Indonesia
NovelToon NovelToon
Aku Pergi Setelah Kau Mendua

Aku Pergi Setelah Kau Mendua

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami
Popularitas:377.7k
Nilai: 5
Nama Author: kikoaiko

Naya selalu diabaikan Aslan, suaminya. Hingga suatu hari Aslan pergi dinas dan tak pulang selama tiga bulan.

Naya yang khawatir memutuskan untuk menyusulnya, Namun dia justru mendapati Aslan telah menikah siri dengan wanita lain secara diam-diam.

Tanpa marah dan tanpa meminta penjelasan, Naya memilih pergi dari kehidupan suaminya.
Namun, ketika Naya benar-benar menghilang, Aslan justru mulai menyadari bahwa kehilangan istrinya adalah kesalahan terbesar dalam hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikoaiko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 2

Pagi itu matahari belum sepenuhnya naik. Cahaya keemasan yang tipis baru saja merembes masuk lewat sela-sela gorden ruang makan, menyentuh lantai kayu yang dingin. Seperti biasa, Naya sudah bangun sejak pukul lima pagi.

Ia bergerak pelan di dapur yang masih sunyi. Suara air mengalir dari keran, bunyi pisau yang memotong bawang, lalu desisan minyak panas di wajan. Aroma telur dadar dan sup bening perlahan memenuhi ruangan. 

Naya tidak memakai celemek. Rambutnya masih berantakan, digulung asal dengan jepit, dan kaos oblong tipis yang dikenakannya sedikit longgar di bahu. Tidak ada pembantu di rumah itu. Aslan tidak pernah mengizinkan, dengan alasan sederhana yang selalu sama, “Tidak perlu. Kau saja yang kerjakan.”

Akhirnya Naya mengerjakan semuanya. Mencuci, memasak, menyetrika, membersihkan lantai, bahkan memperbaiki keran yang bocor sekalipun. Ia sudah terbiasa. Atau setidaknya, ia memaksa dirinya untuk terbiasa.

Di atas meja makan, ia menata dua piring. Nasi putih yang masih mengepul, telur dadar yang kuning keemasan, tumis kacang panjang, dan semangkuk kecil sup ayam. Ia menambahkan irisan cabai merah di pinggir piring Aslan, karena ia tahu suaminya suka. Lalu ia menuang air hangat ke dalam gelas kaca, meletakkannya tepat di sisi kanan tempat duduk Aslan.

Baru saja ia menutup tutup panci, bunyi langkah kaki terdengar dari tangga.

Tap

Tap

Tap

Naya menoleh. Aslan turun dengan langkah yang terburu-buru. Di tangannya ada koper hitam yang lumayan besar, roda-rodanya berbunyi pelan saat menyentuh lantai. Jasnya sudah rapi, dasi terpasang, dan wajahnya masih sama datarnya seperti malam sebelumnya.

Naya segera keluar dari dapur, mengelap tangannya di kain yang terselip di pinggang. “Mas Aslan… kamu mau ke mana? Kenapa membawa koper?” tanyanya, suara masih serak karena baru bangun.

Aslan tidak berhenti berjalan. Ia hanya meletakkan koper di dekat pintu utama, lalu mengambil jaket yang tergantung di gantungan. “Saya ada perjalanan dinas ke luar kota,” jawabnya singkat, tanpa menoleh.

Naya mengerutkan kening. “Perjalanan dinas? Bukannya kemarin Mas baru pulang, ya?" Suaranya terdengar heran, hampir tidak percaya. 

Biasanya perjalanan dinas Aslan hanya sebulan sekali, paling lama dua minggu. Tapi belakangan ini frekuensinya meningkat tajam. Hampir setiap dua minggu sekali, kadang lebih sering.

Aslan akhirnya menoleh. Tatapannya tajam, dingin, dan penuh tekanan. “Kau mencurigaiku?” tanyanya dengan nada yang pelan tapi menusuk.

Naya membeku sejenak. Bibirnya terbuka, lalu tertutup lagi. Jantungnya berdetak lebih cepat. “B-bukan begitu, Mas” katanya, suara bergetar. “Aku hanya…aku belum mandi. Aku tidak bisa mengantarmu ke bandara.” Ia menunduk, jari-jarinya saling meremas di depan perut. Bibirnya bergetar tipis, menahan sesuatu yang ingin keluar tapi tidak berani.

Aslan menghela napas pendek, seolah kesal. “Tidak perlu,” ucapnya tegas. Ia sudah memasang sepatu, tali sepatu ditarik kencang tanpa banyak bicara.

