Indonesia
NovelToon NovelToon
TERGODA SUAMI SAHABATKU

TERGODA SUAMI SAHABATKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Selingkuh / Cinta Terlarang / Pelakor / Disfungsi Ereksi / Saling selingkuh
Popularitas:132
Nilai: 5
Nama Author: Yovan Gunardio Darmawan

Nara tidak pernah menyangka satu video panas akan menghancurkan batas yang selama ini ia jaga.
Semuanya bermula ketika Maya—sahabat yang paling ia percaya—memperlihatkan rekaman hubungan intimnya dengan sang suami, Adrian. Nara seharusnya langsung memalingkan wajah. Namun tubuh telanjang Adrian, gerakan liarnya di atas ranjang, dan desahan yang memenuhi video itu justru tertanam kuat dalam pikirannya. Lebih buruk lagi, tubuh Nara ikut bereaksi.
Sejak saat itu, ia tidak bisa lagi memandang Adrian sebagai sekadar suami sahabatnya.
Terjebak dalam pernikahan dingin bersama Dimas yang posesif dan gemar mengontrol, Nara semakin mendambakan tatapan, sentuhan, dan gairah yang ia lihat dalam video tersebut. Ketika Adrian mulai membalas perasaannya, godaan terlarang itu berubah menjadi ciuman panas—lalu satu malam penuh hasrat yang tidak mungkin mereka tarik kembali.
Nara tahu Adrian adalah milik Maya. Adrian juga tahu perempuan yang dipeluknya adalah sahabat istrinya.
Namun setelah merasakan satu sama lain, mampukah mereka benar-benar berhenti? Atau video panas itu hanyalah awal dari pengkhianatan yang akan menghancurkan dua pernikahan dan sebuah persahabatan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yovan Gunardio Darmawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 1

Bab 1 — Kenapa Harus Suami Lo?

“Jangan bilang Adrian, ya. Dia bisa marah kalau tahu gue kasih lo lihat.”

Maya mengatakan itu sambil tertawa.

Nara tidak ikut tertawa.

Di ponsel yang disodorkan sahabatnya, rekaman mereka berhubungan seks sedang diputar.

Kamera diletakkan di meja samping ranjang, menghadap serong ke tempat tidur. Maya telentang di atas seprai yang kusut, rambutnya tersebar di bantal, sementara Adrian berada di antara kedua pahanya. Tubuh laki-laki itu telanjang dari pinggang ke atas. Otot punggungnya menegang setiap kali pinggangnya bergerak, lambat lalu semakin dalam, diiringi bunyi kulit yang beradu dan desahan Maya yang tidak berusaha diredam.

“Adrian...”

Nama itu keluar dari bibir Maya dengan suara serak. Tangan Adrian meremas paha istrinya, membukanya lebih lebar, lalu menunduk untuk mencium lehernya. Maya melengkung menyambut, kukunya menggores bahu laki-laki itu. Beberapa detik kemudian gerakan Adrian menjadi lebih keras dan ranjang berderit mengikuti iramanya.

Nara seharusnya langsung berpaling.

Namun matanya terpaku pada layar. Pada bahu Adrian yang basah oleh keringat. Pada cara lelaki itu menahan tubuh Maya seolah tidak rela ada jarak sedikit pun di antara mereka. Pada suara beratnya ketika ia membisikkan sesuatu yang tak tertangkap kamera, tetapi membuat Maya mendesah semakin keras.

Panas merambat dari leher Nara ke dada. Napasnya menjadi pendek. Ia merapatkan kedua paha ketika denyut asing muncul di perut bagian bawah, lalu membenci dirinya sendiri karena tubuhnya justru bereaksi pada suami sahabatnya.

Maya bersama Adrian. Kamar mereka. Laki-laki yang selama ini Nara sapa dengan santai setiap kali berkunjung.

“May, lo serius?”

“Kenapa muka lo begitu?” Maya menyenggol bahunya. “Lo juga punya suami.”

