Indonesia
NovelToon NovelToon
DUA SAHABAT DAN BAYI MISTERIUS

DUA SAHABAT DAN BAYI MISTERIUS

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Penyelamat / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Yeni Sri Wahyuni

Reyga membenci aturan ayahnya. Berry membenci cinta karena perceraian orang tuanya.

Keduanya memilih hidup bebas dengan cara masing-masing—sampai mereka menyelamatkan seorang bayi berusia sembilan bulan dari penculikan.

Tak tahu siapa orang tua bayi itu, Reyga dan Berry terpaksa merawatnya bersama.
Dua lelaki yang bahkan tak tahu cara mengganti popok itu perlahan belajar tentang tanggung jawab, pengorbanan, dan perjuangan seorang ibu.

Di saat Reyga mulai jatuh cinta pada Amelia, reporter muda yang selama ini selalu ia hindari, Berry justru dihantui masa lalu bersama Melda—perempuan polos yang pernah ia sakiti hingga harus menghadapi kehamilannya seorang diri.

Namun ketika identitas bayi mulai terungkap, mereka sadar bahwa penculikan itu bukan kebetulan.

Bayi kecil yang awalnya mereka anggap sebagai beban ternyata menjadi jalan bagi dua lelaki yang terluka untuk menemukan cinta, keluarga, dan kesempatan kedua.

Bila suka ceritanya, jangan lupa subscribe, like, komentar & votenya ❤

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yeni Sri Wahyuni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 2 : KABAR YANG TIDAK DIINGINKAN

...BAB 2...

...KABAR YANG TIDAK DIINGINKAN...

Berry masih berdiri di samping motornya. Matanya tidak beranjak dari layar ponsel. Hanya satu pesan dari Melda.

Namun kalimat sederhana itu terasa seperti pukulan keras yang menghantam dadanya.

"Berry, aku rasa sudah waktunya kamu tahu sesuatu."

~Melda~

Berry membaca pesan itu sekali lagi. Tangannya perlahan mengusap wajah.

"Melda..."

Sudah berapa bulan ia tidak mendengar kabar perempuan itu. Hubungan mereka memang tidak berlangsung lama.

Setelah mendapatkan apa yang ia inginkan, Berry memilih menjauh. Ia bahkan sengaja menghindari Melda agar perempuan itu tidak berharap terlalu banyak.

Baginya, semuanya sudah selesai. Setidaknya itulah yang selama ini ia yakini. Namun malam ini Melda kembali.

Dan entah mengapa, jantung Berry berdetak tidak nyaman. Ia mengetik, membalas pesan Melda.

Berry : Mau ngomong apa?

Pesan terkirim.

Tidak ada balasan. Hingga beberapa menit berlalu, Berry mulai kehilangan kesabaran.

"Kenapa dia membuatku penasaran?"

Ia memasukkan ponselnya ke saku. Baru beberapa langkah berjalan, ponselnya kembali bergetar.

Berry segera mengambil ponselnya kembali. Pesan dari Melda.

Melda : Aku sedang hamil.

Langkah Berry langsung terhenti. Wajahnya berubah tegang, matanya terbelalak saat membaca pesan itu.

"Hah. Apa?" Ia membaca pesan itu sekali lagi.

Melda : Aku hamil Berry. Dan anak ini anak kamu.

Berry tertawa pendek. Namun tidak ada sedikit pun rasa lucu dalam tawanya.

"Anak gue?" Ia menggeleng. "Nggak mungkin."

Berry langsung mengetik.

Berry : Jangan bercanda, Melda.

Balasan datang beberapa saat kemudian.

Melda : Aku tidak bercanda.

Berry mengetik lagi.

Berry : Kamu yakin itu anakku?

Kali ini cukup lama tidak ada jawaban. Kemudian muncul sebuah pesan.

Melda : Aku hanya melakukan bersamamu. Aku tidak punya pacar selain kamu, Berry.

Berry terdiam.

Ingatan tentang beberapa bulan lalu perlahan muncul. Melda yang polos. Tatapan penuh kepercayaan. Dan dirinya yang sama sekali tidak memikirkan akibat dari hasil perbuatannya.

Berry menggeleng keras. "Enggak." Ia mencoba mengusir pikirannya.

