Indonesia
NovelToon NovelToon
Diremehkan Sebagai Guru Honorer, Aku Punya Penghasilan Yang Fantastis

Diremehkan Sebagai Guru Honorer, Aku Punya Penghasilan Yang Fantastis

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Penyesalan Suami
Popularitas:4.4k
Nilai: 5
Nama Author: peony_ha

Menikah dengan Dr. Revan Aditya adalah impian Alya Gumaisya. Namun, sejak hari pertama, Alya sadar bahwa dirinya hanyalah istri pajangan yang dinikahi demi kepentingan keluarga, bukan karena cinta.

Bertahun-tahun hidup dalam pengabaian dan penghinaan, Alya akhirnya memilih pergi dan membangun hidupnya sendiri. Saat ia tak lagi mengharapkan cinta Revan, justru pria itu mulai menyadari bahwa wanita yang selama ini diabaikannya adalah satu-satunya yang benar-benar ia butuhkan.

Sayangnya, penyesalan selalu datang terlambat. Kini, Alya tak lagi ingin menjadi istri yang menunggu, sementara Revan harus berjuang menghadapi balas dendam paling menyakitkan—kehilangan wanita yang pernah mencintainya tanpa syarat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon peony_ha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ditinggal Saat Malam Pertama

Aku adalah Alya Ghumaisya, seorang gadis yang telah lulus menimba ilmu di kota, dan kini harus kembali mengabdikan diri di desa, di sekolah dasar swasta tempat ku dulu menimba ilmu.

Takdir memang tidak bisa di tebak dan suka melenceng dengan apa yang sudah kita rencanakan, hari ini aku ditakdirkan untuk menikah dengan seorang pria yang selama ini telah aku kagumi. Seorang dokter tampan, yang kehidupannya sangat misterius dan susah ditebak.

Aku mengenal dokter Revan, karena ayah bekerja di rumah keluarga besarnya. Ayah bekerja sebagai supir pribadi waktu mendiang ayah dokter Revan masih ada. Aku yang sering mengantar ayah makanan serta obat-obatan ke rumah besar itu, hingga aku sering tidak sengaja bertemu dengan dokter Revan. Dari sanalah, muncul benih kekaguman.

Mengagumi seorang pria yang cerdas, berilmu, tampan dan seorang dokter tidak ada salahnya.

Bulan lalu, suatu hal yang mengejutkan terjadi. Bu Rahayu, berkunjung kerumahku bersama dokter Revan. Mengungkapkan niat baiknya untuk meminang ku, satu bulan mengenal lebih jauh dengan dokter Revan, membuatku yakin untuk memilihnya sebagai suami.

Sebuah niat baik yang datang dan terkesan tiba-tiba, tapi apa salahnya untuk menerima niat baik yang datang.

Pada akhirnya, hari ini. Hari pernikahanku bersama dokter Revan akan dilangsungkan. di kediaman rumahku di Desa, acaranya sederhana hanya sanak saudara yang diundang juga tetangga dekat rumah.

"Cantik sekali neng Alya." penata rias memuji riasan pengantin di wajahku.

"Makasih teh, ini berkat karya tangan teteh juga. Makasih banyak udah dibikin pangling seperti ini." ungkapku sambil mematut didepan cermin.

Riasan sederhana tidak terlalu medok kini tertanam sempurna pada wajahku, hijab putih sudah membingkai rapi dengan aksesoris khas Sunda Putri, dengan siger kecil yang menghiasi bagian atas kepala serta untaian melati yang menjuntai lembut di sisi wajah.

Aku mematut diri sekali lagi di depan cermin. Rasanya sedikit asing melihat diriku sendiri dalam balutan busana pengantin seperti ini. Namun, di balik rasa gugup yang sejak tadi memenuhi dada, ada kebahagiaan kecil yang perlahan tumbuh.

Kebaya putih yang kukenakan tampak sederhana, tetapi justru membuatku merasa lebih anggun. Tidak banyak perhiasan yang melekat di tubuhku. Hanya beberapa aksesoris kecil yang semakin menyempurnakan penampilanku pagi ini.

Hari ini, aku benar-benar akan menjadi seorang istri.

"Akad akan segera dimulai neng, sekarang bismillah dulu. Minum air biar gak tegang, ini tisu teteh selipkan disini. Biar nanti kalau nangis, bisa di teptep saja. supaya tidak merusak riasan." ucap si teteh penata rias. Beliau begitu ramah.

Aku mengangguk, jantung mulai mulai berdegup tak karuan. Rasanya antara senang dan sedih. Percaya dan tidak, hari ini benar-benar aku akan menjadi seorang istri dari seorang dokter terkenal di kota sana.

Karena akad akan segera dimulai, aku di antar menuju ruang tengah untuk menyaksikan akad di balik kaca yang tertuju langsung pada halaman rumah, di dikursi yang sudah disediakan serta ditemani oleh dua sepupuku, saling menggenggam tangan erat. Berbagi ketegangan yang menyelimuti tubuhku.

Pandanganku langsung tertuju pada dr Revan. Yang sudah duduk tegap di altar pernikahan yang sudah disiapkan.

Beskap berwarna putih membalut tubuh tegapnya dengan begitu sempurna. Kain batik menjadi samping di bagian bawah, sementara bendo batik terpasang rapi di kepalanya. Sebuah keris terselip di bagian belakang, semakin menegaskan kesan gagah pada dirinya. Membuat sisi ketampann pada pria itu bertambah.