Justru karena punya suami, Nara tidak tahu harus menaruh wajahnya di mana.

Ia mengenali Adrian, tetapi bukan Adrian yang selama ini ia kenal. Bukan laki-laki yang menanyakan kabar Dimas, mengambilkan kursi tambahan, lalu kembali duduk di samping istrinya. Adrian dalam video itu liar, menuntut, dan begitu fokus pada tubuh perempuan di bawahnya sampai Nara ikut merasa disentuh hanya karena melihatnya. Ini bagian hidup Adrian yang selalu tertutup ketika Nara datang. Bagian yang hanya dimiliki Maya.

Dan Maya sedang memperlihatkannya seolah sedang menunjukkan hadiah mahal.

“Udah. Tutup.” Suara Nara terdengar lebih parau daripada yang diinginkannya.

Maya mematikan layar. “Ya ampun. Gue pikir lo bakal ketawa.”

Nara mengangkat cangkir ke bibir, baru ingat isinya sudah habis. Ia buru-buru meletakkannya kembali, berharap Maya tidak memperhatikan kegugupannya.

“Dia tahu lo nunjukin itu?”

“Nggak. Makanya jangan bilang.”

“Lo gila.”

“Iya, iya. Gue salah.” Maya masih tersenyum. “Tapi sekarang lo ngerti, kan, kenapa gue males kalau dia dinas lama-lama?”

Nara memandang wajah sahabatnya.

Maya tidak perlu menebak apakah suaminya ingin dekat dengannya. Tidak perlu memeriksa suasana hati sebelum meminta dipeluk. Bahkan ketika mengeluh Adrian pergi ke Bandung dua hari, ia mengeluh seperti orang yang tahu akan dirindukan juga.

Nara iri.

Bukan iri yang manis, yang bisa diucapkan sambil tertawa dan selesai setelah makan siang. Ia ingin Maya berhenti tersenyum begitu puas. Sesaat kemudian ia malu karena menginginkannya.

Dia sahabat lo, Na. Kenapa lo malah kesal dia bahagia?

“Dimas gimana?” tanya Maya.

Nama itu membuat Nara merasa baru tertangkap.

“Gimana apanya?”

“Kalian masih ribut?”

Nara mengangguk kecil.

Ia bisa menceritakan Dimas yang membatalkan janji dengan pembeli lukisannya. Bisa mengeluhkan telepon yang harus selalu diangkat. Tetapi ia belum pernah menceritakan apa yang terjadi di kamar mereka. Kesulitan Dimas untuk melanjutkan hubungan seks, wajahnya sesudahnya, dan bagaimana Nara selalu berakhir meminta maaf meskipun tidak tahu salahnya apa.

Sekarang, setelah melihat rekaman itu, rahasia tersebut terasa semakin memalukan untuk diceritakan.

Ia tidak mau dikasihani oleh perempuan yang baru saja memamerkan semua yang tidak ia punya.

“Gue cuma capek,” katanya.

Senyum Maya menghilang. Ia meraih tangan Nara.

“Hei. Gue tadi kelewatan. Jangan dibandingin sama kalian.”

Terlambat, May.

“Gue nggak bandingin.”

Kebohongan itu keluar begitu cepat.

Maya meremas tangannya. “Lo boleh cerita kalau ada apa-apa. Jangan semuanya lo telan sendiri.”

Nara mengangguk. Sahabatnya lalu berdiri untuk mengambil minuman lagi, meninggalkannya dengan foto pernikahan di meja samping.

Adrian tersenyum dalam foto itu. Maya memeluk lengannya. Di ujung foto, Nara sedang tertawa, tidak tahu bahwa tiga tahun kemudian ia akan duduk di rumah ini dan berharap tidak melihat betapa bahagianya mereka.

Ia mencoba memikirkan hal lain.

Enam lukisan di ruang makan. Proposal yang belum selesai. Pertemuan di kantor Adrian lusa, yang sudah diatur Maya agar ia mendapatkan pekerjaan lagi.