"Bagaimana mungkin? Bisa saja Melda sedang berbohong. Mungkin dia sengaja mencari perhatian gue."

Atau mungkin ada sesuatu yang tidak di ketahui Berry.

Berry kembali mengetik.

Berry : Aku nggak percaya begitu aja.

Pesan itu dibaca.

Namun Melda tidak menjawab lagi. Berry memasukkan ponselnya ke saku.

"Kalau memang benar Melda sedang hamil, pasti ada buktinya."

Ia mencoba meyakinkan dirinya sendiri. Namun jauh di dalam hatinya, ada sesuatu yang mulai mengganggunya.

 

Di sebuah kamar kecil yang sederhana, seorang perempuan duduk di tepi tempat tidur. Wajahnya terlihat sangat pucat.

Di tangannya terdapat ponsel. Ia membaca balasan terakhir Berry.

Berry : Aku nggak percaya begitu aja.

Air mata Melda tiba-tiba menetes, lalu ia buru-buru mengusapnya. Ia tidak ingin menangis.

Tetapi semakin berusaha ia menahannya, semakin deras pula air matanya.

Tangannya perlahan berpindah ke perutnya yang masih rata. Usia kandungannya baru saja 12 minggu. Belum ada perubahan besar pada tubuhnya.

Belum ada yang bisa melihat bahwa di dalam rahimnya sedang tumbuh kehidupan kecil. Anak dari lelaki yang pernah ia cintai.

Melda menunduk pilu. "Maafkan Ibu, Nak." Suaranya bergetar. "Sepertinya kamu harus berjuang sama Ibu."

Melda tersenyum pahit. Sejak kecil ia sudah terbiasa hidup sederhana. Ia tidak memiliki ayah dan ibu. Keduanya telah meninggal dunia ketika Melda masih kecil.

Sejak itu, ia tinggal bersama bibinya. Keluarga bibinya memang menyayanginya. Tetapi Melda tahu, ia sudah cukup banyak merepotkan mereka.

Karena itu ketika mengetahui dirinya hamil, hal pertama yang terlintas dalam pikirannya bukanlah pernikahan. Bukan juga meminta bantuan. Melainkan rasa takut pada dirinya.

Bagaimana kalau bibinya tahu jika ia tengah hamil? Bagaimana kalau keluarga bibinya jadi malu karena dirinya?

Dan yang paling menyakitkan. Bagaimana jika Berry benar-benar tidak mau mengakuinya?

Air mata Melda kembali jatuh. Ia mengambil sebuah foto kecil dari dalam laci. Foto dirinya bersama Berry.

Di dalam foto itu Berry tersenyum, dengan tangannya berada di bahu Melda.

Melda menatap foto itu lama. "Kenapa sekarang kamu berubah?"

Dulu Berry membuatnya percaya bahwa dirinya wanita satu-satunya yang dicintai.

Sekarang lelaki itu bahkan tidak percaya bahwa bayi dalam kandungannya adalah darah dagingnya.

Melda menghapus kasar air mata di pipinya. "Baiklah. Kalau kamu nggak mau bertanggung jawab..."

Melda menarik napas panjang. "Aku akan bertanggung jawab sendiri."

******

Pagi berikutnya, rumah keluarga Reyga sudah ramai.

Darmawan duduk di meja makan sambil membaca beberapa dokumen.

Ketika Reyga turun, pria itu bahkan tidak mengangkat kepala.

"Kamu terlambat."

Reyga menarik kursi. "Gue baru tidur jam dua."

"Dari balapan?"

"Iya."

Darmawan meletakkan dokumennya. Menghela napas berat. "Mulai hari ini kamu harus ikut Ayah ke kantor." perintahnya.

Reyga mengambil roti. "Gue sudah bilang, Yah. Hari ini gue ada latihan!"

"Batalkan itu." perintah Darmawan lagi.

"Kenapa harus selalu begitu?" bantah Reyga.

"Karena kamu harus mulai belajar dari sekarang."

"Belajar apa?"

"Menjadi penerus perusahaan."

Reyga meletakkan rotinya. "Kenapa Ayah terus saja membicarakan soal itu?"

"Ayah tidak akan membicarakannya kalau kamu mau mengerti." tegas Darmawan.