Revan tetaplah Revan.

Tidak banyak tersenyum, tidak banyak bicara, tetapi pagi itu ada sesuatu yang berbeda dari tatapan matanya.

Tatapan seorang laki-laki yang sebentar lagi akan mengucapkan janji untuk seorang perempuan.

Pria itu mulai memegang erat tangan ayah yang duduk disebelahnya, berpandangan saling tatap satu sama lain. Dari sorot mata ayah, aku menangkap jika ayah sedang berpesan untuk menitipkan seorang putri padanya, mengalihkan tanggung jawabnya pada pria yang akan menjadi suaminya.

Belum juga akad, tapi air mataku sudah menggenang pada di pelupuk mata.

Waktu mencengangkan itu tiba, setiap kalimat akad yang ayah ucapkan membuatku menahan nafas beberapa detik. Kemudian dijawab dengan suara yang begitu tegas, lancar tanpa banyak hambatan oleh dr Revan.

"Saya terima nikah dan kawinnya Alya Ghumaisya binti Darman dengan maskawin seperangkat perhiasan murni dibayar tunai."

"SAH..."

🌻🌻🌻

Semua rangkaian acara sudah selesai dilaksanakan, rasanya lelah sekali dan ingin segera merebahkan tubuh yang terasa pegal ini.

Setalah semua selesai, aku dan kak Revan langsung memasuki rumah untuk beristirahat sejenak.

"Kemasi pakaianmu, kamu akan langsung tinggal di rumah saya." dari suaranya terdengar kaku. Tapi memang begitulah sikapnya.

"Secepat itu kak? tidak mau istirahat dulu?" aku yang sedang duduk di sofa ruang tengah sontak memandangi wajah pria yang sedang menunduk sambil memijat pelipisnya.

Kak Revan mengangkat wajahnya, dalam hitungan detik pandangan kami bertemu sejenak. Sebelum kak Revan menggelengkan kepala, " Cepat, saya ada pasien yang harus ditangani malam ini."

"Tapi kak, kita baru saja menikah?"

"Nyawa orang lain lebih penting Alya. Cepat, saya tunggu lima belas menit."

Akhirnya aku mengangguk, melangkah pelan karena rok batik yang ku kenakan terasa sangat sempit, hingga membatasi kakiku untuk melangkah.

🌻🌻🌻

Tiga jam perjalan akhirnya kami sampai di kediaman rumah besar milik keluarga kak Revan dan Bu Rahayu. Aku turun dari mobil masih dengan kebaya yang membalut tubuhku, masih dengan riasan yang belum juga luntur pada wajahku.

Berjalan dengan langkah kecil sambil menarik koper, menyusul langkah tegap kak Revan yang sudah meninggalkanku jauh di depan sana. Pria itu terlihat sangat buru-buru sekali.

Keadaan rumah ini terlihat sepi, entah pada kemana para penghuninya. Akhirnya aku langsung menyusul kak Revan ke kamarnya. Pria itu sudah berganti pakaian dengan kemeja formal, tidak lupa membawa jas putih serta ia sedang melakukan panggilan dengan seseorang lewat telpon genggamnya.

"Iya sayang...aku kesana sekarang"

Sayang?

Siapa yang kak Revan panggil sayang? Bukannya dia akan pergi kerumah sakit.

Bahkan ia pergi begitu saja tanpa pamit kepadaku, yang terus memperhatikannya di ambang pintu kamar.

"Alya..." sapaan lembut membuyarkan lamunanku yang terus memperhatikan punggung kak Revan yang terus menjauh.

"Bu, Rahayu...."

Wanita itu tersenyum lembut kearahku. "Jangan salah paham pada Revan ya, ia memang selalu berbicara manis pada pasien anak-anaknya. Juga jika sedang buru-buru ia akan lupa segalanya. Maap mungkin ia sedang hectic, jadi tidak sempat pamit sama kamu"

Aku mengangguk paham, dengan senyum yang membingkai wajah. Penjelasan dari Bu Rahayu, mampu menepis semua pikiran negatif ku dengan pernikahan ini. Tapi entah mengapa, aku mulai merasakan sebuah keanehan pada kak Revan.

Pria itu tiba-tiba saja berubah, tidak sehangat saat kami belum menikah.

Malam pertama pernikahan, aku harus ditinggalkan karena sebuah pekerjaan mulia yang tidak bisa ditinggalkan.

Baru ku sadari, kehidupanku tidak akan sepenting itu dalam hidup kak Revan.

Bersambung

1
Arabella07
lanjut
Lembayung Bercerita: baik..ditunggu ya kak
total 1 replies
Ria Leilyhani
lanjutkan thor 😁
Ria Leilyhani: oke, makasih ya 😊
total 2 replies
Rian Moontero
mampiiirr
Lembayung Bercerita: makasih kak..
total 1 replies
Ria Leilyhani
cari yg lain aja Alya, ga usah ngarepin Revan lg, bikin nyesek. thor, Zara temennya Alya Zara Ayleen bukan?
Lembayung Bercerita: betul kak, kisah cinta ayleen dan Ar gak bisa paling gak bisa di lupain😍
total 3 replies
Ria Leilyhani
nyesek banget jadi Alya 😭 lanjut thor
Lembayung Bercerita: sama kak uthor juga sesak banget nulis nya
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!