Adrian.

Nama itu tetap kembali.

Nara memalingkan muka dari foto. Selama ini ia boleh mengakui Adrian tampan karena pengakuan itu tidak berarti apa-apa. Ia bisa menggoda Maya soal suaminya, bisa ikut memilih hadiah, bisa memuji kemejanya tanpa membawa pulang apa pun di dalam kepala.

Sekarang ia memikirkan bagaimana rasanya bila tatapan yang selama ini diberikan Adrian kepada Maya sekali saja berhenti padanya.

Bukan tatapan kepada tamu. Bukan kepada teman istrinya.

Kepada perempuan yang ia inginkan ada di dekatnya.

Lalu Nara membayangkan dirinya mencium Adrian.

Ia langsung melihat ke arah dapur, takut Maya kembali dan menemukan pikiran itu di wajahnya. Yang membuatnya gentar bukan karena bayangan itu terasa asing. Justru karena ia ingin memikirkannya lagi.

Cium suami Maya? Lo sudah gila?

Nara meremas ujung rok.

Cukup.

Ia mendengar langkah Maya dan segera meluruskan punggung. Sahabatnya kembali membawa minuman, lalu duduk begitu dekat hingga bahu mereka bersentuhan.

“Adrian pulangnya kapan?”

Nara menyesal begitu pertanyaan itu keluar.

“Besok sore. Kenapa?”

“Lukisan. Dia mau lihat yang asli sebelum rapat, kan?”

“Iya.” Maya menyerahkan gelas. “Lo bahas sendiri sama dia. Kalau udah ngomong warna, gue nggak nyambung.”

Nara tersenyum.

Gue mau lihat suami lo, May.

Pikiran itu begitu jelas sehingga ia hampir memeriksa apakah ia mengucapkannya keras-keras.

Maya terus mengeluhkan vendor, tidak menyadari Nara sudah tidak menyimak.

Nara lega. Lalu kecewa karena pembicaraan tentang Adrian sudah selesai.

* * *

Malam itu Nara mencoba mendekati suaminya.

Ia duduk di samping Dimas, menyentuh lengannya, dan bertanya apakah pekerjaannya sudah selesai. Dimas menoleh, sempat tersenyum, lalu mengajaknya naik.

Nara mengikutinya dengan harapan yang membuatnya malu sendiri.

Ia ingin menghapus siang tadi. Ingin dekat dengan laki-laki yang memang menjadi suaminya. Ingin membuktikan bahwa yang ia butuhkan bukan Adrian.

Ketika Dimas mencium lehernya, tubuh Nara merespons terlalu cepat. Ia memejamkan mata dan video itu kembali menyala di kepalanya: bahu Adrian yang mengilap oleh keringat, tangannya di paha Maya, suara berat yang menyebut nama istrinya. Nara menarik Dimas lebih dekat, tetapi dalam satu detik yang memalukan ia membayangkan tubuh lain yang sedang menindihnya.

Bayangan itu membuat napasnya tercekat dan panas berkumpul lagi di antara pahanya. Ia menginginkan sentuhan yang lebih keras, ciuman yang lebih lapar—menginginkan suaminya membuatnya kehilangan kendali seperti Adrian membuat Maya kehilangan kendali di layar tadi.

Tetapi kemudian semuanya kembali berhenti, dan Dimas menjauh darinya.

Untuk beberapa saat kamar itu hanya diisi bunyi pendingin udara.

“Jangan mulai,” kata Dimas.

Nara masih duduk di tepi ranjang. “Aku belum ngomong.”

“Mukamu sudah ngomong.”

Ia menarik selimut ke pangkuan. “Aku cuma pengin kamu peluk.”

“Ya Tuhan, Nara. Kurang apa lagi?”

Nara menatapnya.

Dimas meraih ponsel. Gerakan itu lebih menyakitkan daripada kalau ia sekadar berbalik tidur. Beberapa detik lalu mereka masih mencoba berdekatan; sekarang layar kecil itu rupanya lebih mudah dihadapi daripada istrinya.

