Xiao Yu dipaksa ikut pemilihan selir oleh orangtuanya demi mengangkat derajat keluarga. Padahal gadis ini ingin masuk militer.
Akhirnya ia ikut pemilihan selir dengan berpura-pura bodoh. Tapi sungguh suatu hal ajaib. Dia justru terpilih.
Ternyata pangeran Zhang Li sengaja memilih selir bodoh untuk protes pada raja bahwa ia lelah terus disuruh mencari seorang pendamping.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 1
Langit fajar masih berwarna abu-abu kebiruan ketika udara dingin menembus kain tipis yang membungkus tubuh Xiao Yu.
Di halaman belakang rumah keluarga Xiao yang sunyi, dedaunan pohon bambu berkilau tertutup embun basah. Setiap kali angin bertiup, tetesan air jatuh menimpa tanah keras yang sudah dihafal luar kepala oleh kaki Xiao Yu.
Di tengah halaman itu, Xiao Yu berdiri dengan posisi kuda-kuda yang kokoh. Gagang pedang kayu di tangannya terasa dingin dan keras. Dalam hitungan detik, ia melangkah maju.
Suara khas terdengar membelah kesunyian saat pedang kayunya menebas udara dengan presisi yang tajam. Gerakannya tidak canggung, melainkan mengalir bagaikan air namun memiliki bobot yang mematikan. Setiap tebasan, tusukan, dan tangkisan dilakukan dengan ritme napas yang sangat teratur.
Keringat mulai menetes dari dahi dan melewati pipinya. Pakaian latihannya yang longgar sudah basah di bagian punggung.
Bagi gadis seusianya, fajar adalah waktu untuk memperolehkan dia tidur lelap atau merias diri. Namun bagi Xiao Yu, satu jam di fajar hari ini adalah satu-satunya saat di mana ia bisa menjadi dirinya sendiri.
Seorang prajurit, bukan seorang putri bangsawan.
Ia memutar tubuhnya cepat, melakukan serangan balasan ke arah sasaran kayu di ujung halaman, menciptakan bunyi benturan keras yang bergema di udara pagi.
"Cukup, Xiao Yu! Berhenti!"
Suara berat dan penuh amarah itu menghentikan gerakan Xiao Yu seketika. Ujung pedang kayunya menggantung beberapa inci dari sasaran.
Xiao Yu menoleh dan mendapati ayahnya, Tuan Xiao, berdiri di tepi halaman dengan wajah merah padam. Di sampingnya, ibunya mengusap dada dengan raut wajah cemas dan penuh kekecewaan.
"Ayah... Ibu..." Xiao Yu menurunkan pedang kayunya, mencoba mengatur napasnya yang masih memburu.
Tuan Xiao berjalan mendekat dengan langkah lebar, lalu tanpa peringatan merebut pedang kayu itu dari tangan Xiao Yu dan melemparkannya ke tanah hingga terpental.
"Apa yang sedang kau lakukan?! Hari sudah berganti dan surat keputusan dari ibu kota sudah sampai sejak kemarin sore! Namamu sudah terdaftar dalam seleksi selir kerajaan, dan kau masih bermain-main dengan kayu tak berguna ini?!"
"Ini bukan mainan, Ayah," potong Xiao Yu, suaranya terdengar tertahan namun tegas. "Ini adalah latihan. Aku sudah memohon pada Ayah sejak tahun lalu agar mengizinkanku mendaftar ke akademi militer di perbatasan barat. Aku bisa lulus ujian fisik, aku bisa memimpin pasukan ..."
"Tutup mulutmu!" bentak Tuan Xiao. Ia berbalik ke arah pelayan yang berdiri gemetar di belakangnya dan menyambar sebuah kotak kayu besar. Tuan Xiao membukanya dengan kasar, memperlihatkan tumpukan gulungan kertas, peta wilayah perbatasan, dan buku-buku taktik perang kuno milik Xiao Yu.
Garis wajah Xiao Yu mendadak tegang. "Jangan... Ayah, jangan sentuh itu!"
Tanpa memedulikan teriakan anaknya, Tuan Xiao berjalan menuju wadah pembakaran dupa di sudut halaman dan melemparkan gulungan-gulungan itu ke dalam api yang menyala.
"Tidak!" Xiao Yu maju hendak merebut kembali bukunya, tetapi ibunya buru-buru menahan tangannya dengan erat.
"Sadar, Xiao Yu!" bisik ibunya sambil terisak pelan. "Ingat posisimu! Kau adalah seorang gadis dari keluarga Xiao! Tugasmu bukan pergi ke medan perang untuk terbunuh, melainkan masuk ke istana dan membawa kehormatan bagi keluarga kita!"