"Yang nggak mau mengerti itu Ayah." bantah Reyga.

Darmawan menatapnya tajam. "Reyga!"

Namun Reyga tidak takut. "Ayah mau gue duduk seharian di kantor dari pagi sampai malam?! Ketemu klien, hadiri rapat, pulang malam. Begitu terus saja sampai tua?!"

"Karena itu sebuah tanggung jawab." Pria tua itu melanjutkan perkataan putranya.

"Tapi gue punya tanggung jawab sendiri." balas Reyga.

"Tanggung jawab apa yang kau punya, Reyga?"

"Karier gue."

Darmawan tertawa dingin. "Balapan?"

"Iya." jawab Reyga dingin.

"Itu hobi, bukan karier."

"Tapi buat gue itu bukanlah sekedar hobi."

Darmawan berdiri. "Kamu itu terlalu keras kepala!"

Reyga ikut berdiri. "Dan Ayah terlalu suka mengatur hidup gue!"

Suasana meja makan pun mendadak hening,

Darmawan mengambil jasnya. "Kalau kamu terus memilih hidup seperti ini, jangan salahkan Ayah, kalau suatu hari semua fasilitasmu Ayah hentikan!"

Reyga menatap ayahnya. "Kalau itu membuat hidup gue bebas, silakan saja." jawab Reyga dengan santainya.

Darmawan terdiam. Menghela napasnya berat.

Karena sudah tidak ada pembicaraan lagi, Reyga pun mengambil kunci motornya hendak pergi.

Namun sebelum keluar dari pintu, suara ayahnya terdengar lagi.

"Suatu hari kamu akan benar-benar menyesal. Reyga. Ingat itu!" ancamnya.

Reyga berhenti sebentar. Kemudian menoleh menatap tajam Ayahnya.

"Lebih baik menyesal karena memilih sendiri daripada menyesal karena seumur hidup gue, harus mengikuti pilihan orang lain." tegasnya.

Setelah mengatakan itu, Reyga pun pergi dengan tidak lagi membawa beban di hatinya. Dia benci aturan dan pengekangan Ayahnya.

Darmawan hanya bisa menatap punggung anaknya dengan tatapan yang nanar.

*****

Siang itu Amelia kembali ke kantor. Ia membawa hasil wawancara dari beberapa pembalap lain.

Namun atasannya justru menggeleng. "Belum ada Reyga?"

Amelia menggeleng. "Belum, Pak."

"Targetnya Reyga."

"Saya tahu Pak."

"Kalau bisa dapat wawancara eksklusif, nama kamu bisa naik."

Amelia mengangguk. "Saya akan coba lagi."

Atasannya menyerahkan sebuah berkas. "Dan satu lagi."

Amelia menerimanya. "Apa ini?"

"Data keluarga Reyga."

Amelia membukanya.

Nama ayah.

Perusahaan.

Riwayat pendidikan.

Hobi.

Semua informasi dasar mengenai Reyga. Amelia membaca dengan serius. Namun kemudian matanya berhenti pada satu bagian.

Putra tunggal.

Amelia menghela napas. "Dia orang kaya..."

Perempuan itu menutup berkas. Kemudian melihat foto Reyga yang tercetak di halaman depan.

"Kenapa sih kamu susah banget diwawancarai?" bisik hatinya.

Amelia tidak tahu bahwa di balik wajah keras itu, Reyga sebenarnya sedang berjuang mempertahankan hidup yang ia inginkan.

*****

Sore harinya, Amelia pulang lebih cepat. Namun sesampainya di rumah, ia langsung mendengar suara batuk dari dalam kamar.

"Ibu?" Amelia bergegas masuk.

Ibunya sedang duduk di tepi tempat tidur. Wajahnya terlihat pucat.

"Kenapa belum istirahat?" tanya Amelia.

"Ibu cuma batuk sedikit."

Amelia duduk di sampingnya. "Obatnya sudah diminum?"

"Sudah."

"Besok jangan lupa periksa."

Ibunya tersenyum. "Kamu sendiri jangan terlalu capek."