Naya melangkah mendekat, hampir tersandung kakinya sendiri. “Tapi setidaknya… Mas sarapan dulu. Aku sudah masak. Nasi dan telur dadar masih hangat. Supnya juga—”

Aslan berhenti di ambang pintu. Ia menoleh sekali lagi, kali ini dengan ekspresi yang lebih datar, hampir menjengkelkan. “Aku tidak pernah menyuruhmu masak. Jadi makan saja sendiri.” ucapnya pelan.

Kalimat itu jatuh di antara mereka seperti batu.

Naya berdiri diam. Tangannya yang tadi terjulur sedikit untuk menawarkan makanan kini turun perlahan. Ia menatap punggung Aslan yang sudah membuka pintu. Udara pagi yang dingin masuk ke dalam rumah, membawa aroma tanah basah dari luar.

Aslan menarik koper itu keluar tanpa menoleh lagi. Bunyi roda koper di teras terdengar beberapa detik, lalu diikuti suara mobil yang dinyalakan. Tidak ada pesan apapun, atau sekedar pelukan singkat, bahkan tatapan terakhir. Hanya pintu yang tertutup, dan keheningan yang langsung memenuhi rumah.

Naya masih berdiri di tempat yang sama. Matanya menatap pintu yang baru saja dilalui suaminya. Di belakangnya, di atas meja makan, dua piring masih tertata rapi. Asap tipis masih mengepul dari nasi. Telur dadar yang digorengnya dengan hati-hati kini mulai mengempis perlahan.

Ia berjalan pelan menuju meja. Duduk di kursi yang biasanya ditempati Aslan. Tangannya meraih sendok, tapi tidak langsung menyentuh makanan. Ia hanya menatap piring itu lama sekali.

Ucapan Aslan bergema di kepalanya. Berkali-kali. Seolah sedang mengingatkannya pada sesuatu yang sudah lama ia coba abaikan, bahwa kehadirannya di rumah ini, semua usahanya, semua masakan yang ia buat pagi-pagi buta, semua kebersihan yang ia jaga, semua kesabaran yang ia kumpulkan, tidak pernah benar-benar diminta. Dan yang lebih menyakitkan, tidak pernah benar-benar dibutuhkan.

Naya menghela napas panjang. Ia mengambil sepotong kecil telur dadar, memasukkannya ke mulut, lalu mengunyah pelan. Rasanya hambar. Bukan karena bumbunya kurang, tapi karena meja makan itu terlalu besar untuk satu orang.

Di luar, mobil Aslan sudah jauh. Sementara di dalam rumah yang sepi, Naya duduk sendirian di depan sarapan yang ia buat dengan tangan yang masih sedikit gemetar. Ia tidak menangis.

Tapi ia bertanya dalam hati, dengan suara yang sangat pelan, hampir tidak terdengar bahkan oleh dirinya sendiri.

"Sampai kapan aku harus terus memasak untuk seseorang yang tidak pernah meminta, dan tidak pernah tinggal cukup lama untuk memakannya?"

*****

Naya menelan suapan terakhir dengan susah payah. Rasanya bukan hanya hambar, tapi juga pahit di tenggorokan. Ia membersihkan meja, mencuci piring, mengelap kompor yang masih sedikit berminyak. Setiap gerakan terasa berat, seolah tubuhnya sedang menahan beban yang tidak terlihat.

Setelah dapur kembali rapi, ia naik ke kamar.

Ceklek.....

 Pintu kamar utama terbuka. Bau parfum Aslan masih tersisa di udara, bercampur dengan aroma deterjen dari jas yang digantung rapi di balik pintu. Naya berdiri di ambang pintu cukup lama. Matanya menyapu ranjang yang sudah dirapikan sejak tadi malam, lemari yang setengah terbuka, dan meja rias. Jam tangan milik suaminya itu tidak ada.

Naya berjalan mendekat. Di atas meja, hanya tersisa sebuah amplop kecil berwarna krem yang belum sempat ia lihat pagi tadi. Ia meraihnya pelan. Tidak ada nama pengirim. Hanya tulisan Naya di bagian depan dengan tinta hitam yang tegas.

Ponselnya bergetar di saku celana. Sebuah notifikasi masuk dari bank. Transfer rutin bulanan baru saja masuk ke rekeningnya. Jumlahnya sama seperti biasa. Cukup untuk belanja, listrik, dan kebutuhan rumah. Tidak lebih.