“Kamu bisa berhenti menyalahkan aku setiap kali begini?”

Jari Dimas berhenti.

“Setiap kali begini?” ulangnya.

Nara tahu ia telah memilih kata yang akan dipakai untuk menyerangnya. Tetap saja ia terlalu lelah untuk menariknya kembali.

“Kita perlu bantuan, Dim. Aku sudah bilang, aku mau ikut kalau kita—”

Dimas tertawa kasar sebelum ia selesai bicara.

“Baik sekali. Kamu menemani, aku diperiksa. Nanti kalau dokter bilang aku yang bermasalah, kamu bisa lega? Bisa bilang dari awal memang bukan salahmu?”

Wajah Nara memanas. Ia hampir mengatakan mereka tidak perlu pergi kalau Dimas tidak mau. Lagi-lagi ia hendak membatalkan kebutuhannya sendiri supaya suaminya tidak marah.

“Aku nggak sedang mencari siapa yang salah.” Ia meremas selimut. “Aku kangen sama kamu. Aku capek setiap mencoba dekat, akhirnya kita malah begini.”

“Capek.” Dimas mengulangnya sambil menggeleng. “Kamu hidup enak di rumah ini, kerja sesukamu, masih bisa bicara seolah jadi istriku pekerjaan paling menyedihkan.”

“Aku minta dipeluk, Dim. Masa untuk itu saja aku harus ingat dulu betapa beruntungnya aku punya rumah bagus?”

“Memang kamu sudah lupa caranya bersyukur!”

Nara tersentak. Dimas melempar ponselnya ke kasur.

“Seharian sama Maya, pulang bawa tuntutan baru. Apa yang kalian obrolin? Suaminya hebat, suamimu payah?”

Nara membeku.

Ia tidak menceritakan rahasia Dimas. Tetapi tuduhan tentang perbandingan itu terlalu dekat dengan sesuatu yang sungguh ia lakukan.

“Maya nggak tahu soal ini.”

Dimas memandangnya, seperti sedang menilai seberapa jauh ia bisa mempercayai jawaban itu.

“Tapi kamu membandingkan, kan? Pulang dari sana, menatapku seperti ada yang kurang. Jangan kira aku nggak bisa lihat.”

Nara teringat video itu. Rasa bersalah membuatnya menunduk, dan Dimas langsung tertawa tanpa humor.

“Tuh. Diam.”

“Aku diam karena apa pun jawabanku kamu pakai buat menyalahkan aku!” Nara mengangkat wajah. Suaranya lebih keras daripada yang ia rencanakan.

Dimas bangkit dari ranjang.

“Kecilkan suaramu. Kamu mau tetangga dengar urusan kamar kita?”

Nara menatapnya dengan mata panas. Selama empat tahun ia menjaga rahasia ini, bahkan dari Maya. Sekarang Dimas berdiri di depannya dan bicara seperti ia sengaja mencari penonton.

“Aku empat tahun nutup mulut. Jangan perlakukan aku seperti aku nggak sabar menertawakan kamu sama orang lain.”

“Lalu aku harus terima kasih?” Dimas mendekat. “Istri yang baik nggak perlu diingatkan untuk menjaga harga diri suaminya. Apalagi bikin dia merasa seperti sampah di kamar sendiri.”

Kalimat itu membuat Nara berhenti.

Dimas melihatnya, lalu mengucapkan yang berikutnya lebih pelan.

“Mungkin coba lihat dirimu dulu. Siapa yang bisa merasa diinginkan kalau tiap malam disambut muka kecewa?”

Nara tidak langsung bisa menjawab. Ia teringat berapa kali menyentuh Dimas lebih dulu. Berapa kali memeluknya ketika ia malu. Berapa banyak kalimat yang sudah ditelannya supaya laki-laki itu tidak merasa sendirian.

Setelah semua usahanya menjaga perasaan Dimas, ia masih saja dituduh sebagai penyebabnya.