Amelia terdiam. Lalu ia melihat dua pasang seragam sekolah yang tergantung di belakang pintu kamar. Seragam kedua adiknya yang masih duduk di bangku SMP. Intan kelas 3 SMP dan Dika masih kelas 1 SMP. Mereka berdua sekolah di tempat yang sama.

Ayah mereka sudah tidak ada tiga tahu lalu. Sejak ayahnya meninggal, Amelia-lah yang menjadi tumpuan keluarga.

Ia tidak punya pilihan untuk menyerah. Karena kalau ia menyerah. Siapa yang akan membayar biaya sekolah adik-adiknya? Siapa yang akan membeli obat untuk ibunya?

Amelia menatap ibunya lama. "Lia dapat tugas baru, Bu."

"Tugas apa Nak?"

"Lia harus mewawancarai seorang pembalap motor."

Ibunya tersenyum kecil. "Itu bagus dong."

"Bagus apanya? Orangnya sangat menyebalkan."

Ibunya tertawa. "Memangnya kamu sudah kenal?"

"Baru ketemu sekali sih..."

"Tapi sudah menyebalkan?" kata Ibunya.

"Banget Bu, udah gitu sombongnya minta ampun..." gemas Amelia.

"Itulah tantangannya .." Ibunya tersenyum, " Kamu harus kuat dan sabar."

Amelia ikut tersenyum mengangguk, hatinya kembali hangat hanya dengan mendengar support dari Ibunya.

 

Malam pun datang, Berry duduk sendirian di dalam mobilnya. Ponselnya berada di dashboard. Sejak kemarin, pesan Melda terus terbayang di kepalanya.

Aku sedang hamil.

Ia mengusap wajah kasar. "Kalau memang itu benar..."

Berry tidak melanjutkan lagi ucapannya. Ia takut dengan pikirannya sendiri. Namun kemudian rasa takut itu berubah menjadi penolakan.

"Tidak!" Berry menggeleng kepala, lalu mengambil ponselnya dan menghubungi seorang perempuan.

["Sayang."] Suara perempuan di seberang terdengar manja.

Berry tersenyum. "Besok kita pergi makan malam."

["Serius?"]

"Iya." Berry tersenyum.

Berry hanya ingin meyakinkan dirinya sendiri bahwa hidupnya baik-baik saja.

Bahwa Melda sama sekali tidak penting baginya, dan tentang kabar kehamilan itu bukanlah urusannya...

Bersambung...

1
Lisa
Wah Bintang dapat dikenali org³ nih..moga aj g ada yg ngaku sbg ortunya..
Lisa
Alessia akhirnya tau tuh klo Reyga suka sama Amel
Kam1la
apa yang akan terjadi setelahnya...
Kam1la
Alesia kebakaran jenggot
Lisa
Oo jadi Darmawan mengira Bintang adalah anak dr Reyga & Amel..kalian harus lebih berhati²
Lisa
Aneh banget si Darmawan ini..ditanya alasannya menculik Amel dia g mau mengatakannya..
Kam1la
lanjutkan kak...
Kam1la
dobrak aja pintunya...💪
Lisa
Reyga harus menjelaskan pd papanya tentang hubungannya dgn Amel.
Lisa
ya nih ayo Reyga cpt cari Amel
Lisa
Ya tuh pasti papanya Reyga yg nyulik Amel..ayo Reyga cpt temukan Amel.
Kam1la
mulai naik nih tensi ketegangan dalam keluarga. Dermawan semoga sadar ya, dengan pemaksaan justru semakin membuat Reyga menjauhinya
Kam1la
lapor polisi.... ! atau cari tahu lewat CCTV 🤭
Kam1la
mulai deg-degan ini, mau diapain ya Amelia....ini ulah nya papanya Reyga
Kam1la
honey....!! panggilan yang so sweet
Kam1la
seru banget.... sekarang 1 apartemen dihuni banyak orang dan penuh kegembiraan
Mita Paramita
semoga hubungan mereka direstui keluarga masing-masing 😍
Mita Paramita
lanjut Thor 😈😈😈
Kayla Rane: siaaP ❤️😍
total 1 replies
Lisa
Lanjut donk Kak..makin seru aj nih..😊
Lisa
Ceritanya menarik banget 👍👍
Kayla Rane: terimakasih Kak Lisaaa❤️❤️❤️
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!