan setelah mengirim pengkhianat ke klan gue? Lucu."
Ucapan itu membuat wajah Joe semakin gelap. Tanpa membuang waktu, ia langsung melesat maju. Dalam sekejap jarak di antara mereka terpangkas habis. Pedang di tangannya berayun cepat, mengarah lurus ke Anneta yang masih berdiri di tengah medan perang. Anneta refleks mengangkat pedangnya.
Clang!
Benturan logam menggema di seluruh area. Keduanya saling menatap dari jarak yang begitu dekat.
"Gue bersumpah," gumam Joe pelan. "Malam ini akan jadi akhir kalian, Dark Blood."
Anneta mendorong pedangnya hingga Joe terpaksa mundur selangkah.
"Lo kebanyakan ngomong."
Tanpa menunggu balasan, Anneta langsung menyerang. Pedangnya bergerak cepat membelah udara malam. Joe menangkis serangan itu, lalu membalas dengan ayunan yang tak kalah cepat.
Clang! Clang! Clang!
Percikan api bermunculan setiap kali kedua pedang beradu.
Para anggota kedua klan masih saling menyerang tanpa berani ikut campur dalam pertarungan keduanya. Mereka tahu pertarungan di hadapan mereka bukanlah pertarungan biasa. Ini adalah duel antara dua pemimpin.
Joe berputar dan mengayunkan pedangnya ke arah samping. Anneta berhasil menghindar, namun gerakan itu membuat luka di tubuhnya kembali terasa nyeri.
Joe kembali menerjang dengan serangan bertubi-tubi. Pedangnya beradu dengan milik Anneta berkali-kali hingga suara benturan logam menggema di seluruh medan perang.
Clang!
Clang!
Clang!
Meski tubuhnya dipenuhi luka, Anneta masih mampu mengimbangi setiap serangan yang datang. Bahkan beberapa kali Joe terpaksa mundur untuk menghindari serangan balasan yang mengarah ke titik vitalnya.
Rahang Joe mengeras. Dalam kondisi seperti itu, Anneta seharusnya sudah tumbang sejak lama. Namun wanita itu masih berdiri. Masih menjadi ancaman.
Saat pedang mereka kembali beradu, Joe sempat melirik ke arah salah satu bukit kecil di kejauhan. Hanya sepersekian detik. Namun itu sudah cukup baginya memberi isyarat dengan gerakan tangan yang hampir tidak terlihat.
Anneta terlalu fokus pada Joe yang berdiri di hadapannya. Membuatnya sama sekali tidak menyadarinya adanya pergerakan disekitarnya.
Clang!
Keduanya kembali bertukar serangan. Namun kali ini Joe tiba-tiba melompat mundur beberapa langkah. Anneta mengernyit. Ada yang tidak beres.
Syuuttt...
Sebuah anak panah melesat dari balik kegelapan. Mata Anneta langsung membelalak saat merasakan sakit yang sebelumnya tidak pernah ia rasakan.
Anak panah itu menghantam tubuhnya sebelum ia sempat menghindarinya. Pedang di tangannya terlepas dan jatuh ke tanah. Tubuhnya membeku. Napasnya terasa sesak. Perlahan, Anneta menunduk menatap anak panah yang menancap pada tubuhnya. Pandangannya kemudian beralih kepada Joe yang berdiri beberapa meter di depannya.
Perlahan, lutut Anneta menyentuh tanah. Dunia di sekelilingnya mulai kabur. Air mata yang tak sempat ia tahan jatuh membasahi pipinya. Dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun memimpin Dark Blood, ia merasa begitu lelah.
Bruk.
Tubuhnya tersungkur ke tanah.
"ANNETA!!" teriak Viona. Suaranya menggema di seluruh medan perang.
Seluruh anggota Dark Blood terdiam. Tidak ada yang bergerak. Mereka masih belum bisa menerima kenyataan jika pemimpin mereka telah jatuh.
"Net..." lirih Naura dengan suara bergetar.
Matanya berkaca-kaca menatap tubuh sahabatnya yang tak lagi bergerak.
"Nggak mungkin..." gumam salah seorang anggota Dark Blood.
Harapan mereka runtuh bersamaan dengan tumbangnya Anneta. Satu per satu senjata mulai terlepas dari genggaman. Sebagian anggota bahkan berlutut di tempat mereka berdiri.
Pertempuran telah berakhir. Namun Viona tidak peduli. Dengan air mata yang terus mengalir, ia berlari menerobos kerumunan menuju tubuh Anneta.
