Di balik gemerlap kariernya sebagai aktor papan atas, Ethan Voss menyimpan rahasia besar: pernikahan tanpa cinta bersama Mia Taylor. Pernikahan yang lahir dari utang budi itu terikat perjanjian ketat—dirahasiakan dari publik, tanpa keterikatan emosional, dan wajib berakhir dalam empat tahun.
Selama empat tahun, Mia bertahan hidup bagai bayangan. Ia menelan dinginnya sikap Ethan dan rasa sakit saat melihat pria itu memamerkan kemesraan bersama kekasihnya di media. Saat masa perjanjian usai, Mia pergi dengan tenang, meninggalkan Ethan yang mengira dirinya telah bebas.
Namun, kepergian Mia justru menyisakan kehampaan mendalam. Setelah menemukan rahasia pengorbanan tulus sang mantan istri, Ethan sadar ia telah membuang cinta sejatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fhatt Trah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
2. Lebih Palsu Dari Peran Nyata
Dua bulan kemudian.
Langkah Ethan terasa begitu ringan saat melintasi karpet merah Gala Cinema Awards. Kilatan lampu kamera wartawan menyambar dari segala arah, memantul pada setelan jas hitam elegan yang melekat sempurna di tubuhnya.
Di sampingnya, Jane Winslow melingkarkan lengan dengan anggun seraya tersenyum manis ke arah kamera sambil melambaikan tangan.
Hari ini adalah momen yang sudah lama dinantikan Ethan. Kehadirannya bersama Jane malam ini secara resmi mengonfirmasi rumor hubungan mereka, sekaligus memproklamasikan kebebasan barunya setelah dokumen perceraian resmi diproses.
“Ethan! Jane! Lihat ke sebelah sini!” teriak salah satu fotografer, siap dengan bidikan kamera.
“Ethan, apakah ini bentuk konfirmasi hubungan kalian ke publik?” sahut wartawan lain sambil mengarahkan mikrofon.
Ethan menghentikan langkahnya sejenak, mengumbar senyum menawan yang biasa ia tampilkan di depan media. Satu tangannya merangkul pinggang Jane dengan mesra.
“Jane adalah sosok yang sangat spesial bagiku. Kami hanya ingin berbagi kebahagiaan ini dengan kalian semua,” ungkap Ethan degan memilih kata yang paling pas namun mampu menggambarkan kedekatan mereka serta arti Jane di dalam hidupnya.
Sorakan dan jepretan kamera makin menjadi-jadi. Jane tersenyum lebar, bersandar manja di bahu Ethan. Senyuman itu adalah tipe senyuman yang biasa Ethan lihat di papan reklame atau sampul majalah. Senyuman yang sempurna, terkontrol, dan sadar kamera. Karena Jane juga berasal dari dunia yang sama dengannya.
Namun, di tengah keriuhan itu, pikiran Ethan mendadak terlempar pada ingatan lain. Sebuah senyuman tipis dan tulus tanpa polesan riasan yang ia lihat di ruang kerjanya dua bulan lalu. Senyuman Mia saat wanita itu melangkah pergi.
“Mengapa aku malah memikirkan wanita itu di saat seperti ini?” Ethan membatin, mengutuk pikirannya sendiri. Ia segera menggeleng pelan dan kembali memfokuskan perhatian pada deretan kamera di depannya.
Setelah sesi foto yang riuh di depan gedung, mereka kemudian bergerak menuju area ruang tunggu VIP. Jane mendudukkan diri di sofa beludru, lalu merapikan gaun merah mewahnya dengan sedikit helaan napas letih.
“Paparazzi malam ini benar-benar agresif, ya? Tapi hasilnya pasti bagus untuk citra kita,” ujar Jane sambil memeriksa tampilan wajahnya di cermin kecil yang ia keluarkan dari dompetnya.
“Ya, sesuai rencana. Persis seperti yang aku inginkan,” jawab Ethan pendek. Ia mendudukkan diri di samping Jane dan meraih segelas sampanye dari nampan pelayan yang melintas.
Ethan menyesap minumannya. Rasanya manis dan pahit, tetapi tiba-tiba saja ada rasa yang tak biasa menusuk dalam dadanya.
Dulu, setiap kali ia pulang dari acara besar seperti ini, rumah selalu dalam keadaan tenang. Sebuah cangkir teh hangat dan pakaian santai sudah disiapkan Mia di kamarnya tanpa perlu ia minta, dan tanpa ada kata-kata manis yang berpura-pura.
Kini, riuk tepuk tangan dan pujian publik terasa begitu bising. Tetapi begitu ia duduk diam, kehampaan yang sama yang ia rasakan di ruang kerjanya dua bulan lalu kembali muncul. Bayang-bayang wajah Mia seketika melintas di benaknya.
“Ethan, kapan kamu akan melamarku?” Jane bertanya seraya tersenyum menggoda.
Tetapi sayangnya Ethan malam tenggelam dalam kesunyiannya sendiri. Tenggelam dalam bayang-bayang Mia.
“Ethan? Kamu mendengarkanku tidak?” tegur Jane sembari menepuk pelan lengan Ethan.
