Indonesia
NovelToon NovelToon
Menjadi Ibu Tiri Anak Jendral Perang

Menjadi Ibu Tiri Anak Jendral Perang

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Ibu Tiri / Ruang Ajaib
Popularitas:25.2k
Nilai: 5
Nama Author: hofi03

Seorang wanita cerdas dengan sejuta keahlian, yang tidak pernah takut dengan apapun, bahkan dengan kematian sekalipun. Bagaimana jadinya saat jiwa nya tiba-tiba terbangun di tubuh Aleta Volis, seorang wanita bangsawan dengan reputasi paling busuk di seluruh kekaisaran.

Marquez Liam Volis, seorang Jendral Perang sekaligus penguasa wilayah Volis yang terkenal dingin, kejam di medan pertempuran, dan memiliki prinsip hidup yang keras. Bagi Liam, hidup hanyalah soal tugas, pedang, dan darah, dia tidak punya waktu ataupun ruang di hatinya untuk urusan cinta.

"Kau berubah, apa yang sebenarnya sedang kamu rencanakan?" tanya Liam, dingin.

"Oh ayolah suami ku, apa pantas pernyataan itu kamu tunjukkan pada istri mu ini," jawab Aleta, tersenyum miring, merapikan kerah pakaian Liam.

Mampukah Liam mempertahankan prinsipnya, atau justru dia bertekuk lutut dan menyerahkan seluruh hidupnya pada wanita yang tadinya paling dia benci?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hofi03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PERHATIAN SUAMI

Hujan lebat masih mengguyur bumi, menutupi suara deru napas keduanya yang mulai memburu di bawah atap gubuk tua.

Liam perlahan melepaskan tautan bibir mereka, menatap wajah Aleta dengan napas tersengal-sengal tatapan mata pria itu tidak seperti biasa nya, ada kilatan lembut di dalam tatapan mata nya.

Aleta membuka matanya perlahan, menyunggingkan senyuman miring yang begitu khas, lalu melirik bibir Liam yang sedikit basah, jangan pikir Aleta akan malu-malu, jiwa modern nya tidak se naif itu,. untuk hal seperti ciuman tadi, apalagi mereka statusnya adalah suami istri.

"Wah, Jendral perang kita ternyata pintar juga mencuri ciuman di tengah hujan begini," sindir Aleta dengan nada mengejek, meskipun pipinya sedikit merona.

Liam mendengus pelan, berusaha menutupi rasa salah tingkahnya dengan kembali memasang wajah datar andalannya.

"Kamu benar-benar wanita paling keras kepala yang pernah aku temui," gerutu Liam, pelan.

Aleta melirik suaminya dengan ekor matanya, lalu mendengus pelan.

"Ngaku saja kalau kamu sebenarnya khawatir sama aku," goda Aleta lagi.

Liam memutar bola matanya malas, menolak untuk mengakui kebenaran ucapan istrinya itu.

"Sudah diam, hujannya mulai reda, sebentar lagi kita lanjut pulang sebelum Julian terbangun dan mencari mu," ucap Liam cepat, mengalihkan pembicaraan.

Aleta hanya tersenyum misterius, menikmati sisa-sisa malam yang panjang itu dalam diam.

Tak lama kemudian, suara gemuruh petir mulai menjauh, dan hujan lebat yang tadinya mengguyur perlahan berubah menjadi rintikan gerimis kecil yang menenangkan.

Liam langsung menegakkan tubuhnya, melangkah keluar gubuk untuk memeriksa keadaan kuda mereka yang berteduh di bawah pohon besar.

"Ayo, Aleta, gerimisnya sudah reda, kita bisa jalan sekarang," ucap Liam, menoleh ke arah gubuk.

Aleta berjalan keluar dengan anggun, langsung melompat ringan ke atas punggung kudanya tanpa butuh bantuan siapa pun.

Mereka berdua akhirnya memacu kuda masing-masing membelah jalanan yang basah dan sunyi, kembali menuju kediaman Volis di bawah temaram cahaya bulan.

Sesampainya di kediaman Volis, suasana kediaman tampak begitu tenang dan damai, sangat berbanding terbalik dengan kekacauan besar yang baru saja terjadi di istana kerajaan Salova.