“Brengsek,” bisiknya.

Wajah Dimas berubah.

“Apa?”

Nara berdiri. “Kamu dengar.”

Ia hendak melewatinya, tetapi Dimas menangkap pergelangan tangannya.

“Ulangi.”

“Lepas.”

“Berani sekali sekarang.”

“Sakit, Dimas!”

Ia menarik tangan. Dimas akhirnya melepaskan, lalu menendang keranjang pakaian yang menghalangi jalan. Keranjang itu menghantam lemari. Nara mundur sebelum sempat menahan refleksnya.

Suaminya melihat ketakutannya.

“Nah. Sekarang kamu mau bikin seolah aku mukul kamu?”

“Kamu mau aku bilang apa?” Suara Nara pecah. “Terima kasih?”

Dimas menunjuk pintu.

“Kalau hidup sama aku sengsara banget, keluar. Bawa lukisan-lukisanmu. Coba hidup dari pujian temanmu itu.”

Nara meraih bantal dan keluar dari kamar sebelum ia menangis di depannya.

Di sofa bawah, ia duduk lama dengan lampu mati.

Ia marah. Ia malu. Ia ingin melempar sesuatu, menelepon seseorang, mendengar bahwa ia tidak gila karena menginginkan sedikit kedekatan dari suaminya sendiri.

Nama Maya sudah terbuka di ponselnya.

Tetapi yang terbayang justru suami Maya.

Nara menutup wajah dengan kedua tangan.

Kenapa harus dia?

Ia bisa membenci Dimas tanpa menginginkan Adrian. Seharusnya bisa. Namun bayangan Adrian yang lembut kepada istrinya terasa semakin sulit dilepaskan setelah semua perkataan Dimas malam ini.

Ia ingin diperlakukan seperti Maya.

Beberapa saat kemudian, dalam gelap yang tidak menuntutnya berpura-pura, ia mengakui hal yang lebih buruk.

Ia ingin Adrian yang memperlakukannya begitu.

* * *

Pagi berikutnya Dimas harus mengulang pertanyaannya tiga kali sebelum Nara sadar ia sedang diajak bicara.

“Aku tanya kunci mobil di mana. Bukan isi kepalamu!”

Nara menunjuk meja. Kopi di depannya belum disentuh. Semalaman ia bergantian mengingat penghinaan suaminya dan merasa bersalah karena masih ingin bertemu laki-laki lain.

Dimas mengambil kunci.

“Aku pakai mobilmu. Mobilku masuk bengkel. Kalau mau ke mana-mana, kabari.”

“Aku bisa pesan taksi.”

“Aku bilang kabari, Nara.”

Ia pergi tanpa meminta maaf.

Nara menatap proposal di laptop. Baris yang sama sudah dibacanya berkali-kali. Setiap tiba pada nama Adrian Mahendra, pikirannya berhenti bekerja.

Ponselnya menyala.

Maya: Sore sini ya. Adrian udah di jalan pulang. Gue bilang lo belum sempat makan enak kemarin, dia malah nanya lo mau dimasakin apa.

Nara membaca pesan itu sekali. Dua kali.

Dia nanya tentang gue?

Ia tahu Maya yang membawa namanya ke dalam percakapan. Ia tetap ingin menganggap pertanyaan Adrian berarti sesuatu.

Nara mengetik bahwa ia lelah dan sebaiknya di rumah saja.

Jempolnya berhenti di atas tombol kirim.

Di rumah, ia akan menunggu Dimas pulang dan bersikap seolah semalam tidak terjadi. Di rumah Maya, ia akan melihat Adrian tersenyum kepada istrinya, dan mungkin pulang dengan perasaan yang lebih kacau.

Ia menghapus balasannya.

Gue datang. Jam berapa?

Sesudah mengirimkannya, Nara menatap layar yang masih menyala.

Ia tidak datang hanya untuk makan.

Dan kali ini ia tidak bisa berpura-pura tidak mengetahuinya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!