Naya menatap layar itu lama, lalu mengunci ponsel. Uang itu terasa seperti gaji untuk seorang pembantu yang tidak pernah diperbolehkan libur.

Ia berbaring di sisi ranjang yang biasanya kosong. Bau Aslan masih menempel di bantal. Naya memejamkan mata, tapi air mata yang sejak tadi ditahan akhirnya menetes pelan, membasahi kain sarung bantal.

Di luar jendela, matahari semakin tinggi. Suara kendaraan di jalan raya terdengar samar. Rumah itu tetap sunyi. Dan untuk pertama kalinya, Naya tidak langsung bangun untuk membereskan sesuatu. Ia hanya terbaring diam, membiarkan pagi itu berlalu tanpa satu pun usaha untuk terlihat baik-baik saja.

1
Night Watcher
di atas, aslan sbg ceo, didesak oleh direktur utama agar aslan nonaktif.
sekarang aslan sbg direktur utama, didesak agar nonaktif.
yg bener yg mana jabatan aslan?
Night Watcher
perusahaan punyamu lan, kamu yg mbangun, kenapa tunduk pd org² yg cuma pekerja?
yg ada mereka mentok mengundurkan diri atau keluar dr pekerjaan..😇
Marina Tarigan
semoga kamu dan bayi sehag terus dsn suami siagamu ber tambah2 mencintaimu dan bernuang menjadi suami siaga utk menhhapus lukamu dulu Naya
Marina Tarigan
meninggal dlm kancah dosa semoga bayimu jafi anak soleha nanti tdk mengikuti jejak ibunya yg hina
Marina Tarigan
aslan taya hidupmu kembali dan menjadi pribafi yg lebih baik
Lioniwati Ben
dasar perempuan sundal otaknya udah konslet udah dpt lakinya msh mau hak istri sah nya dasar perempuan sundal
Marina Tarigan
perbuata arogan kamu bertiga adalah hadiah paling besar buat kebangkitan Naya yg kalian hi na sangat kasar tanpa hati jadiah yg setimpal pd Aslan Lisa Tianti yh serakah
Marina Tarigan
baguslah lida sdh meninggal lisa wanita serakah otoriter menganggap dirinya paling benar menyakiti sesama wanita tdk punya hati memaksa tempat sakral suami istri Naya dan mengusir Naya lebih dari pembantu daro rmhnya semdiri perbuafan keji yg tdk bisa dimaafkan Aslan kamu berpetan penuh menyakiti istri sahmu Naya yg penuh air mata sampai kami tampar demi pelacur itu sekarang berbalil pdmu Adlan sampai hancur lebur Naya sekarang diratukan oleh Erlan sang suami yg punya sehala kehormatan kekayaan lekuasaan yg tdk bisa kamu lawan kamu kejam dan tdk punya hati pd istrimu sendiri yv pintsr dan penurut kamu sia2kam nikmati kehancuranmu dan bertobatlah demi masa depanmu
irma hidayat
cerita yg bagus
fatmiatun sahono
maaf ortu nya Aslan TDK ada ya....
fatmiatun sahono
cuma karena Naya hrs berkorban begitu besar. itu kan pengorbanan Erlan Aslan satu cinta satu marah. setipis plastik perbedaan nya. dampak nya luarr biasa....🙏 tinggal sedikit lagi ya tamat...🙏💪💪💪💪
fatmiatun sahono
heran....nikah siri itu emang dpt hak ya....
fatmiatun sahono
bukan jaim. bodohhhhh
Lioniwati Ben
terima salah Aslan
udah lah
mengalah aja lbh terhormat loh
drpd bikin rencananya busuk pdhal km yg busuk dr awalnya kg
Susi Yanti
sukurin.....
emang enak ngerebut milik org lain ?, diawal emang yg nampak sorga,namun waktu berjalan melintasi indahnya,selamat dtg kemasa sulit....
Cicih Sophiana
eh Naya tunjukan ke si Aslan klo kamu kuat kamu bisa melawan... jgn cuma nangis doang...
Cicih Sophiana
Naya kamu payah ah...
Lioniwati Ben
mencintaimu dalam senyap ath yah Erlan 👍 brarti tulus sih cinta Erlan utk nara
Night Watcher
sebenarnya posisi yg lebih tinggi di perusahaan itu apa ya? CEO atau direktur?
fatmiatun sahono
yahhhh sy pengen baca novel , setelah pergi de suami nya trus ketemu jodoh yg notabene bule tp maaf🙏muslim . yg konon bule nya bucin amat ma org indo. pasti romantisass....semngat Thor 💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!