Liam turun lebih dulu, lalu membantu Aleta turun dari kudanya, meski wanita itu sebenarnya bisa turun sendiri.

"Tanganmu tidak terluka, kan?" tanya Liam tiba-tiba, melirik sekilas ke arah tangan Aleta saat mereka berjalan masuk ke teras rumah.

Aleta menghentikan langkahnya, menatap Liam dengan sebelah alis terangkat.

"Tangan? Kenapa memangnya?" tanya Aleta bingung.

"Tadi kamu sudah membunuh beberapa prajurit istana, siapa tahu ada goresan atau kena darah kotornya," jawab Liam datar, berusaha menyembunyikan rasa khawatirnya di balik nada bicara yang dingin.

Aleta terkekeh pelan, mengangkat tangan kanannya di depan wajah Liam.

"Tenang saja, Jendral, aku tidak terluka sedikitpun," jawab Aleta santai.

Liam mendengus pelan, merasa lega meski dia tidak mengungkapkannya lewat kata-kata.

Begitu masuk ke dalam ruang tamu, Aleta langsung melepas jubah tebal milik Liam dan menyerahkannya kembali kepada sang suami.

"Nih, jubahmu, terimakasih pinjamannya, Jendral," ucap Aleta ringan, lalu berjalan menuju kamarnya.

Liam menerima jubah miliknya, mencium samar aroma tubuh Aleta yang masih tertinggal di kain tebal tersebut.

"Jangan tidur terlalu malam, Aleta," ucap Liam dengan suara berat nya.

Aleta berhenti sejenak, menoleh ke belakang dengan senyuman miring yang penuh arti.

"Siap, Jendral. Besok pagi kita tinggal tunggu berita bagus dari istana," jawab Aleta tenang, kembali melangkah menuju kamar nya.

Liam berdiri sendirian di ruang tamu, menggelengkan kepalanya pelan sambil tersenyum tipis.

"Wanita itu benar-benar... ah, sudahlah," gumam Liam pelan, lalu berjalan menuju kamarnya sendiri untuk beristirahat.

Keesokan paginya, matahari pagi bersinar cerah, menghangatkan wilayah kediaman Volis yang asri.

Julian sudah bangun lebih dulu, anak laki-laki itu sedang duduk manis di ruang makan sambil menikmati sarapan bubur hangat yang disiapkan oleh Aleta.

"Makan yang banyak, agar nanti belajar nya semangat," ucap Aleta tersenyum kecil.

Julian mengangguk kan kepala nya dengan pipi mengembung penuh, memakan sarapan nya dengan lahap.

"Ibu jadi kan hari ini akan mengantar ku ke akademi?" tanya Julian setelah menelan makanan nya.

"Tentu saja, mana mungkin ibu bohong," jawab Aleta tersenyum kecil.

"Hore! Julian senang sekali," ucap Julian semangat.

Sejak kejadian waktu itu, Julian sudah tidak lagi mendapatkan perlindungan dari teman-teman nya, dan guru baru nya di akademi juga sangat baik dan berlaku adil pada seluruh murid nya, membuat Julian selalu bersemangat untuk pergi belajar.

Tak lama kemudian, Liam melangkah masuk ke ruang makan dengan pakaian rapi, pria itu menarik kursi tepat di sebelah Aleta dan duduk dengan tenang.

"Pagi," ucap Liam, datar.

"Pagi, Ayah!" jawab Julian ceria.

Aleta mendorong cangkir teh hangat ke hadapan Liam, lalu menyunggingkan senyuman miring penuh misteri.

"Gimana, Jendral? Kira-kira berita apa yang akan sampai ke kediaman kita hari ini?" bisik Aleta pelan, cukup didengar oleh mereka berdua saja.

Liam menyesap tehnya perlahan, lalu menatap Aleta dengan tatapan geli.

"Kalau perkiraanku tidak meleset, istana sekarang pasti sedang kacau, dan Garel kemungkinan besar sedang kebingungan, mencoba menutupi kondisi raja," jawab Liam dengan suara datar.

Aleta tertawa kecil, suara tawa yang terdengar sangat merdu di telinga Julian, yang tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi tadi malam.