"ANNETA! BANGUN!" teriaknya histeris sambil mengguncang bahu sahabatnya. "JANGAN TINGGALIN KITA!"
Tubuh Anneta tetap diam. Tidak ada jawaban ataupun gerakan. Hanya keheningan yang terasa semakin menyakitkan.
Naura menundukkan kepalanya. Bahunya bergetar hebat menahan tangis. Namun tiba-tiba matanya membelalak. Di belakang Viona, seorang anggota Darkness mengangkat pedangnya.
"VIO, AWAS!!"
Viona tidak menoleh. Perhatiannya sepenuhnya tertuju pada Anneta yang berada dalam pelukannya. Sesaat kemudian tubuhnya menegang. Tangannya yang semula memegang tubuh Anneta mulai melemah. Detik berikutnya, tubuh Viona roboh tepat di samping Anneta.
Bruk.
"Vio!" teriak Naura.
Sret.
Belum sempat ia berlari menghampiri, pedang tajam menembus tubuh gadis itu. Rasa sakit menjalar dari punggungnya. Naura membeku. Dalam hitungan detik, tubuhnya roboh ke tanah. Matanya perlahan tertutup. Hingga akhirnya ia juga menghembuskan napas terakhirnya.
Malam itu...
Dark Blood kehilangan tiga orang terpentingnya sekaligus.
...****************...
Di saat yang sama…
Sebuah rumah sakit besar di pusat kota dipenuhi kepulan asap tebal. Alarm darurat berbunyi nyaring tanpa henti.
“Api di lantai tiga!”
“Cepat evakuasi pasien!”
Orang-orang berlarian panik di lorong rumah sakit. Di salah satu ruangan ICU, dua remaja kembar masih terbaring tak sadarkan diri di atas ranjang pasien. Mereka adalah Leo dan Luna.
Selang oksigen masih terpasang di wajah mereka, sementara cahaya api mulai terlihat dari balik pintu ruangan. Api semakin membesar dan asap hitam memenuhi langit-langit.
"Masih ada pasien di dalam!" teriak seorang perawat.
Beberapa petugas medis segera berlari menuju ruang ICU sambil membawa alat pemadam. Wajah mereka dipenuhi kepanikan.
"Ruang ICU 307 belum dievakuasi!"
"Cepat! Ada dua pasien di sana!"
Salah satu perawat mencoba membuka pintu ruangan, namun gelombang panas langsung menyambut dari dalam.
Brak!
Ia terpaksa mundur karena api telah menjalar ke seluruh sisi ruangan.
"Kita tidak bisa masuk!"
"Tapi kita harus menyelamatkan mereka!" teriak perawat lainnya dengan mata berkaca-kaca.
Mereka mencoba lagi. Namun kobaran api semakin membesar. Asap tebal memenuhi lorong hingga membuat siapa pun sulit bernapas. Petugas pemadam yang baru tiba segera menarik para perawat menjauh dari area tersebut.
"Sudah terlambat!" teriak salah satu petugas
"Apa maksudmu terlambat? Masih ada dua pasien di dalam!" balas salah seorang perawat sedikit emosi.
Petugas itu menunjuk ke arah ruangan yang kini sepenuhnya dilalap api.
"Api sudah mencapai sumber oksigen dan seluruh ruangan ICU hampir runtuh! Kalau kita memaksa masuk sekarang, kita hanya akan menambah korban!"
Beberapa detik kemudian, suara gemuruh terdengar dari dalam bangunan.
Brak!
Sebagian langit-langit ruangan ambruk disertai kobaran api yang semakin membesar. Wajah para perawat langsung pucat.
"Tim satu, amankan koridor timur!"
"Tim dua, cegah api menyebar ke ruang operasi!"
Perintah demi perintah segera diberikan. Para petugas pemadam bergerak cepat menuju posisi masing-masing. Selang air bertekanan tinggi mulai diarahkan ke titik-titik api yang masih aktif. Sementara itu, petugas medis membantu mengevakuasi pasien lain yang berhasil diselamatkan dari lantai atas.
Perjuangan melawan kobaran api berlangsung selama berjam-jam. Hingga menjelang dini hari, api akhirnya berhasil dipadamkan. Yang tersisa hanyalah bangunan hangus, asap tipis, dan bau menyengat yang memenuhi udara.
Tim penyisiran kemudian memasuki area yang sebelumnya tidak dapat dijangkau. Dengan hati-hati mereka memeriksa setiap sudut reruntuhan. Hingga akhirnya, mereka pun mencapai bekas ruang ICU 307.
mana dipanggil honey lagi /Doge/