Ethan tersentak kecil. “Maaf, Jane. Aku hanya sedikit lelah.”
Jane mengibaskan tangannya santai. “Kamu sedang memikirkan sesuatu? Setelah acara ini selesai, bagaimana kalau kita merayakannya di restoran tempat langgananku.”
Ethan menatap Jane, lalu tersenyum tipis. Sebuah senyuman formal yang biasa ia berikan pada lawan mainnya di lokasi syuting. Kebebasan yang ia impikan selama empat tahun akhirnya kini berada di tangannya.
Namun, untuk pertama kalinya dalam hidup, entah mengapa Ethan merasa peran yang sedang ia mainkan di dunia nyata justru terasa jauh lebih palsu daripada naskah drama mana pun.
****
Lampu-lampu redup dan alunan musik jazz yang melantun pelan menyambut Ethan dan Jane begitu pintu ruang VIP restoran mewah itu ditutup rapat.
Di ruangan privat ini, tidak ada kilatan lampu kamera, tidak ada sorak wartawan, dan tidak ada gangguan dari publik. Sebuah kebebasan penuh yang harusnya terasa melegakan.
Jane menghela napas lega, lalu menyandarkan tubuh pada kursi berpelapis kulit premium.
“Akhirnya... jauh lebih tenang di sini. Makanan di restoran ini luar biasa, Ethan. Kamu pasti suka,” ujar Jane seraya tersenyum hangat.
Seorang pelayan kemudian masuk dengan sigap, menyajikan beberapa hidangan pembuka yang ditata secara artistik di atas piring porselen dingin.
Jane langsung mengambil garpu, menikmati suasana dengan santai sambil sibuk mengabari manajernya lewat ponsel.
Sementara Ethan menatap hidangan di depannya. Porsinya mungil, ditata begitu presisi, dan tampak sempurna untuk diabadikan di media sosial.
Namun, ketika Ethan mengangkat sendoknya, ingatan tentang Mia seketika kembali menyeruak tanpa permisi.
Bayangan masa lalu mendadak berputar di kepalanya.
Di meja makan rumah mereka yang tenang, Mia selalu menyajikan makanan yang masih berasap hangat. Tidak ada penataan mewah ala restoran bintang lima, tetapi setiap masakan buatan Mia disiapkan dengan perhatian penuh. Mia mengetahui persis bumbu apa yang tidak disukai Ethan, seberapa tingkat kematangan daging yang ia inginkan, hingga sup hangat yang selalu siap setiap kali perut Ethan bermasalah karena jadwal syuting yang padat.
Saat itu, Mia hanya akan duduk di seberang meja, mengawasinya makan dengan senyum lembut yang tenang, tanpa pernah menuntut perhatian.
Setelah bercerai dengan Mia, harusnya Ethan merasa lega. Lalu mengapa kini yang ia rasakan justru perasaan sesak yang selalu datang menghimpit dadanya setiap kali bayangan Mia muncul?
“Ethan? Kenapa cuma dipandangi? Dicoba, dong.”
Suara Jane memecah lamunannya.
Ethan tersentak pelan, memegang sendoknya lebih erat. Ia menatap Jane yang kini sibuk mengambil foto hidangan dari berbagai sudut demi konten.
Rasa lapar Ethan pun mendadak hilang sepenuhnya. Makanan mewah di hadapannya itu seketika terasa hambar, tertutupi oleh rasa kehilangan yang perlahan menyusup dan menyiksa.
Di tempat yang paling privat dan eksklusif ini, di mana ia bebas dari semua kepalsuan media, Ethan justru menyadari satu hal yang menyakitkan, bahwa ketenangan yang sesungguhnya telah pergi bersama Mia.
Ethan meletakkan kembali sendoknya ke atas meja porselen. Bunyi dentang halus yang dihasilkan seolah mempertegas keputusannya.
“Kita pulang sekarang, Jane,” ucap Ethan datar, memutus kesibukan Jane yang masih sibuk memilah foto di layar ponselnya.
Jane menghentikan jemarinya, lalu mendongak dengan raut heran yang tak tertutupi. “Pulang? Ethan, kita bahkan baru menyentuh hidangan pembuka. Ada apa sebenarnya?”
“Aku kehilangan selera makan. Lagipula badanku terasa kurang fit,” jawab Ethan singkat seraya berdiri dan merapikan jasnya.
Jane menghela napas panjang, menunjukkan kekesalannya.
“Kamu ini aneh sekali malam ini. Padahal ini momen perayaan kita.” Meski bersungut-sungut, Jane tetap mengambil tasnya dan menyamai langkah Ethan menuju mobil.
Di sepanjang perjalanan, Jane terus berbicara. Memaparkan rencana wawancara mingguan, daftar brand mewah yang ingin bekerja sama setelah konfirmasi hubungan mereka, hingga saran agar Ethan mengubah gaya rambut untuk proyek film berikutnya. Suaranya mengisi seluruh sudut interior mobil yang kedap udara.
Namun, bagi Ethan, setiap patah kata yang keluar dari bibir Jane malam ini justru terasa seperti kebisingan yang mengganggu.
–tbc–