"Baguslah, setidaknya pria tua itu punya banyak waktu untuk merenungkan kebodohannya di atas tempat tidur," ucap Aleta ringan, lalu kembali menyuapkan makanan ke mulut Julian.

Tiba-tiba, dari arah luar gerbang kediaman Volis, terdengar suara derap kuda berlari kencang mendekat dengan suara teriakan panik.

Drap

Drap

Drap

"Lapor! Lapor, Jendral Liam!" teriak seseorang dari luar halaman dengan napas tersengal-sengal.

Liam dan Aleta saling berpandangan sejenak, sementara Julian menatap ke arah pintu depan dengan rasa penasaran.

"Biar aku yang lihat," ucap Liam tenang, berdiri dari kursinya dan melangkah keluar menuju halaman depan.

Aleta tetap duduk santai sambil melanjutkan sarapannya, menikmati setiap detik dari rencana balas dendam yang berjalan sempurna sesuai dengan isi kepalanya.

Liam melangkah keluar dengan langkah tegap, membuka pintu utama dan mendapati seorang pengantar pesan kerajaan berdiri dengan wajah pucat pasi serta seragam yang berantakan.

"Ada apa pagi-pagi begini datang teriak-teriak di kediaman ku?" tanya Liam dengan nada dingin, melipat kedua tangannya di dada.

Glek

Pengantar pesan itu menelan ludah susah payah, lututnya bahkan masih sedikit gemetar menahan takut.

"J-Jendral Liam... Mohon ampun! Istana... Istana sedang dalam keadaan darurat!" seru pengantar pesan itu terbata-bata.

Liam mengangkat sebelah alisnya, berpura-pura tidak tahu apa-apa meski dia sudah bisa menebak arah pembicaraan tersebut.

"Darurat bagaimana maksudmu? Cepat jelaskan yang jelas," desak Liam dengan suara berat yang menekan.

1
Tiara Bella
kena menta pastinya si lady serra....
Anbu Hasna
Garel atau Geral?
Septi Wijaya
yg ada serra justru akan makin dipermalukan di acara sendiri 🤣🤣
miss blue 💙💙💙
ngomongin jiwa modern, apa gak bikin liam makin penasaran 🤣🤣🤣🤣
miss blue 💙💙💙
julian itu anak kandung liam apa bukan kak? gak pernah ada cerita sebelumnya, bahkan ibu kandung julian juga. apa aq yg gak merhatiin cerita sebelumnya ya?? 🤔🤔🤔
IG : hofi03_skrniii: ikuti terus cerita mereka ya beb, nanti kita kupas tuntas siapa Julian itu sebenarnya dan hubungannya dengan Liam😉
total 1 replies
miss blue 💙💙💙
kok aq curiga liam itu kaisar atau putra mahkota kekaisaran, mungkin dia di angkat anak oleh marques volis sebelumnya 🤔🤔🤔🤔
kaylla salsabella
jiwa modern🤔🤔🤔🤔 pasti Liam mikir🤣🤭🤭
kaylla salsabella
sombong itu wajib🤣🤣🤭🤭🤭
kaylla salsabella
la itu tahu kamu garel
Maria Lina
makasih ya thor ud up double"nya🙏🙏😍😍☕️☕️
IG : hofi03_skrniii: kembali kasih sayangggg🤍
total 1 replies
kaylla salsabella
kenapa jadi gariel mondar-mandir🤣🤣
kaylla salsabella
😍😍😍😍😍😍😍
kaylla salsabella
lanjut thor
Ita Xiaomi
Lady Serra lg mengundang bahaya.
IG : hofi03_skrniii: minta di cincang dia kak😁
total 1 replies
Tiara Bella
Aleta membalas wanita gila itu dengen tenang dan cantik....
Tiara Bella
wow ini yg ditunggu² para pembaca...Pepet trs liam
Maria Lina
moga rajin up double"!ya outhor sayang🙏🙏😍😍😍
Tiara Bella
ngeri kali.....
Septi Wijaya
ahhaaiiii.... akankah terjadi sesuatu di gubuk itu 😍
Mommy Ayu
kesempatan dalam kesempitan tuh jendral, main sosor aja 🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!