Xiao Yu memperhatikan gulungan peta perbatasan barat yang perlahan hangus berubah menjadi abu hitam. Itu adalah peta yang ia gambar sendiri selama bertahun-tahun, lengkap dengan jalur logistik dan analisis medan pertahanan.
"Kehormatan?" suara Xiao Yu bergetar, bukan karena menangis, melainkan karena menahan amarah yang membakar dadanya. "Mengorbankan hidupku untuk menjadi pajangan di dalam sangkar emas pangeran, apakah itu yang Ayah dan Ibu sebut kehormatan? Negara kita sedang ditekan oleh musuh di perbatasan barat! Mereka membutuhkan prajurit dan ahli taktik, bukan selir tambahan yang hanya tahu cara menyeduh teh!"
"Negara ini memiliki ratusan ribu prajurit laki-laki untuk urusan itu!" tegas Tuan Xiao dingin. Memutus argumen putrinya tanpa rasa ampun. "Keluarga Xiao tidak membutuhkan seorang jenderal wanita yang akan menjadi bahan tertawaan kekaisaran. Yang kami butuhkan adalah seorang putri yang patuh. Pangeran Zhang Li akan memilih selirnya minggu depan, dan kau akan berangkat ke ibu kota esok hari. Tidak ada perdebatan lagi!"
Xiao Yu berjalan masuk ke dalam kamarnya dan menutup pintu kayu rapat-rapat. Ia bersandar di balik pintu, melepaskan napas panjang yang terasa menyiksa dadanya.
Mata tajamnya menyapu seluruh isi ruangan. Di atas ranjangnya yang luas, sudah terhampar beberapa stel gaun sutra berwarna merah muda dan ungu muda yang disiapkan oleh ibunya.
Kain-kain itu terasa begitu kaku dan berat, dihiasi sulaman benang emas yang rumit. Di atas meja rias, berjejer kotak-kotak perhiasan, bedak wajah, dan minyak wangi yang aromanya menusuk hidung.
Ruangan ini terasa sangat asing baginya. Kamar ini seperti penjara berhias kain mahal. Xiao Yu berjalan mendekati meja rias. Menggenggam sebuah sisir lalu melemparkannya pelan ke meja.
Jiwanya berada di luar sana. Dia suka naik di atas punggung kuda, menembus debu medan perang dan merencanakan taktik pertahanan di balik tenda militer. Namun tubuhnya terperangkap di sini, dipaksa untuk berpakaian indah dan tersenyum manis demi menyenangkan seorang pria yang bahkan tidak ia kenal.
Ia membayangkan bagaimana rasanya hidup di dalam istana belakang. Menghabiskan sisa hidupnya bersaing dengan belasan wanita lain, merencanakan intrik-intrik kecil yang picik hanya demi mendapatkan perhatian pangeran.
Bayangan itu membuat perutnya mual. Bagi Xiao Yu, mati di ujung panah musuh jauh lebih terhormat daripada mati perlahan karena kebosanan dan penderitaan di dalam istana.
Xiao Yu duduk di tepi ranjangnya, menatap jemarinya yang berkapalan akibat bertahun-tahun menggenggam gagang pedang dan bergerak di atas tali busur.
Ibunya benar tentang satu hal. Jika ia kabur malam ini, keluarga Xiao akan dituduh melakukan pengkhianatan terhadap perintah kerajaan. Ayah dan ibunya bisa dijebloskan ke dalam penjara atau bahkan dihukum mati. Ia tidak bisa sesuka hati melarikan diri tanpa memikirkan dampaknya.
Namun, menyerah begitu saja juga bukan pilihan bagi seorang Xiao Yu.
Di tengah kegelapan kamar dan tekanan keputusasaan yang berat, otak secara refleks mulai bekerja.
Xiao Yu menatap gaun-gaun indah di atas ranjangnya dengan tatapan yang berubah dingin dan terukur.
"Mereka menginginkan seorang selir yang anggun, cerdas, dan pandai menyenangkan hati pangeran," bisiknya pada diri sendiri. "Jika aku tidak bisa menolak dipanggil ke seleksi itu, maka aku hanya perlu memastikan bahwa aku menjadi kandidat terburuk yang pernah ada."
Rencana baru mulai terbentuk di kepalanya. Ia tidak perlu kabur. Ia harus gagal jadi kandidat selir. Yaitu menjadi selir yang bodoh!
selama ini tk ada yg mencurigakan🤔
apa mrk gk lapor klu majikan'a tdk disamping'a? 🙄